-->

Showing posts with label IQRA BISNIS. Show all posts
Showing posts with label IQRA BISNIS. Show all posts
FORMULA   KESUKSESAN
Lihat Detail

FORMULA KESUKSESAN

FORMULA KESUKSESAN
Oleh Arda Dinata


Chocolate for a Teen's Spirit: Inspiring Stories for Young Women About Hope, Strength, and WisdomFaith, Hope and LoveSpirit of the Marathon"The Spirit of America" Classic Americana Music/Video on DVD
SUKSES. Kata yang terdiri dari enam huruf ini adalah sesuatu yang gampang diucapkan, tapi tidak mudah meraihnya. Siapa pun manusia di dunia ini, mengharapkan dirinya menjadi ‘sukses’ dalam hal yang baik tentunya.

Toha Nasrudin (1998) dalam buku berjudul “Nota Sukses” menyatakan, “Mereka yang berpikir sukses, akan memandang peluang bisnis sebagai ‘barang berharga’, pesaing sebagai motivator, dan kegagalan dijadikan sebagai batu loncatan untuk berbuat lebih baik lagi di masa mendatang. Baginya tidak ada kata ‘tidak’, sukses adalah bagian dari hidupnya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dan siap berjuang apapun pengorbanannya.”

Kesuksesan dapat kita raih, bukan saja berpondasikan niat semata. Lebih dari itu, kesuksesan dapat diraih melalui proses yang panjang dan melelahkan. Sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa meraih dan menggondol nilai kesuksesan tersebut.

Untuk menghantarkan seseorang mencapai puncak kesuksesan, tentu ada beberapa formula yang membentuknya. Formula ini tentu saja bukan sebuah harga mati. Yang pasti, formula ini didapat dari sebuah perenungan dan penelaahan penulis dari orang-orang sukses.


KERJA PIKIR + KERJA HATI + KERJA FISIK + DOA = SUKSES


Formula kesuksesan seseorang dibentuk oleh kerja pikir (KP), kerja hati (KH), kerja fisik (KF), doa dan faktor x (keberkahan). Kerja pikir merupakan modal awal kesuksesan seseorang. Setiap manusia pada dasarnya berpotensi untuk mencapai kesuksesan. Tapi, hanya orang-orang berpikir yang dapat menguasai hidup dan mencapai kesuksesan.

Hal tersebut didasarkan akan nikmat ‘otak’ yang diberikan penguasa hidup ini hanya kepada manusia. Tentu, manusia yang mampu menggunakan pikirnya dalam membaca hidup ini, baik yang tersurat maupun tersirat, maka ia akan selalu berusaha bersikap positif terhadap sesuatu yang terjadi pada dirinya. Langkah hidupnya selalu didasarkan pada pola pikir yang terbentuk dari pembacaan dan perenungan hatinya.

Di sinilah perlunya kerja hati. Setelah kita memfungsikan kerja pikir dalam usaha mencapai kesuksesan. Mengapa ? Karena hati kita pada dasarnya berperan memfilter setiap pikir yang direspon oleh otak.

Secara hakiki kebenaran dan keadilan itu tidak terdapat di mana-mana, tetapi ada pada hati sanubari manusia sendiri. Hati kita (kolbu) merupakan intuisi yang sangat fitroh atas kebenaran sesuatu. Orang yang sukses, tentu ia tidak hanya mengerahkan segenap pikirnya. Tapi lebih dari itu, ia juga mengkonsulkan pola pikir kesuksesan sesuatunya itu kepada hati. Baru kemudian ia demonstrasikan melalui kerja fisik.

Kerja fisik ini merupakan sebuah produk yang dihasilkan dari kerja pikir dan kerja hati. Dari kerja fisik ini kemudian terlihat seberapa jauh usaha yang dilakukannya dalam mewujudkan mimpinya itu.

Pada saat kerja fisik ini tantangan yang muncul sangat kompleks bila dibandingkan dengan kerja pikir maupun kerja hati.

Menyikapi ketiga macam kerja yang perlu dilakukan mereka yang ingin sukses, tentu hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Latar belakang pendidikan formal ataupun tidak formal, kebiasaan pembelajaran dan pengejawantahan terhadap nilai-nilai didikan lingkungan sekitarnya. Itu adalah sebagian dari faktor yang mempengaruhi kerja pikir seseorang.

Hal tersebut berlainan dengan kerja hati. Di sini faktor yang mempengaruhinya adalah sebatas mana fungsi hati itu dikembangkan. Artinya setiap pola pikir yang terbentuk, apakah selalu direnungkan akan dampak positif-negatifnya sebelum didemontrasikan dalam kerja fisik (tingkah laku )?

Sedangkan faktor yang mempengaruhi faktor kerja fisik tidak lain kedisiplinan diri terhadap sesuatu yang tertuang dalam pikir dan hatinya. Karena orang yang tidak disiplin, ia cenderung menghasilkan ‘nilai’ yang tidak sesuai kerja fisik yang dilakukannya.

Setelah ketiga usaha yang dapat dilakukan manusia tersebut dimaksimalkan, ada formula kesuksesan lain yang perlu dilakukannya yaitu berdoa.

Doa merupakan tali penghubung usaha maksimal manusia dengan dunia maya kesuksesan. Dengan berdoa kepada Sang Penguasa kesuksesan itu sendiri, diharapkan ada faktor x , keberkahan, yang meridhoi dan mewujudkannya. Karena sukses dan manusia itu adalah miliknya, maka selayaknya kita serahkan kembali kepada Yang Maha Pemilik sesuatu itu.

Seseorang yang sukses sebetulnya tidak pernah merasakan kegagalan dan kesusahan, baginya kegagalan dan kesusahan itu merupakan tantangan dan sudah merupakan permainan hidupnya. “Bila belum pernah merasakan kesusahan, tidak akan mungkin merasakan kesenangan,” kata La Marcus. Tetapi yang jelas dibalik kesuksesan dan kesenangan itu selalu ada kegagalan dan kesusahan. Ingat, kesuksesan itu mahal harganya dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selamat bermimpi sukses dan mewujudkannya. **

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.


DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini: http://www.ardapenulissukses.com

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail: arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

Share on Facebook [BAGI ARTIKEL INI MELALUI FACEBOOKMU]





Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:
Caranya SMS dengan format sbb:

REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-
Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-
Lalu SMS ke: 081320476048
FORMULA KESUKSESAN
Oleh Arda Dinata


Chocolate for a Teen's Spirit: Inspiring Stories for Young Women About Hope, Strength, and WisdomFaith, Hope and LoveSpirit of the Marathon"The Spirit of America" Classic Americana Music/Video on DVD
SUKSES. Kata yang terdiri dari enam huruf ini adalah sesuatu yang gampang diucapkan, tapi tidak mudah meraihnya. Siapa pun manusia di dunia ini, mengharapkan dirinya menjadi ‘sukses’ dalam hal yang baik tentunya.

Toha Nasrudin (1998) dalam buku berjudul “Nota Sukses” menyatakan, “Mereka yang berpikir sukses, akan memandang peluang bisnis sebagai ‘barang berharga’, pesaing sebagai motivator, dan kegagalan dijadikan sebagai batu loncatan untuk berbuat lebih baik lagi di masa mendatang. Baginya tidak ada kata ‘tidak’, sukses adalah bagian dari hidupnya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dan siap berjuang apapun pengorbanannya.”

Kesuksesan dapat kita raih, bukan saja berpondasikan niat semata. Lebih dari itu, kesuksesan dapat diraih melalui proses yang panjang dan melelahkan. Sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa meraih dan menggondol nilai kesuksesan tersebut.

Untuk menghantarkan seseorang mencapai puncak kesuksesan, tentu ada beberapa formula yang membentuknya. Formula ini tentu saja bukan sebuah harga mati. Yang pasti, formula ini didapat dari sebuah perenungan dan penelaahan penulis dari orang-orang sukses.


KERJA PIKIR + KERJA HATI + KERJA FISIK + DOA = SUKSES


Formula kesuksesan seseorang dibentuk oleh kerja pikir (KP), kerja hati (KH), kerja fisik (KF), doa dan faktor x (keberkahan). Kerja pikir merupakan modal awal kesuksesan seseorang. Setiap manusia pada dasarnya berpotensi untuk mencapai kesuksesan. Tapi, hanya orang-orang berpikir yang dapat menguasai hidup dan mencapai kesuksesan.

Hal tersebut didasarkan akan nikmat ‘otak’ yang diberikan penguasa hidup ini hanya kepada manusia. Tentu, manusia yang mampu menggunakan pikirnya dalam membaca hidup ini, baik yang tersurat maupun tersirat, maka ia akan selalu berusaha bersikap positif terhadap sesuatu yang terjadi pada dirinya. Langkah hidupnya selalu didasarkan pada pola pikir yang terbentuk dari pembacaan dan perenungan hatinya.

Di sinilah perlunya kerja hati. Setelah kita memfungsikan kerja pikir dalam usaha mencapai kesuksesan. Mengapa ? Karena hati kita pada dasarnya berperan memfilter setiap pikir yang direspon oleh otak.

Secara hakiki kebenaran dan keadilan itu tidak terdapat di mana-mana, tetapi ada pada hati sanubari manusia sendiri. Hati kita (kolbu) merupakan intuisi yang sangat fitroh atas kebenaran sesuatu. Orang yang sukses, tentu ia tidak hanya mengerahkan segenap pikirnya. Tapi lebih dari itu, ia juga mengkonsulkan pola pikir kesuksesan sesuatunya itu kepada hati. Baru kemudian ia demonstrasikan melalui kerja fisik.

Kerja fisik ini merupakan sebuah produk yang dihasilkan dari kerja pikir dan kerja hati. Dari kerja fisik ini kemudian terlihat seberapa jauh usaha yang dilakukannya dalam mewujudkan mimpinya itu.

Pada saat kerja fisik ini tantangan yang muncul sangat kompleks bila dibandingkan dengan kerja pikir maupun kerja hati.

Menyikapi ketiga macam kerja yang perlu dilakukan mereka yang ingin sukses, tentu hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Latar belakang pendidikan formal ataupun tidak formal, kebiasaan pembelajaran dan pengejawantahan terhadap nilai-nilai didikan lingkungan sekitarnya. Itu adalah sebagian dari faktor yang mempengaruhi kerja pikir seseorang.

Hal tersebut berlainan dengan kerja hati. Di sini faktor yang mempengaruhinya adalah sebatas mana fungsi hati itu dikembangkan. Artinya setiap pola pikir yang terbentuk, apakah selalu direnungkan akan dampak positif-negatifnya sebelum didemontrasikan dalam kerja fisik (tingkah laku )?

Sedangkan faktor yang mempengaruhi faktor kerja fisik tidak lain kedisiplinan diri terhadap sesuatu yang tertuang dalam pikir dan hatinya. Karena orang yang tidak disiplin, ia cenderung menghasilkan ‘nilai’ yang tidak sesuai kerja fisik yang dilakukannya.

Setelah ketiga usaha yang dapat dilakukan manusia tersebut dimaksimalkan, ada formula kesuksesan lain yang perlu dilakukannya yaitu berdoa.

Doa merupakan tali penghubung usaha maksimal manusia dengan dunia maya kesuksesan. Dengan berdoa kepada Sang Penguasa kesuksesan itu sendiri, diharapkan ada faktor x , keberkahan, yang meridhoi dan mewujudkannya. Karena sukses dan manusia itu adalah miliknya, maka selayaknya kita serahkan kembali kepada Yang Maha Pemilik sesuatu itu.

Seseorang yang sukses sebetulnya tidak pernah merasakan kegagalan dan kesusahan, baginya kegagalan dan kesusahan itu merupakan tantangan dan sudah merupakan permainan hidupnya. “Bila belum pernah merasakan kesusahan, tidak akan mungkin merasakan kesenangan,” kata La Marcus. Tetapi yang jelas dibalik kesuksesan dan kesenangan itu selalu ada kegagalan dan kesusahan. Ingat, kesuksesan itu mahal harganya dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selamat bermimpi sukses dan mewujudkannya. **

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.


DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini: http://www.ardapenulissukses.com

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail: arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

Share on Facebook [BAGI ARTIKEL INI MELALUI FACEBOOKMU]





Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:
Caranya SMS dengan format sbb:

REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-
Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-
Lalu SMS ke: 081320476048
FORMULA KESUKSESAN
Oleh Arda Dinata


Chocolate for a Teen's Spirit: Inspiring Stories for Young Women About Hope, Strength, and WisdomFaith, Hope and LoveSpirit of the Marathon"The Spirit of America" Classic Americana Music/Video on DVD
SUKSES. Kata yang terdiri dari enam huruf ini adalah sesuatu yang gampang diucapkan, tapi tidak mudah meraihnya. Siapa pun manusia di dunia ini, mengharapkan dirinya menjadi ‘sukses’ dalam hal yang baik tentunya.

Toha Nasrudin (1998) dalam buku berjudul “Nota Sukses” menyatakan, “Mereka yang berpikir sukses, akan memandang peluang bisnis sebagai ‘barang berharga’, pesaing sebagai motivator, dan kegagalan dijadikan sebagai batu loncatan untuk berbuat lebih baik lagi di masa mendatang. Baginya tidak ada kata ‘tidak’, sukses adalah bagian dari hidupnya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dan siap berjuang apapun pengorbanannya.”

Kesuksesan dapat kita raih, bukan saja berpondasikan niat semata. Lebih dari itu, kesuksesan dapat diraih melalui proses yang panjang dan melelahkan. Sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa meraih dan menggondol nilai kesuksesan tersebut.

Untuk menghantarkan seseorang mencapai puncak kesuksesan, tentu ada beberapa formula yang membentuknya. Formula ini tentu saja bukan sebuah harga mati. Yang pasti, formula ini didapat dari sebuah perenungan dan penelaahan penulis dari orang-orang sukses.


KERJA PIKIR + KERJA HATI + KERJA FISIK + DOA = SUKSES


Formula kesuksesan seseorang dibentuk oleh kerja pikir (KP), kerja hati (KH), kerja fisik (KF), doa dan faktor x (keberkahan). Kerja pikir merupakan modal awal kesuksesan seseorang. Setiap manusia pada dasarnya berpotensi untuk mencapai kesuksesan. Tapi, hanya orang-orang berpikir yang dapat menguasai hidup dan mencapai kesuksesan.

Hal tersebut didasarkan akan nikmat ‘otak’ yang diberikan penguasa hidup ini hanya kepada manusia. Tentu, manusia yang mampu menggunakan pikirnya dalam membaca hidup ini, baik yang tersurat maupun tersirat, maka ia akan selalu berusaha bersikap positif terhadap sesuatu yang terjadi pada dirinya. Langkah hidupnya selalu didasarkan pada pola pikir yang terbentuk dari pembacaan dan perenungan hatinya.

Di sinilah perlunya kerja hati. Setelah kita memfungsikan kerja pikir dalam usaha mencapai kesuksesan. Mengapa ? Karena hati kita pada dasarnya berperan memfilter setiap pikir yang direspon oleh otak.

Secara hakiki kebenaran dan keadilan itu tidak terdapat di mana-mana, tetapi ada pada hati sanubari manusia sendiri. Hati kita (kolbu) merupakan intuisi yang sangat fitroh atas kebenaran sesuatu. Orang yang sukses, tentu ia tidak hanya mengerahkan segenap pikirnya. Tapi lebih dari itu, ia juga mengkonsulkan pola pikir kesuksesan sesuatunya itu kepada hati. Baru kemudian ia demonstrasikan melalui kerja fisik.

Kerja fisik ini merupakan sebuah produk yang dihasilkan dari kerja pikir dan kerja hati. Dari kerja fisik ini kemudian terlihat seberapa jauh usaha yang dilakukannya dalam mewujudkan mimpinya itu.

Pada saat kerja fisik ini tantangan yang muncul sangat kompleks bila dibandingkan dengan kerja pikir maupun kerja hati.

Menyikapi ketiga macam kerja yang perlu dilakukan mereka yang ingin sukses, tentu hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Latar belakang pendidikan formal ataupun tidak formal, kebiasaan pembelajaran dan pengejawantahan terhadap nilai-nilai didikan lingkungan sekitarnya. Itu adalah sebagian dari faktor yang mempengaruhi kerja pikir seseorang.

Hal tersebut berlainan dengan kerja hati. Di sini faktor yang mempengaruhinya adalah sebatas mana fungsi hati itu dikembangkan. Artinya setiap pola pikir yang terbentuk, apakah selalu direnungkan akan dampak positif-negatifnya sebelum didemontrasikan dalam kerja fisik (tingkah laku )?

Sedangkan faktor yang mempengaruhi faktor kerja fisik tidak lain kedisiplinan diri terhadap sesuatu yang tertuang dalam pikir dan hatinya. Karena orang yang tidak disiplin, ia cenderung menghasilkan ‘nilai’ yang tidak sesuai kerja fisik yang dilakukannya.

Setelah ketiga usaha yang dapat dilakukan manusia tersebut dimaksimalkan, ada formula kesuksesan lain yang perlu dilakukannya yaitu berdoa.

Doa merupakan tali penghubung usaha maksimal manusia dengan dunia maya kesuksesan. Dengan berdoa kepada Sang Penguasa kesuksesan itu sendiri, diharapkan ada faktor x , keberkahan, yang meridhoi dan mewujudkannya. Karena sukses dan manusia itu adalah miliknya, maka selayaknya kita serahkan kembali kepada Yang Maha Pemilik sesuatu itu.

Seseorang yang sukses sebetulnya tidak pernah merasakan kegagalan dan kesusahan, baginya kegagalan dan kesusahan itu merupakan tantangan dan sudah merupakan permainan hidupnya. “Bila belum pernah merasakan kesusahan, tidak akan mungkin merasakan kesenangan,” kata La Marcus. Tetapi yang jelas dibalik kesuksesan dan kesenangan itu selalu ada kegagalan dan kesusahan. Ingat, kesuksesan itu mahal harganya dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selamat bermimpi sukses dan mewujudkannya. **

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.


DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini: http://www.ardapenulissukses.com

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail: arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

Share on Facebook [BAGI ARTIKEL INI MELALUI FACEBOOKMU]





Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:
Caranya SMS dengan format sbb:

REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-
Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-
Lalu SMS ke: 081320476048
FORMULA KESUKSESAN
Oleh Arda Dinata


Chocolate for a Teen's Spirit: Inspiring Stories for Young Women About Hope, Strength, and WisdomFaith, Hope and LoveSpirit of the Marathon"The Spirit of America" Classic Americana Music/Video on DVD
SUKSES. Kata yang terdiri dari enam huruf ini adalah sesuatu yang gampang diucapkan, tapi tidak mudah meraihnya. Siapa pun manusia di dunia ini, mengharapkan dirinya menjadi ‘sukses’ dalam hal yang baik tentunya.

Toha Nasrudin (1998) dalam buku berjudul “Nota Sukses” menyatakan, “Mereka yang berpikir sukses, akan memandang peluang bisnis sebagai ‘barang berharga’, pesaing sebagai motivator, dan kegagalan dijadikan sebagai batu loncatan untuk berbuat lebih baik lagi di masa mendatang. Baginya tidak ada kata ‘tidak’, sukses adalah bagian dari hidupnya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dan siap berjuang apapun pengorbanannya.”

Kesuksesan dapat kita raih, bukan saja berpondasikan niat semata. Lebih dari itu, kesuksesan dapat diraih melalui proses yang panjang dan melelahkan. Sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa meraih dan menggondol nilai kesuksesan tersebut.

Untuk menghantarkan seseorang mencapai puncak kesuksesan, tentu ada beberapa formula yang membentuknya. Formula ini tentu saja bukan sebuah harga mati. Yang pasti, formula ini didapat dari sebuah perenungan dan penelaahan penulis dari orang-orang sukses.


KERJA PIKIR + KERJA HATI + KERJA FISIK + DOA = SUKSES


Formula kesuksesan seseorang dibentuk oleh kerja pikir (KP), kerja hati (KH), kerja fisik (KF), doa dan faktor x (keberkahan). Kerja pikir merupakan modal awal kesuksesan seseorang. Setiap manusia pada dasarnya berpotensi untuk mencapai kesuksesan. Tapi, hanya orang-orang berpikir yang dapat menguasai hidup dan mencapai kesuksesan.

Hal tersebut didasarkan akan nikmat ‘otak’ yang diberikan penguasa hidup ini hanya kepada manusia. Tentu, manusia yang mampu menggunakan pikirnya dalam membaca hidup ini, baik yang tersurat maupun tersirat, maka ia akan selalu berusaha bersikap positif terhadap sesuatu yang terjadi pada dirinya. Langkah hidupnya selalu didasarkan pada pola pikir yang terbentuk dari pembacaan dan perenungan hatinya.

Di sinilah perlunya kerja hati. Setelah kita memfungsikan kerja pikir dalam usaha mencapai kesuksesan. Mengapa ? Karena hati kita pada dasarnya berperan memfilter setiap pikir yang direspon oleh otak.

Secara hakiki kebenaran dan keadilan itu tidak terdapat di mana-mana, tetapi ada pada hati sanubari manusia sendiri. Hati kita (kolbu) merupakan intuisi yang sangat fitroh atas kebenaran sesuatu. Orang yang sukses, tentu ia tidak hanya mengerahkan segenap pikirnya. Tapi lebih dari itu, ia juga mengkonsulkan pola pikir kesuksesan sesuatunya itu kepada hati. Baru kemudian ia demonstrasikan melalui kerja fisik.

Kerja fisik ini merupakan sebuah produk yang dihasilkan dari kerja pikir dan kerja hati. Dari kerja fisik ini kemudian terlihat seberapa jauh usaha yang dilakukannya dalam mewujudkan mimpinya itu.

Pada saat kerja fisik ini tantangan yang muncul sangat kompleks bila dibandingkan dengan kerja pikir maupun kerja hati.

Menyikapi ketiga macam kerja yang perlu dilakukan mereka yang ingin sukses, tentu hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Latar belakang pendidikan formal ataupun tidak formal, kebiasaan pembelajaran dan pengejawantahan terhadap nilai-nilai didikan lingkungan sekitarnya. Itu adalah sebagian dari faktor yang mempengaruhi kerja pikir seseorang.

Hal tersebut berlainan dengan kerja hati. Di sini faktor yang mempengaruhinya adalah sebatas mana fungsi hati itu dikembangkan. Artinya setiap pola pikir yang terbentuk, apakah selalu direnungkan akan dampak positif-negatifnya sebelum didemontrasikan dalam kerja fisik (tingkah laku )?

Sedangkan faktor yang mempengaruhi faktor kerja fisik tidak lain kedisiplinan diri terhadap sesuatu yang tertuang dalam pikir dan hatinya. Karena orang yang tidak disiplin, ia cenderung menghasilkan ‘nilai’ yang tidak sesuai kerja fisik yang dilakukannya.

Setelah ketiga usaha yang dapat dilakukan manusia tersebut dimaksimalkan, ada formula kesuksesan lain yang perlu dilakukannya yaitu berdoa.

Doa merupakan tali penghubung usaha maksimal manusia dengan dunia maya kesuksesan. Dengan berdoa kepada Sang Penguasa kesuksesan itu sendiri, diharapkan ada faktor x , keberkahan, yang meridhoi dan mewujudkannya. Karena sukses dan manusia itu adalah miliknya, maka selayaknya kita serahkan kembali kepada Yang Maha Pemilik sesuatu itu.

Seseorang yang sukses sebetulnya tidak pernah merasakan kegagalan dan kesusahan, baginya kegagalan dan kesusahan itu merupakan tantangan dan sudah merupakan permainan hidupnya. “Bila belum pernah merasakan kesusahan, tidak akan mungkin merasakan kesenangan,” kata La Marcus. Tetapi yang jelas dibalik kesuksesan dan kesenangan itu selalu ada kegagalan dan kesusahan. Ingat, kesuksesan itu mahal harganya dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selamat bermimpi sukses dan mewujudkannya. **

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.


DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini: http://www.ardapenulissukses.com

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail: arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

Share on Facebook [BAGI ARTIKEL INI MELALUI FACEBOOKMU]





Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:
Caranya SMS dengan format sbb:

REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-
Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-
Lalu SMS ke: 081320476048
FORMULA KESUKSESAN
Oleh Arda Dinata


Chocolate for a Teen's Spirit: Inspiring Stories for Young Women About Hope, Strength, and WisdomFaith, Hope and LoveSpirit of the Marathon"The Spirit of America" Classic Americana Music/Video on DVD
SUKSES. Kata yang terdiri dari enam huruf ini adalah sesuatu yang gampang diucapkan, tapi tidak mudah meraihnya. Siapa pun manusia di dunia ini, mengharapkan dirinya menjadi ‘sukses’ dalam hal yang baik tentunya.

Toha Nasrudin (1998) dalam buku berjudul “Nota Sukses” menyatakan, “Mereka yang berpikir sukses, akan memandang peluang bisnis sebagai ‘barang berharga’, pesaing sebagai motivator, dan kegagalan dijadikan sebagai batu loncatan untuk berbuat lebih baik lagi di masa mendatang. Baginya tidak ada kata ‘tidak’, sukses adalah bagian dari hidupnya yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dan siap berjuang apapun pengorbanannya.”

Kesuksesan dapat kita raih, bukan saja berpondasikan niat semata. Lebih dari itu, kesuksesan dapat diraih melalui proses yang panjang dan melelahkan. Sehingga hanya orang-orang tertentu yang bisa meraih dan menggondol nilai kesuksesan tersebut.

Untuk menghantarkan seseorang mencapai puncak kesuksesan, tentu ada beberapa formula yang membentuknya. Formula ini tentu saja bukan sebuah harga mati. Yang pasti, formula ini didapat dari sebuah perenungan dan penelaahan penulis dari orang-orang sukses.


KERJA PIKIR + KERJA HATI + KERJA FISIK + DOA = SUKSES


Formula kesuksesan seseorang dibentuk oleh kerja pikir (KP), kerja hati (KH), kerja fisik (KF), doa dan faktor x (keberkahan). Kerja pikir merupakan modal awal kesuksesan seseorang. Setiap manusia pada dasarnya berpotensi untuk mencapai kesuksesan. Tapi, hanya orang-orang berpikir yang dapat menguasai hidup dan mencapai kesuksesan.

Hal tersebut didasarkan akan nikmat ‘otak’ yang diberikan penguasa hidup ini hanya kepada manusia. Tentu, manusia yang mampu menggunakan pikirnya dalam membaca hidup ini, baik yang tersurat maupun tersirat, maka ia akan selalu berusaha bersikap positif terhadap sesuatu yang terjadi pada dirinya. Langkah hidupnya selalu didasarkan pada pola pikir yang terbentuk dari pembacaan dan perenungan hatinya.

Di sinilah perlunya kerja hati. Setelah kita memfungsikan kerja pikir dalam usaha mencapai kesuksesan. Mengapa ? Karena hati kita pada dasarnya berperan memfilter setiap pikir yang direspon oleh otak.

Secara hakiki kebenaran dan keadilan itu tidak terdapat di mana-mana, tetapi ada pada hati sanubari manusia sendiri. Hati kita (kolbu) merupakan intuisi yang sangat fitroh atas kebenaran sesuatu. Orang yang sukses, tentu ia tidak hanya mengerahkan segenap pikirnya. Tapi lebih dari itu, ia juga mengkonsulkan pola pikir kesuksesan sesuatunya itu kepada hati. Baru kemudian ia demonstrasikan melalui kerja fisik.

Kerja fisik ini merupakan sebuah produk yang dihasilkan dari kerja pikir dan kerja hati. Dari kerja fisik ini kemudian terlihat seberapa jauh usaha yang dilakukannya dalam mewujudkan mimpinya itu.

Pada saat kerja fisik ini tantangan yang muncul sangat kompleks bila dibandingkan dengan kerja pikir maupun kerja hati.

Menyikapi ketiga macam kerja yang perlu dilakukan mereka yang ingin sukses, tentu hal ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Latar belakang pendidikan formal ataupun tidak formal, kebiasaan pembelajaran dan pengejawantahan terhadap nilai-nilai didikan lingkungan sekitarnya. Itu adalah sebagian dari faktor yang mempengaruhi kerja pikir seseorang.

Hal tersebut berlainan dengan kerja hati. Di sini faktor yang mempengaruhinya adalah sebatas mana fungsi hati itu dikembangkan. Artinya setiap pola pikir yang terbentuk, apakah selalu direnungkan akan dampak positif-negatifnya sebelum didemontrasikan dalam kerja fisik (tingkah laku )?

Sedangkan faktor yang mempengaruhi faktor kerja fisik tidak lain kedisiplinan diri terhadap sesuatu yang tertuang dalam pikir dan hatinya. Karena orang yang tidak disiplin, ia cenderung menghasilkan ‘nilai’ yang tidak sesuai kerja fisik yang dilakukannya.

Setelah ketiga usaha yang dapat dilakukan manusia tersebut dimaksimalkan, ada formula kesuksesan lain yang perlu dilakukannya yaitu berdoa.

Doa merupakan tali penghubung usaha maksimal manusia dengan dunia maya kesuksesan. Dengan berdoa kepada Sang Penguasa kesuksesan itu sendiri, diharapkan ada faktor x , keberkahan, yang meridhoi dan mewujudkannya. Karena sukses dan manusia itu adalah miliknya, maka selayaknya kita serahkan kembali kepada Yang Maha Pemilik sesuatu itu.

Seseorang yang sukses sebetulnya tidak pernah merasakan kegagalan dan kesusahan, baginya kegagalan dan kesusahan itu merupakan tantangan dan sudah merupakan permainan hidupnya. “Bila belum pernah merasakan kesusahan, tidak akan mungkin merasakan kesenangan,” kata La Marcus. Tetapi yang jelas dibalik kesuksesan dan kesenangan itu selalu ada kegagalan dan kesusahan. Ingat, kesuksesan itu mahal harganya dan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selamat bermimpi sukses dan mewujudkannya. **

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.


DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini: http://www.ardapenulissukses.com

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail: arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

Share on Facebook [BAGI ARTIKEL INI MELALUI FACEBOOKMU]





Anda ingin seperti mereka? Daftar GRATIS:
Caranya SMS dengan format sbb:

REG.NO HP ANDA. NAMA ANDA.-..-
Contoh: REG.081809616519.CANTIK JELITA.-.-
Lalu SMS ke: 081320476048
DBD dan Perilaku Kita
Lihat Detail

DBD dan Perilaku Kita



DBD dan Perilaku Kita
Arda Dinata


LAGI-LAGI, demam berdarah dengue (DBD) renggut nyawa. Itulah headline HU Priangan edisi 10/3/2009.

Dalam berita itu disebutkan kalau DBD di Kota Tasikmalaya kembali merenggut korban jiwa. Adalah Desi Purnamasari gadis berusia 20 tahun anak pertama dari pasangan Mahmud (44) dan Siti Aisah (41), warga Kp. Sukasirna RT 01 RW 11 Kel. Sukanagara Kec. Purbaratu Kota Tasik meninggal akibat penyakit yang ditimbulkan oleh nyamuk Aedes aegypti.

Berdasarkan data dari Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, hingga akhir Februari 2009, penderita DBD mencapai 76 kasus. Data tersebut hingga Maret ini diperkirakan akan terus bertambah seiring perubahan cuaca dan banyaknya ditemukan kasus-kasus DBD di Kota Tasikmalaya. Sehingga pantas saja, dengan meningkatnya warga Kota Tasik yang terjangkit DBD ini membuat keprihatianan Walikota Tasik, Drs. H. Syraif Hidayat, M.Si. yang disampaikannya di sela-sela peresmian ruang rawat inap kelas 3 RSUD Tasik baru-baru ini.
Kalau mau jujur, sesungguhnya adanya kasus DBD ini merupakan cerminan dari perilaku kita selama ini. Sebab, keberadaan nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk (baca: DBD).

Kalau kita teliti lebih jauh, ternyata nyamuk ini tergolong serangga yang telah berumur, yakni sudah melewati suatu proses evolusi yang panjang. Sehingga, pantas saja kalau serangga ini memiliki sifat yang spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia.

Bila diperhatikan dan dilihat dari siklus hidupnya, nyamuk ini termasuk serangga yang mengalami metamorphosis sempurna. Mulai dari telur, larva (jentik), pupa dan nyamuk dewasa. Lebih jauh, dari tahap-tahap siklus hidup tersebut, nyamuk itu merupakan serangga yang sangat sukses memanfaatkan air (lingkungan), termasuk air alami dan air dari sumber buatan (baik yang bersifat permanen maupun temporer).

Menurut Upik Kesumawati Hadi & F.X. Koesharto (2006) menyebutkan kalau tempat seperti danau, aliran air, kolam, air payau, bendungan, saluran irigasi, air bebatuan, septic tank, selokan, kaleng bekas dan lainnya dapat berperan sebagai tempat bertelur dan tempat perkembangan larva nyamuk. Nyamuk yang berada di sekeliling rumah seperti Culex quinquefasciatus, Ae. aegypti dan Ae. albopictus, tumbuh dan berkembang dalam genangan air di sekitar kediaman kita.

Dalam bahasa Singgih H. Sigit (2006), lingkungkan permukiman manusia yang umumnya berupa suatu kompleks bangunan tempat tinggal berikut fasilitas yang berhubungan dengan pelbagai hajat hidupnya, termasuk juga jalan, selokan, berikut tanaman pekarangan dan hewan-hewan peliharaannya, merupakan sebuah ekosistem tersendiri yang unik. Lingkungan itu di bangun dan diciptakan terutama untuk kepentingan kenyamanan hidup manusia, tetapi pada kenyataannya banyak mahluk lainnya ikut memanfaatkan kondisi itu sebagai habitat, tempat istirahat serta tempat mencari makan. Salah satunya adalah nyamuk.

Kondisi lingkungan di Kota Tasik pun saya lihat banyak tempat yang sangat nyaman untuk dijadikan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, seperti ban bekas di bengkel-bengkel sepanjang jalan di wilayah Kota Tasik banyak yang tidak terlindung, sehingga banyak genangan air di dalam ban-ban bekas tersebut yang jadi tempat nyamuk bertelur. Belum lagi kondisi bak mandi di tempat-tempat umum (seperti terminal, masjid, mushola, sekolah, dll) maupun kondisi taman-taman yang tidak terawat baik taman umum maupun di rumah-rumah penduduk, tentu kondisi demikian merupakan tempat potensial bagi tumbuh kembangnya naymuk penyebab DBD. Lalu, bagaimana cara dan strategi yang kita lakukan untuk penanggulangan DBD tersebut?

Strategi Utama

Penanggulangan DBD yang perlu dilakukan dan paling efektif adalah gerakan 3-M, yakni menguras bak mandi, membubuhi bubuk abate ke panampungan air, menutup wadah penampungan air, mengubur dan menimbun barang bekas yang dapat menampung air hujan.

Adapun perilaku pemberdayaan yang harus jadi kebiasaan masyarakat sebagai aplikasi dari gerakan 3-M itu adalah: Pertama, menguras tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi/WC, tempayan, ember, vas bunga, tempat minum burung dan lainnya seminggu sekali. Kedua, menutup rapat semua tempat penampungan air seperti ember, gentong, drum dan lainnya. Ketiga, mengubur semua barang-barang bekas yang ada di sekitar/di luar rumah yang dapat menampung air hujan.

Selain itu, kita juga perlu memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk. Cara untuk membunuh jentik nyamuk demam berdarah yang ada di tempat air yang sulit dikuras atau daerah sulit air yaitu dengan menaburkan bubuk temephos (abate) atau altosid 2-3 bulan sekali dengan takaran 1 gram abate untuk 10 liter air atau 2,5 gram altosid untuk 100 liter air.

Usaha lain yang dapat dilakukan masyarakat, diantaranya dengan memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, mengusir nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk, mencegah gigitan nyamuk dengan memakai obat nyamuk gosok, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, serta tidak membiasakan menggantung pakaian di dalam kamar.

Terkait dengan strategi utama pemberdayaan dalam penanggulangan DBD ini, tentu diperlukan adanya perencanaan. Berikut ini adalah pokok dan bentuk kegiatan nyata yang perlu direncanakan dan dilakukan oleh masyarakat. Pertama, melakukan tata laksana kasus, yang meliputi penemuan kasus, pengobatan penderita, dan sistem pelaporan yang cepat dan terdokumentasi dengan baik.

Kedua, melakukan penyelidikan epidemiologi, terutama terhadap daerah yang terdapat kasus penderita DBD. Penyelidikan ini tentu sangat berguna untuk melakukan penanggulangan fokus terhadap kasus DBD.

Ketiga, adanya penyuluhan tentang DBD kepada masyarakat, melakukan pemantauan jentik secara berkala, melakukan pemetaan penyebaran kasus, dan melakukan pertemuan kelompok kerja DBD secara lintas sektor dan program.

Keempat, melakukan gerakan bulan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) yang dilaksanakan sebelum bulan-bulan musim penularan penyakit DBD (data ini dapat kita peroleh dari data tahun sebelumnya). Artinya, bulan musim penularan penyakit DBD dapat diketahui, bila pencatatan dan pendataan dilakukan secara benar terhadap terjadinya kasus DBD di suatu daerah.

Kelima, dilakukan kegiatan pelatihan-pelatihan seputar penyakit DBD, mulai dari gejala penyakit DBD, cara pengobatan penderita yang terkena DBD, cara pencegahan penyakit DBD, dan lainnya.

Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan kita untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, inilah sesungguhnya kunci dari segala kunci dalam pengendalian terhadap bahaya nyamuk.***

ARDA DINATA
Pemerhati masalah lingkungan dan pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, www.miqraindonesia.tk.

Tulisan ini telah dimuat di HU PRIANGAN Tasikmalaya, edisi 16 Maret 2009 dalam rubrik Opini


DBD dan Perilaku Kita
Arda Dinata


LAGI-LAGI, demam berdarah dengue (DBD) renggut nyawa. Itulah headline HU Priangan edisi 10/3/2009.

Dalam berita itu disebutkan kalau DBD di Kota Tasikmalaya kembali merenggut korban jiwa. Adalah Desi Purnamasari gadis berusia 20 tahun anak pertama dari pasangan Mahmud (44) dan Siti Aisah (41), warga Kp. Sukasirna RT 01 RW 11 Kel. Sukanagara Kec. Purbaratu Kota Tasik meninggal akibat penyakit yang ditimbulkan oleh nyamuk Aedes aegypti.

Berdasarkan data dari Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, hingga akhir Februari 2009, penderita DBD mencapai 76 kasus. Data tersebut hingga Maret ini diperkirakan akan terus bertambah seiring perubahan cuaca dan banyaknya ditemukan kasus-kasus DBD di Kota Tasikmalaya. Sehingga pantas saja, dengan meningkatnya warga Kota Tasik yang terjangkit DBD ini membuat keprihatianan Walikota Tasik, Drs. H. Syraif Hidayat, M.Si. yang disampaikannya di sela-sela peresmian ruang rawat inap kelas 3 RSUD Tasik baru-baru ini.
Kalau mau jujur, sesungguhnya adanya kasus DBD ini merupakan cerminan dari perilaku kita selama ini. Sebab, keberadaan nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk (baca: DBD).

Kalau kita teliti lebih jauh, ternyata nyamuk ini tergolong serangga yang telah berumur, yakni sudah melewati suatu proses evolusi yang panjang. Sehingga, pantas saja kalau serangga ini memiliki sifat yang spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia.

Bila diperhatikan dan dilihat dari siklus hidupnya, nyamuk ini termasuk serangga yang mengalami metamorphosis sempurna. Mulai dari telur, larva (jentik), pupa dan nyamuk dewasa. Lebih jauh, dari tahap-tahap siklus hidup tersebut, nyamuk itu merupakan serangga yang sangat sukses memanfaatkan air (lingkungan), termasuk air alami dan air dari sumber buatan (baik yang bersifat permanen maupun temporer).

Menurut Upik Kesumawati Hadi & F.X. Koesharto (2006) menyebutkan kalau tempat seperti danau, aliran air, kolam, air payau, bendungan, saluran irigasi, air bebatuan, septic tank, selokan, kaleng bekas dan lainnya dapat berperan sebagai tempat bertelur dan tempat perkembangan larva nyamuk. Nyamuk yang berada di sekeliling rumah seperti Culex quinquefasciatus, Ae. aegypti dan Ae. albopictus, tumbuh dan berkembang dalam genangan air di sekitar kediaman kita.

Dalam bahasa Singgih H. Sigit (2006), lingkungkan permukiman manusia yang umumnya berupa suatu kompleks bangunan tempat tinggal berikut fasilitas yang berhubungan dengan pelbagai hajat hidupnya, termasuk juga jalan, selokan, berikut tanaman pekarangan dan hewan-hewan peliharaannya, merupakan sebuah ekosistem tersendiri yang unik. Lingkungan itu di bangun dan diciptakan terutama untuk kepentingan kenyamanan hidup manusia, tetapi pada kenyataannya banyak mahluk lainnya ikut memanfaatkan kondisi itu sebagai habitat, tempat istirahat serta tempat mencari makan. Salah satunya adalah nyamuk.

Kondisi lingkungan di Kota Tasik pun saya lihat banyak tempat yang sangat nyaman untuk dijadikan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, seperti ban bekas di bengkel-bengkel sepanjang jalan di wilayah Kota Tasik banyak yang tidak terlindung, sehingga banyak genangan air di dalam ban-ban bekas tersebut yang jadi tempat nyamuk bertelur. Belum lagi kondisi bak mandi di tempat-tempat umum (seperti terminal, masjid, mushola, sekolah, dll) maupun kondisi taman-taman yang tidak terawat baik taman umum maupun di rumah-rumah penduduk, tentu kondisi demikian merupakan tempat potensial bagi tumbuh kembangnya naymuk penyebab DBD. Lalu, bagaimana cara dan strategi yang kita lakukan untuk penanggulangan DBD tersebut?

Strategi Utama

Penanggulangan DBD yang perlu dilakukan dan paling efektif adalah gerakan 3-M, yakni menguras bak mandi, membubuhi bubuk abate ke panampungan air, menutup wadah penampungan air, mengubur dan menimbun barang bekas yang dapat menampung air hujan.

Adapun perilaku pemberdayaan yang harus jadi kebiasaan masyarakat sebagai aplikasi dari gerakan 3-M itu adalah: Pertama, menguras tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi/WC, tempayan, ember, vas bunga, tempat minum burung dan lainnya seminggu sekali. Kedua, menutup rapat semua tempat penampungan air seperti ember, gentong, drum dan lainnya. Ketiga, mengubur semua barang-barang bekas yang ada di sekitar/di luar rumah yang dapat menampung air hujan.

Selain itu, kita juga perlu memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk. Cara untuk membunuh jentik nyamuk demam berdarah yang ada di tempat air yang sulit dikuras atau daerah sulit air yaitu dengan menaburkan bubuk temephos (abate) atau altosid 2-3 bulan sekali dengan takaran 1 gram abate untuk 10 liter air atau 2,5 gram altosid untuk 100 liter air.

Usaha lain yang dapat dilakukan masyarakat, diantaranya dengan memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, mengusir nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk, mencegah gigitan nyamuk dengan memakai obat nyamuk gosok, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, serta tidak membiasakan menggantung pakaian di dalam kamar.

Terkait dengan strategi utama pemberdayaan dalam penanggulangan DBD ini, tentu diperlukan adanya perencanaan. Berikut ini adalah pokok dan bentuk kegiatan nyata yang perlu direncanakan dan dilakukan oleh masyarakat. Pertama, melakukan tata laksana kasus, yang meliputi penemuan kasus, pengobatan penderita, dan sistem pelaporan yang cepat dan terdokumentasi dengan baik.

Kedua, melakukan penyelidikan epidemiologi, terutama terhadap daerah yang terdapat kasus penderita DBD. Penyelidikan ini tentu sangat berguna untuk melakukan penanggulangan fokus terhadap kasus DBD.

Ketiga, adanya penyuluhan tentang DBD kepada masyarakat, melakukan pemantauan jentik secara berkala, melakukan pemetaan penyebaran kasus, dan melakukan pertemuan kelompok kerja DBD secara lintas sektor dan program.

Keempat, melakukan gerakan bulan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) yang dilaksanakan sebelum bulan-bulan musim penularan penyakit DBD (data ini dapat kita peroleh dari data tahun sebelumnya). Artinya, bulan musim penularan penyakit DBD dapat diketahui, bila pencatatan dan pendataan dilakukan secara benar terhadap terjadinya kasus DBD di suatu daerah.

Kelima, dilakukan kegiatan pelatihan-pelatihan seputar penyakit DBD, mulai dari gejala penyakit DBD, cara pengobatan penderita yang terkena DBD, cara pencegahan penyakit DBD, dan lainnya.

Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan kita untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, inilah sesungguhnya kunci dari segala kunci dalam pengendalian terhadap bahaya nyamuk.***

ARDA DINATA
Pemerhati masalah lingkungan dan pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, www.miqraindonesia.tk.

Tulisan ini telah dimuat di HU PRIANGAN Tasikmalaya, edisi 16 Maret 2009 dalam rubrik Opini


DBD dan Perilaku Kita
Arda Dinata


LAGI-LAGI, demam berdarah dengue (DBD) renggut nyawa. Itulah headline HU Priangan edisi 10/3/2009.

Dalam berita itu disebutkan kalau DBD di Kota Tasikmalaya kembali merenggut korban jiwa. Adalah Desi Purnamasari gadis berusia 20 tahun anak pertama dari pasangan Mahmud (44) dan Siti Aisah (41), warga Kp. Sukasirna RT 01 RW 11 Kel. Sukanagara Kec. Purbaratu Kota Tasik meninggal akibat penyakit yang ditimbulkan oleh nyamuk Aedes aegypti.

Berdasarkan data dari Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, hingga akhir Februari 2009, penderita DBD mencapai 76 kasus. Data tersebut hingga Maret ini diperkirakan akan terus bertambah seiring perubahan cuaca dan banyaknya ditemukan kasus-kasus DBD di Kota Tasikmalaya. Sehingga pantas saja, dengan meningkatnya warga Kota Tasik yang terjangkit DBD ini membuat keprihatianan Walikota Tasik, Drs. H. Syraif Hidayat, M.Si. yang disampaikannya di sela-sela peresmian ruang rawat inap kelas 3 RSUD Tasik baru-baru ini.
Kalau mau jujur, sesungguhnya adanya kasus DBD ini merupakan cerminan dari perilaku kita selama ini. Sebab, keberadaan nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk (baca: DBD).

Kalau kita teliti lebih jauh, ternyata nyamuk ini tergolong serangga yang telah berumur, yakni sudah melewati suatu proses evolusi yang panjang. Sehingga, pantas saja kalau serangga ini memiliki sifat yang spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia.

Bila diperhatikan dan dilihat dari siklus hidupnya, nyamuk ini termasuk serangga yang mengalami metamorphosis sempurna. Mulai dari telur, larva (jentik), pupa dan nyamuk dewasa. Lebih jauh, dari tahap-tahap siklus hidup tersebut, nyamuk itu merupakan serangga yang sangat sukses memanfaatkan air (lingkungan), termasuk air alami dan air dari sumber buatan (baik yang bersifat permanen maupun temporer).

Menurut Upik Kesumawati Hadi & F.X. Koesharto (2006) menyebutkan kalau tempat seperti danau, aliran air, kolam, air payau, bendungan, saluran irigasi, air bebatuan, septic tank, selokan, kaleng bekas dan lainnya dapat berperan sebagai tempat bertelur dan tempat perkembangan larva nyamuk. Nyamuk yang berada di sekeliling rumah seperti Culex quinquefasciatus, Ae. aegypti dan Ae. albopictus, tumbuh dan berkembang dalam genangan air di sekitar kediaman kita.

Dalam bahasa Singgih H. Sigit (2006), lingkungkan permukiman manusia yang umumnya berupa suatu kompleks bangunan tempat tinggal berikut fasilitas yang berhubungan dengan pelbagai hajat hidupnya, termasuk juga jalan, selokan, berikut tanaman pekarangan dan hewan-hewan peliharaannya, merupakan sebuah ekosistem tersendiri yang unik. Lingkungan itu di bangun dan diciptakan terutama untuk kepentingan kenyamanan hidup manusia, tetapi pada kenyataannya banyak mahluk lainnya ikut memanfaatkan kondisi itu sebagai habitat, tempat istirahat serta tempat mencari makan. Salah satunya adalah nyamuk.

Kondisi lingkungan di Kota Tasik pun saya lihat banyak tempat yang sangat nyaman untuk dijadikan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, seperti ban bekas di bengkel-bengkel sepanjang jalan di wilayah Kota Tasik banyak yang tidak terlindung, sehingga banyak genangan air di dalam ban-ban bekas tersebut yang jadi tempat nyamuk bertelur. Belum lagi kondisi bak mandi di tempat-tempat umum (seperti terminal, masjid, mushola, sekolah, dll) maupun kondisi taman-taman yang tidak terawat baik taman umum maupun di rumah-rumah penduduk, tentu kondisi demikian merupakan tempat potensial bagi tumbuh kembangnya naymuk penyebab DBD. Lalu, bagaimana cara dan strategi yang kita lakukan untuk penanggulangan DBD tersebut?

Strategi Utama

Penanggulangan DBD yang perlu dilakukan dan paling efektif adalah gerakan 3-M, yakni menguras bak mandi, membubuhi bubuk abate ke panampungan air, menutup wadah penampungan air, mengubur dan menimbun barang bekas yang dapat menampung air hujan.

Adapun perilaku pemberdayaan yang harus jadi kebiasaan masyarakat sebagai aplikasi dari gerakan 3-M itu adalah: Pertama, menguras tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi/WC, tempayan, ember, vas bunga, tempat minum burung dan lainnya seminggu sekali. Kedua, menutup rapat semua tempat penampungan air seperti ember, gentong, drum dan lainnya. Ketiga, mengubur semua barang-barang bekas yang ada di sekitar/di luar rumah yang dapat menampung air hujan.

Selain itu, kita juga perlu memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk. Cara untuk membunuh jentik nyamuk demam berdarah yang ada di tempat air yang sulit dikuras atau daerah sulit air yaitu dengan menaburkan bubuk temephos (abate) atau altosid 2-3 bulan sekali dengan takaran 1 gram abate untuk 10 liter air atau 2,5 gram altosid untuk 100 liter air.

Usaha lain yang dapat dilakukan masyarakat, diantaranya dengan memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, mengusir nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk, mencegah gigitan nyamuk dengan memakai obat nyamuk gosok, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, serta tidak membiasakan menggantung pakaian di dalam kamar.

Terkait dengan strategi utama pemberdayaan dalam penanggulangan DBD ini, tentu diperlukan adanya perencanaan. Berikut ini adalah pokok dan bentuk kegiatan nyata yang perlu direncanakan dan dilakukan oleh masyarakat. Pertama, melakukan tata laksana kasus, yang meliputi penemuan kasus, pengobatan penderita, dan sistem pelaporan yang cepat dan terdokumentasi dengan baik.

Kedua, melakukan penyelidikan epidemiologi, terutama terhadap daerah yang terdapat kasus penderita DBD. Penyelidikan ini tentu sangat berguna untuk melakukan penanggulangan fokus terhadap kasus DBD.

Ketiga, adanya penyuluhan tentang DBD kepada masyarakat, melakukan pemantauan jentik secara berkala, melakukan pemetaan penyebaran kasus, dan melakukan pertemuan kelompok kerja DBD secara lintas sektor dan program.

Keempat, melakukan gerakan bulan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) yang dilaksanakan sebelum bulan-bulan musim penularan penyakit DBD (data ini dapat kita peroleh dari data tahun sebelumnya). Artinya, bulan musim penularan penyakit DBD dapat diketahui, bila pencatatan dan pendataan dilakukan secara benar terhadap terjadinya kasus DBD di suatu daerah.

Kelima, dilakukan kegiatan pelatihan-pelatihan seputar penyakit DBD, mulai dari gejala penyakit DBD, cara pengobatan penderita yang terkena DBD, cara pencegahan penyakit DBD, dan lainnya.

Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan kita untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, inilah sesungguhnya kunci dari segala kunci dalam pengendalian terhadap bahaya nyamuk.***

ARDA DINATA
Pemerhati masalah lingkungan dan pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, www.miqraindonesia.tk.

Tulisan ini telah dimuat di HU PRIANGAN Tasikmalaya, edisi 16 Maret 2009 dalam rubrik Opini


DBD dan Perilaku Kita
Arda Dinata


LAGI-LAGI, demam berdarah dengue (DBD) renggut nyawa. Itulah headline HU Priangan edisi 10/3/2009.

Dalam berita itu disebutkan kalau DBD di Kota Tasikmalaya kembali merenggut korban jiwa. Adalah Desi Purnamasari gadis berusia 20 tahun anak pertama dari pasangan Mahmud (44) dan Siti Aisah (41), warga Kp. Sukasirna RT 01 RW 11 Kel. Sukanagara Kec. Purbaratu Kota Tasik meninggal akibat penyakit yang ditimbulkan oleh nyamuk Aedes aegypti.

Berdasarkan data dari Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, hingga akhir Februari 2009, penderita DBD mencapai 76 kasus. Data tersebut hingga Maret ini diperkirakan akan terus bertambah seiring perubahan cuaca dan banyaknya ditemukan kasus-kasus DBD di Kota Tasikmalaya. Sehingga pantas saja, dengan meningkatnya warga Kota Tasik yang terjangkit DBD ini membuat keprihatianan Walikota Tasik, Drs. H. Syraif Hidayat, M.Si. yang disampaikannya di sela-sela peresmian ruang rawat inap kelas 3 RSUD Tasik baru-baru ini.
Kalau mau jujur, sesungguhnya adanya kasus DBD ini merupakan cerminan dari perilaku kita selama ini. Sebab, keberadaan nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk (baca: DBD).

Kalau kita teliti lebih jauh, ternyata nyamuk ini tergolong serangga yang telah berumur, yakni sudah melewati suatu proses evolusi yang panjang. Sehingga, pantas saja kalau serangga ini memiliki sifat yang spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia.

Bila diperhatikan dan dilihat dari siklus hidupnya, nyamuk ini termasuk serangga yang mengalami metamorphosis sempurna. Mulai dari telur, larva (jentik), pupa dan nyamuk dewasa. Lebih jauh, dari tahap-tahap siklus hidup tersebut, nyamuk itu merupakan serangga yang sangat sukses memanfaatkan air (lingkungan), termasuk air alami dan air dari sumber buatan (baik yang bersifat permanen maupun temporer).

Menurut Upik Kesumawati Hadi & F.X. Koesharto (2006) menyebutkan kalau tempat seperti danau, aliran air, kolam, air payau, bendungan, saluran irigasi, air bebatuan, septic tank, selokan, kaleng bekas dan lainnya dapat berperan sebagai tempat bertelur dan tempat perkembangan larva nyamuk. Nyamuk yang berada di sekeliling rumah seperti Culex quinquefasciatus, Ae. aegypti dan Ae. albopictus, tumbuh dan berkembang dalam genangan air di sekitar kediaman kita.

Dalam bahasa Singgih H. Sigit (2006), lingkungkan permukiman manusia yang umumnya berupa suatu kompleks bangunan tempat tinggal berikut fasilitas yang berhubungan dengan pelbagai hajat hidupnya, termasuk juga jalan, selokan, berikut tanaman pekarangan dan hewan-hewan peliharaannya, merupakan sebuah ekosistem tersendiri yang unik. Lingkungan itu di bangun dan diciptakan terutama untuk kepentingan kenyamanan hidup manusia, tetapi pada kenyataannya banyak mahluk lainnya ikut memanfaatkan kondisi itu sebagai habitat, tempat istirahat serta tempat mencari makan. Salah satunya adalah nyamuk.

Kondisi lingkungan di Kota Tasik pun saya lihat banyak tempat yang sangat nyaman untuk dijadikan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, seperti ban bekas di bengkel-bengkel sepanjang jalan di wilayah Kota Tasik banyak yang tidak terlindung, sehingga banyak genangan air di dalam ban-ban bekas tersebut yang jadi tempat nyamuk bertelur. Belum lagi kondisi bak mandi di tempat-tempat umum (seperti terminal, masjid, mushola, sekolah, dll) maupun kondisi taman-taman yang tidak terawat baik taman umum maupun di rumah-rumah penduduk, tentu kondisi demikian merupakan tempat potensial bagi tumbuh kembangnya naymuk penyebab DBD. Lalu, bagaimana cara dan strategi yang kita lakukan untuk penanggulangan DBD tersebut?

Strategi Utama

Penanggulangan DBD yang perlu dilakukan dan paling efektif adalah gerakan 3-M, yakni menguras bak mandi, membubuhi bubuk abate ke panampungan air, menutup wadah penampungan air, mengubur dan menimbun barang bekas yang dapat menampung air hujan.

Adapun perilaku pemberdayaan yang harus jadi kebiasaan masyarakat sebagai aplikasi dari gerakan 3-M itu adalah: Pertama, menguras tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi/WC, tempayan, ember, vas bunga, tempat minum burung dan lainnya seminggu sekali. Kedua, menutup rapat semua tempat penampungan air seperti ember, gentong, drum dan lainnya. Ketiga, mengubur semua barang-barang bekas yang ada di sekitar/di luar rumah yang dapat menampung air hujan.

Selain itu, kita juga perlu memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk. Cara untuk membunuh jentik nyamuk demam berdarah yang ada di tempat air yang sulit dikuras atau daerah sulit air yaitu dengan menaburkan bubuk temephos (abate) atau altosid 2-3 bulan sekali dengan takaran 1 gram abate untuk 10 liter air atau 2,5 gram altosid untuk 100 liter air.

Usaha lain yang dapat dilakukan masyarakat, diantaranya dengan memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, mengusir nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk, mencegah gigitan nyamuk dengan memakai obat nyamuk gosok, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, serta tidak membiasakan menggantung pakaian di dalam kamar.

Terkait dengan strategi utama pemberdayaan dalam penanggulangan DBD ini, tentu diperlukan adanya perencanaan. Berikut ini adalah pokok dan bentuk kegiatan nyata yang perlu direncanakan dan dilakukan oleh masyarakat. Pertama, melakukan tata laksana kasus, yang meliputi penemuan kasus, pengobatan penderita, dan sistem pelaporan yang cepat dan terdokumentasi dengan baik.

Kedua, melakukan penyelidikan epidemiologi, terutama terhadap daerah yang terdapat kasus penderita DBD. Penyelidikan ini tentu sangat berguna untuk melakukan penanggulangan fokus terhadap kasus DBD.

Ketiga, adanya penyuluhan tentang DBD kepada masyarakat, melakukan pemantauan jentik secara berkala, melakukan pemetaan penyebaran kasus, dan melakukan pertemuan kelompok kerja DBD secara lintas sektor dan program.

Keempat, melakukan gerakan bulan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) yang dilaksanakan sebelum bulan-bulan musim penularan penyakit DBD (data ini dapat kita peroleh dari data tahun sebelumnya). Artinya, bulan musim penularan penyakit DBD dapat diketahui, bila pencatatan dan pendataan dilakukan secara benar terhadap terjadinya kasus DBD di suatu daerah.

Kelima, dilakukan kegiatan pelatihan-pelatihan seputar penyakit DBD, mulai dari gejala penyakit DBD, cara pengobatan penderita yang terkena DBD, cara pencegahan penyakit DBD, dan lainnya.

Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan kita untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, inilah sesungguhnya kunci dari segala kunci dalam pengendalian terhadap bahaya nyamuk.***

ARDA DINATA
Pemerhati masalah lingkungan dan pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, www.miqraindonesia.tk.

Tulisan ini telah dimuat di HU PRIANGAN Tasikmalaya, edisi 16 Maret 2009 dalam rubrik Opini


DBD dan Perilaku Kita
Arda Dinata


LAGI-LAGI, demam berdarah dengue (DBD) renggut nyawa. Itulah headline HU Priangan edisi 10/3/2009.

Dalam berita itu disebutkan kalau DBD di Kota Tasikmalaya kembali merenggut korban jiwa. Adalah Desi Purnamasari gadis berusia 20 tahun anak pertama dari pasangan Mahmud (44) dan Siti Aisah (41), warga Kp. Sukasirna RT 01 RW 11 Kel. Sukanagara Kec. Purbaratu Kota Tasik meninggal akibat penyakit yang ditimbulkan oleh nyamuk Aedes aegypti.

Berdasarkan data dari Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, hingga akhir Februari 2009, penderita DBD mencapai 76 kasus. Data tersebut hingga Maret ini diperkirakan akan terus bertambah seiring perubahan cuaca dan banyaknya ditemukan kasus-kasus DBD di Kota Tasikmalaya. Sehingga pantas saja, dengan meningkatnya warga Kota Tasik yang terjangkit DBD ini membuat keprihatianan Walikota Tasik, Drs. H. Syraif Hidayat, M.Si. yang disampaikannya di sela-sela peresmian ruang rawat inap kelas 3 RSUD Tasik baru-baru ini.
Kalau mau jujur, sesungguhnya adanya kasus DBD ini merupakan cerminan dari perilaku kita selama ini. Sebab, keberadaan nyamuk, lingkungan dan perilaku manusia adalah tiga komponen yang memberikan kontribusi terhadap tersebarnya penyakit bersumber dari nyamuk (baca: DBD).

Kalau kita teliti lebih jauh, ternyata nyamuk ini tergolong serangga yang telah berumur, yakni sudah melewati suatu proses evolusi yang panjang. Sehingga, pantas saja kalau serangga ini memiliki sifat yang spesifik dan adaktif tinggal bersama manusia.

Bila diperhatikan dan dilihat dari siklus hidupnya, nyamuk ini termasuk serangga yang mengalami metamorphosis sempurna. Mulai dari telur, larva (jentik), pupa dan nyamuk dewasa. Lebih jauh, dari tahap-tahap siklus hidup tersebut, nyamuk itu merupakan serangga yang sangat sukses memanfaatkan air (lingkungan), termasuk air alami dan air dari sumber buatan (baik yang bersifat permanen maupun temporer).

Menurut Upik Kesumawati Hadi & F.X. Koesharto (2006) menyebutkan kalau tempat seperti danau, aliran air, kolam, air payau, bendungan, saluran irigasi, air bebatuan, septic tank, selokan, kaleng bekas dan lainnya dapat berperan sebagai tempat bertelur dan tempat perkembangan larva nyamuk. Nyamuk yang berada di sekeliling rumah seperti Culex quinquefasciatus, Ae. aegypti dan Ae. albopictus, tumbuh dan berkembang dalam genangan air di sekitar kediaman kita.

Dalam bahasa Singgih H. Sigit (2006), lingkungkan permukiman manusia yang umumnya berupa suatu kompleks bangunan tempat tinggal berikut fasilitas yang berhubungan dengan pelbagai hajat hidupnya, termasuk juga jalan, selokan, berikut tanaman pekarangan dan hewan-hewan peliharaannya, merupakan sebuah ekosistem tersendiri yang unik. Lingkungan itu di bangun dan diciptakan terutama untuk kepentingan kenyamanan hidup manusia, tetapi pada kenyataannya banyak mahluk lainnya ikut memanfaatkan kondisi itu sebagai habitat, tempat istirahat serta tempat mencari makan. Salah satunya adalah nyamuk.

Kondisi lingkungan di Kota Tasik pun saya lihat banyak tempat yang sangat nyaman untuk dijadikan tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, seperti ban bekas di bengkel-bengkel sepanjang jalan di wilayah Kota Tasik banyak yang tidak terlindung, sehingga banyak genangan air di dalam ban-ban bekas tersebut yang jadi tempat nyamuk bertelur. Belum lagi kondisi bak mandi di tempat-tempat umum (seperti terminal, masjid, mushola, sekolah, dll) maupun kondisi taman-taman yang tidak terawat baik taman umum maupun di rumah-rumah penduduk, tentu kondisi demikian merupakan tempat potensial bagi tumbuh kembangnya naymuk penyebab DBD. Lalu, bagaimana cara dan strategi yang kita lakukan untuk penanggulangan DBD tersebut?

Strategi Utama

Penanggulangan DBD yang perlu dilakukan dan paling efektif adalah gerakan 3-M, yakni menguras bak mandi, membubuhi bubuk abate ke panampungan air, menutup wadah penampungan air, mengubur dan menimbun barang bekas yang dapat menampung air hujan.

Adapun perilaku pemberdayaan yang harus jadi kebiasaan masyarakat sebagai aplikasi dari gerakan 3-M itu adalah: Pertama, menguras tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi/WC, tempayan, ember, vas bunga, tempat minum burung dan lainnya seminggu sekali. Kedua, menutup rapat semua tempat penampungan air seperti ember, gentong, drum dan lainnya. Ketiga, mengubur semua barang-barang bekas yang ada di sekitar/di luar rumah yang dapat menampung air hujan.

Selain itu, kita juga perlu memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk. Cara untuk membunuh jentik nyamuk demam berdarah yang ada di tempat air yang sulit dikuras atau daerah sulit air yaitu dengan menaburkan bubuk temephos (abate) atau altosid 2-3 bulan sekali dengan takaran 1 gram abate untuk 10 liter air atau 2,5 gram altosid untuk 100 liter air.

Usaha lain yang dapat dilakukan masyarakat, diantaranya dengan memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, mengusir nyamuk dengan menggunakan obat nyamuk, mencegah gigitan nyamuk dengan memakai obat nyamuk gosok, memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi, serta tidak membiasakan menggantung pakaian di dalam kamar.

Terkait dengan strategi utama pemberdayaan dalam penanggulangan DBD ini, tentu diperlukan adanya perencanaan. Berikut ini adalah pokok dan bentuk kegiatan nyata yang perlu direncanakan dan dilakukan oleh masyarakat. Pertama, melakukan tata laksana kasus, yang meliputi penemuan kasus, pengobatan penderita, dan sistem pelaporan yang cepat dan terdokumentasi dengan baik.

Kedua, melakukan penyelidikan epidemiologi, terutama terhadap daerah yang terdapat kasus penderita DBD. Penyelidikan ini tentu sangat berguna untuk melakukan penanggulangan fokus terhadap kasus DBD.

Ketiga, adanya penyuluhan tentang DBD kepada masyarakat, melakukan pemantauan jentik secara berkala, melakukan pemetaan penyebaran kasus, dan melakukan pertemuan kelompok kerja DBD secara lintas sektor dan program.

Keempat, melakukan gerakan bulan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) yang dilaksanakan sebelum bulan-bulan musim penularan penyakit DBD (data ini dapat kita peroleh dari data tahun sebelumnya). Artinya, bulan musim penularan penyakit DBD dapat diketahui, bila pencatatan dan pendataan dilakukan secara benar terhadap terjadinya kasus DBD di suatu daerah.

Kelima, dilakukan kegiatan pelatihan-pelatihan seputar penyakit DBD, mulai dari gejala penyakit DBD, cara pengobatan penderita yang terkena DBD, cara pencegahan penyakit DBD, dan lainnya.

Untuk itu, langkah yang perlu dilakukan adalah biasakan kita untuk menjaga keadaan sanitasi lingkungan sekitar tempat tinggal agar tetap bersih dan sehat. Sebab, inilah sesungguhnya kunci dari segala kunci dalam pengendalian terhadap bahaya nyamuk.***

ARDA DINATA
Pemerhati masalah lingkungan dan pendiri Majelis Inspirasi Al-Quran & Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, www.miqraindonesia.tk.

Tulisan ini telah dimuat di HU PRIANGAN Tasikmalaya, edisi 16 Maret 2009 dalam rubrik Opini
Tangga-tangga Kesuksesan Seorang Wirausahawan
Lihat Detail

Tangga-tangga Kesuksesan Seorang Wirausahawan

Tangga-tangga Kesuksesan Seorang Wirausahawan
Oleh: ARDA DINATA

ISLAM tidak hanya mengajarkan kepada pemeluknya untuk beribadah semata, tapi juga mengajarkan untuk beramal. Apabila beramal itu, diartikan bekerja, maka hendaknya bekerja yang dilakukan dapat meraih prestasi terbaik. Bukankah, arti kata Islam itu sendiri mengandung tiga makna: keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan.

Berkait dengan yang terakhir itu, K.H. Alie Yafie menjelaskan bahwa untuk meraih kesejahteraan ini, Islam sangat mendorong ummatnya untuk bekerja sebaik-baiknya dengan meraih prestasi. Walau demikian, lebih jauh beliau mengungkapkan, Islam tidak hanya sekedar memerintahkan untuk bekerja tanpa kendali. “Antara iman dan amal (kerja), harus selalu ada interaksi,” ujarnya.

Dalam tulisan yang lalu (baca: Wirausahawan, jadilah seorang achiever!), penulis mengungkapkan bahwa tokoh wirausahawan sukses itu, tidak lain adalah seorang achiever. Bagi seorang achiever ini dalam merangkai dan menggapai derajat kesuksesan dalam berwirausaha, maka ia harus menaiki tangga-tangga kesuksesan berwirausaha.

Menurut Murphy and Peck (1980: 8), ada delapan anak tangga yang harus dilewati dalam mengantarkan seseorang menuju puncak kesuksesan (karir). Delapan anak tangga ini tentu dapat pula kita terapkan bagi seorang wirausahawan dalam menggapai puncak kesuksesan usahanya.

1. Kemauan bekerja keras (Capacity for hard work).

Kerja keras adalah modal dasar untuk keberhasilan seseorang dalam berwirausaha. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang di antara kamu yang melakukan suatu pekerjaan dengan baik (ketekunan).” (HR. Baihaqi).

Rasulullah sendiri sangat marah melihat orang malas lagi suka berpangku tangan. Bahkan, dalam suatu waktu Rasulullah Saw. memberi hadiah kampak dan tali kepada seorang laki-laki, agar mau bekerja keras mencari kayu dan menjualnya ke pasar. Akhirnya, dengan modal kerja keras, laki-laki itu mendapatkan kesuksesan dalam hidupnya. Untuk itu, kita disarankan untuk tidak tidur sesudah subuh, cepatlah bangun dan mulailah melakukan kegiatan untuk hari tersebut.

Sikap kerja keras ini harus dimiliki oleh setiap wirausahawan. Dalam hal ini, unsur disiplin memainkan peranan penting. Karena bagaimana orang mau bekerja keras jika disiplin tidak ada. Untuk itu, setiap wirausahawan adalah sosok yang mampu mengelola dan memanfaatkan waktu secara tepat dan benar.

2. Mampu bekerjasama dengan orang lain (Getting things done with and through people).

Setiap wirausahawan, hendaknya mampu memanfaatkan potensi orang lain yang ada di sekitarnya, dalam upaya mencapai tujuan berwirausaha. Untuk itu, perbanyak teman dengan orang-orang di bawah kita (mungkin sebagai anak buah) atau orang di atas kita (mungkin sebagai majikan). Dan kita juga hendaknya menghindarkan terjadinya permusuhan antara sesama manusia.

Dalam arti lain, dengan menggunakan tenaga orang lain, maka tujuan mudah tercapai. Inilah yang disebut dengan manajemen. Yakni ilmu dan seni dalam menggunakan tenaga orang lain untuk mencapai tujuan yang dinginkan.

Untuk itu, seorang wirausahawan harus mampu dan mudah bergaul, disenangi, tidak suka memfitnah, sok hebat, arogan, menggunting dalam lipatan, dan perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Islam lainnya. Tepatnya, ia harus berperilaku menyenangkan bagi semua orang sehingga mudah bekerjasama dalam menggapai kesuksesan.

3. Penampilan yang baik (Good appearance).

Seorang wirausahawan bukan semata-mata berarti penampilan body face (baca: memiliki paras cantik/ganteng). Akan tetapi lebih ditekankan pada penampilan perilaku jujur dan disiplin.

Kebanyakan kita, kadangkala tertipu dengan rupa nan cantik/ganteng, tapi nyatanya ia merupakan seorang penipu ulung. Untuk itu, janganlah kita tertipu dengan penampilan fisik semata. Dan bagi seorang wirausahawan yang ingin sukses, maka yang mesti diperhatikan adalah kualitas pribadinya harus lebih baik dari penampilan fisiknya. Bukankah, seorang yang memiliki pribadi yang baik, akan disenangi banyak orang dan dia akan sukses bekerja dengan siapa saja.

4. Keyakinan Diri (Self confidence).

Perilaku hidup seseorang merupakan refleksi dari apa yang ia pikirkan. Kondisi keyakinan diri ini akan mampu menyingkirkan semua kesukaran, berbagai masalah, dan kendala dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu, hidup (berwirausaha) harus memiliki keyakinan diri bahwa kita akan sukses melakukan suatu usaha, jangan ragu lagi bimbang. Pendeknya, kita harus luruskan niat untuk bekerja dengan baik, sempurnakan ikhtiar dan kemudian berserah diri serta bertawakal kepada Allah SWT.

5. Pandai membuat keputusan (Making sound decision).

Dalam berwirausaha, kita tentu akan dihadapkan pada berbagai alternatif, harus memilih, maka langkah yang dapat anda lakukan adalah membuat pertimbangan yang matang. Caranya, kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, lalu segera ambil keputusan dan jangan ragu-ragu berdasarkan pemikiran yang matang dan tepat.

6. Pendidikan (College education).

Salah satu anak tangga yang patut anda gapai untuk menjadi seorang wirausahawan sukses ialah kegemaran anda untuk selalu menambah ilmu pengetahuan (baca: mendidik diri sendiri) yang dapat menunjang kesuksesan usaha yang sedang kita geluti saat ini.

Bagi seorang wirausahawan, perilaku penambahan ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, bila kita ingin tetap eksis dalam berusaha. Berkait dengan ini, Rasulullah Saw. mewajibkan bagi setiap muslim untuk menuntut ilmu, dari ayunan sampai ke liang kubur.

7. Ambisi untuk maju (Ambition drive).

Ambisi yang proporsional merupakan sesuatu sikap positif yang perlu dimiliki bagi para wirausahawan yang ingin sukses. Roh ambisi ini akan melahirkan orang-orang yang gigih dalam mengeluti pekerjaan dan tantangan. Orang yang memiliki ambisi ini, biasanya banyak yang berhasil dalam kehidupannya. Karena pikiran dan tindakannya akan berjuang untuk menggapai apa-apa yang dicita-citakannya tersebut.

8. Pandai berkomunikasi (Ambility to communicate).

Seorang wirausahawan harus selalu membangun kepandaian dalam berkomunikasi. Pandai berkomunikasi berarti pandai mengorganisasikan buah pikiran ke dalam bentuk ucapan yang jelas, tutur kata yang enak, dan mampu menarik perhatian orang lain.

Kemampuan berkomunikasi seperti itu, tentu akan lebih baik lagi seandainya diikuti dengan perilaku jujur dan konsisten dalam mengembangkan karir usahanya untuk masa depan yang lebih baik.

Akhirnya, semakin kita sering membangun dan berusaha menggapai anak tangga kesuksesan tersebut dalam berwirausaha, maka insya Allah kesuksesan dalam berwirausaha akan mengikuti dengan sendirinya. Waallahu’alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Tangga-tangga Kesuksesan Seorang Wirausahawan
Oleh: ARDA DINATA

ISLAM tidak hanya mengajarkan kepada pemeluknya untuk beribadah semata, tapi juga mengajarkan untuk beramal. Apabila beramal itu, diartikan bekerja, maka hendaknya bekerja yang dilakukan dapat meraih prestasi terbaik. Bukankah, arti kata Islam itu sendiri mengandung tiga makna: keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan.

Berkait dengan yang terakhir itu, K.H. Alie Yafie menjelaskan bahwa untuk meraih kesejahteraan ini, Islam sangat mendorong ummatnya untuk bekerja sebaik-baiknya dengan meraih prestasi. Walau demikian, lebih jauh beliau mengungkapkan, Islam tidak hanya sekedar memerintahkan untuk bekerja tanpa kendali. “Antara iman dan amal (kerja), harus selalu ada interaksi,” ujarnya.

Dalam tulisan yang lalu (baca: Wirausahawan, jadilah seorang achiever!), penulis mengungkapkan bahwa tokoh wirausahawan sukses itu, tidak lain adalah seorang achiever. Bagi seorang achiever ini dalam merangkai dan menggapai derajat kesuksesan dalam berwirausaha, maka ia harus menaiki tangga-tangga kesuksesan berwirausaha.

Menurut Murphy and Peck (1980: 8), ada delapan anak tangga yang harus dilewati dalam mengantarkan seseorang menuju puncak kesuksesan (karir). Delapan anak tangga ini tentu dapat pula kita terapkan bagi seorang wirausahawan dalam menggapai puncak kesuksesan usahanya.

1. Kemauan bekerja keras (Capacity for hard work).

Kerja keras adalah modal dasar untuk keberhasilan seseorang dalam berwirausaha. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai salah seorang di antara kamu yang melakukan suatu pekerjaan dengan baik (ketekunan).” (HR. Baihaqi).

Rasulullah sendiri sangat marah melihat orang malas lagi suka berpangku tangan. Bahkan, dalam suatu waktu Rasulullah Saw. memberi hadiah kampak dan tali kepada seorang laki-laki, agar mau bekerja keras mencari kayu dan menjualnya ke pasar. Akhirnya, dengan modal kerja keras, laki-laki itu mendapatkan kesuksesan dalam hidupnya. Untuk itu, kita disarankan untuk tidak tidur sesudah subuh, cepatlah bangun dan mulailah melakukan kegiatan untuk hari tersebut.

Sikap kerja keras ini harus dimiliki oleh setiap wirausahawan. Dalam hal ini, unsur disiplin memainkan peranan penting. Karena bagaimana orang mau bekerja keras jika disiplin tidak ada. Untuk itu, setiap wirausahawan adalah sosok yang mampu mengelola dan memanfaatkan waktu secara tepat dan benar.

2. Mampu bekerjasama dengan orang lain (Getting things done with and through people).

Setiap wirausahawan, hendaknya mampu memanfaatkan potensi orang lain yang ada di sekitarnya, dalam upaya mencapai tujuan berwirausaha. Untuk itu, perbanyak teman dengan orang-orang di bawah kita (mungkin sebagai anak buah) atau orang di atas kita (mungkin sebagai majikan). Dan kita juga hendaknya menghindarkan terjadinya permusuhan antara sesama manusia.

Dalam arti lain, dengan menggunakan tenaga orang lain, maka tujuan mudah tercapai. Inilah yang disebut dengan manajemen. Yakni ilmu dan seni dalam menggunakan tenaga orang lain untuk mencapai tujuan yang dinginkan.

Untuk itu, seorang wirausahawan harus mampu dan mudah bergaul, disenangi, tidak suka memfitnah, sok hebat, arogan, menggunting dalam lipatan, dan perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Islam lainnya. Tepatnya, ia harus berperilaku menyenangkan bagi semua orang sehingga mudah bekerjasama dalam menggapai kesuksesan.

3. Penampilan yang baik (Good appearance).

Seorang wirausahawan bukan semata-mata berarti penampilan body face (baca: memiliki paras cantik/ganteng). Akan tetapi lebih ditekankan pada penampilan perilaku jujur dan disiplin.

Kebanyakan kita, kadangkala tertipu dengan rupa nan cantik/ganteng, tapi nyatanya ia merupakan seorang penipu ulung. Untuk itu, janganlah kita tertipu dengan penampilan fisik semata. Dan bagi seorang wirausahawan yang ingin sukses, maka yang mesti diperhatikan adalah kualitas pribadinya harus lebih baik dari penampilan fisiknya. Bukankah, seorang yang memiliki pribadi yang baik, akan disenangi banyak orang dan dia akan sukses bekerja dengan siapa saja.

4. Keyakinan Diri (Self confidence).

Perilaku hidup seseorang merupakan refleksi dari apa yang ia pikirkan. Kondisi keyakinan diri ini akan mampu menyingkirkan semua kesukaran, berbagai masalah, dan kendala dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu, hidup (berwirausaha) harus memiliki keyakinan diri bahwa kita akan sukses melakukan suatu usaha, jangan ragu lagi bimbang. Pendeknya, kita harus luruskan niat untuk bekerja dengan baik, sempurnakan ikhtiar dan kemudian berserah diri serta bertawakal kepada Allah SWT.

5. Pandai membuat keputusan (Making sound decision).

Dalam berwirausaha, kita tentu akan dihadapkan pada berbagai alternatif, harus memilih, maka langkah yang dapat anda lakukan adalah membuat pertimbangan yang matang. Caranya, kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, lalu segera ambil keputusan dan jangan ragu-ragu berdasarkan pemikiran yang matang dan tepat.

6. Pendidikan (College education).

Salah satu anak tangga yang patut anda gapai untuk menjadi seorang wirausahawan sukses ialah kegemaran anda untuk selalu menambah ilmu pengetahuan (baca: mendidik diri sendiri) yang dapat menunjang kesuksesan usaha yang sedang kita geluti saat ini.

Bagi seorang wirausahawan, perilaku penambahan ilmu pengetahuan merupakan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, bila kita ingin tetap eksis dalam berusaha. Berkait dengan ini, Rasulullah Saw. mewajibkan bagi setiap muslim untuk menuntut ilmu, dari ayunan sampai ke liang kubur.

7. Ambisi untuk maju (Ambition drive).

Ambisi yang proporsional merupakan sesuatu sikap positif yang perlu dimiliki bagi para wirausahawan yang ingin sukses. Roh ambisi ini akan melahirkan orang-orang yang gigih dalam mengeluti pekerjaan dan tantangan. Orang yang memiliki ambisi ini, biasanya banyak yang berhasil dalam kehidupannya. Karena pikiran dan tindakannya akan berjuang untuk menggapai apa-apa yang dicita-citakannya tersebut.

8. Pandai berkomunikasi (Ambility to communicate).

Seorang wirausahawan harus selalu membangun kepandaian dalam berkomunikasi. Pandai berkomunikasi berarti pandai mengorganisasikan buah pikiran ke dalam bentuk ucapan yang jelas, tutur kata yang enak, dan mampu menarik perhatian orang lain.

Kemampuan berkomunikasi seperti itu, tentu akan lebih baik lagi seandainya diikuti dengan perilaku jujur dan konsisten dalam mengembangkan karir usahanya untuk masa depan yang lebih baik.

Akhirnya, semakin kita sering membangun dan berusaha menggapai anak tangga kesuksesan tersebut dalam berwirausaha, maka insya Allah kesuksesan dalam berwirausaha akan mengikuti dengan sendirinya. Waallahu’alam.***

Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.