Cari Tulisan Tentang:

Indahnya Keluarga Berkualitas

Indahnya Keluarga Berkualitas
Oleh: ARDA DINATA


TERJALINNYA sebuah ikatan perkawinan, tidak saja bertujuan untuk mendapatkan generasi penerus (baca: keturunan) yang banyak dari segi kuantitas, tapi juga kita harus memperhatikan segi kualitas keluarga yang akan kita bangun. Hal ini didasarkan pada subtansi bahwa permasalahan generasi anak-anak kita akan memiliki permasalahan dan tantangan yang berbeda dari keadaan saat sekarang. Selain itu, tentunya kita harus menjadikan keturunan tersebut tidak menjadi beban bagi siapa pun, termasuk dirinya sendiri.

Di antara hal yang perlu diperhatikan sebagai langkah awal dalam membentuk keluarga berkualitas adalah dengan menumbuhkan suasana ketentraman dan kasih sayang di dalam keluarga. Allah SWT berfirman, yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. 30: 21). Lagian, bukankah ketentraman dan kasih sayang itu merupakan kebutuhan dasar setiap manusia?


Menurut Drs. Hasan Basri, dalam karyanya berjudul “Merawat Cinta Kasih,” keluarga berkualitas adalah keluarga yang rukun, berbahagia, tertib, disiplin, saling menghargai, penuh maaf, tolong menolong, dalam kebajikan, memiliki etos kerja, bertetangga dengan saling menghormati, taat mengerjakan ibadah, berbakti kepada orang tua dan mertua, mencintai ilmu pengetahuan dan memanfaatkan waktu luang dengan hal-hal yang positif dan mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga.

Betapa indahnya kondisi keluarga berkualitas tersebut. Penulis yakin setiap kita pada dasarnya mengharapkan tercipta dan terwujudnya keluarga berkualitas ini. Predikat demikian, bukan diperoleh hanya mengandalkan kepada salah satu komponen/unsur di dalam keluarga (bapak, ibu, atau anak). Tapi, ia merupakan hasil kerjasama yang harmonis di antara komponen keluarga tersebut.

Dalam arti lain, di dalam keluarga itu masing-masing komponen keluarga menjalankan kewajibannya dengan baik dan serius, tanpa mengeluh, mencari kambing hitam dan merasa diperbudak oleh orang lain. Jadi, fungsi-fungsi keluarga dalam sebuah ikatan perkawinan benar-benar diwujudkannya.

Fungsi Keluarga

Untuk menggapai predikat keluarga berkualitas, maka perilaku kita hendaknya diarahkan kepada terlaksananya fungsi-fungsi yang disandang dalam sebuah keluarga. Di mana pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga itu didasarkan kepada azas gotong royong. Dalam bahasa lain, Burgess menyebutnya dengan companionship, yaitu persahabatan, kebersamaan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan demokrasi bagi semua anggota keluarga.

Berikut ini, ada beberapa fungsi keluarga yang perlu diwujudkan tersebut, yaitu: 1. Fungsi keagamaan. Setiap keluarga diharapkan mampu berfungsi sebagai wahana untuk menciptakan seluruh anggota keluarganya menjadi insan-insan agamis yang penuh iman dan taqwa kepada Allah SWT.

2. Fungsi sosial budaya. Setiap keluarga mampu untuk menggali, mengembangkan dan melestarikan kekayaan sosial budaya yang dimiliki oleh masyarakatnya dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di samping juga berupa penguasaan terhadap tata cara sopan santun terhadap orang tua, suami terhadap isteri dan berlaku sebaliknya. Untuk itu, sebaiknya pertama-tama hal itulah yang diwariskan dalam lingkungan keluarga masing-masing.

3. Fungsi kasih sayang. Setiap keluarga diharapkan mampu berfungsi untuk mewujudkan proses pengembangan timbal balik dalam rasa cinta dan kasih sayang antar komponen anggota keluarga. Dalam hal ini, sebenarnya untuk mewujudkan rasa cinta dan kasih sayang antara suami-isteri itu sudah dimulai sejak mereka merencanakan untuk hidup bersama.

4. Fungsi perlindungan. Setiap keluarga diharapkan berfungsi sebagai tempat perlindungan yang memberikan rasa aman, tentram lahir dan batin. Keluarga memang menjadi tempat yang aman bagi kita, misalnya suami merasa ‘terlindungi’ karena ada isteri yang mendampinginya, demikian pula sebaliknya. Begitu juga, anak-anak menjadi terlindungi karena ada orang tua yang menjadi tumpuan pengaduannya. Peran serta orang tua di sini, tentunya sangat besar dalam menentukan kesuksesan dari masa depan seorang anak. Sedangkan masa depan orang tua sendiri, sebagian besar terletak pada anak-anaknya yang akan memperhatikan dan memeliharanya.

5. Fungsi reproduksi. Setiap suami-isteri yang diikat dengan perkawinan yang sah diharapkan mampu memberikan keturunan yang berkualitas, sehingga menjadi insan yang berguna bagi keluarganya, agama, masyarakat dan negara. Pemahaman akan pendidikan reproduksi sehat bagi keluarga muda dan calon suami-isteri ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk dimiliki, maka hendaknya hal itu mulai diberikan pertama-tama di lingkungan keluarga kita.

6. Fungsi edukatif dan sosialisasi. Setiap keluarga diharapkan mampu menjadi pendidik yang pertama dan utama bagi anak-anaknya dalam menumbuh-kembangkan kekuatan-kekuatan agama, fisik, mental dan sosial. Pendidikan informal yang diberikan orang tua kepada anaknya itu (baca: sosialisasi primer) merupakan pendidikan yang pertama dan berkelanjutan, di mana peran orang tua sangat penting dalam memberikan bekal kepada anaknya agar dapat hidup “tanpa kesulitan” di masyarakat.

7. Fungsi ekonomi. Setiap keluarga diharapkan mampu berfungsi untuk meningkatkan ekonomi keluarganya, sehingga bisa mencapai kebutuhan hidupnya yang lebih tinggi (baca: baik). Artinya, walaupun suami sebagai kepala keluarga memiliki kewajiban menghidupi keuangan keluarga, tapi tidak ada salahnya kalau setiap anggota komponen keluarga ikut serta membantunya.

8. Fungsi pelestarian lingkungan. Setiap keluarga diharapkan mampu membiasakan diri untuk memelihara dan melestarikan lingkungan di mana mereka tinggal. Fungsi pelestarian lingkungan tersebut tidak terlepas dari sistem pendidikan informal yang diberikan dalam keluarganya. Kebiasaan hidup bersih dan mencintai lingkungan perlu diperlihatkan oleh bapak dan ibu kepada anak-anaknya. Artinya kepedulian terhadap lingkungan yang bersih dan sehat perlu ditanamkan sejak dini dalam keluarga.

Akhirnya kita berdoa kepada Allah SWT, semoga kita selalu diberi petunjuk dan kekuatan dalam berusaha membentuk sebuah tatanan keluarga berkualitas serta mewujudkannya, yakni dengan menerapkan perilaku fungsi-fungsi keluarga tersebut di tengah-tengah keluarga kita yang sesuai dengan ajaran Islam. Amin. Wallahu’alam.(bdg, 13/7/02).***
Bagaimana menurut Anda?

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Share:
Inilah Buku Khusus Bagi Peminat dan Pemerhati Kesehatan Lingkungan, Petugas Sanitarian dan Penanggung Jawab Program Kesling di Dinas Kesehatan Kota/ Kabupaten, Dinas Lingkungan Hidup, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan, Serta Mahasiswa Kesehatan Yang Mendapat Mata Kuliah Sanitasi Dasar dan Kesehatan Lingkungan.
 Milikilah Segera Buku 7 Kunci Menuju Indonesia Sehat: 
Menyehatkan Makanan, Air, Limbah Cair, Limbah Padat, Limbah Medis (B3), Udara, Kesehatan Rumah dan Binatang Pengganggu

MASIH tingginya angka jumlah anak dengan gizi kurang, kasus penyakit infeksi seperti demam berdarah, dan kian meningkatnya penyakit tidak menular adalah beberapa masalah umum yang menggambarkan kondisi kesehatan di Indonesia. Masalah ini tidak hanya datang dari kurangnya kepedulian masyarakat akan kesehatan, tapi juga kondisi geografis yang membuat beberapa pulau di Indonesia memiliki keterbatasan akses ke sarana kesehatan, seperti pelayanan kesehatan dan air bersih. 

Menurut Zaenal Abidin (2015), selaku Ketua Umum IDI periode 2012-2015, kini rakyat Indonesia mengalami empat transisi masalah kesehatan yang memberikan dampak double burden (beban ganda). Keempat transisi tersebut ialah transisi demografi, epidemiologi, gizi, dan transisi perilaku. 

Transisi demografi ini ditandai dengan usia harapan hidup yang meningkat, berakibat penduduk usia lanjut bertambah dan menjadi tantangan tersendiri bagi sektor kesehatan karena meningkatnya kasus-kasus geriatri. Sementara itu, masalah kesehatan klasik dari populasi penduduk yang bayi, balita, remaja, dan ibu hamil tetap saja belum berkurang.

Transisi epidemiologi datang dengan dua kelompok penyakit, yaitu penyakit menular dan tidak menular. Penyakit menular seperti tuberkulosis, malaria, demam berdarah, diare, cacingan, hepatitis virus, dan HIV tetap eksis. Sisi lain, penyakit tidak menular yang berlangsung kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, kencing manis, gagal ginjal, stroke dan kanker, kasusnya makin banyak dan menyerap dana kesehatan yang tidak sedikit.

Pada transisi sektor gizi, satu sisi kita berhadapan dengan kasus penduduk gizi lebih (kegemukan/obesitas), sementara kasus gizi kurang masih tetap terjadi.

Transisi terakhir, pada pola perilaku (gaya hidup). Perilaku hidup ‘modern’, atau lebih tepatnya sedentary mulai menjadi kebiasaan baru bagi masyarakat. Gaya hidup serba instan, termasuk dalam memilih bahan pangan, dan kurang peduli aspek kesehatan, sementara sebagian yang lain masih percaya mitos-mitos yang diwariskan berkaitan dengan sakit-sehatnya seseorang.

Bahkan, laporan Olivia Lewi Pramesti (2012), dari National Geographic Indonesia, menyebutkan bahwa kasus eksploitasi lingkungan semakin banyak dan tidak sedikit yang mengalami keruskan. Potret lingkungan Indonesia makin memprihatinkan, data Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia, tahun 2012 ada 300 kasus lingkungan hidup, seperti kebakaran hutan, pencemaran lingkungan, pelanggaran hukum, dan pertambangan. Selain itu, potret lingkungan Indonesia berdasarkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup dari Kementerian Lingkungan Hidup, ada penurunan kualitas lingkungan, yakni pada 2009 sebesar 59,79%, 2010 sebesar 61,7%, dan 2011 sebesar 60,84%. Data Menuju Indonesia Hijau, Indonesia hanya memiliki luas tutupan hutan sebesar 48,7%. 

Jadi, betapa miris kondisi kesehatan lingkungan di Indonesia. Padahal, kalau kita renungkan menurut Guru Besar Administrasi Kesehatan dari Universitas Berkeley, Henrik L Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi dari status kesehatan manusia, yaitu lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik (keturunan). Hal ini, berarti bisa jadi teori Henrik L Blum itu belum mendasari dan diterapkan dalam pola pembangunan kesehatan di Indonesia secara konsisten dan menyeluruh? 

Terkait itu, saya teringat cerita Prof. dr. Ascobat Gani, MPH., DrPh., salah satu dosen favorit di FKM UI, yang menggambarkan betapa menyenangkan seandainya negeri ini dibangun dengan menerapkan filosofi dasar kesehatan masyarakat (Public Health). Berikut ini, saya tuliskan kembali ceritanya.

Betapa indahnya bila kita hidup di sebuah negeri dimana anak-anak kita tumbuh dengan sehat, riang dan gembira setiap hari. Tempat mereka tinggal pun bersih, segar, dan nyaman. Tersedia asupan gizi yang cukup dan menyehatkan. Sarana bermain dan sekolah yang menyenangkan.
Sementara pemuda dan orang dewasanya, baik laki-laki maupun perempuan memiliki aktivitas usaha yang beragam dan saling melengkapi. Mereka bahu membahu membangun lingkungan yang nyaman sekaligus mereka saling tolong menolong ketika ada musibah atau ada yang sakit di antara mereka.
Tak cukup hanya itu, bila diperlukan mereka siap mengantar ke puskesmas atau mantri atau bahkan dokter dengan biaya yang terjangkau. Bahkan mereka siap menjemput petugas kesehatan ke daerah mereka secara berkala untuk sekadar memeriksakan kesehatan-nya, atau mendapat penjelasan tentang hidup sehat atau tentang pencegahan terhadap penyakit tanpa harus menunggu jatuh sakit atau wabah penyakit datang terlebih dahulu.
Orang-orang tua dan sudah lanjut usia juga dapat menikmati masa-masa tuanya dengan penuh senyuman di antara gelak tawa dan canda anak cucu tercinta. Semua orang produktif karena mereka sehat, sejahtera, dan bahagia.
Itulah potret negeri Public Health telah menjadi filosofi dasar dalam membangun bangsa.

Buku Kesehatan Lingkungan yang sedang Anda baca ini, berisi catatan-catatan masalah kesehatan lingkungan yang saya amati dan ditulis sejak tahun 1990-sekarang. Buku ini tidak hanya berisi masalah kesehatan lingkungan saja, tapi juga dilengkapi dengan alternatif solusi dalam mengatasi permasalah kesehatan lingkungan itu. Secara garis besar, buku ini berisi Tujuh Kunci Menuju Indonesia Sehat, yaitu: menyehatkan makanan, air bersih, limbah cair, limbah padat (sampah), limbah medis (B3), pencemaran udara, kesehatan rumah dan binatang pengganggu.

Pangandaran, 7 Maret 2018
Arda Dinata

 

TESTIMONI BUKU INI:

 "Setelah membacanya, saya yakin bahwa buku ini wajib dibaca oleh seluruh Sanitarian di Indonesia. Sebab, isinya memberi wawasan keilmuan dalam mengatasi berbagai persoalan kesehatan lingkungan. Buku yang cukup lengkap ini, membantu Sanitarian selaku tenaga ahli bidang kesehatan lingkungan untuk melakukan intervensi lingkungan, berupa penanganan penyakit dari makanan, air bersih, limbah cair, limbah padat (sampah), limbah medis (B3), udara, rumah dan binatang pengganggu, sehingga tercipta derajat kesehatan masyarakat Indonesia yang optimal.”
---Bambang Wahyudi, SKM., MM., Ketua Pimpinan Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).

"Buku ini wajib Anda baca! Susunan isi bukunya begitu apik. Kehadiran buku ini sebagai penyegaran untuk akademisi maupun praktisi yang menggeluti kesehatan lingkungan. Dengan menggunakan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami, serta dilengkapi dengan contoh kasus yang real di lapangan, telah menambah nilai plus dan komprehensif buku ini dalam menguraikan fenomena kesehatan lingkungan.” 
---Dr. Elanda Fikri, SKM., M.Kes., Doktor Termuda Ahli Kesehatan Lingkungan & Dosen Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes RI, Bandung.

"Mantap Kang Arda bukunya. Isinya lengkap memberi inspirasi dan pencerahan dalam bidang kesehatan lingkungan. Bahasan 7 Kunci Menuju Indonesia Sehat ini harus diterapkan kalau menginginkan masyarakat Indonesia Sehat." 
---Kusna Ramdani, SKM., Mahasiswa Magister Kesehatan Lingkungan Undip Semarang dan Fungsional Sanitarian Pertama di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tanjungpinang, Kepri.

“Keberadaan faktor kesehatan lingkungan berpengaruh pada terciptanya derajat kesehatan masyarakat di Indonesia. Untuk itu, Sanitarian sebagai pelaku kesehatan lingkungan harus mampu melakukan intervensi lingkungan secara baik. Dengan membaca buku ini, wawasan pengetahuan kita akan bertambah secara signifikan terkait bagaimana mengatasi berbagai persoalan kesehatan lingkungan. Isi buku yang cukup lengkap ini dapat membantu keahlian kita dalam mengatasi masalah kesehatan makanan, air, limbah cair, limbah padat, limbah medis, udara, rumah dan binatang pengganggu. Buku ini wajib dibaca oleh Sanitarian dan mahasiswa kesehatan lingkungan untuk mewujudkan Indonesia Sehat, sebab: Health is not everything but without health everything is nothing.”
---Asep Zaenal Mustofa, SKM., M.Epid., Kepala Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Kemenkes RI, Batam dan Ketua Departemen Komunikasi & Publikasi Pimpinan Pusat Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI).

"Masalah kesehatan lingkungan yang kompleks ini, butuh tenaga Sanitarian yang profesional. Tenaga Sanitarian harus mengembangkan diri sesuai tupoksi ahli kesehatan lingkungan. Membaca dan memahami isi buku ini, wawasan ilmu saya di bidang kesehatan lingkungan jadi bertambah secara signifikan. Isi buku ini cukup lengkap membahas keahlian kesehatan lingkungan. Inilah buku yang wajib dibaca para Sanitarian dan mahasiswa yang belajar kesehatan lingkungan."
---Rusdy I. Miolo, SKM., Ketua Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) Kabupaten Gorontalo.

"Buku ini berisi Tujuh Kunci Menuju Indonesia Sehat, yang memotret pentingnya masalah kesehatan lingkungan supaya eksis sesuai perkembangan zaman dan diterima masyarakat. Misalnya, bagaimana membangun masyarakat tangguh hadapi bencana dan kejadian luar biasa penyakit. Mantap bukunya Kang Arda dan terus berkarya!"
---Idan Awaludin, SKM., Penggagas aplikasi ‘Pokentik’ & bekerja di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit Kelas I Palembang, Dirjen P2P Kemenkes RI.

"Buku ini hadir sebagai senjata bagi tenaga kesehatan, khususnya kesehatan lingkungan. Bukan saja menjadi oase di bidang kepenulisan kesehatan, buku ini mampu jadi properti promosi kesehatan yang ampuh. Setelah baca buku ini, Anda akan penasaran seperti saya dan ingin mewujudkan isi gagasan yang ditawarkan dalam buku ini."
---Ida Rahayu Setia Dewi, A.Md.KL., Alumni Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes RI, Yogyakarta.

CARA PEMESANAN BUKU INI:
Tulis Nama + Alamat Lengkap + Alamat Email + No HP + Jumlah Buku
Lalu, Kirim SMS atau WhatsApp ke No: 081284826829


DAFTAR ISI BUKU KESEHATAN LINGKUNGAN:





































  Kami Tidak Hanya Jualan, Tapi Membantu Mencerdaskan Bidang Kesehatan Lingkungan.
 
Harga Buku Kesehatan Lingkungan Ini MURAH BANGET Hanya Rp.125 Ribu + Ongkir (Apalagi BONUS EBOOKnya KEREN-KEREN semuanya)
 
CARA PEMBAYARAN: Cukup transfer ke rekening BNI No: 0118657077 a.n Arda Dinata.
Kirim bukti transfer dan data berikut: 
(Nama + Alamat Lengkap + Email + No HP + Jumlah Buku Dipesan) Ke WhatsApp No: 081284826829 (klik)
  
#1 BONUS EBOOK
PEDOMAN KRITERIA TEKNOLOGI PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS RAMAH LINGKUNGAN
+
#2 BONUS 22 EBOOK* 
PAKET E-PUSTAKA STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) UJI KUALITAS AIR DAN LIMBAH:
Berikut ini ada 22 EPUSTAKA + BONUS yang berisi ilmu-ilmu tentang Standar Nasional Indonesia Uji Kualitas Air dan Limbah sebagai panduan, pedoman dan referensi Kualitas Air dan Limbah.
(*Senilai Rp. 100 Ribu-an)
+
#3 BONUS 22 EBOOK* 
SANITASI & KESEHATAN LINGKUNGAN
22 EBOOK ini terkait bidang SANITASI yang berisi ilmu-ilmu tentang: Program, Panduan, Pedoman dan Referensi Pembangunan Sanitasi yang sangat bermanfaat bagi para Petugas Sanitarian di lapangan. 
(*Senilai Rp. 100 Ribu-an) 
Diberikan Khusus Bagi Anda Yang Pesan Hari Ini.

INILAH DAFTAR 22 BONUS EBOOK UNTUK ANDA:

1. Pengenalan Program dan Pembentukan Pokja Sanitasi Kota
2. Penilaian dan Pemetaan Situasi Sanitasi Kota
3. Penyusunan Dokumen Strategi Sanitasi Kota
4. Penyusunan Rencana Tindak Sanitasi
5. Panduan CSR Pembangunan Sanitasi
6. Panduan Praktis Pelaksanaan Penilaian Resiko Kesehatan Karena Lingkungan (EHRA)
7. Panduan Sumber dan Mekanisme Pendanaan Sektor Sanitasi
8. Pedoman Lokakarya Momeroundum Program Sanitasi Provinsi
9. Pedoman Penyusunan BPS (Buku Putih Sanitasi)
10. Pedoman Penyusunan Memorandum Program Sanitasi (MPS)
11. Pedoman Penyusunan Roadmap Sanitasi Provinsi
12. Pedoman Penyusunan Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK)
13. Petunjuk Praktis Sumber Pendanaan Sanitasi
14. Referensi Sistem dan Teknologi Sanitasi
15. Panduan Tentang Pemberdayaan Masyarakat Jender dan Kemiskinan Dalam Pembangunan Sanitasi
16. Panduan Pemanfaatan Nawasis (Info Sanitasi)
17. Bonus 1. Laporan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia
18. Bonus 2. Let Speak Out for MDGs – ID
19. Bonus 3. Ringkasan Kajian Air Bersih
20. Bonus 4. Pelaksanaan Program Kesehatan Lingkungan di Puskesmas
21. Bonus 5. PMK No. 13 ttg Pelayanan KESLING di Puskesmas
22. Bonus 6. Perancangan TOILET PORTABLE Bagi Para Pengungsi