BUKU KESEHATAN LINGKUNGAN

SILAHKAN UNDUH APLIKASI ANDROID UNTUK BLOG WWW.ARDADINATA.COM

Kebersamaan dalam Persamaan Hak (Al-Musawah)

Persamaan hak akan terjadi, bila hal-hal yang menyebabkan pertentangan dan perpecahan dapat ditanggalkan antara lain fanatisme golongan, keturunan, kekayaan, kebangsawanan, warna kulit, dll. Dalam hal ini, Islam memandang bahwa diantara kaum muslimin sama haknya menurut syari’at, yakni dalam hal tanggung jawab dan kemampuan-kemampuannya dalam memikul kewajiban syar’i serta dalam masalah balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Islam memperkokoh prinsip kesamaan karena semua orang dinilai dari satu sudut pandang, yaitu ketakwaannya.
     Sebagai contoh, kita ambil kasus perselisihan antara Abu Dzar dengan Bilal yang sedang memperdebatkan suatu permasalahan di hadapan Rasulullah saw. karena marahnya sampai-sampai Abu Dzar berkata kepada Bilal: “Hai anak si kulit hitam!”. Seketika itu Nabi Muhammad saw menegurnya. “Hentikan segera …. Hentikan segera … Sungguh tidak ada kelebihan satu dengan yang lainnya kecuali dengan amal saleh.” Abu Dzar baru sadar setelah melihat dan mendengar …

Berselancar di Dunia Hati (1)

Baca Juga



ADAKAH yang lebih jujur dari kata hati, ketika ia menyadarkan kita tanpa butiran kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, saat ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan kehilafan. Sungguh kondisi yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini, tidak lain saat di mana kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati.

Berselancar di Dunia Hati (1)


ADAKAH yang lebih jujur dari kata hati, ketika ia menyadarkan kita tanpa butiran kata-kata. Adakah yang lebih tajam dari mata hati, saat ia menghentak kita dari beragam kesalahan dan kehilafan. Sungguh kondisi yang paling indah dari seluruh putaran kehidupan ini, tidak lain saat di mana kita mampu secara jujur dan tulus mendengar suara hati. Sehingga pantas Imam Turmudzi mengatakan, “Hidupnya hati karena iman dan kematiannya karena kekufuran. Sehatnya hati karena ketaatan dan sakitnya hati karena terus-menerus mengerjakan kemaksiatan. Kesadarannya hati karena dzikir dan tidurnya hati karena kelengahan.”


Hati sendiri pada dasarnya merupakan tunas dari kedamaian. Dr. Ahmad Faried, menggambarkan bahwa hubungan hati dengan organ-organ tubuh lainnya, laksana raja yang bertahta di atas singgasana yang dikelilingi para punggawanya. Seluruh anggota punggawa bergerak atas perintahnya. Dengan kata lain, bahwa hati itu adalah sebagai remote control sekaligus pemegang komando terdepan (utama). Karena semua anggota tubuh berada dibawah komando dan dominasinya. Di hati inilah anggota badan lainnya mengambil keteladanannya, dalam ketaatan atau penyimpangan.

Jadi, betapa pentingnya kedudukan hati ini dalam kehidupan manusia. Namun, pertanyaannya adalah apakah kita selama ini telah “berselancar” untuk betul-betul memahami dan memaknai keberadaan dunia hati ini?

 

Hati Fisik Dan Hati Ruhani


Bila kita “berselancar” di dunia hati, maka kita akan bersentuhan dengan sesuatu yang berada di setiap sisi-sisi hati manusia tersebut, mulai dari arti hati secara fisik sampai dengan bagian-bagian hati itu bila dilihat secara ruhani, termasuk di dalamnya adalah segala organ tubuh yang sering berhubungan dengan hati itu sendiri.

Berbicara hati (qalb, kalbu), tentu kita akan melihatnya dari dua sudut kaca mata yang berbeda, yaitu hati fisik dan hati ruhani. Secara fisik, hati ini bagi kebanyakan orang merupakan sepotong organ dalam tubuh manusia yang terletak di bagian kiri dada dan sebagai sumber (pusat) roh. Dalam satu keterangan disebutkan, kalau sepotong organ ‘daging’ itu berbentuk buah sanaubar (berarti buah cemara atau sejenis dengan itu, mirip dengan jantung manusia. Kata ini bila diindonesiakan menjadi ‘sanubari’ untuk menunjukkan perasaan hati yang mendalam. Sebetulnya, terjemahan yang lebih tepat bagi kata qalb ini dalam bahasa Indonesia adalah ‘jantung’). Dan secara teknis ilmu anatomi, hati ini diartikan sebagai suatu bagian isi perut yang merah kehitam-hitaman warnanya, terletak di sebelah kanan perut besar, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu.
           
Kalau dilihat secara ruhani, hati (qalb, kalbu) adalah hal-hal yang bersifat ruhani, rabbani non-inderawi yang tersimpan dalam nurani manusia. Demikianlah yang dikatakan dalam Alquran, yaitu tempat bersemayam iman, takwa, ihsan, dzikir, cinta, tentram dan lainnya. Selain itu, hati ini merupakan tempat bersemayam kekufuran, nifak, riya, dengki, iri, benci, cemas, dan lainnya.

Dalam bahasa lain, hati ini disebut sebagai sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat (pusat) segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian-pengertian (perasaan-perasaan, dsb). Arti lainnya, hati merupakan pusat pemahaman/internalisasi. Pusat Intutional Intelectual (II). Pusat memori dari semua amal (baik-buruk). Indera perasaan (rasa halus), untuk pencerapan hal yang abstrak. Indera hati (mata dan telinga hati), untuk pencerapan alam gaib.
           
Terkait dengan hati ini, menurut Al-Ghazali, hati (qalb, kalbu) ini dapat dimaknai sebagai sebuah lathifah (sesuatu yang amat halus dan lembut, tidak kasat mata, tak berupa dan tak dapat diraba), yang bersifat Rabbani ruhani (sesuatu yang berkaitan dengan sifat ilahiah dan roh/ruh), meski ada juga kaitannya dengan ‘organ hati’. Lathifah tersebut sesungguhnya adalah jati diri manusia atau hakikatnya. Dia adalah bagian (komponen) utama manusia yang berpotensi mencerap (memiliki daya tanggap atau persepsi), yang mengetahui dan mengenal, yang ditunjukan kepadanya segala pembicaraan dan penilaian, dan yang dicekam dan dimintai pertanggungjawaban. (Bersambung BESOK Ya...…) 

Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 



POPULAR POSTS

Kenapa Suami Marah & Berkata Kasar?

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Dengan Sistem Biofilter Anaerob-Aerob

Tangga-tangga Kesuksesan Seorang Wirausahawan

Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam

8 Jenis Penyakit Paru Patut Diwaspadai Wanita

Perkembangan Psikoseksual Anak

Perilaku Orang Tua Mempengaruhi Perilaku Anaknya

Menumbuhkan Kepercayaan Diri

Orang Tua dan Perkembangan Agama Anak

ILMU MENJADI KAYA

ARSIP ARTIKEL

Show more
| INSPIRASI | OPINI | OPTIMIS | SEHAT | KELUARGA | SPIRIT | IBROH | JURNALISTIK | BUKU | JURNAL | LINGKUNGAN | BISNIS | PROFIL | BLOG ARDA DINATA | ARDA TV |
Copyright © MIQRA INDONESIA

Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Babakan RT/RW. 002/011 Pangandaran - Jawa Barat