Cari Tulisan Tentang:

8 Jenis Penyakit Paru Patut Diwaspadai Wanita

PENYAKIT paru adalah suatu keadaan pertukaran gas dalam paru manusia terganggu, yang bila tidak segera diatasi akan menyebabkan suatu keadaan yang disebut gagal nafas akut. Kondisi ini ditandai dengan menurunnya kadar oksigen di arteri/naiknya kadar karbondioksida atau kombinasi keduanya. Penyakit paru juga dapat diartikan sebagai penyakit yang memperlihatkan adanya kerusakan paru oleh debu, asap, dan atau gas berbahaya yang terhisap manusia.
Pasang Iklan?
Bila kita merujuk pada konsep di atas, maka sejatinya penyakit paru itu banyak macamnya. Keberadaannya “bergentayangan” di sekitar lingkungan manusia. Dan bahayanya, kondisi bibit penyakit ini sewaktu-waktu siap bertamu masuk dalam tubuh manusia, termasuk wanita. Berikut ini ada delapan jenis penyakit paru yang patut kita waspadai.


1. Pneumonia

Pneumonia adalah infeksi saluran napas bagian bawah. Penyakit ini akibat infeksi akut jaringan paru oleh mikro organisme. Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh bakteri, yang timbul secara primer atau sekunder setelah infeksi virus. Penyebab tersering pneumonia bakterialis ialah bakteri gram positif, seperti Streptococcus pneumonia yang menyebabkan pneumonia streptokokus. Bakteri Streptococcus aureus dan streptokokus beta-hemolitikis juga sering menyebabkan pneumonia, termasuk bakteri Pseudomonas aeruginosa. Pneumonia lainnya disebabkan oleh virus, misalnya influenza.

Sementara pneumonia mikroplasma merupakan suatu pneumonia yang sering dijumpai dalam hidup manusia. Hal ini dikarenakan mikro organisme itu, berdasarkan beberapa aspeknya ada di antara bakteri dan virus. Untuk orang yang mengidap AIDS, sering mengalami pneumonia jenis pneumocystis carinii. Individu yang terpajan ke aerosol dari air yang lama tergenang, misalnya dari unit pendingin ruangan (AC) atau alat pelembab yang kotor, dapat mengidap pneumonia legionella. Pneumonia juga terjadi pada orang yang mengalami aspirasi isi lambung karena muntah atau air akibat tenggelam, penyakitnya disebut pneumonia aspirasi.

2. Pneumoconiosis

Pneumoconiosis adalah penyakit paru restriktif yang timbul akibat inhalasi okupasional debu, biasanya dari batu, batubara, tumbuhan, atau serat-serat buatan. Pneumoconiosis biasanya hanya timbul setelah pajanan debu bertahun-tahun.

Debu yang mencapai saluran napas bawah ini akan merangsang suatu reaksi peradangan imun yang menyebabkan akumulasi makrofag yang berisi debu sehingga akhirnya terjadi fibrosis paru difus. Fibrosis paru mengikat jarak yang harus ditempuh gas untuk berdifusi, sehingga terjadi penurunan pertukaran gas. Fibrosis juga membatasi compliance dada dan mengurangi ventilasi. Pengaruh lain misalnya asap rokok, yang mempengaruhi system silkulasi mukosiliaris, mempermudah sampainya debu ke saluran napas bawah sehingga memperparah keadaan.

Contoh penyakit akibat inhalasi debu adalah penyakit paru hitam (black lung disease) yang dijumpai pada para penambang batu bara, silikosis, yang terjadi pada para pekerja yang berkaitan dengan batu termasuk tukang batu dan perajin tembikar. Penyakit paru coklat (brown lung disease) yang dijumpai pada mereka yang terpajan debu kapas. Pajanan asbestos juga menyebabkan fibrosis dan sapat menimbulkan kanker paru.

3. Kegagalan Pernapasan

Kegagalan pernapasan adalah pertukaran gas yang tidak adekuat sehingga terjadi hipoksia, hiperkapnia (peningkatan konsentrasi karbon dioksida arteri) dan asidosis. Keadaan ini sering terjadi apabila bernapas menjadi demikian sulitnya sehingga terjadi kelelahan dan individu tidak lagi memiliki energi untuk bernapas.

Kegagalan pernapasan dapat timbul akibat berbagai penyakit pernapasan. Secara klinis penyakit paru jenis ini didefinisikan sebagai tekanan parsial oksigen (PO2) di daerah arteri kurang dari 50 mmHg, dan tekanan parsial karbon dioksida (PCO2) di daerah arteri lebih dari 50 mmHg, dengan Ph sama atau kurang dari 7,25.

4. TBC

Penyakit TBC (Turbekulosis) merupakan penyakit menahun yang telah lama dikenal masyarakat luas dan ditakuti karena menular. Namun TBC ini dapat disembuhkan dengan meminum obat anti TBC secara teratur sesuai petunjuk dokter. Menurut Robbins tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan bisa terdapat pada paru-paru, tetapi mungkin juga pada organ lain seperti kelenjar bening.

Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, atau kaya) dan di mana saja. Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TBC dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya. Bahkan, Indonesia adalah negara ketiga terbesar dengan masalah TBC di dunia.

Penyakit TBC dapat dihindari dengan cara menjaga agar tempat tinggal/rumah tidak gelap, tidak lembab dan ventilasi udara harus cukup baik, sinar matahari bisa masuk ke dalam ruangan karena kuman TBC dapat mati oleh cahaya matahari. Dengan demikian, kuman yang masuk ke dalam tubuh lewat pernapasan ataupun kulit luka dapat dicegah (Misnadiarly, 2006).

5. Asma

Penyakit asma berasal dari kata “asthma” yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti “sukar bernapas.” Penyakit asma dikenal karena adanya gejala sesak napas, batuk dan mengi yang disebabkan oleh penyempitan saluran napas. Tingkat penyempitan jalan napas dapat berubah baik secara spontan atau karena terapi. Asma berbeda dari penyakit paru obstruktif dalam hal bahwa asma adalah proses reversible. Jika asma dan bronkitis terjadi bersamaan, obstruksi yang diakibatkan menjadi gabungan dan disebut bronkitis asmatik kronik.

Asma dapat terjadi pada sembarang golongan usia. Sekitar setengah dari kasus terjadi pada anak-anak dan sepertiga lainnya terjadi sebelum usia 40 tahun. Penyakit asma adalah penyakit yang mempunyai banyak faktor penyebab, di mana yang paling sering karena alergi. Faktor penyebab dan pemicu penyakit asma lainnya adalah debu rumah dengan tungaunya, bulu binatang, asap rokok, asap obat nyamuk, dan lain-lain.

Penyakit ini merupakan penyakit keturunan dan tidak menular. Bila salah satu atau kedua orang tua, kakek atau nenek anak menderita penyakit asma maka bisa diturunkan ke anaknya. Pada umumnya, gejala klinis dtandai dengan adanya sesak nafas dan mengi (nafas yang berbunyi). Kelompok anak yang patut diduga asma adalah anak-anak yang menunjukkan batuk dan atau mengi yang timbul secara periodik, cenderung pada malam atau dini hari, musiman, setelah aktivitas, serta adanya riwayat asma dan atopi pada pasien dan keluarganya (Smeltzer, 2001).

6. Kanker Paru

Kanker paru adalah pembunuh tumor nomor satu di antara pria di USA. Namun begitu, kanker paru ini meningkat dengan angka yang lebih besar pada wanita dibanding pada pria dan sekarang melebihi kanker pada wanita. Pada hampir 70% pasien kanker paru mengalami penyebaran ke tempat limfatik regional dan tempat lain pada saat didiagnosis. Sebagai akibat, angka survival pasien kanker paru adalah rendah.

Terdapat empat jenis sel utama kanker paru yang telah diidentifikasi, yaitu karsinoma epidermoid (sel skuamosa), karsinoma sel kecil (sel oat), adenokarsinoma, dan karsinoma sel besar (tidak dapat dibedakan). Beberapa faktor resiko terjadinya kanker paru ialah adanya asap tembakau, perokok kedua (perokok pasif), polusi udara, radon, dan masukan vitamin A yang tidak adekuat. Faktor lainnya yang mempunyai kaitan dengan kanker paru termasuk predisposisi genetik dan penyakit pernapasan lain yang mendasari, seperti PPOK dan TBC. Kombinasi faktor resiko, terutama merokok sangat meningkatkan risiko terjadinya kanker paru (Smeltzer, 2001).

7. Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

PPOK adalah klasifikasi luas dari gangguan, yang mencakup bronkitis kronis, bronkiektasis, emfisema dan asma. Dalam bahasa lain, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK, [Chronic Obstructive Pulmonary Disease]-COPD) merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. Bronkitis kronik, emfisema paru, dan asma bronchial membentuk kesatuan yang disebut COPD (Price and Wilson, 2006).

Pokoknya, PPOK ini sering menjadi simptomatik selama tahun-tahun usia bayi, tetapi insidennya meningkat sejalan dengan peningkatan usia. Meskipun aspek-aspek fungsi paru tertentu, seperti kapasitas vital dan volume ekspirasi kuat, menurun sejalan dengan peningkatan usia. PPOK memperburuk banyak perubahan fisiologi yang berkaitan dengan penuaan dan mengakibatkan obstruktif jalan napas (dalam bronkitis) dan kehilangan daya kembang elastik paru (pada emfisema). Karenanya, terdapat perubahan tambahan dalam rasio ventilasi perfusi pada pasien lansia dengan PPOK (Smeltzer, 2001).

8. Penyakit Paru Akibat Pekerjaan

Penyakit paru akibat pekerjaan ini terjadi akibat terhirupnya partikel, kabut, uap atau gas yang berbahaya pada saat seseorang sedang bekerja. Lokasi tersangkutnya zat tersebut pada saluran pernafasan (paru-paru). Jenis penyakit paru yang terjadi, tergantung kepada ukuran dan jenis partikel yang terhirup. Partikel yang lebih besar mungkin akan terperangkap di dalam hidung atau saluran pernafasan yang besar, tetapi partikel yang sangat kecil bisa sampai ke paru-paru. Di dalam paru-paru, beberapa partikel dicerna dan bisa diserap ke dalam aliran darah. Partikel yang lebih padat tidak dapat dicerna akan dikeluarkan oleh sistem pertahanan tubuh.

Tubuh memiliki beberapa cara untuk membersihkan partikel yang terhirup: Pertama, di dalam saluran pernafasan, lendir akan membungkus partikel, sehingga bisa lebih mudah dikeluarkan melalui batuk. Kedua, di dalam paru-paru, sel-sel pembersih tertentu, akan menelan partikel tersebut dan melenyapkannya.

Berbagai penyakit yang timbul dalam lingkungan kerja mengandung debu, antara lain pneumokoniosis, silikosis, asbestosis, hemosiderosis, bisinosis, bronkitis, asma kerja, kanker paru, dll. Penyakit paru kerja terbagi 3 yaitu: Pertama, akibat debu organik, misalnya debu kapas (bissinosis), debu padi-padian (Grain worker’s disease), debu kayu. Kedua, akibat debu anorganik (pneumokoniosis) misalnya debu silika (silikosis), debu asbes (asbestosis), debu timah (stannosis). Ketiga, penyakit paru kerja akibat gas iritan, 3 polutan yang paling banyak mempengaruhi kesehatan paru adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2) dan ozon (O3).

Akhirnya, dengan kita mengenal kedelapan jenis penyakit paru tersebut, maka diharapkan kita akan terhindar dari bahaya dan terjadinya penularan penyakit paru dalam kehidupan kita sehari-hari. (Arda Dinata, bekerja di Loka Litbang P2B2 Ciamis, Balitbangkes Kementrian Kesehatan R.I).***

Share:
Inilah Buku Khusus Bagi Peminat dan Pemerhati Kesehatan Lingkungan, Petugas Sanitarian dan Penanggung Jawab Program Kesling di Dinas Kesehatan Kota/ Kabupaten, Dinas Lingkungan Hidup, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan, Serta Mahasiswa Kesehatan Yang Mendapat Mata Kuliah Sanitasi Dasar dan Kesehatan Lingkungan.
 Milikilah Segera Buku 7 Kunci Menuju Indonesia Sehat: 
Menyehatkan Makanan, Air, Limbah Cair, Limbah Padat, Limbah Medis (B3), Udara, Kesehatan Rumah dan Binatang Pengganggu

MASIH tingginya angka jumlah anak dengan gizi kurang, kasus penyakit infeksi seperti demam berdarah, dan kian meningkatnya penyakit tidak menular adalah beberapa masalah umum yang menggambarkan kondisi kesehatan di Indonesia. Masalah ini tidak hanya datang dari kurangnya kepedulian masyarakat akan kesehatan, tapi juga kondisi geografis yang membuat beberapa pulau di Indonesia memiliki keterbatasan akses ke sarana kesehatan, seperti pelayanan kesehatan dan air bersih. 

Menurut Zaenal Abidin (2015), selaku Ketua Umum IDI periode 2012-2015, kini rakyat Indonesia mengalami empat transisi masalah kesehatan yang memberikan dampak double burden (beban ganda). Keempat transisi tersebut ialah transisi demografi, epidemiologi, gizi, dan transisi perilaku. 

Transisi demografi ini ditandai dengan usia harapan hidup yang meningkat, berakibat penduduk usia lanjut bertambah dan menjadi tantangan tersendiri bagi sektor kesehatan karena meningkatnya kasus-kasus geriatri. Sementara itu, masalah kesehatan klasik dari populasi penduduk yang bayi, balita, remaja, dan ibu hamil tetap saja belum berkurang.

Transisi epidemiologi datang dengan dua kelompok penyakit, yaitu penyakit menular dan tidak menular. Penyakit menular seperti tuberkulosis, malaria, demam berdarah, diare, cacingan, hepatitis virus, dan HIV tetap eksis. Sisi lain, penyakit tidak menular yang berlangsung kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, kencing manis, gagal ginjal, stroke dan kanker, kasusnya makin banyak dan menyerap dana kesehatan yang tidak sedikit.

Pada transisi sektor gizi, satu sisi kita berhadapan dengan kasus penduduk gizi lebih (kegemukan/obesitas), sementara kasus gizi kurang masih tetap terjadi.

Transisi terakhir, pada pola perilaku (gaya hidup). Perilaku hidup ‘modern’, atau lebih tepatnya sedentary mulai menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat. Gaya hidup serba instan, termasuk dalam memilih bahan pangan, dan kurang peduli aspek kesehatan, sementara sebagian yang lain masih percaya mitos-mitos yang diwariskan berkaitan dengan sakit-sehatnya seseorang.

Bahkan, laporan Olivia Lewi Pramesti (2012), dari National Geographic Indonesia, menyebutkan bahwa kasus eksploitasi lingkungan semakin banyak dan tidak sedikit yang mengalami keruskan. Potret lingkungan Indonesia makin memprihatinkan, data Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, tahun 2012 ada 300 kasus lingkungan hidup, seperti kebakaran hutan, pencemaran lingkungan, pelanggaran hukum, dan pertambangan. Selain itu, potret lingkungan Indonesia berdasarkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup dari Kementerian Lingkungan Hidup, ada penurunan kualitas lingkungan, yakni pada 2009 sebesar 59,79%, 2010 sebesar 61,7%, dan 2011 sebesar 60,84%. Data Menuju Indonesia Hijau, Indonesia hanya memiliki luas tutupan hutan sebesar 48,7%. 

Jadi, betapa miris kondisi kesehatan lingkungan di Indonesia. Padahal, kalau kita renungkan menurut Guru Besar Administrasi Kesehatan dari Universitas Berkeley, Henrik L Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi dari status kesehatan manusia, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik (keturunan). Hal ini, berarti bisa jadi teori Henrik L Blum itu belum mendasari dan diterapkan dalam pola pembangunan kesehatan di Indonesia secara konsisten dan menyeluruh? 

Terkait itu, saya teringat cerita Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., DrPh., salah satu dosen favorit di FKM UI, yang menggambarkan betapa menyenangkan seandainya negeri ini dibangun dengan menerapkan filosofi dasar kesehatan masyarakat (Public Health). Berikut ini, saya tuliskan kembali ceritanya.

Betapa indahnya bila kita hidup di sebuah negeri dimana anak-anak kita tumbuh dengan sehat, riang dan gembira setiap hari. Tempat mereka tinggal pun bersih, segar, dan nyaman. Tersedia asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Sarana bermain dan sekolah yang menyenangkan.
Sementara pemuda dan orang dewasanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki aktivitas usaha yang beragam dan saling melengkapi. Mereka bahu membahu membangun lingkungan yang nyaman sekaligus mereka saling tolong menolong ketika ada musibah atau ada yang sakit di antara mereka.
Tak cukup hanya itu, bila diperlukan mereka siap mengantar ke puskesmas atau mantri atau bahkan dokter dengan biaya yang terjangkau. Bahkan mereka siap menjemput petugas kesehatan ke daerah mereka secara berkala untuk sekadar memeriksakan kesehatan-nya, atau mendapat penjelasan tentang hidup sehat atau tentang pencegahan terhadap penyakit tanpa harus menunggu jatuh sakit atau wabah penyakit datang terlebih dahulu.
Orang-orang tua dan sudah lanjut usia juga dapat menikmati masa-masa tuanya dengan penuh senyuman di antara gelak tawa dan canda anak cucu tercinta. Semua orang produktif karena mereka sehat, sejahtera, dan bahagia.
Itulah potret negeri Public Health telah menjadi filosofi dasar dalam membangun bangsa.

Buku Kesehatan Lingkungan yang sedang Anda baca ini, berisi catatan-catatan masalah kesehatan lingkungan yang saya amati dan ditulis sejak tahun 1990-sekarang. Buku ini tidak hanya berisi masalah kesehatan lingkungan saja, tapi juga dilengkapi dengan alternatif solusi dalam mengatasi permasalah kesehatan lingkungan itu. Secara garis besar, buku ini berisi Tujuh Kunci Menuju Indonesia Sehat, yaitu: menyehatkan makanan, air bersih, limbah cair, limbah padat (sampah), limbah medis (B3), pencemaran udara, kesehatan rumah dan binatang pengganggu.

Pangandaran, 7 Maret 2018
Arda Dinata

 

TESTIMONI BUKU INI:

 "Setelah membacanya, saya yakin bahwa buku ini wajib dibaca oleh seluruh Sanitarian di Indonesia. Sebab, isinya memberi wawasan keilmuan dalam mengatasi berbagai persoalan kesehatan lingkungan. Buku yang cukup lengkap ini, membantu Sanitarian selaku tenaga ahli bidang kesehatan lingkungan untuk melakukan intervensi lingkungan, berupa penanganan penyakit dari makanan, air bersih, limbah cair, limbah padat (sampah), limbah medis (B3), udara, rumah dan binatang pengganggu, sehingga tercipta derajat kesehatan masyarakat Indonesia yang optimal.”
---Bambang Wahyudi, SKM., MM., Ketua Pimpinan Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).

"Buku ini wajib Anda baca! Susunan isi bukunya begitu apik. Kehadiran buku ini sebagai penyegaran untuk akademisi maupun praktisi yang menggeluti kesehatan lingkungan. Dengan menggunakan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami, serta dilengkapi dengan contoh kasus yang real di lapangan, telah menambah nilai plus dan komprehensif buku ini dalam menguraikan fenomena kesehatan lingkungan.” 
---Dr. Elanda Fikri, SKM., M.Kes., Doktor Termuda Ahli Kesehatan Lingkungan & Dosen Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes RI, Bandung.

"Mantap Kang Arda bukunya. Isinya lengkap memberi inspirasi dan pencerahan dalam bidang kesehatan lingkungan. Bahasan 7 Kunci Menuju Indonesia Sehat ini harus diterapkan kalau menginginkan masyarakat Indonesia Sehat." 
---Kusna Ramdani, SKM., Mahasiswa Magister Kesehatan Lingkungan Undip Semarang dan Fungsional Sanitarian Pertama di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tanjungpinang, Kepri.

“Keberadaan faktor kesehatan lingkungan berpengaruh pada terciptanya derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. Untuk itu, Sanitarian sebagai pelaku kesehatan lingkungan harus mampu melakukan intervensi lingkungan secara baik. Dengan membaca buku ini, wawasan pengetahuan kita akan bertambah secara signifikan terkait bagaimana mengatasi berbagai persoalan kesehatan lingkungan. Isi buku yang cukup lengkap ini dapat membantu keahlian kita dalam mengatasi masalah kesehatan makanan, air, limbah cair, limbah padat, limbah medis, udara, rumah dan binatang pengganggu. Buku ini wajib dibaca oleh Sanitarian dan mahasiswa kesehatan lingkungan untuk mewujudkan Indonesia Sehat, sebab: Health is not everything but without health everything is nothing.”
---Asep Zaenal Mustofa, SKM., M.Epid., Kepala Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Kemenkes RI, Batam dan Ketua Departemen Komunikasi & Publikasi Pimpinan Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).

"Masalah kesehatan lingkungan yang kompleks ini, butuh tenaga Sanitarian yang profesional. Tenaga Sanitarian harus mengembangkan diri sesuai tupoksi ahli kesehatan lingkungan. Membaca dan memahami isi buku ini, wawasan ilmu saya di bidang kesehatan lingkungan jadi bertambah secara signifikan. Isi buku ini cukup lengkap membahas keahlian kesehatan lingkungan. Inilah buku yang wajib dibaca para Sanitarian dan mahasiswa yang belajar kesehatan lingkungan."
---Rusdy I. Miolo, SKM., Ketua Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kabupaten Gorontalo.

"Buku ini berisi Tujuh Kunci Menuju Indonesia Sehat, yang memotret pentingnya masalah kesehatan lingkungan supaya eksis sesuai perkembangan zaman dan diterima masyarakat. Misalnya, bagaimana membangun masyarakat tangguh hadapi bencana dan kejadian luar biasa penyakit. Mantap bukunya Kang Arda dan terus berkarya!"
---Idan Awaludin, SKM., Penggagas aplikasi ‘Pokentik’ & bekerja di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas I Palembang, Dirjen P2P Kemenkes RI.

"Buku ini hadir sebagai senjata bagi tenaga kesehatan, khususnya kesehatan lingkungan. Bukan saja menjadi oase di bidang kepenulisan kesehatan, buku ini mampu jadi properti promosi kesehatan yang ampuh. Setelah baca buku ini, Anda akan penasaran seperti saya dan ingin mewujudkan isi gagasan yang ditawarkan dalam buku ini."
---Ida Rahayu Setia Dewi, A.Md.KL., Alumni Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes RI, Yogyakarta.

CARA PEMESANAN BUKU INI:
Tulis Nama + Alamat Lengkap + Alamat Email + No HP + Jumlah Buku
Lalu, Kirim SMS atau WhatsApp ke No: 081284826829


DAFTAR ISI BUKU KESEHATAN LINGKUNGAN:





































  Kami Tidak Hanya Jualan, Tapi Membantu Mencerdaskan Bidang Kesehatan Lingkungan.
 
Harga Buku Kesehatan Lingkungan Ini MURAH BANGET Hanya Rp.125 Ribu + Ongkir (Apalagi BONUS EBOOKnya KEREN-KEREN semuanya)
 
CARA PEMBAYARAN: Cukup transfer ke rekening BNI No: 0118657077 a.n Arda Dinata.
Kirim bukti transfer dan data berikut: 
(Nama + Alamat Lengkap + Email + No HP + Jumlah Buku Dipesan) Ke WhatsApp No: 081284826829 (klik)
  
#1 BONUS EBOOK
PEDOMAN KRITERIA TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS RAMAH LINGKUNGAN
+
#2 BONUS 22 EBOOK* 
PAKET E-PUSTAKA STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) UJI KUALITAS AIR DAN LIMBAH:
Berikut ini ada 22 EPUSTAKA + BONUS yang berisi ilmu-ilmu tentang Standar Nasional Indonesia Uji Kualitas Air dan Limbah sebagai panduan, pedoman dan referensi Kualitas Air dan Limbah.
(*Senilai Rp. 100 Ribu-an)
+
#3 BONUS 22 EBOOK* 
SANITASI & KESEHATAN LINGKUNGAN
22 EBOOK ini terkait bidang SANITASI yang berisi ilmu-ilmu tentang: Program, Panduan, Pedoman dan Referensi Pembangunan Sanitasi yang sangat bermanfaat bagi para Petugas Sanitarian di lapangan. 
(*Senilai Rp. 100 Ribu-an) 
Diberikan Khusus Bagi Anda Yang Pesan Hari Ini.

INILAH DAFTAR 22 BONUS EBOOK UNTUK ANDA:

1. Pengenalan Program dan Pembentukan Pokja Sanitasi Kota
2. Penilaian dan Pemetaan Situasi Sanitasi Kota
3. Penyusunan Dokumen Strategi Sanitasi Kota
4. Penyusunan Rencana Tindak Sanitasi
5. Panduan CSR Pembangunan Sanitasi
6. Panduan Praktis Pelaksanaan Penilaian Resiko Kesehatan Karena Lingkungan (EHRA)
7. Panduan Sumber dan Mekanisme Pendanaan Sektor Sanitasi
8. Pedoman Lokakarya Momeroundum Program Sanitasi Provinsi
9. Pedoman Penyusunan BPS (Buku Putih Sanitasi)
10. Pedoman Penyusunan Memorandum Program Sanitasi (MPS)
11. Pedoman Penyusunan Roadmap Sanitasi Provinsi
12. Pedoman Penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK)
13. Petunjuk Praktis Sumber Pendanaan Sanitasi
14. Referensi Sistem dan Teknologi Sanitasi
15. Panduan Tentang Pemberdayaan Masyarakat Jender dan Kemiskinan Dalam Pembangunan Sanitasi
16. Panduan Pemanfaatan Nawasis (Info Sanitasi)
17. Bonus 1. Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia
18. Bonus 2. Let Speak Out for MDGs – ID
19. Bonus 3. Ringkasan Kajian Air Bersih
20. Bonus 4. Pelaksanaan Program Kesehatan Lingkungan di Puskesmas
21. Bonus 5. PMK No. 13 ttg Pelayanan KESLING di Puskesmas
22. Bonus 6. Perancangan TOILET PORTABLE Bagi Para Pengungsi