Cari Tulisan Tentang:

Book Coaching-Menjadi Pendamping Penulis






Rekan sekalian,
Sdh 2 bulan penuh saya absen dlm menampilkan artikel di blog saya EZONWRITING (http://ezonwriting .wordpress. com). Sekarang, artikel terbaru saya sdh saya upload di blog saya. Artikel ini bercerita tentang salah satu kasus terbaru pendampingan penulisan buku. Artikel ini sekaligus menjawab sejumlah pertanyaan (peserta workshop SPP maupun pembaca artikel2 saya) menyangkut apa yang saya lakukan jika saya mendampingi seorang penulis dalam menghasilkan sebuah buku. Dan, semoga artikel ini juga memperkaya khasanah dunia kepenulisan, khususnya bagi mereka yg berprofesi sbg editor dan writer coach. Selamat menikmati & ditunggu komentarnya. ...

__,_._,___
.

BOOK COACHING: MENJADI PENDAMPING PENULIS
Oleh: Edy Zaqeus*)
http://ezonwriting. wordpress. com/
Dua bulan saya nyaris absen total dari dunia maya. Maka, sudah semestinya bila saya membawa oleh-oleh buat pengunjung setia blog ini. Dua hingga tiga bulan belakangan, saya memang sedang digempur habis oleh kesibukan atau aktivitas penulisan karya terbaru saya sekaligus pendampingan- pendampingan penulisan buku para klien. Dan, seperti kasus-kasus yang selama ini saya tangani, selalu saja ada hal menarik yang bisa dibagikan dan diambil pelajarannya.
Saya akan coba ceritakan kasus pendampingan saya dalam penulisan buku berjudul Rahasia Mendapatkan Nilai 100 (Sinotif, 2008) karya Hindra Gunawan. Kasus terakhir yang saya tangani ini terbilang sangat menarik, mengingat dalam waktu kurang dari tiga bulan, Hindra berhasil menuntaskan dan menerbitkan bukunya, sekaligus mendirikan sebuah penerbitan mandiri bernama Sinotif Publishing.
Tambah menarik lagi, mengingat si penulis adalah seorang pengajar sekaligus eksekutif lima perusahaan, yang sehari-hari benar-benar disibukkan oleh urusan bisnisnya, tetapi masih sanggup bagi waktu demi menyelesaikan penulisan buku setebal 200 halaman lebih itu. Dan, mendampingi penulis-penulis "gila" semacam ini memang salah satu kegemaran saya he he he….
Baik, ketika menerima tawaran sebagai coach atau pendamping dalam proses penulisan buku ini, saya sempat membayangkan bahwa ini adalah sebuah proyek yang terbilang mudah dikerjakan. Klien atau penulis yang saya dampingi ini adalah seorang pengajar, trainer, hipnoterapis, sekaligus businessman yang sangat menguasai bidang yang hendak dia tulis.
Tetapi, asumsi itu langsung saya koreksi begitu si klien menetapkan target bahwa buku harus bisa diterbitkan dalam kurun dua hingga tiga bulan. Alasannya, ada serentetan acara konferensi, seminar, atau ekspo yang bisa dimasuki oleh buku tersebut. Celakanya, buku benar-benar digagas, dirancang, dan harus ditulis dari nol sama sekali!
Begitu kontrak pendampingan kami tandatangani, saya langsung ancang-ancang strategi, dan saya komunikasikan dengan sejelas-jelasnya kepada klien ini. Pertama, saya tegaskan bahwa antara coach dan coache (klien) harus sama-sama berkomitmen untuk bekerja keras, tahan banting, bila perlu 'setengah memaksakan diri' dalam beberapa langkah nantinya.
Kedua, saya tekankan bahwa sebagai coach atau pendamping, fungsi saya adalah memaksimalkan dan mengaktualkan potensi si klien melalui proses pembelajaran penulisan buku. Wujudnya adalah sebuah karya tulis yang harus benar-benar dirasakan sebagai karya orisinal si penulis, berkualitas, serta memuaskan diri sendiri atau target pembaca.
Ketiga, saya juga tegaskan bahwa dalam beberapa tahapan nantinya, terkadang saya harus bersikap "keras" demi mempertahankan kefokusan klien. Mengapa? Sebab, dari berbagai kasus yang pernah saya tangani, sangat sering muncul sindrom "masterpiece" dalam diri penulis-penulis pemula. Maksudnya, muncul hasrat untuk membuat karya selengkap dan sehebat mungkin pada kesempatan pertama menulis buku, sementara realitasnya mereka dihadang oleh konstrain waktu yang sulit diajak kompromi.
Keempat, saya jelaskan berbagai risiko penulisan dan penerbitan buku dalam tenggat waktu yang sedemikian sempit. Kalau dalam waktu normal saja kita butuh ketelitian yang maksimal agar kita bisa menghasilkan naskah yang berkualitas, rapi, lengkap, dan minim kesalahan. Terlebih kalau konstrain waktunya "abnormal", pastilah butuh ketelitian dan ketekunan yang hitungannya ekstra maksimal he he he…
Kelima, saya "peringatkan" di awal, bahwa saya akan mendera klien dengan anjuran dan ajakan yang terus-menerus supaya yang bersangkutan lebih percaya diri untuk menggali bahan-bahan penulisan dari pengalaman sendiri. Selebihnya, bolehlah ditambahkan dari berbagai literatur atau teori-teori dari pakar lainnya. Langkah ini, selain mempercepat proses penulisan, ternyata juga ampuh untuk menghadirkan banyak hal atau temuan baru ke dalam naskah buku kita.
Nah, ancang-ancang strategi beserta asumsi atau dugaan-dugaan saya ternyata sungguh-sungguh mewarnai proses pendampingan buku Hindra Gunawan ini. Dari sisi kerja keras, memang ada totalitas, yang mana jadwal pertemuan pendampingan pun bisa bertambah dua kali lipat. Sementara, klien harus menambah alokasi waktu pendampingan, riset, dan penulisan lebih dari yang diduga semula. Hasilnya, proses penulisan bisa sangat cepat, tetapi risikonya sampai membuat gusi si penulis yang vegetarian ini pecah dan berdarah-darah. Untuk semangat yang beginian, tanpa ragu-ragu saya beri nilai 100 he he he….
Dari segi kefokusan penulis, dugaan saya terbukti, bahwa sindrom "masterpiece" akhirnya muncul. Tanda-tandanya? Klien menuntut diri untuk bisa menghasilkan karya yang jauh lebih hebat ketimbang pesaingnya, lebih lengkap, dan itu dilakukan dengan terus-menerus menambah jumlah literatur yang hendak dijadikan referensi. Bahkan, sampai pada detik-detik terakhir, penambahan-penambah an bab masih terus berlangsung, lengkap dengan segala kekuatan dan kelemahannya.
Ini idealisme yang harus dihargai, tetapi saya terus berpegang pada sikap pragmatis-realistis , karena yang dihadapi adalah limit waktu. Pada tahapan inilah, selain memfungsikan diri sebagai motivator kepenulisan, saya juga berubah wujud menjadi mitra pembelajaran yang sangat kritis, bahkan terbilang "keras" kepada klien. Tanpa sikap seperti ini, klien tidak akan fokus dan disiplin dalam mengejar target penyelesaian penulisan seperti yang sudah disepakati bersama. Dan, posisi yang saya pilih itu ternyata memberikan hasil sangat positif.
Dari sisi kebaruan karya, akhirnya tercapailah tujuan kami semula, bahwa buku yang dihasilkan sungguh-sungguh menyajikan banyak hal baru kepada pembaca. Klaim ini dibuktikan dengan banyaknya bab, contoh-contoh, kasus-kasus, kiat-kiat, dan argumentasi- argumentasi yang relatif baru karena digali dan diolah dari hasil riset, observasi langsung, atau dari pengalaman penulis serta orang-orang di sekitarnya.
Pada titik ini, saya dapatkan pernyataan kepuasan dari si penulisnya sendiri. Yang mana, proses pembelajaran tersebut telah mendorong dirinya untuk lebih fokus pada penyajian hal-hal baru dalam bukunya, ketimbang mengulang-ulang isi buku-buku yang pernah dia baca atau yang menjadi referensi penulisan.
Akhirnya, buku Rahasia Mendapatkan Nilai 100 berhasil diterbitkan tepat sesuai jadwal. Lepas dari sisi kekurangansempurnaa n produk akibat konstrain waktu, baik saya sebagai pendamping/konsulta n maupun si penulis merasakan suatu kepuasan atas hasil sebuah kerja keras bersama. Kepuasan itu bertambah lagi dengan munculnya kebanggaan dan rasa syukur, manakala kami melihat banyak orang tertarik membeli buku itu saat di-display di sejumlah ajang ekspo, pelatihan, dan seminar. Selanjutnya, kita tunggu saja, apakah kombinasi penjualan langsung serta penjualan melalui jaringan toko-toko buku mampu menghantarkan buku tersebut ke tangga buku bestseller.[ez]
* Edy Zaqeus adalah seorang penulis buku bestseller, editor profesional, penerbit, trainer, dan konsultan penulisan/penerbita n.

Share:
Inilah Buku Khusus Bagi Peminat dan Pemerhati Kesehatan Lingkungan, Petugas Sanitarian dan Penanggung Jawab Program Kesling di Dinas Kesehatan Kota/ Kabupaten, Dinas Lingkungan Hidup, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan, Serta Mahasiswa Kesehatan Yang Mendapat Mata Kuliah Sanitasi Dasar dan Kesehatan Lingkungan.
 Milikilah Segera Buku 7 Kunci Menuju Indonesia Sehat: 
Menyehatkan Makanan, Air, Limbah Cair, Limbah Padat, Limbah Medis (B3), Udara, Kesehatan Rumah dan Binatang Pengganggu

MASIH tingginya angka jumlah anak dengan gizi kurang, kasus penyakit infeksi seperti demam berdarah, dan kian meningkatnya penyakit tidak menular adalah beberapa masalah umum yang menggambarkan kondisi kesehatan di Indonesia. Masalah ini tidak hanya datang dari kurangnya kepedulian masyarakat akan kesehatan, tapi juga kondisi geografis yang membuat beberapa pulau di Indonesia memiliki keterbatasan akses ke sarana kesehatan, seperti pelayanan kesehatan dan air bersih. 

Menurut Zaenal Abidin (2015), selaku Ketua Umum IDI periode 2012-2015, kini rakyat Indonesia mengalami empat transisi masalah kesehatan yang memberikan dampak double burden (beban ganda). Keempat transisi tersebut ialah transisi demografi, epidemiologi, gizi, dan transisi perilaku. 

Transisi demografi ini ditandai dengan usia harapan hidup yang meningkat, berakibat penduduk usia lanjut bertambah dan menjadi tantangan tersendiri bagi sektor kesehatan karena meningkatnya kasus-kasus geriatri. Sementara itu, masalah kesehatan klasik dari populasi penduduk yang bayi, balita, remaja, dan ibu hamil tetap saja belum berkurang.

Transisi epidemiologi datang dengan dua kelompok penyakit, yaitu penyakit menular dan tidak menular. Penyakit menular seperti tuberkulosis, malaria, demam berdarah, diare, cacingan, hepatitis virus, dan HIV tetap eksis. Sisi lain, penyakit tidak menular yang berlangsung kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, kencing manis, gagal ginjal, stroke dan kanker, kasusnya makin banyak dan menyerap dana kesehatan yang tidak sedikit.

Pada transisi sektor gizi, satu sisi kita berhadapan dengan kasus penduduk gizi lebih (kegemukan/obesitas), sementara kasus gizi kurang masih tetap terjadi.

Transisi terakhir, pada pola perilaku (gaya hidup). Perilaku hidup ‘modern’, atau lebih tepatnya sedentary mulai menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat. Gaya hidup serba instan, termasuk dalam memilih bahan pangan, dan kurang peduli aspek kesehatan, sementara sebagian yang lain masih percaya mitos-mitos yang diwariskan berkaitan dengan sakit-sehatnya seseorang.

Bahkan, laporan Olivia Lewi Pramesti (2012), dari National Geographic Indonesia, menyebutkan bahwa kasus eksploitasi lingkungan semakin banyak dan tidak sedikit yang mengalami keruskan. Potret lingkungan Indonesia makin memprihatinkan, data Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, tahun 2012 ada 300 kasus lingkungan hidup, seperti kebakaran hutan, pencemaran lingkungan, pelanggaran hukum, dan pertambangan. Selain itu, potret lingkungan Indonesia berdasarkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup dari Kementerian Lingkungan Hidup, ada penurunan kualitas lingkungan, yakni pada 2009 sebesar 59,79%, 2010 sebesar 61,7%, dan 2011 sebesar 60,84%. Data Menuju Indonesia Hijau, Indonesia hanya memiliki luas tutupan hutan sebesar 48,7%. 

Jadi, betapa miris kondisi kesehatan lingkungan di Indonesia. Padahal, kalau kita renungkan menurut Guru Besar Administrasi Kesehatan dari Universitas Berkeley, Henrik L Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi dari status kesehatan manusia, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik (keturunan). Hal ini, berarti bisa jadi teori Henrik L Blum itu belum mendasari dan diterapkan dalam pola pembangunan kesehatan di Indonesia secara konsisten dan menyeluruh? 

Terkait itu, saya teringat cerita Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., DrPh., salah satu dosen favorit di FKM UI, yang menggambarkan betapa menyenangkan seandainya negeri ini dibangun dengan menerapkan filosofi dasar kesehatan masyarakat (Public Health). Berikut ini, saya tuliskan kembali ceritanya.

Betapa indahnya bila kita hidup di sebuah negeri dimana anak-anak kita tumbuh dengan sehat, riang dan gembira setiap hari. Tempat mereka tinggal pun bersih, segar, dan nyaman. Tersedia asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Sarana bermain dan sekolah yang menyenangkan.
Sementara pemuda dan orang dewasanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki aktivitas usaha yang beragam dan saling melengkapi. Mereka bahu membahu membangun lingkungan yang nyaman sekaligus mereka saling tolong menolong ketika ada musibah atau ada yang sakit di antara mereka.
Tak cukup hanya itu, bila diperlukan mereka siap mengantar ke puskesmas atau mantri atau bahkan dokter dengan biaya yang terjangkau. Bahkan mereka siap menjemput petugas kesehatan ke daerah mereka secara berkala untuk sekadar memeriksakan kesehatan-nya, atau mendapat penjelasan tentang hidup sehat atau tentang pencegahan terhadap penyakit tanpa harus menunggu jatuh sakit atau wabah penyakit datang terlebih dahulu.
Orang-orang tua dan sudah lanjut usia juga dapat menikmati masa-masa tuanya dengan penuh senyuman di antara gelak tawa dan canda anak cucu tercinta. Semua orang produktif karena mereka sehat, sejahtera, dan bahagia.
Itulah potret negeri Public Health telah menjadi filosofi dasar dalam membangun bangsa.

Buku Kesehatan Lingkungan yang sedang Anda baca ini, berisi catatan-catatan masalah kesehatan lingkungan yang saya amati dan ditulis sejak tahun 1990-sekarang. Buku ini tidak hanya berisi masalah kesehatan lingkungan saja, tapi juga dilengkapi dengan alternatif solusi dalam mengatasi permasalah kesehatan lingkungan itu. Secara garis besar, buku ini berisi Tujuh Kunci Menuju Indonesia Sehat, yaitu: menyehatkan makanan, air bersih, limbah cair, limbah padat (sampah), limbah medis (B3), pencemaran udara, kesehatan rumah dan binatang pengganggu.

Pangandaran, 7 Maret 2018
Arda Dinata

 

TESTIMONI BUKU INI:

 "Setelah membacanya, saya yakin bahwa buku ini wajib dibaca oleh seluruh Sanitarian di Indonesia. Sebab, isinya memberi wawasan keilmuan dalam mengatasi berbagai persoalan kesehatan lingkungan. Buku yang cukup lengkap ini, membantu Sanitarian selaku tenaga ahli bidang kesehatan lingkungan untuk melakukan intervensi lingkungan, berupa penanganan penyakit dari makanan, air bersih, limbah cair, limbah padat (sampah), limbah medis (B3), udara, rumah dan binatang pengganggu, sehingga tercipta derajat kesehatan masyarakat Indonesia yang optimal.”
---Bambang Wahyudi, SKM., MM., Ketua Pimpinan Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).

"Buku ini wajib Anda baca! Susunan isi bukunya begitu apik. Kehadiran buku ini sebagai penyegaran untuk akademisi maupun praktisi yang menggeluti kesehatan lingkungan. Dengan menggunakan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami, serta dilengkapi dengan contoh kasus yang real di lapangan, telah menambah nilai plus dan komprehensif buku ini dalam menguraikan fenomena kesehatan lingkungan.” 
---Dr. Elanda Fikri, SKM., M.Kes., Doktor Termuda Ahli Kesehatan Lingkungan & Dosen Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes RI, Bandung.

"Mantap Kang Arda bukunya. Isinya lengkap memberi inspirasi dan pencerahan dalam bidang kesehatan lingkungan. Bahasan 7 Kunci Menuju Indonesia Sehat ini harus diterapkan kalau menginginkan masyarakat Indonesia Sehat." 
---Kusna Ramdani, SKM., Mahasiswa Magister Kesehatan Lingkungan Undip Semarang dan Fungsional Sanitarian Pertama di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tanjungpinang, Kepri.

“Keberadaan faktor kesehatan lingkungan berpengaruh pada terciptanya derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. Untuk itu, Sanitarian sebagai pelaku kesehatan lingkungan harus mampu melakukan intervensi lingkungan secara baik. Dengan membaca buku ini, wawasan pengetahuan kita akan bertambah secara signifikan terkait bagaimana mengatasi berbagai persoalan kesehatan lingkungan. Isi buku yang cukup lengkap ini dapat membantu keahlian kita dalam mengatasi masalah kesehatan makanan, air, limbah cair, limbah padat, limbah medis, udara, rumah dan binatang pengganggu. Buku ini wajib dibaca oleh Sanitarian dan mahasiswa kesehatan lingkungan untuk mewujudkan Indonesia Sehat, sebab: Health is not everything but without health everything is nothing.”
---Asep Zaenal Mustofa, SKM., M.Epid., Kepala Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Kemenkes RI, Batam dan Ketua Departemen Komunikasi & Publikasi Pimpinan Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).

"Masalah kesehatan lingkungan yang kompleks ini, butuh tenaga Sanitarian yang profesional. Tenaga Sanitarian harus mengembangkan diri sesuai tupoksi ahli kesehatan lingkungan. Membaca dan memahami isi buku ini, wawasan ilmu saya di bidang kesehatan lingkungan jadi bertambah secara signifikan. Isi buku ini cukup lengkap membahas keahlian kesehatan lingkungan. Inilah buku yang wajib dibaca para Sanitarian dan mahasiswa yang belajar kesehatan lingkungan."
---Rusdy I. Miolo, SKM., Ketua Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kabupaten Gorontalo.

"Buku ini berisi Tujuh Kunci Menuju Indonesia Sehat, yang memotret pentingnya masalah kesehatan lingkungan supaya eksis sesuai perkembangan zaman dan diterima masyarakat. Misalnya, bagaimana membangun masyarakat tangguh hadapi bencana dan kejadian luar biasa penyakit. Mantap bukunya Kang Arda dan terus berkarya!"
---Idan Awaludin, SKM., Penggagas aplikasi ‘Pokentik’ & bekerja di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas I Palembang, Dirjen P2P Kemenkes RI.

"Buku ini hadir sebagai senjata bagi tenaga kesehatan, khususnya kesehatan lingkungan. Bukan saja menjadi oase di bidang kepenulisan kesehatan, buku ini mampu jadi properti promosi kesehatan yang ampuh. Setelah baca buku ini, Anda akan penasaran seperti saya dan ingin mewujudkan isi gagasan yang ditawarkan dalam buku ini."
---Ida Rahayu Setia Dewi, A.Md.KL., Alumni Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes RI, Yogyakarta.

CARA PEMESANAN BUKU INI:
Tulis Nama + Alamat Lengkap + Alamat Email + No HP + Jumlah Buku
Lalu, Kirim SMS atau WhatsApp ke No: 081284826829


DAFTAR ISI BUKU KESEHATAN LINGKUNGAN:





































  Kami Tidak Hanya Jualan, Tapi Membantu Mencerdaskan Bidang Kesehatan Lingkungan.
 
Harga Buku Kesehatan Lingkungan Ini MURAH BANGET Hanya Rp.125 Ribu + Ongkir (Apalagi BONUS EBOOKnya KEREN-KEREN semuanya)
 
CARA PEMBAYARAN: Cukup transfer ke rekening BNI No: 0118657077 a.n Arda Dinata.
Kirim bukti transfer dan data berikut: 
(Nama + Alamat Lengkap + Email + No HP + Jumlah Buku Dipesan) Ke WhatsApp No: 081284826829 (klik)
  
#1 BONUS EBOOK
PEDOMAN KRITERIA TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS RAMAH LINGKUNGAN
+
#2 BONUS 22 EBOOK* 
PAKET E-PUSTAKA STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) UJI KUALITAS AIR DAN LIMBAH:
Berikut ini ada 22 EPUSTAKA + BONUS yang berisi ilmu-ilmu tentang Standar Nasional Indonesia Uji Kualitas Air dan Limbah sebagai panduan, pedoman dan referensi Kualitas Air dan Limbah.
(*Senilai Rp. 100 Ribu-an)
+
#3 BONUS 22 EBOOK* 
SANITASI & KESEHATAN LINGKUNGAN
22 EBOOK ini terkait bidang SANITASI yang berisi ilmu-ilmu tentang: Program, Panduan, Pedoman dan Referensi Pembangunan Sanitasi yang sangat bermanfaat bagi para Petugas Sanitarian di lapangan. 
(*Senilai Rp. 100 Ribu-an) 
Diberikan Khusus Bagi Anda Yang Pesan Hari Ini.

INILAH DAFTAR 22 BONUS EBOOK UNTUK ANDA:

1. Pengenalan Program dan Pembentukan Pokja Sanitasi Kota
2. Penilaian dan Pemetaan Situasi Sanitasi Kota
3. Penyusunan Dokumen Strategi Sanitasi Kota
4. Penyusunan Rencana Tindak Sanitasi
5. Panduan CSR Pembangunan Sanitasi
6. Panduan Praktis Pelaksanaan Penilaian Resiko Kesehatan Karena Lingkungan (EHRA)
7. Panduan Sumber dan Mekanisme Pendanaan Sektor Sanitasi
8. Pedoman Lokakarya Momeroundum Program Sanitasi Provinsi
9. Pedoman Penyusunan BPS (Buku Putih Sanitasi)
10. Pedoman Penyusunan Memorandum Program Sanitasi (MPS)
11. Pedoman Penyusunan Roadmap Sanitasi Provinsi
12. Pedoman Penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK)
13. Petunjuk Praktis Sumber Pendanaan Sanitasi
14. Referensi Sistem dan Teknologi Sanitasi
15. Panduan Tentang Pemberdayaan Masyarakat Jender dan Kemiskinan Dalam Pembangunan Sanitasi
16. Panduan Pemanfaatan Nawasis (Info Sanitasi)
17. Bonus 1. Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia
18. Bonus 2. Let Speak Out for MDGs – ID
19. Bonus 3. Ringkasan Kajian Air Bersih
20. Bonus 4. Pelaksanaan Program Kesehatan Lingkungan di Puskesmas
21. Bonus 5. PMK No. 13 ttg Pelayanan KESLING di Puskesmas
22. Bonus 6. Perancangan TOILET PORTABLE Bagi Para Pengungsi