BUKU KESEHATAN LINGKUNGAN

SILAHKAN UNDUH APLIKASI ANDROID UNTUK BLOG WWW.ARDADINATA.COM

Kebersamaan dalam Persamaan Hak (Al-Musawah)

Persamaan hak akan terjadi, bila hal-hal yang menyebabkan pertentangan dan perpecahan dapat ditanggalkan antara lain fanatisme golongan, keturunan, kekayaan, kebangsawanan, warna kulit, dll. Dalam hal ini, Islam memandang bahwa diantara kaum muslimin sama haknya menurut syari’at, yakni dalam hal tanggung jawab dan kemampuan-kemampuannya dalam memikul kewajiban syar’i serta dalam masalah balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Islam memperkokoh prinsip kesamaan karena semua orang dinilai dari satu sudut pandang, yaitu ketakwaannya.
     Sebagai contoh, kita ambil kasus perselisihan antara Abu Dzar dengan Bilal yang sedang memperdebatkan suatu permasalahan di hadapan Rasulullah saw. karena marahnya sampai-sampai Abu Dzar berkata kepada Bilal: “Hai anak si kulit hitam!”. Seketika itu Nabi Muhammad saw menegurnya. “Hentikan segera …. Hentikan segera … Sungguh tidak ada kelebihan satu dengan yang lainnya kecuali dengan amal saleh.” Abu Dzar baru sadar setelah melihat dan mendengar …

Pintu-Pintu Menjadi Keluarga Rasulullah (Bagian 3)

Baca Juga

"Tidak semua orang berhasil membangun rumah tangga sejahtera dan bahagia. Tapi, Nabi Saw telah berhasil membangun rumah tangga bahagia itu dengan istrinya. Sikap Rasul terhadap istrinya tercermin dalam ungkapannya bahwa sempurna-sempurnanya iman seseorang mu’min ialah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baiknya kamu adalah yang paling baik terhadap istrinya."


Pintu-Pintu Menjadi Keluarga Rasulullah (3)
Oleh: Arda Dinata



Memang, Rasulullah itu meletakkan pribadinya kepada akhlak Alquran. “Sesungguhnya aku (Muhammad) diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Al-Hakim dan Baihaqi). Jadi, Nabi Saw merupakan ikutan bagi seluruh umat manusia. Perilaku Nabi sejak kecil sudah menampakkan sifat-sifat yang luar biasa. Mulai menjadi penggembala yang baik dan setia, sampai menjadi pedagang yang baik dan terpercaya, hingga menjadi kepala keluarga yang berhasil. Dan akhirnya jadi pemimpin umat yang dicintai dan disegani oleh kawan dan lawan.

Untuk menjadi keluarga Rasulullah (baca: menauladaninya), sebetulnya banyak pintu yang dapat kita lakukan. Kita bisa mulai dari profesi/aktivitas yang sedang kita jalani.


Keempat, sebagai Ulama dan Muballigh. 

Nabi Saw merupakan seorang Ulama yang tekun ibadah. Satu riwayat menyebutkan bahwa kaki beliau pernah mengalami bengkak-bengkak disaat beliau banyak melakukan shalat dan kholawat. Rasulullah selaku Muballigh yang lincah, tidak mengenal lelah. Satu tablighnya yang terkenal di Thaif menjelang Isro dan Mi’raj, beliau telah disambut dengan lemparan batu dan potongan besi oleh pemuda berandalan yang dipersiapkan sehingga beliau luka parah. Dan pada saat Nabi Saw masih dihujani batu dan potongan besi, beliau masih sempat berdoa, “Ya, Allah, jangan Kau turunkan siksa kepada mereka yang melempariku. Sebab mereka bukan orang jahat, tapi mereka orang yang belum tahu bahwa aku adalah Rasul-Mu. Tunjukkan mereka kepada jalan-Mu yang benar dan ampunilah mereka serta sayangi mereka.” Hal ini, menunjukkan kalau Nabi dalam berdakwah dihadapinya dengan sabar dan pemaaf.

Dakwah Rasul pun tidak hanya dengan lisan, melainkan juga melalui tulisan, mengirim surat kepada raja-raja dan pejabat-pejabat negara yang penting. Misalnya, raja Najasyi bernama Ashimah di Habsyi, raja Hiraqlius (raja Rum), kedua-duanya menyambut baik surat Rasulullah itu. Justru yang disebut pertama, ia langsung masuk Islam. Berbeda dengan raja Persi, ia menyambut surat Rasul itu dengan kesombongan dan merobek-robek surat itu, tetapi akhirnya ia menerima balasan dari Allah SWT, kerajaannya dikalahkan oleh kerajaan Romawi. Sebaliknya pembesar Mesir bernama Muqauqis, telah membalas seruan Rasulullah itu dengan baik dan mengiriminya berbagai hadiah.

Kelima, sebagai kepala keluarga. 

Tidak semua orang berhasil membangun rumah tangga sejahtera dan bahagia. Tapi, Nabi Saw telah berhasil membangun rumah tangga bahagia itu dengan istrinya. Sikap Rasul terhadap istrinya tercermin dalam ungkapannya bahwa sempurna-sempurnanya iman seseorang mu’min ialah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baiknya kamu adalah yang paling baik terhadap istrinya. Sebaliknya Rasul pun mengajarkan kepada wanita bagaimana seharusnya berlaku baik terhadap suami. Jika aku dibolehkan menyuruh seseorang sujud terhadap orang lain pasti aku suruh seorang istri supaya sujud terhadap suaminya (HR. Turmudzi).

Waktu mendidik anak, Nabi berpesan, didiklah anak-anakmu untuk bisa melakukan shalat. Biasakan mereka melakukan kebaikan, sebab kebaikan itu (karena) kebiasaan (HR. Baihaqi). Rasul pun di rumahnya bersikap seperti layaknya orang kebanyakan. Beliau pernah menambal bajunya, memerah susu kambingnya, dan mengerjakan sendiri pekerjaan rumahnya (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Namun, betapapun beliau sibuk dengan pekerjaan rumahnya, jika waktu shalat beliau segera mngerjakan shalat berjamaah terlebih dahulu (HR. Muslim). Sedangkan dalam mengatur rezeki Nabi berpesan, apabila kamu seorang yang fakir, maka mulailah dengan dirimu sendiri. Jika ada kelebihan, maka berikanlah kepada keluargamu. Dan jika masih berlebihan maka berikanlah kepada kerabat. Dan jika masih berlebih juga maka bersedekahlah kepada siapa yang engkau kehendaki (HR. Ahmad & Muslim).

Keenam, sebagai anggota masyarakat. Nabi Saw selaku anggota masyarakat, juga telah banyak mengajarkan bagaimana hidup sosial bermasyarakat. Secara umum, Nabi Saw mengatakan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Muslim). Dalam hidup bertetangga, Nabi mengingatkan, tidak masuk surga bagi orang yang tetangganya tidak merasa aman karena ulah perbuatannya (HR. Muslim). Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berbuat baik kepada tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hendaklah memuliakan tamunya (HR. Muslim).

Kita juga diajarkan untuk tidak sombong dan harus berteman karena Allah. Nabi mengungkapkan, kesombongan ialah orang mendustakan kebenaran dan menganggap remeh orang lain (HR. Muslim). Dalam hadis qudsi riwayat Thabrani, Allah berfirman, “Mereka yang berteman satu sama lain karena Aku, berhak memperoleh cinta-Ku dan mereka yang saling membantu antar sesamanya karena Aku, berhak memperoleh cinta-Ku ….” Pokoknya, siapa yang melepaskan kesusahan seseorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat kelak! Keimanan seseorang pun tidak diakui jika ia tidak sanggup mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari & Muslim).

Akhirnya, kita berdoa kepada Allah SWT, Ya Allah, Engkau telah membaguskan kejadianku maka dari itu baguskanlah juga oleh Engkau budi pekertiku (HR. Al-Hakim dan Baihaqi). Dan berilah kekuatan serta kemampuan kepadaku untuk menauladani budi pekerti seperti keluarga Rasulullah. Amin…. Wallahu a’lam.***  (Tamat)

Bagaimana menurut Anda?  




Pekerjaan sebagai Penulis Lepas dan PNS
http://miqraindonesia.com
Arda Dinata
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Arda Publishing House
Pusat Pustaka Ilmu, Inspirasi dan Motivasi Menjadi Orang Sukses
Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Kec. Pangandaran - Ciamis Jawa Barat 46396
http://www.ardadinata.web.id


POPULAR POSTS

Kenapa Suami Marah & Berkata Kasar?

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Dengan Sistem Biofilter Anaerob-Aerob

Tangga-tangga Kesuksesan Seorang Wirausahawan

Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam

8 Jenis Penyakit Paru Patut Diwaspadai Wanita

Perkembangan Psikoseksual Anak

Perilaku Orang Tua Mempengaruhi Perilaku Anaknya

Menumbuhkan Kepercayaan Diri

ILMU MENJADI KAYA

Orang Tua dan Perkembangan Agama Anak

ARSIP ARTIKEL

Show more
| INSPIRASI | OPINI | OPTIMIS | SEHAT | KELUARGA | SPIRIT | IBROH | JURNALISTIK | BUKU | JURNAL | LINGKUNGAN | BISNIS | PROFIL | BLOG ARDA DINATA | ARDA TV |
Copyright © MIQRA INDONESIA

Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Babakan RT/RW. 002/011 Pangandaran - Jawa Barat