BUKU KESEHATAN LINGKUNGAN

SILAHKAN UNDUH APLIKASI ANDROID UNTUK BLOG WWW.ARDADINATA.COM

Kebersamaan dalam Persamaan Hak (Al-Musawah)

Persamaan hak akan terjadi, bila hal-hal yang menyebabkan pertentangan dan perpecahan dapat ditanggalkan antara lain fanatisme golongan, keturunan, kekayaan, kebangsawanan, warna kulit, dll. Dalam hal ini, Islam memandang bahwa diantara kaum muslimin sama haknya menurut syari’at, yakni dalam hal tanggung jawab dan kemampuan-kemampuannya dalam memikul kewajiban syar’i serta dalam masalah balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Islam memperkokoh prinsip kesamaan karena semua orang dinilai dari satu sudut pandang, yaitu ketakwaannya.
     Sebagai contoh, kita ambil kasus perselisihan antara Abu Dzar dengan Bilal yang sedang memperdebatkan suatu permasalahan di hadapan Rasulullah saw. karena marahnya sampai-sampai Abu Dzar berkata kepada Bilal: “Hai anak si kulit hitam!”. Seketika itu Nabi Muhammad saw menegurnya. “Hentikan segera …. Hentikan segera … Sungguh tidak ada kelebihan satu dengan yang lainnya kecuali dengan amal saleh.” Abu Dzar baru sadar setelah melihat dan mendengar …

Menjalin Persahabatan dengan Manusia yang Telah Meninggal Dunia

Baca Juga

TERJALINNYA persahabatan yang baik pada manusia selama hidupnya di dunia (baca: persahabatan dengan sesama manusia), maka akan mengantarkan terjalinya persahabatan yang baik pula terhadap orang yang telah meninggal, nantinya. Dalam arti lain, persahabatan/ hubungan orang yang masih hidup dan telah meninggal itu masih terus berlangsung, walaupun tidak berhubungan secara fisik.

Dari Sofyan, dari seorang yang mendengar dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah bersabda: “Amalan orang yang masih hidup berpengaruh terhadap orang tuanya yang telah meninggal. Jika yang masih hidup berbuat baik maka yang telah mati akan memuji Allah dan merasa gembira. Jika yang masih hidup berbuat jelek maka orang tuanya yang telah meninggal dunia berdoa: Ya Allah, jangan Kau matikan dia sebelum Kau beri hidayah.”



Nabi Saw. bersabda: "Di dalam kuburnya, orang yang telah mati merasa terganggu sebagaimana ia merasakannya ketika ia masih hidup.”

“Gangguan macam mana itu,” tanya sahabat.

“Seorang yang telah mati tak bisa melakukan dosa, tidak bisa bertengkar, bermusuhan dan tidak bisa menyakiti tetangga. Hanya saja bila kamu bertengkar dengan seseorang, pastilah orang tersebut akan mencacimu dan mencaci kedua orang tuamu. Saat itulah orang tuamu yang telah meninggal akan terganggu oleh perlakukan buruk itu. Sebaliknya, mereka yang telah mati merasa gembira ketika ia mendapatkan kebaikan yang menjadi hak mereka.”

Di bagian lain, dijelaskan juga dari Abdul Aziz bin Suhaib bahwa ia mendengar hadis dari Anas bin Malik. Lewatlah iring-iringan jenazah yang lain. Mereka menyebut-nyebut kejelekannya. Nabi bersabda, “Pastilah akan mendapatkannya.”

“Apa yang pasti, wahai Rasul?” tanya Umar.

“Yang kalian puji kebaikannya pastilah mendapat sorga. Demikian juga yang kalian sebut kejelekannya pastilah mendapat mereka.” Nabi melanjutkan sabdanya, “Kalian akan menjadi saksi Allah di bumi.”

Di bagian lain, dari Abdul Aswad Addaili: Saat itu aku duduk di dekat Umar. Nabi bersabda: “Seseorang yang mati lantas ada tiga orang bersaksi akan kebaikannya maka pastilah ia mendapat sorga.”

“Kalau cuma dua orang, wahai Rasul?” tanyaku.

“Ya, meskipun cuma dua orang.”

Kami tidak bertanya bila yang menjadi saksi hanya satu orang.

Kalau kita cermati dari beberapa keterangan di atas, terlihat jelas perlunya terjalin persahabatan yang harmonis di dunia, yang mampu menolong “sahabatnya” bila telah meninggal dunia. Inilah jalinan persahabatan dengan orang yang telah meninggal dunia. Melihat betapa pentingnya bentuk jalinan persahabatan sampai seseorang meninggal ini, maka sahabat yang masih hidup ini berpengaruh terhadap kesaksian atas amal sahabatnya yang telah meninggal itu.

Dari Amir bin Rabi’ah, Nabi bersabda, “Jika seseorang meninggal dan Allah mengetahui kejelekannya sedang orang-orang mengatakannya baik, maka Allah berfirman kepada Malaikat: Kalian jadi saksi bahwa Aku terima hamba-Ku atas hamba-Ku yang mati. Kuampuni dia dengan sepengetahuan-Ku..."

Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com


POPULAR POSTS

Kenapa Suami Marah & Berkata Kasar?

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Dengan Sistem Biofilter Anaerob-Aerob

Tangga-tangga Kesuksesan Seorang Wirausahawan

Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam

8 Jenis Penyakit Paru Patut Diwaspadai Wanita

Perkembangan Psikoseksual Anak

Perilaku Orang Tua Mempengaruhi Perilaku Anaknya

Menumbuhkan Kepercayaan Diri

Orang Tua dan Perkembangan Agama Anak

ILMU MENJADI KAYA

ARSIP ARTIKEL

Show more
| INSPIRASI | OPINI | OPTIMIS | SEHAT | KELUARGA | SPIRIT | IBROH | JURNALISTIK | BUKU | JURNAL | LINGKUNGAN | BISNIS | PROFIL | BLOG ARDA DINATA | ARDA TV |
Copyright © MIQRA INDONESIA

Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Babakan RT/RW. 002/011 Pangandaran - Jawa Barat