Kolom Arda Dinata

Rasionalisme Berpikir Untuk Setelah Mati

Posted by. on 05 September 2013

Rasionalisme terbentuk dari kata rasio (akal pikiran manusia) dan isme (faham). Jadi, rasionalisme diartikan sebagai faham yang berdasarkan akal pikiran. Faham ini dikemukakan oleh Rene Descartes, yang berdasarkan pendewaan terhadap akal manusia. Ia mengatakan bahwa kebenaran yang hakiki hanya dapat dibuktikan melalui akal. Akal ini merupakan unsur yang tertinggi dalam struktur kehidupan manusia. Dari aktivitas akal ini akan melahirkan sebuah pola pikir yang sangat menentukan derajat kehidupan seseorang.
Berpikir Untuk Setelah Mati
Oleh: Arda Dinata


“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al Hasyr:18).


Ayat di atas, mengisyaratkan kepada kita agar orang-orang beriman selalu bertakwa kepada Allah dan memperhatikan bekal apa yang telah dipersiapkan dan diperbuat bagi kehidupan di hari esok (akhirat). Di sini, hemat penulis ada satu rumusan yang mesti kita pahami dan disadari betul dalam hidup ini. Yakni berupa niat dan pola pikir. 
Artinya, perilaku yang diperbuat oleh manusia itu, semata-mata diawali dari inspirasi sebuah niat dan pola pikir dalam hati dan akalnya. Untuk itu, niat dan akal ini harus kita tata dan bina dengan baik agar melahirkan perbuatan/perilaku yang dapat menjadi bekal dan penyelamat di akhirat kelak.

Pada tataran ini, setiap muslim hendaknya dapat membangun potensi pikirnya secara produktif. Pertanyaannya, bagaimana kedudukan berpikir ini menurut pandangan Alquran dan langkah-langkah berpikir seperti apa yang dapat kita bangun, sehingga pola pikir ini dapat menjadi bekal di kemudian hari?

Pengertian Rasionalisme

Rasionalisme terbentuk dari kata rasio (akal pikiran manusia) dan isme (faham). Jadi, rasionalisme diartikan sebagai faham yang berdasarkan akal pikiran. Faham ini dikemukakan oleh Rene Descartes, yang berdasarkan pendewaan terhadap akal manusia. Ia mengatakan bahwa kebenaran yang hakiki hanya dapat dibuktikan melalui akal. Akal ini merupakan unsur yang tertinggi dalam struktur kehidupan manusia. Dari aktivitas akal ini akan melahirkan sebuah pola pikir yang sangat menentukan derajat kehidupan seseorang.

Menurut Agus Sujanto (1981: 64), berpikir ialah gejala jiwa yang dapat menetapkan hubungan-hubungan antara ketahuan-ketahuan kita. Lebih jauh dikatakan berpikir adalah suatu proses dialektis. Artinya, selama kita berpikir, pikiran kita mengadakan tanya jawab dengan pikiran kita, untuk dapat meletakkan hubungan-hubungan antara ketahuan kita itu, dengan tepat. Pertanyaan itulah yang memberi arah kepada pikiran kita. Lalu, apa bedanya antara akal dan intelegensi?

Kalau kita telaah, ternyata di dalam berpikir, kita mempergunakan alat (berupa akal). Dan hasil pemikiran itu kadang terlahirkan dengan bahasa. Adapun yang disebut intelegensi, ialah suatu kemampuan jiwa kita untuk dapat menyesuaikan diri dengan situasi baru, dengan menggunakan alat-alat berpikir.

Berkait dengan itu, patut kita kenal seorang tokoh peletak tonggak peradaban dunia Barat yaitu Ibnu Rusyd. Selain sebagai tokoh peletak tonggak peradaban, seperti ditulis Phillip K Hitti, Ibnu Rusyd adalah seorang rasionalis, dan menyatakan berhak menundukkan segala sesuatu kepada pertimbangan akal, kecuali dogma-dogma keimanan yang diwahyukan. Tetapi ia bukanlah free thinker, atau seorang tak beriman.

Terlepas dari perbedaan pola pikir antara Ibnu Rusyd dengan para ilmuwan lain pada zamannya, yang jelas dari karya-karya yang dihasilkan Ibnu Rusyd, telah mengajari kita prinsip dan nilai-nilai beragama yang rasional, toleran, dan ramah. Yang terakhir inilah, patut kita teladani, karena pengalaman dan pelajaran yang baik di masa lalu itu pula yang pernah mengantarkan kejayaan Islam di abad pertengahan.(BERSAMBUNG BESOK: Berpikir Menurut Alquran...) 

Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


| ARDA PUBLISHING | INSPIRASI | OPINI | OPTIMIS | KESEHATAN | KELUARGA | SPIRIT | IBROH | JURNALISTIK | LINGKUNGAN | BISNIS | BUKU | PROFIL PENULIS | JURNAL MIQRA | ILMU KAYA RAYA | HUBUNGI KAMI |

Blog, Updated at: 7:30 AM

0 komentar:

Post a Comment

Buku Pernikahan

Buku Kesehatan

Buku Kesehatan

 

Powered by Blogger.
Aku tinggalkan untuk kamu sekalian dua hal. Jika kalian mau berpegang teguh kepadanya niscaya kamu sekalian tidak akan sesat selama-lamanya, dua hal itu adalah kitab Allah (al-qur’an) dan sunnah Rasul-Nya (al-Hadits). (HR Imam Malik)
| Tips Cepet Hamil | Cara Merawat Bayi |Tips Wajah Cantik |
PRchecker.info