-->

Showing posts with label Vektor Nyamuk. Show all posts
Showing posts with label Vektor Nyamuk. Show all posts
Proses Terjadinya Penyakit Pada Manusia
Lihat Detail

Proses Terjadinya Penyakit Pada Manusia

MEMASUKI musim hujan ini, penyakit demam berdarah dengue (DBD) kembali menebarkan ancaman kepada masyarakat. Ancaman tersebut seolah kian menambah rasa khawatir dan takut masyarakat yang pada saat bersamaan juga dibuat tercekam oleh ancaman tak kalah menakutkan dari penyakit flu burung, malaria, filariasis, dan beberapa penyakit lain yang bersumber binatang. Bagaimana sebenarnya proses terjadinya penyakit-penyakit tersebut pada manusia?
Terkait dengan proses terjadinya penyakit pada manusia, John Gordon telah memodelkan terjadinya penyakit itu seperti sebatang pengungkit yang memiliki titik tumpu di tengah-tengahnya. Pada kedua ujungnya terdapat pemberat, yaitu A (agent atau penyebab penyakit) dan H (host atau populasi berisiko tinggi), yang bertumpu pada E (environment atau lingkungan).

Menurut Gordon, idealnya terdapat keseimbangan antara A dan H yang bertumpu pada E, yang digambarkan sebagai kondisi sehat. Masalahnya, kondisi seperti ini tentu tidak selalu terjadi. Ada kalanya yang terjadi adalah empat kondisi dalam kategori sakit. Hal ini diakibatkan oleh adanya berbagai kondisi.

Pertama, beban agent memberatkan keseimbangan sehingga batang pengungkit condong ke arah agent. Hal ini berarti agent memperoleh kemudahan-kemudahan untuk menyebabkan sakit pada host

Kedua, apabila host memberatkan keseimbangan sehingga batang pengungkit condong ke arah host. Kondisi seperti ini tentu dapat terjadi jika host menjadi lebih peka terhadap suatu penyakit.

Ketiga, ketidakseimbangan terjadi akibat bergesernya titik tumpu di environment (lingkungan). Hal ini menggambarkan kalau kondisi lingkungan tersebut telah sedemikian buruknya, sehingga memengaruhi agent, dan menjadikannya lebih ganas atau lebih mudah masuk ke dalam tubuh manusia. 

Keempat, kondisinya mirip kondisi kedua, yakni kualitas lingkungan terganggu sehingga pengungkit condong ke arah host. Dalam hal ini, host menjadi lebih peka oleh kualitas lingkungan tertentu.

'new, bersahabat dengan nyamuk, nyamuk, umur nyamuk, morfologi nyamuk, klasifikasi nyamuk, nyamuk aedes aegypti, nyamuk demam berdarah, nyamuk anopheles, nyamuk chikungunya, nyamuk malaria, nyamuk kaki gajah, filariasis, je, penyakit nyamuk, penyakit nyamuk cikungunya, pengertian nyamuk, hindari penyakit nyamuk, demam berdarah nyamuk, nyamuk baru, reperensi penyakit nyamuk, akibat nyamuk, obat nyamuk, nyamuk blog, mosquito, anti mosquito, mosquito trap, mosquito sound, jurnal nyamuk, jurnal nyamuk aedes aegypti, jurnal pengendalian nyamuk, jurnal nyamuk cuex, nyamuk lingkungan, jurnal pengendalian nyamuk, nyamuk psn, jurnal nyamuk search, jurnal larva, aspirator, aspirator nyamuk, insect aspirator, vektor nyamuk, vektor nyamuk culex, struktur vektor nyamuk, vektor nyamuk anopheles, jurnal pengendalian vektor nyamuk, vektor nyamuk filariasis, pengertian vektor nyamuk, artikel vektor nyamuk, contoh vektor nyamuk, buku nyamuk, anatomi nyamuk, tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk dalam rumah, tanaman pengusir nyamuk blog, tanaman hias pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk paling ampuh, jual tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk alami, herbal, tompen, tanaman obat, lavender, zodia, wisata ilmiah nyamuk, musium nyamuk, insektarium nyamuk, tompen nyamuk, darah nyamuk'
MEMASUKI musim hujan ini, penyakit demam berdarah dengue (DBD) kembali menebarkan ancaman kepada masyarakat. Ancaman tersebut seolah kian menambah rasa khawatir dan takut masyarakat yang pada saat bersamaan juga dibuat tercekam oleh ancaman tak kalah menakutkan dari penyakit flu burung, malaria, filariasis, dan beberapa penyakit lain yang bersumber binatang. Bagaimana sebenarnya proses terjadinya penyakit-penyakit tersebut pada manusia?
Terkait dengan proses terjadinya penyakit pada manusia, John Gordon telah memodelkan terjadinya penyakit itu seperti sebatang pengungkit yang memiliki titik tumpu di tengah-tengahnya. Pada kedua ujungnya terdapat pemberat, yaitu A (agent atau penyebab penyakit) dan H (host atau populasi berisiko tinggi), yang bertumpu pada E (environment atau lingkungan).

Menurut Gordon, idealnya terdapat keseimbangan antara A dan H yang bertumpu pada E, yang digambarkan sebagai kondisi sehat. Masalahnya, kondisi seperti ini tentu tidak selalu terjadi. Ada kalanya yang terjadi adalah empat kondisi dalam kategori sakit. Hal ini diakibatkan oleh adanya berbagai kondisi.

Pertama, beban agent memberatkan keseimbangan sehingga batang pengungkit condong ke arah agent. Hal ini berarti agent memperoleh kemudahan-kemudahan untuk menyebabkan sakit pada host

Kedua, apabila host memberatkan keseimbangan sehingga batang pengungkit condong ke arah host. Kondisi seperti ini tentu dapat terjadi jika host menjadi lebih peka terhadap suatu penyakit.

Ketiga, ketidakseimbangan terjadi akibat bergesernya titik tumpu di environment (lingkungan). Hal ini menggambarkan kalau kondisi lingkungan tersebut telah sedemikian buruknya, sehingga memengaruhi agent, dan menjadikannya lebih ganas atau lebih mudah masuk ke dalam tubuh manusia. 

Keempat, kondisinya mirip kondisi kedua, yakni kualitas lingkungan terganggu sehingga pengungkit condong ke arah host. Dalam hal ini, host menjadi lebih peka oleh kualitas lingkungan tertentu.

'new, bersahabat dengan nyamuk, nyamuk, umur nyamuk, morfologi nyamuk, klasifikasi nyamuk, nyamuk aedes aegypti, nyamuk demam berdarah, nyamuk anopheles, nyamuk chikungunya, nyamuk malaria, nyamuk kaki gajah, filariasis, je, penyakit nyamuk, penyakit nyamuk cikungunya, pengertian nyamuk, hindari penyakit nyamuk, demam berdarah nyamuk, nyamuk baru, reperensi penyakit nyamuk, akibat nyamuk, obat nyamuk, nyamuk blog, mosquito, anti mosquito, mosquito trap, mosquito sound, jurnal nyamuk, jurnal nyamuk aedes aegypti, jurnal pengendalian nyamuk, jurnal nyamuk cuex, nyamuk lingkungan, jurnal pengendalian nyamuk, nyamuk psn, jurnal nyamuk search, jurnal larva, aspirator, aspirator nyamuk, insect aspirator, vektor nyamuk, vektor nyamuk culex, struktur vektor nyamuk, vektor nyamuk anopheles, jurnal pengendalian vektor nyamuk, vektor nyamuk filariasis, pengertian vektor nyamuk, artikel vektor nyamuk, contoh vektor nyamuk, buku nyamuk, anatomi nyamuk, tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk dalam rumah, tanaman pengusir nyamuk blog, tanaman hias pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk paling ampuh, jual tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk alami, herbal, tompen, tanaman obat, lavender, zodia, wisata ilmiah nyamuk, musium nyamuk, insektarium nyamuk, tompen nyamuk, darah nyamuk'
MEMASUKI musim hujan ini, penyakit demam berdarah dengue (DBD) kembali menebarkan ancaman kepada masyarakat. Ancaman tersebut seolah kian menambah rasa khawatir dan takut masyarakat yang pada saat bersamaan juga dibuat tercekam oleh ancaman tak kalah menakutkan dari penyakit flu burung, malaria, filariasis, dan beberapa penyakit lain yang bersumber binatang. Bagaimana sebenarnya proses terjadinya penyakit-penyakit tersebut pada manusia?
Terkait dengan proses terjadinya penyakit pada manusia, John Gordon telah memodelkan terjadinya penyakit itu seperti sebatang pengungkit yang memiliki titik tumpu di tengah-tengahnya. Pada kedua ujungnya terdapat pemberat, yaitu A (agent atau penyebab penyakit) dan H (host atau populasi berisiko tinggi), yang bertumpu pada E (environment atau lingkungan).

Menurut Gordon, idealnya terdapat keseimbangan antara A dan H yang bertumpu pada E, yang digambarkan sebagai kondisi sehat. Masalahnya, kondisi seperti ini tentu tidak selalu terjadi. Ada kalanya yang terjadi adalah empat kondisi dalam kategori sakit. Hal ini diakibatkan oleh adanya berbagai kondisi.

Pertama, beban agent memberatkan keseimbangan sehingga batang pengungkit condong ke arah agent. Hal ini berarti agent memperoleh kemudahan-kemudahan untuk menyebabkan sakit pada host

Kedua, apabila host memberatkan keseimbangan sehingga batang pengungkit condong ke arah host. Kondisi seperti ini tentu dapat terjadi jika host menjadi lebih peka terhadap suatu penyakit.

Ketiga, ketidakseimbangan terjadi akibat bergesernya titik tumpu di environment (lingkungan). Hal ini menggambarkan kalau kondisi lingkungan tersebut telah sedemikian buruknya, sehingga memengaruhi agent, dan menjadikannya lebih ganas atau lebih mudah masuk ke dalam tubuh manusia. 

Keempat, kondisinya mirip kondisi kedua, yakni kualitas lingkungan terganggu sehingga pengungkit condong ke arah host. Dalam hal ini, host menjadi lebih peka oleh kualitas lingkungan tertentu.

'new, bersahabat dengan nyamuk, nyamuk, umur nyamuk, morfologi nyamuk, klasifikasi nyamuk, nyamuk aedes aegypti, nyamuk demam berdarah, nyamuk anopheles, nyamuk chikungunya, nyamuk malaria, nyamuk kaki gajah, filariasis, je, penyakit nyamuk, penyakit nyamuk cikungunya, pengertian nyamuk, hindari penyakit nyamuk, demam berdarah nyamuk, nyamuk baru, reperensi penyakit nyamuk, akibat nyamuk, obat nyamuk, nyamuk blog, mosquito, anti mosquito, mosquito trap, mosquito sound, jurnal nyamuk, jurnal nyamuk aedes aegypti, jurnal pengendalian nyamuk, jurnal nyamuk cuex, nyamuk lingkungan, jurnal pengendalian nyamuk, nyamuk psn, jurnal nyamuk search, jurnal larva, aspirator, aspirator nyamuk, insect aspirator, vektor nyamuk, vektor nyamuk culex, struktur vektor nyamuk, vektor nyamuk anopheles, jurnal pengendalian vektor nyamuk, vektor nyamuk filariasis, pengertian vektor nyamuk, artikel vektor nyamuk, contoh vektor nyamuk, buku nyamuk, anatomi nyamuk, tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk dalam rumah, tanaman pengusir nyamuk blog, tanaman hias pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk paling ampuh, jual tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk alami, herbal, tompen, tanaman obat, lavender, zodia, wisata ilmiah nyamuk, musium nyamuk, insektarium nyamuk, tompen nyamuk, darah nyamuk'
MEMASUKI musim hujan ini, penyakit demam berdarah dengue (DBD) kembali menebarkan ancaman kepada masyarakat. Ancaman tersebut seolah kian menambah rasa khawatir dan takut masyarakat yang pada saat bersamaan juga dibuat tercekam oleh ancaman tak kalah menakutkan dari penyakit flu burung, malaria, filariasis, dan beberapa penyakit lain yang bersumber binatang. Bagaimana sebenarnya proses terjadinya penyakit-penyakit tersebut pada manusia?
Terkait dengan proses terjadinya penyakit pada manusia, John Gordon telah memodelkan terjadinya penyakit itu seperti sebatang pengungkit yang memiliki titik tumpu di tengah-tengahnya. Pada kedua ujungnya terdapat pemberat, yaitu A (agent atau penyebab penyakit) dan H (host atau populasi berisiko tinggi), yang bertumpu pada E (environment atau lingkungan).

Menurut Gordon, idealnya terdapat keseimbangan antara A dan H yang bertumpu pada E, yang digambarkan sebagai kondisi sehat. Masalahnya, kondisi seperti ini tentu tidak selalu terjadi. Ada kalanya yang terjadi adalah empat kondisi dalam kategori sakit. Hal ini diakibatkan oleh adanya berbagai kondisi.

Pertama, beban agent memberatkan keseimbangan sehingga batang pengungkit condong ke arah agent. Hal ini berarti agent memperoleh kemudahan-kemudahan untuk menyebabkan sakit pada host

Kedua, apabila host memberatkan keseimbangan sehingga batang pengungkit condong ke arah host. Kondisi seperti ini tentu dapat terjadi jika host menjadi lebih peka terhadap suatu penyakit.

Ketiga, ketidakseimbangan terjadi akibat bergesernya titik tumpu di environment (lingkungan). Hal ini menggambarkan kalau kondisi lingkungan tersebut telah sedemikian buruknya, sehingga memengaruhi agent, dan menjadikannya lebih ganas atau lebih mudah masuk ke dalam tubuh manusia. 

Keempat, kondisinya mirip kondisi kedua, yakni kualitas lingkungan terganggu sehingga pengungkit condong ke arah host. Dalam hal ini, host menjadi lebih peka oleh kualitas lingkungan tertentu.

'new, bersahabat dengan nyamuk, nyamuk, umur nyamuk, morfologi nyamuk, klasifikasi nyamuk, nyamuk aedes aegypti, nyamuk demam berdarah, nyamuk anopheles, nyamuk chikungunya, nyamuk malaria, nyamuk kaki gajah, filariasis, je, penyakit nyamuk, penyakit nyamuk cikungunya, pengertian nyamuk, hindari penyakit nyamuk, demam berdarah nyamuk, nyamuk baru, reperensi penyakit nyamuk, akibat nyamuk, obat nyamuk, nyamuk blog, mosquito, anti mosquito, mosquito trap, mosquito sound, jurnal nyamuk, jurnal nyamuk aedes aegypti, jurnal pengendalian nyamuk, jurnal nyamuk cuex, nyamuk lingkungan, jurnal pengendalian nyamuk, nyamuk psn, jurnal nyamuk search, jurnal larva, aspirator, aspirator nyamuk, insect aspirator, vektor nyamuk, vektor nyamuk culex, struktur vektor nyamuk, vektor nyamuk anopheles, jurnal pengendalian vektor nyamuk, vektor nyamuk filariasis, pengertian vektor nyamuk, artikel vektor nyamuk, contoh vektor nyamuk, buku nyamuk, anatomi nyamuk, tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk dalam rumah, tanaman pengusir nyamuk blog, tanaman hias pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk paling ampuh, jual tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk alami, herbal, tompen, tanaman obat, lavender, zodia, wisata ilmiah nyamuk, musium nyamuk, insektarium nyamuk, tompen nyamuk, darah nyamuk'
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberadaan Vektor
Lihat Detail

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberadaan Vektor



Vektor penyakit diartikan sebagai jenis serangga tertentu yang dapat menularkan penyakit ke penderita baru. Dalam tubuh vektor ini biasanya terjadi perkembangan agent penyakit untuk mencapai jumlah dan stadium tertentu, sehingga akan terjadi kesakitan baru. Jadi, si agent penyakit itu masuk ke dalam tubuh vektor.

Mengetahui faktor-faktor keberadaan dan kondisi vektor ini, tentu menjadi sesuatu yang penting diketahui oleh kita dalam rangka untuk mencegah terjadinya perkembang-biakan dan penyebarluasan penyakit yang dibawa oleh vektor tersebut.



Faktor Pendukung

Kalau kita pelajari dan teliti secara seksama, maka kita akan melihat ada beberapa karakteristik terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi suatu spesies dapat dikategorikan sebagai vektor penyakit. Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhinya tersebut, yaitu:


Faktor kebiasaan
Kebiasaan dan kesukaan ini dihubungkan dengan berpengaruh terhadap bisa tidaknya kontak dengan agent maupun host. Misalnya, golongan nyamuk yang memiliki kebiasaan dan kesenangan menggigit binatang dibandingkan manusia, tentu memiliki sedikit peluang untuk menjadi vektor DBD.


Faktor habitat
Habitat atau tempat tinggal ini akan mempengaruhi terjadinya perpindahan penyakit dari agent ke-pada host baru. Artinya spesies serangga yang kehidupannya hanya berada seputar tempat di mana ia ditetaskan saja, tentu kecil peluangnya untuk menjadi vektor. Atau paling tidak hanya menjadi vektor sekunder saja. Contohnya, nyamuk Aedes albopictus yang habitat aslinya di hutan, ia hanya akan menjadi vektor sekunder DBD. Hal ini berbeda dengan Aedes aegypti yang berkembangbiak di dalam rumah yang lebih sering bisa kontak dengan manusia sehingga ia menjadi vektor primer DBD.


Faktor kecepatan berkembangbiak
Adanya per-kembangbiakan yang cepat, tentu akan mempengaruhi terhadap jumlah populasi suatu spesies. Secara demikian, kondisi ini akan berpengaruh terhadap frekuensi kontak dengan agent dan host baru. Artinya spesies yang memiliki kecepatan ber-kembangbiak lebih banyak, maka ialah yang memiliki peluang menjadi vektor penyakit.


Faktor biokimia
Faktor ini terjadi pada agent yang mengalami perkembangan dalam tubuh vektor, misalnya nyamuk. Gambarannya ketika nyamuk menghisap darah manusia, agent yang ada dalam darah akan ikut terhisap dan masuk ke dalam lambung nyamuk. Darah dicerna untuk selanjutnya diserap kandungan proteinnya, sedangkan agent ada yang terus berkembangbiak dan ada juga yang terus mati karena pengaruh zat biokimia yang ada dalam lambung dan ikut dicerna. Contohnya, parasit Plasmodium spp. akan langsung mati ketika masuk lambung nyamuk Aedes spp., be-gitu juga sebaliknya virus dengue akan langsung mati bila masuk ke dalam lambung nyamuk Anopheles spp. Sehingga, nyamuk Anopheles spptidak akan jadi vektor DBD dan nyamuk Aedes spp. tidak akan jadi vektor malaria.



Kondisi Vektor PenyebabSakit
Setelahnya kita mengetahui kriteria apa saja yang men-jadi syarat menjadikan spesies tertentu sebagai vektor, maka pola pikir selanjutnya yang perlu kita pahami bersama adalah terkait bagaimana keberadaan vektor ini menyebabkan terjadi-nya kesakitan. Sehingga dengan pengetahuan seperti ini, masyarakat dapat lebih waspada lagi ketika menyikapi keberadaan suatu vektor penyakit di lingkungan rumahnya.

'new, bersahabat dengan nyamuk, nyamuk, umur nyamuk, morfologi nyamuk, klasifikasi nyamuk, nyamuk aedes aegypti, nyamuk demam berdarah, nyamuk anopheles, nyamuk chikungunya, nyamuk malaria, nyamuk kaki gajah, filariasis, je, penyakit nyamuk, penyakit nyamuk cikungunya, pengertian nyamuk, hindari penyakit nyamuk, demam berdarah nyamuk, nyamuk baru, reperensi penyakit nyamuk, akibat nyamuk, obat nyamuk, nyamuk blog, mosquito, anti mosquito, mosquito trap, mosquito sound, jurnal nyamuk, jurnal nyamuk aedes aegypti, jurnal pengendalian nyamuk, jurnal nyamuk cuex, nyamuk lingkungan, jurnal pengendalian nyamuk, nyamuk psn, jurnal nyamuk search, jurnal larva, aspirator, aspirator nyamuk, insect aspirator, vektor nyamuk, vektor nyamuk culex, struktur vektor nyamuk, vektor nyamuk anopheles, jurnal pengendalian vektor nyamuk, vektor nyamuk filariasis, pengertian vektor nyamuk, artikel vektor nyamuk, contoh vektor nyamuk, buku nyamuk, anatomi nyamuk, tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk dalam rumah, tanaman pengusir nyamuk blog, tanaman hias pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk paling ampuh, jual tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk alami, herbal, tompen, tanaman obat, lavender, zodia, wisata ilmiah nyamuk, musium nyamuk, insektarium nyamuk, tompen nyamuk, darah nyamuk'


Vektor penyakit diartikan sebagai jenis serangga tertentu yang dapat menularkan penyakit ke penderita baru. Dalam tubuh vektor ini biasanya terjadi perkembangan agent penyakit untuk mencapai jumlah dan stadium tertentu, sehingga akan terjadi kesakitan baru. Jadi, si agent penyakit itu masuk ke dalam tubuh vektor.

Mengetahui faktor-faktor keberadaan dan kondisi vektor ini, tentu menjadi sesuatu yang penting diketahui oleh kita dalam rangka untuk mencegah terjadinya perkembang-biakan dan penyebarluasan penyakit yang dibawa oleh vektor tersebut.



Faktor Pendukung

Kalau kita pelajari dan teliti secara seksama, maka kita akan melihat ada beberapa karakteristik terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi suatu spesies dapat dikategorikan sebagai vektor penyakit. Berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhinya tersebut, yaitu:


Faktor kebiasaan
Kebiasaan dan kesukaan ini dihubungkan dengan berpengaruh terhadap bisa tidaknya kontak dengan agent maupun host. Misalnya, golongan nyamuk yang memiliki kebiasaan dan kesenangan menggigit binatang dibandingkan manusia, tentu memiliki sedikit peluang untuk menjadi vektor DBD.


Faktor habitat
Habitat atau tempat tinggal ini akan mempengaruhi terjadinya perpindahan penyakit dari agent ke-pada host baru. Artinya spesies serangga yang kehidupannya hanya berada seputar tempat di mana ia ditetaskan saja, tentu kecil peluangnya untuk menjadi vektor. Atau paling tidak hanya menjadi vektor sekunder saja. Contohnya, nyamuk Aedes albopictus yang habitat aslinya di hutan, ia hanya akan menjadi vektor sekunder DBD. Hal ini berbeda dengan Aedes aegypti yang berkembangbiak di dalam rumah yang lebih sering bisa kontak dengan manusia sehingga ia menjadi vektor primer DBD.


Faktor kecepatan berkembangbiak
Adanya per-kembangbiakan yang cepat, tentu akan mempengaruhi terhadap jumlah populasi suatu spesies. Secara demikian, kondisi ini akan berpengaruh terhadap frekuensi kontak dengan agent dan host baru. Artinya spesies yang memiliki kecepatan ber-kembangbiak lebih banyak, maka ialah yang memiliki peluang menjadi vektor penyakit.


Faktor biokimia
Faktor ini terjadi pada agent yang mengalami perkembangan dalam tubuh vektor, misalnya nyamuk. Gambarannya ketika nyamuk menghisap darah manusia, agent yang ada dalam darah akan ikut terhisap dan masuk ke dalam lambung nyamuk. Darah dicerna untuk selanjutnya diserap kandungan proteinnya, sedangkan agent ada yang terus berkembangbiak dan ada juga yang terus mati karena pengaruh zat biokimia yang ada dalam lambung dan ikut dicerna. Contohnya, parasit Plasmodium spp. akan langsung mati ketika masuk lambung nyamuk Aedes spp., be-gitu juga sebaliknya virus dengue akan langsung mati bila masuk ke dalam lambung nyamuk Anopheles spp. Sehingga, nyamuk Anopheles spptidak akan jadi vektor DBD dan nyamuk Aedes spp. tidak akan jadi vektor malaria.



Kondisi Vektor PenyebabSakit
Setelahnya kita mengetahui kriteria apa saja yang men-jadi syarat menjadikan spesies tertentu sebagai vektor, maka pola pikir selanjutnya yang perlu kita pahami bersama adalah terkait bagaimana keberadaan vektor ini menyebabkan terjadi-nya kesakitan. Sehingga dengan pengetahuan seperti ini, masyarakat dapat lebih waspada lagi ketika menyikapi keberadaan suatu vektor penyakit di lingkungan rumahnya.

'new, bersahabat dengan nyamuk, nyamuk, umur nyamuk, morfologi nyamuk, klasifikasi nyamuk, nyamuk aedes aegypti, nyamuk demam berdarah, nyamuk anopheles, nyamuk chikungunya, nyamuk malaria, nyamuk kaki gajah, filariasis, je, penyakit nyamuk, penyakit nyamuk cikungunya, pengertian nyamuk, hindari penyakit nyamuk, demam berdarah nyamuk, nyamuk baru, reperensi penyakit nyamuk, akibat nyamuk, obat nyamuk, nyamuk blog, mosquito, anti mosquito, mosquito trap, mosquito sound, jurnal nyamuk, jurnal nyamuk aedes aegypti, jurnal pengendalian nyamuk, jurnal nyamuk cuex, nyamuk lingkungan, jurnal pengendalian nyamuk, nyamuk psn, jurnal nyamuk search, jurnal larva, aspirator, aspirator nyamuk, insect aspirator, vektor nyamuk, vektor nyamuk culex, struktur vektor nyamuk, vektor nyamuk anopheles, jurnal pengendalian vektor nyamuk, vektor nyamuk filariasis, pengertian vektor nyamuk, artikel vektor nyamuk, contoh vektor nyamuk, buku nyamuk, anatomi nyamuk, tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk dalam rumah, tanaman pengusir nyamuk blog, tanaman hias pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk paling ampuh, jual tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk alami, herbal, tompen, tanaman obat, lavender, zodia, wisata ilmiah nyamuk, musium nyamuk, insektarium nyamuk, tompen nyamuk, darah nyamuk'
Tiga Kondisi Vektor Penyebab Kesakitan
Lihat Detail

Tiga Kondisi Vektor Penyebab Kesakitan



Keberadaan vektor penyakit ini, tidak lain memiliki fungsi dalam memindahkan agent dari sumber penular, lingkungan (termasuk penderita), ke host yang baru. Walaupun kita tahu tidak setiap manusia yang terpapar agent yang dibonceng vektor itu dapat terjadi sakit. Hal ini dikarenakan sangat tergantung pada daya tahan manu-sianya yang akan dijadikan host baru. Ia dapat melawan agent yang dibawa vektor atau tidak?



Menurut literatur seputar entomologi dan epidemio-logi, paling tidak terdapat tiga kondisi vektor yang mampu sebagai penyebab kesakitan pada manusia, diantaranya ialah:

Pertama, kepadatanvektor

Kondisi banyaknya populasi vektor ini sangat berpengaruh terhadap frekuensi kontaknya vektor dengan agent maupun host. Terjadinya kontak dengan agent ini memiliki pengaruh terhadap jumlah agent yang bisa dipindahkan dengan kendaraan vektor. Sementara itu, terjadinya hubungan dengan host baru ini memiliki korelasi terhadap banyaknya agent yang menulari manusia. Sebagai analogi matematis dapat kita katakan semakin sering frekuensi kontak vektor dengan agent dan host baru, maka semakin tinggi angka timbulnya kesakitan di suatu daerah.

Kedua, spesiesvektor

Hal yang satu ini cukup unik memang, ternyata bila direnungkan hanya ada beberapa spesies saja yang menjadi vektor dari suatu genus. Artinya bila ada satu spesies yang menjadi vektor, tidak berarti spesies lainnya yang masih dalam satu genus sama dapat menjadi vektor juga. Contohnya, Anopheles sundaicus yang dapat men-jadi vektor malaria, tapi saudaranya sendiri yaitu Anopheles vagus ternyata tidak bisa menjadi vektor.

Ketiga, usiavektor

Faktor usia alias umur biologis vektor ini, ternyata juga memiliki pengaruh terhadap timbul-nya kesakitan akibat pengaruh adanya virulensi vektor itu sendiri. Hal ini cukup beralasan sebab agent itu membutuhkan waktu untuk melakukan perkembangan dan pertumbuhannya sampai ia betul-betul mampu untuk menularkan penyakitnya. Dengan kata lain, kalau umur biologis vektor itu pendek tentunya tidak cukup bagi agent untuk melakukan proses per-tumbuhan dan perkembangannya di dalam tubuh vektor. Sehingga kondisi ini tidak akan terjadinya proses penularan penyakit.

Akhirnya, kalau kita mau jujur dan merenungi terhadap fenomena ini tentu ada suatu benang merah yang dapat kita jadikan tali pegangan dalam usaha mencegah terjadinya penularan penyakit oleh tular vektor pada manusia yaitu tidak semua vektor itu ternyata mampu menularkan penyakitnya. Jadi, tidak semua vektor itu sama ya......!!!
'new, bersahabat dengan nyamuk, nyamuk, umur nyamuk, morfologi nyamuk, klasifikasi nyamuk, nyamuk aedes aegypti, nyamuk demam berdarah, nyamuk anopheles, nyamuk chikungunya, nyamuk malaria, nyamuk kaki gajah, filariasis, je, penyakit nyamuk, penyakit nyamuk cikungunya, pengertian nyamuk, hindari penyakit nyamuk, demam berdarah nyamuk, nyamuk baru, reperensi penyakit nyamuk, akibat nyamuk, obat nyamuk, nyamuk blog, mosquito, anti mosquito, mosquito trap, mosquito sound, jurnal nyamuk, jurnal nyamuk aedes aegypti, jurnal pengendalian nyamuk, jurnal nyamuk cuex, nyamuk lingkungan, jurnal pengendalian nyamuk, nyamuk psn, jurnal nyamuk search, jurnal larva, aspirator, aspirator nyamuk, insect aspirator, vektor nyamuk, vektor nyamuk culex, struktur vektor nyamuk, vektor nyamuk anopheles, jurnal pengendalian vektor nyamuk, vektor nyamuk filariasis, pengertian vektor nyamuk, artikel vektor nyamuk, contoh vektor nyamuk, buku nyamuk, anatomi nyamuk, tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk dalam rumah, tanaman pengusir nyamuk blog, tanaman hias pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk paling ampuh, jual tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk alami, herbal, tompen, tanaman obat, lavender, zodia, wisata ilmiah nyamuk, musium nyamuk, insektarium nyamuk, tompen nyamuk, darah nyamuk'


Keberadaan vektor penyakit ini, tidak lain memiliki fungsi dalam memindahkan agent dari sumber penular, lingkungan (termasuk penderita), ke host yang baru. Walaupun kita tahu tidak setiap manusia yang terpapar agent yang dibonceng vektor itu dapat terjadi sakit. Hal ini dikarenakan sangat tergantung pada daya tahan manu-sianya yang akan dijadikan host baru. Ia dapat melawan agent yang dibawa vektor atau tidak?



Menurut literatur seputar entomologi dan epidemio-logi, paling tidak terdapat tiga kondisi vektor yang mampu sebagai penyebab kesakitan pada manusia, diantaranya ialah:

Pertama, kepadatanvektor

Kondisi banyaknya populasi vektor ini sangat berpengaruh terhadap frekuensi kontaknya vektor dengan agent maupun host. Terjadinya kontak dengan agent ini memiliki pengaruh terhadap jumlah agent yang bisa dipindahkan dengan kendaraan vektor. Sementara itu, terjadinya hubungan dengan host baru ini memiliki korelasi terhadap banyaknya agent yang menulari manusia. Sebagai analogi matematis dapat kita katakan semakin sering frekuensi kontak vektor dengan agent dan host baru, maka semakin tinggi angka timbulnya kesakitan di suatu daerah.

Kedua, spesiesvektor

Hal yang satu ini cukup unik memang, ternyata bila direnungkan hanya ada beberapa spesies saja yang menjadi vektor dari suatu genus. Artinya bila ada satu spesies yang menjadi vektor, tidak berarti spesies lainnya yang masih dalam satu genus sama dapat menjadi vektor juga. Contohnya, Anopheles sundaicus yang dapat men-jadi vektor malaria, tapi saudaranya sendiri yaitu Anopheles vagus ternyata tidak bisa menjadi vektor.

Ketiga, usiavektor

Faktor usia alias umur biologis vektor ini, ternyata juga memiliki pengaruh terhadap timbul-nya kesakitan akibat pengaruh adanya virulensi vektor itu sendiri. Hal ini cukup beralasan sebab agent itu membutuhkan waktu untuk melakukan perkembangan dan pertumbuhannya sampai ia betul-betul mampu untuk menularkan penyakitnya. Dengan kata lain, kalau umur biologis vektor itu pendek tentunya tidak cukup bagi agent untuk melakukan proses per-tumbuhan dan perkembangannya di dalam tubuh vektor. Sehingga kondisi ini tidak akan terjadinya proses penularan penyakit.

Akhirnya, kalau kita mau jujur dan merenungi terhadap fenomena ini tentu ada suatu benang merah yang dapat kita jadikan tali pegangan dalam usaha mencegah terjadinya penularan penyakit oleh tular vektor pada manusia yaitu tidak semua vektor itu ternyata mampu menularkan penyakitnya. Jadi, tidak semua vektor itu sama ya......!!!
'new, bersahabat dengan nyamuk, nyamuk, umur nyamuk, morfologi nyamuk, klasifikasi nyamuk, nyamuk aedes aegypti, nyamuk demam berdarah, nyamuk anopheles, nyamuk chikungunya, nyamuk malaria, nyamuk kaki gajah, filariasis, je, penyakit nyamuk, penyakit nyamuk cikungunya, pengertian nyamuk, hindari penyakit nyamuk, demam berdarah nyamuk, nyamuk baru, reperensi penyakit nyamuk, akibat nyamuk, obat nyamuk, nyamuk blog, mosquito, anti mosquito, mosquito trap, mosquito sound, jurnal nyamuk, jurnal nyamuk aedes aegypti, jurnal pengendalian nyamuk, jurnal nyamuk cuex, nyamuk lingkungan, jurnal pengendalian nyamuk, nyamuk psn, jurnal nyamuk search, jurnal larva, aspirator, aspirator nyamuk, insect aspirator, vektor nyamuk, vektor nyamuk culex, struktur vektor nyamuk, vektor nyamuk anopheles, jurnal pengendalian vektor nyamuk, vektor nyamuk filariasis, pengertian vektor nyamuk, artikel vektor nyamuk, contoh vektor nyamuk, buku nyamuk, anatomi nyamuk, tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk dalam rumah, tanaman pengusir nyamuk blog, tanaman hias pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk paling ampuh, jual tanaman pengusir nyamuk, tanaman pengusir nyamuk alami, herbal, tompen, tanaman obat, lavender, zodia, wisata ilmiah nyamuk, musium nyamuk, insektarium nyamuk, tompen nyamuk, darah nyamuk'
Syarat Menjadi Vektor Penyakit
Lihat Detail

Syarat Menjadi Vektor Penyakit

Tulisan sebelumnya: Kategori Sebagai Vektor Penyakit

Vektor Penyebab Sakit

Setelahnya kita tahu syarat menjadikan spesies tertentu sebagai vektor, maka pola pikir selanjutnya yang perlu kita pahami adalah terkait bagaimana keberadaan vektor ini menyebabkan terjadinya kesakitan. Sehingga dengan pengetahuan seperti ini, masyarakat dapat lebih waspada lagi ketika menyikapi keberadaan suatu vektor penyakit di lingkungan rumahnya.
Menurut literatur seputar entomologi dan epidemiologi, paling tidak terdapat tiga kondisi vektor yang mampu sebagai penyebab kesakitan pada manusia, diantaranya ialah kepadatan, spesies, dan usia vektor.
Akhirnya, kalau kita mau jujur dan merenungi terhadap fenomena ini tentu ada benang merah yang dapat kita jadikan tali pegangan dalam usaha mencegah terjadinya penularan penyakit oleh tular vektor pada manusia yaitu tidak semua vektor itu ternyata mampu menularkan penyakitnya.*** 




Arda Dinata, bekerja di Loka Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, Balitbangkes Kementrian Kesehatan  R.I.