BUKU KESEHATAN LINGKUNGAN

SILAHKAN UNDUH APLIKASI ANDROID UNTUK BLOG WWW.ARDADINATA.COM

Kebersamaan dalam Persamaan Hak (Al-Musawah)

Persamaan hak akan terjadi, bila hal-hal yang menyebabkan pertentangan dan perpecahan dapat ditanggalkan antara lain fanatisme golongan, keturunan, kekayaan, kebangsawanan, warna kulit, dll. Dalam hal ini, Islam memandang bahwa diantara kaum muslimin sama haknya menurut syari’at, yakni dalam hal tanggung jawab dan kemampuan-kemampuannya dalam memikul kewajiban syar’i serta dalam masalah balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Islam memperkokoh prinsip kesamaan karena semua orang dinilai dari satu sudut pandang, yaitu ketakwaannya.
     Sebagai contoh, kita ambil kasus perselisihan antara Abu Dzar dengan Bilal yang sedang memperdebatkan suatu permasalahan di hadapan Rasulullah saw. karena marahnya sampai-sampai Abu Dzar berkata kepada Bilal: “Hai anak si kulit hitam!”. Seketika itu Nabi Muhammad saw menegurnya. “Hentikan segera …. Hentikan segera … Sungguh tidak ada kelebihan satu dengan yang lainnya kecuali dengan amal saleh.” Abu Dzar baru sadar setelah melihat dan mendengar …

Indahnya Menuntut Ilmu dengan Bening Hati

Baca Juga

“Bagaimana minat anda terhadap ilmu?” Jawab Syafi’i hampir senada, “Minat saya laksana orang mengumpulkan makanan yang berambisi menikmati kelezatannya secara sempurna.”@ardadinata

Indahnya Menuntut Ilmu dengan Bening Hati
Oleh Arda Dinata
Nabi Saw bersabda, “Mencari ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim.” Dalam ajaran Islam pengertian adanya keharusan menuntut ilmu mendapat tempat yang begitu luas dan luhur dalam arti rohani dan jasmani.

Aktivitas menuntut ilmu dengan bening hati, akan memposisikan ilmu menjadi saudara kembar amal. Perpaduan ilmu dan amal inilah, kunci sukses sejak masa Rasul sampai sekarang. Dan tatkala ilmu berpisah dari amal, maka kita bersiap menghadapi bencana.

Imam Malik bin Anas, mengungkapkan bahwa ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa anda mengambilnya, dan tidak ada kebaikan sedikitpun dalam diri seseorang yang menurut pandangan masyarakat ia tidak memiliki sesuatu keahlian apapun. Sementara itu, ilmu adalah cahaya yang tidak mungkin dapat diperoleh kecuali dengan hati yang khusyu –bening hati-- dan takwa.

Atas dasar itulah, mungkin kenapa Al-Ghazali mengatakan, “Awal dari ilmu pengetahuan itu adalah diam, lalu mendengarkan, kemudian menyerap, dan seterusnya mengamalkan dan menyebarluaskannya.” Al-Ghazali juga menyarankan ajarkanlah ilmumu kepada orang lain yang tidak mengetahuinya, dan belajarlah apa yang tidak engkau ketahui dari orang yang mengetahuinya. Maka, bila anda lakukan semuanya itu, niscaya anda dapat mengetahui apa yang selama ini tidak anda ketahui dan menyerap apa yang telah anda ketahui itu.

Paling tidak, kisah Imam Syafi’i saat menetap di Baghdad telah memberi kita pelajaran berharga tentang bagaimana salaf mensikapi dan menghormati serta merindukan ilmu.

“Bagaimana semangat anda menuntut ilmu?” Syafi’i ra menjawab, “Saya mendengarkan huruf seakan-akan huruf-huruf itu belum pernah saya temukan selama ini. Karena itu saya kerahkan seluruh anggota tubuh saya untuk menyimaknya.”

“Bagaimana minat anda terhadap ilmu?” Jawab Syafi’i hampir senada, “Minat saya laksana orang mengumpulkan makanan yang berambisi menikmati kelezatannya secara sempurna.”

“Dan bagaimana cara anda mencarinya?” Beliau menjawab, “Saya mencarinya laksana seorang wanita yang kehilangan anak satu-satunya di dunia ini, ia tidak memiliki apapun selain dia.” Jadi, betapa indahnya menuntut ilmu yang dilandasi dengan kebeningan hati.

Akhirnya, haruslah kita bangun kebeningan hati dalam segala lini kehidupan manusia. Karena telah nampak buah dari kebeningan hati itu dalam melejitkan derajat manusia di mata Allah Swt. Bukankah, orang yang mendapat “undangan” Allah masuk surga kelak ialah hamba-Nya yang memiliki jiwa bening?

Allah berseru dalam QS. Al-Fajr: 27-30, yang artinya “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surga-Ku.” Waallahu’alam.*  

Bagaimana menurut Anda?  

Artikel Yang Terkait:

1. Indahnya Berkeluarga dengan Bening Hati

2. Indahnya Bertetangga dengan Bening Hati

3. Indahnya Bermu’amalah dengan Bening Hati

4. Indahnya Berpolitik dengan Bening Hati

5. Indahnya Memimpin dengan Bening Hati

6. Indahnya Menuntut Ilmu dengan Bening Hati


Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Arda Publishing House
Pusat Pustaka Ilmu, Inspirasi dan Motivasi Menjadi Orang Sukses
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Kec. Pangandaran - Ciamis Jawa Barat 46396
http://www.ardadinata.web.id


POPULAR POSTS

Kenapa Suami Marah & Berkata Kasar?

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Dengan Sistem Biofilter Anaerob-Aerob

Tangga-tangga Kesuksesan Seorang Wirausahawan

Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam

8 Jenis Penyakit Paru Patut Diwaspadai Wanita

Perkembangan Psikoseksual Anak

Perilaku Orang Tua Mempengaruhi Perilaku Anaknya

Menumbuhkan Kepercayaan Diri

Orang Tua dan Perkembangan Agama Anak

ILMU MENJADI KAYA

ARSIP ARTIKEL

Show more
| INSPIRASI | OPINI | OPTIMIS | SEHAT | KELUARGA | SPIRIT | IBROH | JURNALISTIK | BUKU | JURNAL | LINGKUNGAN | BISNIS | PROFIL | BLOG ARDA DINATA | ARDA TV |
Copyright © MIQRA INDONESIA

Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Babakan RT/RW. 002/011 Pangandaran - Jawa Barat