BUKU KESEHATAN LINGKUNGAN

SILAHKAN UNDUH APLIKASI ANDROID UNTUK BLOG WWW.ARDADINATA.COM

Kebersamaan dalam Persamaan Hak (Al-Musawah)

Persamaan hak akan terjadi, bila hal-hal yang menyebabkan pertentangan dan perpecahan dapat ditanggalkan antara lain fanatisme golongan, keturunan, kekayaan, kebangsawanan, warna kulit, dll. Dalam hal ini, Islam memandang bahwa diantara kaum muslimin sama haknya menurut syari’at, yakni dalam hal tanggung jawab dan kemampuan-kemampuannya dalam memikul kewajiban syar’i serta dalam masalah balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Islam memperkokoh prinsip kesamaan karena semua orang dinilai dari satu sudut pandang, yaitu ketakwaannya.
     Sebagai contoh, kita ambil kasus perselisihan antara Abu Dzar dengan Bilal yang sedang memperdebatkan suatu permasalahan di hadapan Rasulullah saw. karena marahnya sampai-sampai Abu Dzar berkata kepada Bilal: “Hai anak si kulit hitam!”. Seketika itu Nabi Muhammad saw menegurnya. “Hentikan segera …. Hentikan segera … Sungguh tidak ada kelebihan satu dengan yang lainnya kecuali dengan amal saleh.” Abu Dzar baru sadar setelah melihat dan mendengar …

Makanan Pembawa Berkah

Baca Juga



Agar makanan yang halal dan thoyyib itu dapat berfungsi dengan baik bagi kehidupan manusia maka selain memperhatikan sumber kehalalannya, juga makanan harus enak rasanya, bersih, sehat, memenuhi nilai gizi yang cukup, serta mudah dicerna dan diserap tubuh.

Makanan Pembawa Berkah

MAKANAN dan minuman merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kondisi makanan dan minuman yang memenuhi gizi, mempunyai bentuk yang menarik, dan aman dalam arti tidak mengandung kuman serta bahan-bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit, belumlah cukup bagi seorang Muslim. Sebab, makanan dan minuman tersebut tidak akan menambah kesehatan dan kebaikan bagi tubuh dan jiwa manusia bila tidak disertai faktor halal.

Itulah sebabnya di dalam Alquran, kita diperintahkan oleh Allah untuk memakan makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepada setiap manusia. (QS. Al-Baqarah: 88).

Memang tidak dapat dipungkiri, realitasnya saat ini telah banyak beredar berbagai makanan yang memiliki kondisi: baik dan halal; baik tapi tidak halal; dan atau sama sekali tidak baik maupun tidak halal. Untuk itu, bagi setiap muslim dalam mengkonsumsi makanan yang harus diingat adalah pada pegangan dua prinsip, berupa halal dan thoyyib.


Halal dan thoyyib, menurut Anton Apriyantono, dosen pangan dan gizi IPB serta Pembina Yayasan Halalan Thoyyiban, adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Thoyyib di sini berarti baik, baik dari segi gizi maupun keamanannya. Makanan yang halal pasti thoyyib. Sementara, jika makanan itu tidak thoyyib maka sudah tentu tidak halal. Contohnya, daging ayam yang disembeleih secara Islami dan masih segar adalah halal. Tetapi, jika daging ayam tersebut sudah membusuk (misalnya karena terlalu lama disimpan di suhu ruangan), maka daging itu tidak thoyyib. Meskipun daging itu disembelih secara Islami. Jika daging ayam ini dipaksakan untuk dimakan maka akan menyebabkan sakit, itulah sebabnya mengapa menjadi tidak halal.

Demikian halnya jika suatu bahan pangan dapat meracuni tubuh maka bahan pangan itu juga tidak halal. Misalnya, dengan kasus daging ayam yang terkena virus flu burung, tentu walaupun disembelih secara Islami, namun karena ia tidak baik (sakit), maka menjadi tidak halal.

Namun demikian, ketidak-thoyyib-an ini menurut Quraish Shihab, bisa bersifat individual. Beberapa jenis makanan tertentu yang thoyyib bagi seseorang. Misalnya, udang. Meskipun udang halal, namun pada beberapa individu udang dapat menimbulkan reaksi alergi sehingga tidak thoyyib.

Di sini, yang jelas agar makanan yang halal dan thoyyib itu dapat berfungsi dengan baik bagi kehidupan manusia maka selain memperhatikan sumber kehalalannya, juga makanan harus enak rasanya, bersih, sehat, memenuhi nilai gizi yang cukup, serta mudah dicerna dan diserap tubuh. Dalam hal ini, setiap makanan bila ditekankan dari fungsinya maka paling tidak harus memenuhi dua fungsi dari tiga fungsi berikut, yaitu memberikan panas dan tenaga kepada tubuh. Membangun jaringan-jaringan tubuh baru, memelihara dan memperbaiki yang tua. Mengatur proses-proses alamiah, kimiawi atau faali dalam tubuh.

Jadi, kita mesti ingat bahwa makanan yang thoyyib belum tentu halal. Sehingga patut dicatat bahwa mengkonsumsi makanan dan minuman halal tidak hanya berarti bagi kesehatan dan kebaikan tubuh semata-mata, tetapi juga berarti bagi keberkahan kehidupan manusia itu sendiri. Tepatnya, halal tidaknya apa-apa yang kita konsumsi akan berpengaruh pada dikabulkan atau tidaknya doa kita. Rasulullah Saw. bersabda: Perbaikilah makanmu, maka Allah akan mengabulkan doamu. (HR. Ath-Thabrani). Wallahu’alam.
@ardadinata 

Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 



POPULAR POSTS

Kenapa Suami Marah & Berkata Kasar?

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Dengan Sistem Biofilter Anaerob-Aerob

Tangga-tangga Kesuksesan Seorang Wirausahawan

Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam

8 Jenis Penyakit Paru Patut Diwaspadai Wanita

Perkembangan Psikoseksual Anak

Perilaku Orang Tua Mempengaruhi Perilaku Anaknya

Menumbuhkan Kepercayaan Diri

ILMU MENJADI KAYA

Orang Tua dan Perkembangan Agama Anak

ARSIP ARTIKEL

Show more
| INSPIRASI | OPINI | OPTIMIS | SEHAT | KELUARGA | SPIRIT | IBROH | JURNALISTIK | BUKU | JURNAL | LINGKUNGAN | BISNIS | PROFIL | BLOG ARDA DINATA | ARDA TV |
Copyright © MIQRA INDONESIA

Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Babakan RT/RW. 002/011 Pangandaran - Jawa Barat