Cari Tulisan Tentang:

Perkawinan Berkalung Pahala



PERKAWINAN itu membahagiakan dan bertabur pahala bagi mereka yang mampu mengelolanya dengan baik. Rasulullah mengatakan, “Perkawinan adalah ibadah. Bila dilakukan dengan baik, ikhlas dan setia akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.” (H.R. Bukhari).

Sungguh indah pesan Rasulullah itu dan tentunya menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam membangun bahtera kehidupan rumah tangga yang membahagiakan di dunia dan akherat. Inspirasi dari hadis tersebut, saya menyebutnya dengan perkawinan berkalung pahala. Sebab, kita tahu, umumnya kalung itu akan selalu ada dalam leher si pemiliknya. Artinya, agar pahala perkawinan senantiasa mengalir dalam rumah tangga kita, maka perkawinan ini harus dilakukan dengan baik, ikhlas dan setia. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya dalam membangun perkawinan yang baik, ikhlas dan setia itu?

Dalam kesempatan ini, saya hanya menguraikan syarat pertama dari ketiga syarat agar sebuah perkawinan itu berkalung pahala yaitu lakukanlah perkawinan dengan baik. Sebetulnya berbuat baik itu harus kita lakukan di mana pun, tidak hanya dalam kehidupan perkawinan. Bukankah, budi pekerti yang baik itu merupakan amalan mulia yang berbuah pahala. Terkait ini, Ali bin Abi Thalib, mengungkapkan bahwa budi pekerti yang mulia ada sepuluh: dermawan, malu, jujur, menyampaikan amanat, rendah hati (tawadu), cemburu, berani, santun, sabar, dan syukur.

Kalau kita aplikasikan pernyataan Ali bin Abi Thalib tersebut dalam bidang perkawinan, maka untuk mencapai perkawinan yang baik dan mulia syaratnya adalah dalam perkawinan itu harus memiliki perilaku: dermawan, malu, jujur, menyampaikan amanat, rendah hati (tawadu), cemburu, berani, santun, sabar, dan syukur dari tiap pasangan.

1.      Dermawan dalam perkawinan. Perilaku dermawan ini akan melahirkan rasa senang di antara pasangan perkawinan. Sebab, selain tercukupinya kebutuhan ekonomi rumah tangga, perilaku ini juga akan membuat kehidupan rumah tangga memiliki jiwa sosial yang tinggi dan melahirkan sikap keterbukaan di antara pasangan perkawinan.

2.      Malu dalam perkawinan. Rasa malu merupakan benteng keimanan. Sikap inilah yang akan mengawal perilaku tiap pasangan agar kehidupan perkawinannya tetap berada dalam rel yang benar. Untuk itu, bangunlah rasa malu dalam diri masing-masing pasangan agar selalu melakukan hal-hal terbaik dalam perkawinannya. Sebab, rasa malu yang dibalut dengan keimanan ini akan menjadi benteng bangunan keharmonisan sebuah perkawinan.

3.      Jujur dalam perkawinan. Tiap pasangan perkawinan hendaknya selalu menjaga nilai kejujuran dalam perilaku kesehariannya. Kejujuran inilah yang akan menjadikan kokohnya sebuah perkawinan. Tanpa kejujuran, jangan harap keharmonisan perkawinan itu tercipta langgeng. Buktinya, sekali kita berperilaku tidak jujur maka kita akan menutupinya dengan ketidak jujuran berikutnya.

4.      Menyampaikan amanat dalam perkawinan. Dalam perkawinan kita telah diikat sebuah janji perkawinan. Janji adalah sebuah amanat yang harus dijaga dengan baik. Sehingga agar perkawinan menjadi baik, maka tiap pasangan harus menjaga dan menyampaikan amanat yang kita terima itu dengan baik. Bila amanat perkawinan tidak dapat tertunaikan dengan baik, maka jangan harap perkawinan itu berjalan harmonis. Kondisi perkawinan yang dikhianati itu, boro-boro akan mendapatkan pahala, malahan justru sebaliknya bisa berujung malapetaka hancurnya sebuah perkawinan.

5.      Rendah hati dalam perkawinan. Perilaku rendah hati ini akan menentramkan hati pasangan kita. Untuk itu, jaga dan bina selalu perilaku rendah hati ini dalam kehidupan perkawinan, sehingga pasangan kita semakin menjadi lengket dan selalu ingin dekat karena kebaikan akhlak yang kita pancarkan. Bukan malah sebaliknya, perilaku kita begitu keras kepala, tidak ramah dan tidak saling menghargai pasangan. Perilaku seperti inilah justru yang akan melahirkan ketidak harmonisan. Jadi, jauhilah perilaku jelek tersebut dalam perkawinan kita.

6.      Cemburu dalam perkawinan. Adanya rasa cemburu dalam perkawinan ini sejatinya bukan merupakan sebuah “malapetaka”. Sebab, cemburu merupakan pertanda bahwa pasangan kita sangat menyayangi kita. Untuk itu, cemburulah secara benar dan hendaknya kita pun menyikapi rasa cemburu itu secara sehat. Ungkapkanlah rasa cemburu kita dengan niat tidak menyalahkan pasangan kita, tapi tujuan kita ingin mencari jalan keluar terbaik terhadap masalah perasaan cemburu yang ada dalam hati. Lakukanlah dialog dari hati ke hati secara bijaksana dan mintalah pertolongan pada Allah. Kalau kita bisa menyikapinya secara bijaksana, justru adanya rasa cemburu ini akan melahirkan rasa cinta yang lebih dari sebelumnya.

7.      Berani dalam perkawinan. Untuk mencapai perkawinan yang baik dan mulia, maka tiap pasangan harus memiliki rasa berani bahwa diri kita dan pasangan mampu menciptakan dan mewujudkan sebuah perkawinan yang baik. Jadi, intinya tiap pasangan haruslah siap secara lahir dan batin. Adanya rasa berani ini, tentu mengandung konsekuensi tiap pasangan harus mempersiapkan keilmuan tentang mengisi perkawinan ini secara benar. Misalnya tentang ilmu cara membahagiakan pasangan; mengetahui hak dan kewajiaban pasangan; membangun keluarga dengan sukses lahir maupun batin; dan lainnya.

8.      Santun dalam perkawinan. Perkawinan itu menyatukan sifat dan karakter yang berbeda dari tiap pasanagan. Di sinilah diperlukan adanya ilmu dan seni dalam menata sebuah rumah tangga. Untuk menyatukan bangunan tersebut, maka sikap santun dalam perkawinan tentu menjadi hal yang harus dilakukan oleh tiap pasangan. Sikap santun dalam perkawinan akan melahirkan sikap saling menghargai, berusaha tidak menyinggung perasaan pasangan, saling tatali asih dalam membangun ikatan rumah tangga, dan saling menyemangati pasangan kita.

9.      Sabar dalam perkawinan. Sabar adalah tali perekat yang akan mengkokohkan ikatan sebuah perkawinan. Agama mengajarkan bila kita dihadapkan dalam suatu masalah, maka kita dianjurkan untuk selalu bersabar. Demikian pun dalam perjalanan sebuah perkawinan diperlukan kesabaran yang berlebih agar biduk perahu perkawinan ini tidak rapuh. Untuk itu, dalam perkawinan kita harus menerima kelebihan dan kekurangan dari tiap pasangan kita. Hiduplah saling melengkapi dari kondisi kekurangan dan kelebihan pasangan kita karena sikap inilah yang akan menjadikan indahnya bangunan dan harmonisnya sebuah rumah tangga.

10.  Bersyukur dalam perkawinan. Barang siapa yang bersyukur, maka janji Allah nikmat kita akan ditambah. Jadi agar perkawinan kita baik, maka banyak-banyaklah bersyukur atas keadaan yang ada dalam hidup perkawinan Anda. Dan tentunya sambil terus berusaha melakukan yang terbaik dalam membangun kehidupan perkawinan. 

Share:
Inilah Buku Khusus Bagi Peminat dan Pemerhati Kesehatan Lingkungan, Petugas Sanitarian dan Penanggung Jawab Program Kesling di Dinas Kesehatan Kota/ Kabupaten, Dinas Lingkungan Hidup, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan, Serta Mahasiswa Kesehatan Yang Mendapat Mata Kuliah Sanitasi Dasar dan Kesehatan Lingkungan.
 Milikilah Segera Buku 7 Kunci Menuju Indonesia Sehat: 
Menyehatkan Makanan, Air, Limbah Cair, Limbah Padat, Limbah Medis (B3), Udara, Kesehatan Rumah dan Binatang Pengganggu

MASIH tingginya angka jumlah anak dengan gizi kurang, kasus penyakit infeksi seperti demam berdarah, dan kian meningkatnya penyakit tidak menular adalah beberapa masalah umum yang menggambarkan kondisi kesehatan di Indonesia. Masalah ini tidak hanya datang dari kurangnya kepedulian masyarakat akan kesehatan, tapi juga kondisi geografis yang membuat beberapa pulau di Indonesia memiliki keterbatasan akses ke sarana kesehatan, seperti pelayanan kesehatan dan air bersih. 

Menurut Zaenal Abidin (2015), selaku Ketua Umum IDI periode 2012-2015, kini rakyat Indonesia mengalami empat transisi masalah kesehatan yang memberikan dampak double burden (beban ganda). Keempat transisi tersebut ialah transisi demografi, epidemiologi, gizi, dan transisi perilaku. 

Transisi demografi ini ditandai dengan usia harapan hidup yang meningkat, berakibat penduduk usia lanjut bertambah dan menjadi tantangan tersendiri bagi sektor kesehatan karena meningkatnya kasus-kasus geriatri. Sementara itu, masalah kesehatan klasik dari populasi penduduk yang bayi, balita, remaja, dan ibu hamil tetap saja belum berkurang.

Transisi epidemiologi datang dengan dua kelompok penyakit, yaitu penyakit menular dan tidak menular. Penyakit menular seperti tuberkulosis, malaria, demam berdarah, diare, cacingan, hepatitis virus, dan HIV tetap eksis. Sisi lain, penyakit tidak menular yang berlangsung kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, kencing manis, gagal ginjal, stroke dan kanker, kasusnya makin banyak dan menyerap dana kesehatan yang tidak sedikit.

Pada transisi sektor gizi, satu sisi kita berhadapan dengan kasus penduduk gizi lebih (kegemukan/obesitas), sementara kasus gizi kurang masih tetap terjadi.

Transisi terakhir, pada pola perilaku (gaya hidup). Perilaku hidup ‘modern’, atau lebih tepatnya sedentary mulai menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat. Gaya hidup serba instan, termasuk dalam memilih bahan pangan, dan kurang peduli aspek kesehatan, sementara sebagian yang lain masih percaya mitos-mitos yang diwariskan berkaitan dengan sakit-sehatnya seseorang.

Bahkan, laporan Olivia Lewi Pramesti (2012), dari National Geographic Indonesia, menyebutkan bahwa kasus eksploitasi lingkungan semakin banyak dan tidak sedikit yang mengalami keruskan. Potret lingkungan Indonesia makin memprihatinkan, data Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, tahun 2012 ada 300 kasus lingkungan hidup, seperti kebakaran hutan, pencemaran lingkungan, pelanggaran hukum, dan pertambangan. Selain itu, potret lingkungan Indonesia berdasarkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup dari Kementerian Lingkungan Hidup, ada penurunan kualitas lingkungan, yakni pada 2009 sebesar 59,79%, 2010 sebesar 61,7%, dan 2011 sebesar 60,84%. Data Menuju Indonesia Hijau, Indonesia hanya memiliki luas tutupan hutan sebesar 48,7%. 

Jadi, betapa miris kondisi kesehatan lingkungan di Indonesia. Padahal, kalau kita renungkan menurut Guru Besar Administrasi Kesehatan dari Universitas Berkeley, Henrik L Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi dari status kesehatan manusia, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik (keturunan). Hal ini, berarti bisa jadi teori Henrik L Blum itu belum mendasari dan diterapkan dalam pola pembangunan kesehatan di Indonesia secara konsisten dan menyeluruh? 

Terkait itu, saya teringat cerita Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., DrPh., salah satu dosen favorit di FKM UI, yang menggambarkan betapa menyenangkan seandainya negeri ini dibangun dengan menerapkan filosofi dasar kesehatan masyarakat (Public Health). Berikut ini, saya tuliskan kembali ceritanya.

Betapa indahnya bila kita hidup di sebuah negeri dimana anak-anak kita tumbuh dengan sehat, riang dan gembira setiap hari. Tempat mereka tinggal pun bersih, segar, dan nyaman. Tersedia asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Sarana bermain dan sekolah yang menyenangkan.
Sementara pemuda dan orang dewasanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki aktivitas usaha yang beragam dan saling melengkapi. Mereka bahu membahu membangun lingkungan yang nyaman sekaligus mereka saling tolong menolong ketika ada musibah atau ada yang sakit di antara mereka.
Tak cukup hanya itu, bila diperlukan mereka siap mengantar ke puskesmas atau mantri atau bahkan dokter dengan biaya yang terjangkau. Bahkan mereka siap menjemput petugas kesehatan ke daerah mereka secara berkala untuk sekadar memeriksakan kesehatan-nya, atau mendapat penjelasan tentang hidup sehat atau tentang pencegahan terhadap penyakit tanpa harus menunggu jatuh sakit atau wabah penyakit datang terlebih dahulu.
Orang-orang tua dan sudah lanjut usia juga dapat menikmati masa-masa tuanya dengan penuh senyuman di antara gelak tawa dan canda anak cucu tercinta. Semua orang produktif karena mereka sehat, sejahtera, dan bahagia.
Itulah potret negeri Public Health telah menjadi filosofi dasar dalam membangun bangsa.

Buku Kesehatan Lingkungan yang sedang Anda baca ini, berisi catatan-catatan masalah kesehatan lingkungan yang saya amati dan ditulis sejak tahun 1990-sekarang. Buku ini tidak hanya berisi masalah kesehatan lingkungan saja, tapi juga dilengkapi dengan alternatif solusi dalam mengatasi permasalah kesehatan lingkungan itu. Secara garis besar, buku ini berisi Tujuh Kunci Menuju Indonesia Sehat, yaitu: menyehatkan makanan, air bersih, limbah cair, limbah padat (sampah), limbah medis (B3), pencemaran udara, kesehatan rumah dan binatang pengganggu.

Pangandaran, 7 Maret 2018
Arda Dinata

 

TESTIMONI BUKU INI:

 "Setelah membacanya, saya yakin bahwa buku ini wajib dibaca oleh seluruh Sanitarian di Indonesia. Sebab, isinya memberi wawasan keilmuan dalam mengatasi berbagai persoalan kesehatan lingkungan. Buku yang cukup lengkap ini, membantu Sanitarian selaku tenaga ahli bidang kesehatan lingkungan untuk melakukan intervensi lingkungan, berupa penanganan penyakit dari makanan, air bersih, limbah cair, limbah padat (sampah), limbah medis (B3), udara, rumah dan binatang pengganggu, sehingga tercipta derajat kesehatan masyarakat Indonesia yang optimal.”
---Bambang Wahyudi, SKM., MM., Ketua Pimpinan Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).

"Buku ini wajib Anda baca! Susunan isi bukunya begitu apik. Kehadiran buku ini sebagai penyegaran untuk akademisi maupun praktisi yang menggeluti kesehatan lingkungan. Dengan menggunakan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami, serta dilengkapi dengan contoh kasus yang real di lapangan, telah menambah nilai plus dan komprehensif buku ini dalam menguraikan fenomena kesehatan lingkungan.” 
---Dr. Elanda Fikri, SKM., M.Kes., Doktor Termuda Ahli Kesehatan Lingkungan & Dosen Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes RI, Bandung.

"Mantap Kang Arda bukunya. Isinya lengkap memberi inspirasi dan pencerahan dalam bidang kesehatan lingkungan. Bahasan 7 Kunci Menuju Indonesia Sehat ini harus diterapkan kalau menginginkan masyarakat Indonesia Sehat." 
---Kusna Ramdani, SKM., Mahasiswa Magister Kesehatan Lingkungan Undip Semarang dan Fungsional Sanitarian Pertama di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tanjungpinang, Kepri.

“Keberadaan faktor kesehatan lingkungan berpengaruh pada terciptanya derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. Untuk itu, Sanitarian sebagai pelaku kesehatan lingkungan harus mampu melakukan intervensi lingkungan secara baik. Dengan membaca buku ini, wawasan pengetahuan kita akan bertambah secara signifikan terkait bagaimana mengatasi berbagai persoalan kesehatan lingkungan. Isi buku yang cukup lengkap ini dapat membantu keahlian kita dalam mengatasi masalah kesehatan makanan, air, limbah cair, limbah padat, limbah medis, udara, rumah dan binatang pengganggu. Buku ini wajib dibaca oleh Sanitarian dan mahasiswa kesehatan lingkungan untuk mewujudkan Indonesia Sehat, sebab: Health is not everything but without health everything is nothing.”
---Asep Zaenal Mustofa, SKM., M.Epid., Kepala Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Kemenkes RI, Batam dan Ketua Departemen Komunikasi & Publikasi Pimpinan Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).

"Masalah kesehatan lingkungan yang kompleks ini, butuh tenaga Sanitarian yang profesional. Tenaga Sanitarian harus mengembangkan diri sesuai tupoksi ahli kesehatan lingkungan. Membaca dan memahami isi buku ini, wawasan ilmu saya di bidang kesehatan lingkungan jadi bertambah secara signifikan. Isi buku ini cukup lengkap membahas keahlian kesehatan lingkungan. Inilah buku yang wajib dibaca para Sanitarian dan mahasiswa yang belajar kesehatan lingkungan."
---Rusdy I. Miolo, SKM., Ketua Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kabupaten Gorontalo.

"Buku ini berisi Tujuh Kunci Menuju Indonesia Sehat, yang memotret pentingnya masalah kesehatan lingkungan supaya eksis sesuai perkembangan zaman dan diterima masyarakat. Misalnya, bagaimana membangun masyarakat tangguh hadapi bencana dan kejadian luar biasa penyakit. Mantap bukunya Kang Arda dan terus berkarya!"
---Idan Awaludin, SKM., Penggagas aplikasi ‘Pokentik’ & bekerja di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas I Palembang, Dirjen P2P Kemenkes RI.

"Buku ini hadir sebagai senjata bagi tenaga kesehatan, khususnya kesehatan lingkungan. Bukan saja menjadi oase di bidang kepenulisan kesehatan, buku ini mampu jadi properti promosi kesehatan yang ampuh. Setelah baca buku ini, Anda akan penasaran seperti saya dan ingin mewujudkan isi gagasan yang ditawarkan dalam buku ini."
---Ida Rahayu Setia Dewi, A.Md.KL., Alumni Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes RI, Yogyakarta.

CARA PEMESANAN BUKU INI:
Tulis Nama + Alamat Lengkap + Alamat Email + No HP + Jumlah Buku
Lalu, Kirim SMS atau WhatsApp ke No: 081284826829


DAFTAR ISI BUKU KESEHATAN LINGKUNGAN:





































  Kami Tidak Hanya Jualan, Tapi Membantu Mencerdaskan Bidang Kesehatan Lingkungan.
 
Harga Buku Kesehatan Lingkungan Ini MURAH BANGET Hanya Rp.125 Ribu + Ongkir (Apalagi BONUS EBOOKnya KEREN-KEREN semuanya)
 
CARA PEMBAYARAN: Cukup transfer ke rekening BNI No: 0118657077 a.n Arda Dinata.
Kirim bukti transfer dan data berikut: 
(Nama + Alamat Lengkap + Email + No HP + Jumlah Buku Dipesan) Ke WhatsApp No: 081284826829 (klik)
  
#1 BONUS EBOOK
PEDOMAN KRITERIA TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS RAMAH LINGKUNGAN
+
#2 BONUS 22 EBOOK* 
PAKET E-PUSTAKA STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) UJI KUALITAS AIR DAN LIMBAH:
Berikut ini ada 22 EPUSTAKA + BONUS yang berisi ilmu-ilmu tentang Standar Nasional Indonesia Uji Kualitas Air dan Limbah sebagai panduan, pedoman dan referensi Kualitas Air dan Limbah.
(*Senilai Rp. 100 Ribu-an)
+
#3 BONUS 22 EBOOK* 
SANITASI & KESEHATAN LINGKUNGAN
22 EBOOK ini terkait bidang SANITASI yang berisi ilmu-ilmu tentang: Program, Panduan, Pedoman dan Referensi Pembangunan Sanitasi yang sangat bermanfaat bagi para Petugas Sanitarian di lapangan. 
(*Senilai Rp. 100 Ribu-an) 
Diberikan Khusus Bagi Anda Yang Pesan Hari Ini.

INILAH DAFTAR 22 BONUS EBOOK UNTUK ANDA:

1. Pengenalan Program dan Pembentukan Pokja Sanitasi Kota
2. Penilaian dan Pemetaan Situasi Sanitasi Kota
3. Penyusunan Dokumen Strategi Sanitasi Kota
4. Penyusunan Rencana Tindak Sanitasi
5. Panduan CSR Pembangunan Sanitasi
6. Panduan Praktis Pelaksanaan Penilaian Resiko Kesehatan Karena Lingkungan (EHRA)
7. Panduan Sumber dan Mekanisme Pendanaan Sektor Sanitasi
8. Pedoman Lokakarya Momeroundum Program Sanitasi Provinsi
9. Pedoman Penyusunan BPS (Buku Putih Sanitasi)
10. Pedoman Penyusunan Memorandum Program Sanitasi (MPS)
11. Pedoman Penyusunan Roadmap Sanitasi Provinsi
12. Pedoman Penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK)
13. Petunjuk Praktis Sumber Pendanaan Sanitasi
14. Referensi Sistem dan Teknologi Sanitasi
15. Panduan Tentang Pemberdayaan Masyarakat Jender dan Kemiskinan Dalam Pembangunan Sanitasi
16. Panduan Pemanfaatan Nawasis (Info Sanitasi)
17. Bonus 1. Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia
18. Bonus 2. Let Speak Out for MDGs – ID
19. Bonus 3. Ringkasan Kajian Air Bersih
20. Bonus 4. Pelaksanaan Program Kesehatan Lingkungan di Puskesmas
21. Bonus 5. PMK No. 13 ttg Pelayanan KESLING di Puskesmas
22. Bonus 6. Perancangan TOILET PORTABLE Bagi Para Pengungsi