BUKU KESEHATAN LINGKUNGAN

SILAHKAN UNDUH APLIKASI ANDROID UNTUK BLOG WWW.ARDADINATA.COM

Kebersamaan dalam Persamaan Hak (Al-Musawah)

Persamaan hak akan terjadi, bila hal-hal yang menyebabkan pertentangan dan perpecahan dapat ditanggalkan antara lain fanatisme golongan, keturunan, kekayaan, kebangsawanan, warna kulit, dll. Dalam hal ini, Islam memandang bahwa diantara kaum muslimin sama haknya menurut syari’at, yakni dalam hal tanggung jawab dan kemampuan-kemampuannya dalam memikul kewajiban syar’i serta dalam masalah balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Islam memperkokoh prinsip kesamaan karena semua orang dinilai dari satu sudut pandang, yaitu ketakwaannya.
     Sebagai contoh, kita ambil kasus perselisihan antara Abu Dzar dengan Bilal yang sedang memperdebatkan suatu permasalahan di hadapan Rasulullah saw. karena marahnya sampai-sampai Abu Dzar berkata kepada Bilal: “Hai anak si kulit hitam!”. Seketika itu Nabi Muhammad saw menegurnya. “Hentikan segera …. Hentikan segera … Sungguh tidak ada kelebihan satu dengan yang lainnya kecuali dengan amal saleh.” Abu Dzar baru sadar setelah melihat dan mendengar …

Membangun Wirausahawan Handal

Baca Juga


DALAM Kongres World Association for Small and Medium Entreprises, di Turki telah ditetapkan kewirahusaan dunia itu sebagai pendekatan baru dalam pembaruan ekonomi. Hal ini, tentu harus direspon secara positif oleh kaum muslim di Indonesia yang mulai mencoba bangkit dari keterpurukan ekonomi akibat krisis berkepanjangan di negara yang (katanya) kaya akan sumber daya alam ini.
Atas fenomena ini, seperti juga bidang lain, kita telah ketinggalan star. Padahal, di negara lain, kewirausahaan sudah dijadikan sebagai spearhead (pelopor) untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan berdaya saing tinggi. Membangun kewirausahaan dinyatakan sebagai satu dari empat pilar dalam lapangan pekerjaan.
Dalam konteks kekinian, hal itu berarti Indonesia harus benar-benar mengembangkan kewirausahaan seluas-luasnya, sebagai jawaban dari penanggulangan tingginya angka pencari kerja (pengangguran). Pertanyaannya, maukah kita melakukan pembaruan ekonomi (dengan kewirausahaan) itu?

Pengertian Wirausaha

Wirausaha berasal dari kata wira dan usaha. Wira berarti mulia, luhur atau unggul. Wira juga diartikan sebagai gagah berani, utama, teladan atau pemuka. Sedangkan usaha, diartikan sebagai kegiatan dengan mengerahkan tenaga pikiran atau badan untuk mencapai sesuatu maksud; pekerjaan (perbuatan, daya upaya, iktiar) untuk mencapai sesuatu maksud; kerajinan bekerja (untuk menghasilkan sesuatu).
Jadi, wirausaha adalah suatu kegiatan manusia dengan mengerahkan tenaga pikiran atau badan untuk mencapai/ menciptakan suatu pekerjaan yang dapat mewujudkan insan mulia. Dengan kata lain, wirausaha berarti manusia utama (unggul) dalam menghasilkan suatu pekerjaan bagi dirinya sendiri atau orang lain. Orang yang melakukan wirausaha dinamakan wirausahawan.
Betapa mulianya mereka yang mampu menjadi wirausaha –yang sesuai syariat Islam—ini, karena hidupnya akan berarti bagi dirinya sendiri dan orang lain. Bukankah, Nabi saw sendiri telah merubah pandangan dunia, bahwa kemuliaan bukanlah terletak pada kebangsawanan darah, tidak pula pada jabatan yang tinggi, atau uang yang banyak. Tetapi, kemuliaan adalah pada pekerjaan. Siapa yang bekerja, meskipun apa saja jenis usahanya (baca: asalkan halal), adalah suatu kehormatan. Sebaliknya, kehinaan itu bila kita tidak bekerja, bermalas-malasan, menganggur, menghabiskan waktu dengan sia-sia dan merugikan diri sendiri serta orang lain.

Wirausaha Handal

Untuk menciptakan insan-insan wirausaha yang handal, memang tidak semata-mata bermodalkan kekayaan alam semata-mata. Tapi, justru kualitas sumber daya manusia (SDM) yang harus kita kedepankan. Hal ini, telah dibuktikan oleh negara Jepang. Walau kondisi alamnya tidak semakmur Indonesia, tapi negara Jepang telah menguasai perekonomian dunia, termasuk produk-produknya telah menghiasi rumah-rumah kita. Kuncinya, SDM negara Jepang lebih unggul dari kita.
Di sinilah, pembangunan SDM harus kita tingkatkan, agar melahirkan insan-insan wirausaha yang mampu bersaing dengan SDM negara lain. Pembangunan SDM Indonesia yang masih lemah ini, tidak dapat kita ingkari. Berdasarkan data dari United Nations Development Report Program (UNDP) yang dibuat Human Development Report 2001, dikatakan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) telah menempatkan Indonesia pada peringkat 102 di bawah Vietman. Bahkan jauh tertinggal dibandingkan negara-negara di ASEAN lainnya; Malaysia (56), Thailand (66), Filipina (70), dan Singapura (26).
Untuk mewujudkan seorang wirahusawan yang handal, ada beberapa sifat yang harus dimilikinya, diantaranya adalah:
  • Sikap berani. Individu wirausahawan biasanya memiliki sikap berani untuk menerima resiko dalam menjalankan usahanya. Keberanianya tetap terkendali, bukan membabi buta, tapi ditunjang dengan ilmu, perhitungan dan persiapan.
  • Memiliki kreatifitas. Selain menonjolnya sikap berani, para wirausahawan juga unggul dalam daya kreatif, inspirasi, imajinasi dan kemampuan yang cukup tinggi untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat.
  • Memiliki kemampuan berkomunikasi dan memikat bawahan. Artinya, seorang wirausahawan bukanlah seorang yang kaku, melainkan sebagai orang yang luwes dan lugas terhadap orang lain. Dalam bahasa lain, ia mampu menguasai seni public relation dan human relation dengan baik. Sedangkan kemampuan memikat bawahan, berarti seorang wirausahawan tidak hanya pandai menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi juga memiliki daya pesona pribadi sehingga para pekerjanya mencintai dia dan mematuhinya.
  • Bersikap rasional dan berkemauan keras. Akal pikiran seorang wirausahawan akan mengutamakan efesiensi dan penghematan. Hal ini didasarkan atas pisau analisis yang tajam, sistematis dan metodologis. Pembelanjaannya tidak konsumtif, tetapi keuntungannya diusahakan diinvestasikan dalam rangka memperluas usahanya. Selain itu, seorang wirausahawan memiliki semangat yang tidak pernah padam karena hambatan, rintangan, dan tantangan. Baginya, kegagalan pada satu waktu, bukannya membuat dia mundur dan frustasi, melainkan sebagai anak tangga untuk memacu diri maju ke depan.
  • Dinamis, lincah, dan menghargai waktu. Aktif dan dinamis harus dimiliki oleh seorang wirausahawan, yaitu tidak menunggu-nunggu nasib tanpa berusaha. Tidak cepat puas dengan hasil kerjanya, selalu bersifat ingin tahu, selalu berkemauan keras dan visioner untuk maju. Di samping itu, seorang wirausahawan itu harus lincah dan gesit, bukan orang yang lamban. Seorang wirausahawan sadar betul akan pentingnya pemanfaatan waktu. Ia akan bersikap bijaksana dalam pengaturan waktu.
  • Berbudi luhur dan memiliki visi yang jelas. Wirausahawan sejati, bukan pribadi curang, culas, dan berkianat, melainkan orang yang berbudi luhur (baca: berakhlak mulia) sesuai dengan ajaran agama Islam. Keyakinan akan akhlak mulia ini didasarkan bahwa hanyalah dengan itu akan dihasilkan keuntungan material dan spiritual. Selain itu, seorang wirausahawan juga harus memiliki visi yang jelas lagi tidak ngawur. Aktivitasnya hanya didasarkan dengan niat ikhlas mengharap ridha-Nya.
Selamat menjadi seorang wirausahawan Islami dan saat ini kebangkitan dunia Islam sangat menunggu kemajuan para wirausahawan dari kalangan muslim. Wallahu’alam.
[Arda Dinata, Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia].


POPULAR POSTS

Kenapa Suami Marah & Berkata Kasar?

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Dengan Sistem Biofilter Anaerob-Aerob

Tangga-tangga Kesuksesan Seorang Wirausahawan

Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam

8 Jenis Penyakit Paru Patut Diwaspadai Wanita

Perkembangan Psikoseksual Anak

Perilaku Orang Tua Mempengaruhi Perilaku Anaknya

Menumbuhkan Kepercayaan Diri

ILMU MENJADI KAYA

Orang Tua dan Perkembangan Agama Anak

ARSIP ARTIKEL

Show more
| INSPIRASI | OPINI | OPTIMIS | SEHAT | KELUARGA | SPIRIT | IBROH | JURNALISTIK | BUKU | JURNAL | LINGKUNGAN | BISNIS | PROFIL | BLOG ARDA DINATA | ARDA TV |
Copyright © MIQRA INDONESIA

Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Babakan RT/RW. 002/011 Pangandaran - Jawa Barat