BUKU KESEHATAN LINGKUNGAN

SILAHKAN UNDUH APLIKASI ANDROID UNTUK BLOG WWW.ARDADINATA.COM

Kebersamaan dalam Persamaan Hak (Al-Musawah)

Persamaan hak akan terjadi, bila hal-hal yang menyebabkan pertentangan dan perpecahan dapat ditanggalkan antara lain fanatisme golongan, keturunan, kekayaan, kebangsawanan, warna kulit, dll. Dalam hal ini, Islam memandang bahwa diantara kaum muslimin sama haknya menurut syari’at, yakni dalam hal tanggung jawab dan kemampuan-kemampuannya dalam memikul kewajiban syar’i serta dalam masalah balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Islam memperkokoh prinsip kesamaan karena semua orang dinilai dari satu sudut pandang, yaitu ketakwaannya.
     Sebagai contoh, kita ambil kasus perselisihan antara Abu Dzar dengan Bilal yang sedang memperdebatkan suatu permasalahan di hadapan Rasulullah saw. karena marahnya sampai-sampai Abu Dzar berkata kepada Bilal: “Hai anak si kulit hitam!”. Seketika itu Nabi Muhammad saw menegurnya. “Hentikan segera …. Hentikan segera … Sungguh tidak ada kelebihan satu dengan yang lainnya kecuali dengan amal saleh.” Abu Dzar baru sadar setelah melihat dan mendengar …

MENULIS DIRI (2)

Baca Juga

Menulis diri itu perlu keberanian dan kebijaksana. Apaan sih....? kaya belajar Pancasila aja. Memang ngak berlebihan, dalam menulis kita perlu dilandasi dengan keberanian. Rasa berani inilah yang akan mengerakan roda-roda malas dan takut ketika mau menulis.

Rasa berani yang kuatlah modal saya ketika awal -awal dalam belajar menulis. Pada awal menulis begitu beraninya saya mengirimkan aneka tulisan ke redaksi media massa, walaupun sebelumnya banyak tulisan sayang yang ditolaknya.

Tanpa keberanian seperti itulah, tidak mungkin saya terus mengirim aneka tulisan ke media. Pantang menyerah dan selalu belajar dari tulisan orang lain itulah yang saya lakukan terus menerus. Dan akhirnya, seiring berjalannya waktu aneka tulisan saya tersebar di berbagai koran dan majalah.

Mulailah dari yang ada. Apa yang kita miliki. Dan segera menuliskannya. Itulah modal lebih dari cukup. Sebab menulis itu adalah dengan menuliskannya, bukan menginginkannya. Karena kalau ingin itu baru sekedar kerja pikir. Sedangkan menulis itu adalah kerja pikir dan kerja amal.

Dalam konteks ini, saya jadi teringat apa yang pernah dikatakan motivator Indonesia, Anrie Wongso, "Mampu menerima apa adanya kita hari ini = bijaksana! Mau mengembangkan diri mulai dari apa adanya kita hari ini = berani!".
Untuk itu, dalam menulis ngak usah neko-neko. Modalnya, mulailah dari apa yang ada dalam diri kita. Selanjutnya, untuk mengembangkan tulisan kita teruslah belajar. Yakni dengan cara terus berani menulis, menulis, menulis, dan menulis.

Selamat mebaca dan menulis. Bagaimana menurut Anda sahabatku?

Wanayasa, 15/08/13
@ardadinata
 
Bagaimana menurut Anda?  
 
Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


POPULAR POSTS

Kenapa Suami Marah & Berkata Kasar?

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Dengan Sistem Biofilter Anaerob-Aerob

Tangga-tangga Kesuksesan Seorang Wirausahawan

Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam

8 Jenis Penyakit Paru Patut Diwaspadai Wanita

Perkembangan Psikoseksual Anak

Perilaku Orang Tua Mempengaruhi Perilaku Anaknya

Menumbuhkan Kepercayaan Diri

Orang Tua dan Perkembangan Agama Anak

ILMU MENJADI KAYA

ARSIP ARTIKEL

Show more
| INSPIRASI | OPINI | OPTIMIS | SEHAT | KELUARGA | SPIRIT | IBROH | JURNALISTIK | BUKU | JURNAL | LINGKUNGAN | BISNIS | PROFIL | BLOG ARDA DINATA | ARDA TV |
Copyright © MIQRA INDONESIA

Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Babakan RT/RW. 002/011 Pangandaran - Jawa Barat