BUKU KESEHATAN LINGKUNGAN

SILAHKAN UNDUH APLIKASI ANDROID UNTUK BLOG WWW.ARDADINATA.COM

Kebersamaan dalam Persamaan Hak (Al-Musawah)

Persamaan hak akan terjadi, bila hal-hal yang menyebabkan pertentangan dan perpecahan dapat ditanggalkan antara lain fanatisme golongan, keturunan, kekayaan, kebangsawanan, warna kulit, dll. Dalam hal ini, Islam memandang bahwa diantara kaum muslimin sama haknya menurut syari’at, yakni dalam hal tanggung jawab dan kemampuan-kemampuannya dalam memikul kewajiban syar’i serta dalam masalah balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Islam memperkokoh prinsip kesamaan karena semua orang dinilai dari satu sudut pandang, yaitu ketakwaannya.
     Sebagai contoh, kita ambil kasus perselisihan antara Abu Dzar dengan Bilal yang sedang memperdebatkan suatu permasalahan di hadapan Rasulullah saw. karena marahnya sampai-sampai Abu Dzar berkata kepada Bilal: “Hai anak si kulit hitam!”. Seketika itu Nabi Muhammad saw menegurnya. “Hentikan segera …. Hentikan segera … Sungguh tidak ada kelebihan satu dengan yang lainnya kecuali dengan amal saleh.” Abu Dzar baru sadar setelah melihat dan mendengar …

Orientasi pada Kualitas

Baca Juga

Orientasi pada Kualitas
Oleh: ARDA DINATA


KUALITAS merupakan lambang prestise dalam kehidupan manusia. Sejarah manusia sangat bervariasi dengan karakteristik tersendiri. Tak ada manusia yang sama. Mereka memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Kondisi ketidaksamaan manusia dalam segi kualitas hidup dan kesejahteraan ini akan tergantung terutama dalam tingkat maupun efektivitas perjuangan mereka untuk mengoptimalkan potensi diri. Pendeknya, sejarah manusia sesungguhnya merupakan irama perjuangan hidupnya.

Untuk mencapai manusia berkualitas baik, manusia perlu meningkatkan diri menjadi apa yang diistilahkan sebagai manusia seutuhnya, manusia paripurna atau insan kamil. Yakni manusia yang memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT; manusia yang memiliki kecerdasan dan kemampuan tertentu; serta manusia yang memiliki jiwa pembelaan terhadap kemurnian orientasi. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku, wajahku, orientasiku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan tunduk kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (QS. Al An’am: 79)

Bermodalkan orientasi pada kualitas, terbukti kaum muslimin pada masa lampau telah berjaya lebih dari tujuh abad memegang dan mengendalikan peradaban. Yakni sebuah peradaban manusia yang belum pernah ada tandingannya. Pertanyaannya, jika pada masa lampau kaum muslimin pernah berjaya (baca: berkualitas), mengapa kita sekarang tidak belajar dari mereka?

Kita tahu bahwa hidup manusia terbentuk dari sebuah penciptaan yang sungguh berkualitas. Setiap manusia pada dasarnya adalah makhluk yang berkualitas bila dibandingkan dengan makhluk lainnya. Manusia diciptakan sebagai makhluk paripurna, dilengkapi akal untuk berpikir, nafsu untuk berkembangbiak dan naluri untuk berbuat sesuatu. Itulah ciri khas yang membedakan manusia dengan hewan.

Namun demikian, keparipurnaan manusia diapit dengan kekurangan. Dr Yaswirman M.A. mengungkapkan bahwa para ahli jiwa hanya berhasil mengungkapkan gejala-gejala jiwa saja (baca: berpadunya jiwa dengan fisik dalam diri manusia). Yakni adanya pikiran, perasaan, dan kehendak yang saling mempengaruhi satu sama lain.

Kondisi pikiran yang galau akan mengurangi keinginan, perasaan yang gunjang melemahkan pikiran, dan kehendak yang menggebu-gebu merusak pikiran. Kemampuan untuk menetralisir cara kerja gejala-gejala jiwa itulah yang menjadikan manusia sebagai makhluk paripurna. Bagi yang tidak bisa menetralisirnya, maka derajat mereka akan dijatuhkan ke tingkat paling rendah (asfala saafiliin). Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami jatuhkan derajatnya ke tingkat yang terendah.” (QS. At-Tin: 4-5).

Di sinilah pentingnya sebuah tindakan dari pola pikir berupa pemahaman akan kualitas yang perlu dilakukan oleh setiap muslim. Karena kendati diciptakan sebagai makhluk paripurna, namun tidak semua manusia menyadari hal itu, sehingga ada yang hanyut dengan kedzaliman, kebatilan, kemaksiatan dan dikendalikan oleh alam. Artinya kunci keparipurnaan itu baru bisa dirasakan apabila potensi pikiran, keinginan dan kehendak tersebut kita isi dan pergunakan sebagaimana mestinya di bawah kendali kemauan Allah.

Akhirnya, sungguh indah dan beruntung manakala kita mampu melakukan pemahaman akan pentingnya kualitas dalam menjalankan proses kehidupan ini. Dan potensi itu terbentang luas di hadapan kita. Selanjutnya terserah Anda? Wallahu a’lam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,
http://www.miqra.blogspot.com.



POPULAR POSTS

Kenapa Suami Marah & Berkata Kasar?

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Dengan Sistem Biofilter Anaerob-Aerob

Tangga-tangga Kesuksesan Seorang Wirausahawan

Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam

8 Jenis Penyakit Paru Patut Diwaspadai Wanita

Perkembangan Psikoseksual Anak

Perilaku Orang Tua Mempengaruhi Perilaku Anaknya

Menumbuhkan Kepercayaan Diri

Orang Tua dan Perkembangan Agama Anak

ILMU MENJADI KAYA

ARSIP ARTIKEL

Show more
| INSPIRASI | OPINI | OPTIMIS | SEHAT | KELUARGA | SPIRIT | IBROH | JURNALISTIK | BUKU | JURNAL | LINGKUNGAN | BISNIS | PROFIL | BLOG ARDA DINATA | ARDA TV |
Copyright © MIQRA INDONESIA

Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Babakan RT/RW. 002/011 Pangandaran - Jawa Barat