BUKU KESEHATAN LINGKUNGAN

SILAHKAN UNDUH APLIKASI ANDROID UNTUK BLOG WWW.ARDADINATA.COM

Kebersamaan dalam Persamaan Hak (Al-Musawah)

Persamaan hak akan terjadi, bila hal-hal yang menyebabkan pertentangan dan perpecahan dapat ditanggalkan antara lain fanatisme golongan, keturunan, kekayaan, kebangsawanan, warna kulit, dll. Dalam hal ini, Islam memandang bahwa diantara kaum muslimin sama haknya menurut syari’at, yakni dalam hal tanggung jawab dan kemampuan-kemampuannya dalam memikul kewajiban syar’i serta dalam masalah balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Islam memperkokoh prinsip kesamaan karena semua orang dinilai dari satu sudut pandang, yaitu ketakwaannya.
     Sebagai contoh, kita ambil kasus perselisihan antara Abu Dzar dengan Bilal yang sedang memperdebatkan suatu permasalahan di hadapan Rasulullah saw. karena marahnya sampai-sampai Abu Dzar berkata kepada Bilal: “Hai anak si kulit hitam!”. Seketika itu Nabi Muhammad saw menegurnya. “Hentikan segera …. Hentikan segera … Sungguh tidak ada kelebihan satu dengan yang lainnya kecuali dengan amal saleh.” Abu Dzar baru sadar setelah melihat dan mendengar …

Indahnya Kebersamaan

Baca Juga

KEBERSAMAAN atau persatuan (ukhuwwah), mungkin terasa menjadi tema yang sering dibicarakan masyarakat. Karena sejarah Indonesia pun telah membuktikan buah dari persatuan ini, yaitu mengantarkan bangsa Indonesia menjadi negara yang terbebas dari penjajahan bangsa lain. Pertanyaannya, kenapa kita tidak belajar dari sejarah masa lalu?

Nilai persatuan dan persaudaraan yang dikandung dalam ajaran Islam pun memang sungguh luar biasa. Betapa tidak, bukti sejarah menuturkan atas nilai-nilai itu pula yang menjadi titik tekan gerakan dakwah Rasulullah tatkala menginjakkan kakinya di Madinah. Kaum Muhajirin asal Mekkah, dipersaudarakan dengan kaum Anshar penduduk asli Madinah. Saat inilah, tercatat indahnya persatuan dan persaudaraan (baca: kebersamaan) yang tidak ada duanya sepanjang sejarah. Buktinya, bagaimana seorang muslim rela mengorbankan miliknya yang sangat ia sukai, demi menyenangkan dan membahagiakan saudaranya.

Hikmahnya bagi kita bahwa keindahan, kebahagiaan yang dirasakan kita adalah milik orang lain juga, lebih-lebih ia seorang muslim. Atau keindahan, kebahagiaan orang lain itu merupakan kebahagiaan milik kita juga. Sebaliknya sesuatu kesusahan dan penderitaan orang lain itu, juga (secara tidak langsung) merupakan penderitaan miliki kita. Islam sendiri mengajarkan, kalau umat Islam itu seperti satu tubuh, bila bagian tubuhnya ada yang sakit, maka bagian tubuh lainnya akan merasakannya.

Nabi Muhammad saw sendiri sangat mencekam terhadap orang yang melakukan pemutusan persaudaraan ini, seperti tergambar dalam kisah yang dituturkan Abdullah bin Abi Awfa berikut ini.

Waktu itu, kata Ibnu Awfa, kami sedang berkumpul bersama Rasulullah  saw. Tiba-tiba beliau bersabda, “Janganlah duduk bersamaku hari ini orang yang memutuskan persaudaraan” Segera seorang pemuda berdiri meninggalkan majelis Rasul. Rupanya sudah lama ia bertengkar dengan bibinya. Ia lalu minta maaf dan bibinya pun memaafkanya. Setelah itu, barulah ia kembali ke majelis. Rasulullah kemudian bersabda, ”Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum yang disitu ada orang yang memutuskan persaudaraan.”

Perbuatan memutuskan persaudaraan, ternyata merupakan amalan buruk yang jelas-jelas tidak disukai Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya membina dan mempererat tali ukhuwwah Islamiyah merupakan amalan mulia yang pasti diridhai-Nya. Inilah indahnya kebersamaan.

Untuk itu, moment yang terjadi di negara kita dan dunia yang telah menyadarkan kita kembali, dan ini merupakan saat yang tepat bagi umat Islam untuk mengkokohkan kembali ikatan ukhuwwah Islamiyah dikalangan umatnya. Yang belakangan ini belum membuktikan secara nyata atas sejalannya dengan ajaran Islam.

Terwujudnya ukhuwwah Islamiyah merupakan kunci bagi terbentuknya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Karena, bagaimanapun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tak ada artinya. Ia benar-benar laksana buih di lautan yang sedemikian mudahnya terombang-ambingkan riak-riak gelombang lautan, apalagi ia enggan berpegang teguh pada tali Allah. Tepatnya, kita harus menegakkan konsep Ittihadul Ummah (persatuan ummat).

Secara demikian, upaya membangun indahnya kebersamaan, mengentas ukhuwwah merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Lebih-lebih saat ini, tatkala umat Islam di berbagai belahan bumi ini tengah berada dalam himpitan dan cengkeraman kuku-kuku tajam kaum kafirin yang jelas-jelas selalu menampakkan ketidaksukaan dan kebenciannya yang teramat sangat pada Islam dan umatnya.

Oleh karena itu, ukhuwwah Islamiyah yang merupakan salah satu cita-cita realitas sosial masyarakat muslim, cahaya Robaniah, dan nikmat-Nya yang diberikan kepada hambanya harus segera kita wujudkan. Lantas, konsep apa yang mesti kita pilih dalam membangun persatuan umat ini?

Berkait dengan itu, Allah SWT menegaskan dalam firma-Nya, yang artinya: “Dan berpeganglah kamu kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah ketika kamu dahulu (pada masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103).

Yang pasti, ukhuwwah Islamiyah tumbuh dari akar akidah Islam. Akidah Islam akan menumbuhkan tunas-tunas persaudaraan Islam. Sehingga tidak ada persaudaraan (sejati), jika tanpa akidah atau keimanan (QS. Al Hujarat: 10).  Ukhuwwah Islamiyah sendiri mempunyai peranan penting dalam pembinaan masyarakat antara lain dalam hal-hal: meringankan beban penderitaan orang lain, mempererat hubungan silaturahmi, memperkokoh persatuan, dll. 

Dengan kesadaran yang hakiki, melalui mengukuhkan ukhuwwah Islamiyah, akan banyak manfaat yang kita petik. Dr. Yusuf Qardhawie dalam bukunya Al-Mujtama’ul Islami mengatakan bahwa ukhuwwah Islamiyah yang bercita-cita luhur itu mampu melahirkan tiga hal penting, yaitu persamaan hak (al-Musawah), saling membantu atau tolong menolog (at-Ta’awun), dan saling cinta mencintai karena Allah (al-Hub Fillah).


Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 





POPULAR POSTS

Kenapa Suami Marah & Berkata Kasar?

Teknologi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Dengan Sistem Biofilter Anaerob-Aerob

Tangga-tangga Kesuksesan Seorang Wirausahawan

Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam

8 Jenis Penyakit Paru Patut Diwaspadai Wanita

Perkembangan Psikoseksual Anak

Perilaku Orang Tua Mempengaruhi Perilaku Anaknya

Menumbuhkan Kepercayaan Diri

ILMU MENJADI KAYA

Orang Tua dan Perkembangan Agama Anak

| INSPIRASI | OPINI | OPTIMIS | SEHAT | KELUARGA | SPIRIT | IBROH | JURNALISTIK | BUKU | JURNAL | LINGKUNGAN | BISNIS | PROFIL | BLOG ARDA DINATA | ARDA TV |
Copyright © MIQRA INDONESIA

Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Babakan RT/RW. 002/011 Pangandaran - Jawa Barat