Kolom Arda Dinata

Bagaimana Dosa Kecil Bisa Menjerumuskan?

Posted by. on 26 September 2013

Nabi Muhammad Saw mendefinisikan dosa dengan, “Apa yang mengganjal dalam hatimu, dan engkau takut kalau hal itu diketahui orang lain.” (HR. Iman Muslim).

Bagaimana Dosa Kecil Bisa Menjerumuskan?
Oleh Arda Dinata
Kehidupan manusia memang tidak terlepas dari lilitan dosa. Tetapi, bukan lantas kita seenaknya melakukan dosa-dosa kecil atau lebih-lebih dosa besar. Dan sulit bisa dibayangkan apa yang terjadi, jika predikat ‘dosa’ dihapuskan dari peradaban manusia. Hasilnya, kehidupan akan kacau balau, karena dengan nafsunya setiap orang merasa bebas berbuat apa saja.

Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagaikan binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-An’am: 179).

Dalam Islam, seseorang dikatakan berdosa, jika orang itu melanggar larangan syariatnya. Nabi Muhammad Saw mendefinisikan dosa dengan, “Apa yang mengganjal dalam hatimu, dan engkau takut kalau hal itu diketahui orang lain.” (HR. Iman Muslim).

Secara demikian, pada koridor itulah kita dapat memposisikan perbuatan manusia itu, termasuk dosa atau tidak. Sayangnya, banyak manusia yang kurang memaknai sebuah dosa. Sehingga banyak hal-hal kecil perbuatan manusia yang diabaikan, padahal perilaku itu telah melanggar syariat Islam. Berikut ini kisah yang pernah ditulis H. Usep Romli, H.M, tentang sebutir kurma penjegal doa.

Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke Masjidil Aqsa. Untuk bekal diperjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat Masjidil Haram.

Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak di dekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungutnya, lalu memakannya. Setelah itu langsung berangkat menuju Al Aqsa.

Empat bulan kemudian, Ibrahim tiba ke Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih tempat beribadah pada sebuah ruangan di bawah Kubah Sakhra. Ia salat dan berdoa khusyuk sekali.

Tiba-tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.

“Itu Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan Allah SWT,” kata Malaikat yang satu.

“Tapi sekarang tidak lagi. Doanya ditolak karena 4 bulan yang lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat Masjidil Haram, “ jawab Malaikat yang satu lagi.

Ibrahim bin Adham terkejut sekali. Ia terenyak. Jadi, selama 4 bulan ini ibadahnya, salatnya, doanya tidak diterima oleh Allah SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya.

“Astagfirullahal Adzim,” Ibrahim beristighfar. Ia segera berkemas. Berangkat lagi ke Mekah untuk menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.

Singkat cerita, ternyata pedagang tua itu sudah meninggal dunia. Dengan begitu Ibrahim meminta penghalalan itu terhadap para ahli warisnya yang berjumlah 12 orang (jumlah ini diketahui dari ahli waris yang berjualan kurma menggantikan ayahnya).

Akhirnya, semua ahli waris setuju menghalalkan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh Ibrahim.

Empat bulan kemudian, Ibrahim bin Adham sudah berada lagi di ruang bawah Kubah Sakhra. Tiba-tiba dua Malaikat yang dulu, terdengar lagi bercakap-cakap.

“Itulah Ibrahim bin Adham yang doanya tertolak gara-gara memakan sebutir kurma milik orang lain.”

“O, tidak. Sekarang doanya sudah makbul lagi. Ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas.”

Perilaku mengabaikan dosa seperti itulah, yang akan memberatkan posisi dirinya dihadapan Allah. Semoga kita merasa yakin dan tidak menyepelekan akan dosa yang telah kita perbuat, walau hanya sebesar biji kurma seperti kisah di atas.   

Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Arda Publishing House
Pusat Pustaka Ilmu, Inspirasi dan Motivasi Menjadi Orang Sukses
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Kec. Pangandaran - Ciamis Jawa Barat 46396
http://www.ardadinata.web.id

Blog, Updated at: 5:00 AM

0 komentar:

Post a Comment

Buku Pernikahan

Buku Kesehatan

Buku Kesehatan

 

Powered by Blogger.
Aku tinggalkan untuk kamu sekalian dua hal. Jika kalian mau berpegang teguh kepadanya niscaya kamu sekalian tidak akan sesat selama-lamanya, dua hal itu adalah kitab Allah (al-qur’an) dan sunnah Rasul-Nya (al-Hadits). (HR Imam Malik)
| Tips Cepet Hamil | Cara Merawat Bayi |Tips Wajah Cantik |
PRchecker.info