-->

Showing posts with label kursus menulis. Show all posts
Showing posts with label kursus menulis. Show all posts
Menulis Dari Mana Saja
Lihat Detail

Menulis Dari Mana Saja

"Mulailah menulis dari mana saja." (Silaen).

MENULIS DARI MANA SAJA
Oleh: Arda Dinata,
Pendiri Majeis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

Sesuatu yang disukai itu pasti menyenangkan. Dalam hidup ini akan terasa indah bila dikelilingi sesuatu yang menyenangkan. Begitu pun dalam hal menulis, kita akan lancar menulis bila dimulai sesuatu yang menyenangkan.

Rumus bisa menulis itu adalah dengan segera menuliskannya. Sebab, menulis itu adalah bahasa perbuatan. Bukan hanya dipikirkan. Menulislah apa apa yang ada dalam pikiran kita. Bukan sebaliknya, kita berpikir tentang apa apa yang akan dituliskan. Bila Anda memikirkan sesuatu apa yang akan ditulis, maka dapat dipastikan ketika menulis kita menjadi tersedat. Alias tidak lancar.

Jadi, pada waktunya menulis, ya menulis saja. Seperti ketika kita menuangkan isi teko pada cangkir atau gelas. Masalah tata bahasa dan susunan kata, ada salah ketik, untuk sementara biarkan saja sampai apa yang ada dalam pikiran kita tertuliskan semua. Sebab, masalah editing nanti ada waktunya tersendiri. Yakni setelah selesai menulis buah pikiran kita.

Atas pola pikir tersebut, makannya sebelum menulis seorang penulis itu harus banyak membaca. Sehingga kualitas tulisan yang keluar dari pikiran pun kualitasnya terjamin. Bukan tulisan sampah. Tidak mengandung makna yang bermanfaat bagi pembacanya.

Dalam hal ini, saya selalu membiasakan membaca setiap saat dalam keadaan apapun. Kebiasaan membaca ini tidak lain untuk menambah pembendarahan kata, ilmu pengetahuan, dan inspirasi sebagai bahan tulisan.

Sejatinya, tiap kita itu sudah memiliki modal menulis yang lebih dari cukup. Menulislah seperti kita mengungkapkan lewat bahasa lisan. Seperti saat kita ngobrol mengungkapkan sesuatu pada orang lain. Saya setuju sekali dengan apa yang dikatakan Mohammad Natsir, "Mulailah dari apa yang ada, karena yang ada lebih dari cukup untuk memulai pekerjaan." Demikian pun dengan pekerjaan menulis. Mulailah menulis dengan apa yang Anda minati dan sukai. Hasilnya saya pastikan adalah tulisan.

Pada konteks ini, pantas saja Silaen mengatakan, "Mulailah menulis dari mana saja." Jadi, bagi Anda yang pengen menulis, maka segeralah menulis dari mana saja. Sebab, menulis itu adalah kerja menulis, menulis dan menulis. Segera mempraktikannya bukan memikirkan dan mengkhayalkan tulisan dalam pikiran. Ok, saya yakin Anda pasti bisa menulis. Saya tunggu kabar baiknya, ketika Anda berhasil menulis.

Bagaimana, menurut Anda?

Pangandara, 15 Oktober 2013
Salam inspirasi sukses menulis...

Arda Dinata,
Pendiri Majeis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. Www.miqraindonesia.com

"Mulailah menulis dari mana saja." (Silaen).

MENULIS DARI MANA SAJA
Oleh: Arda Dinata,
Pendiri Majeis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

Sesuatu yang disukai itu pasti menyenangkan. Dalam hidup ini akan terasa indah bila dikelilingi sesuatu yang menyenangkan. Begitu pun dalam hal menulis, kita akan lancar menulis bila dimulai sesuatu yang menyenangkan.

Rumus bisa menulis itu adalah dengan segera menuliskannya. Sebab, menulis itu adalah bahasa perbuatan. Bukan hanya dipikirkan. Menulislah apa apa yang ada dalam pikiran kita. Bukan sebaliknya, kita berpikir tentang apa apa yang akan dituliskan. Bila Anda memikirkan sesuatu apa yang akan ditulis, maka dapat dipastikan ketika menulis kita menjadi tersedat. Alias tidak lancar.

Jadi, pada waktunya menulis, ya menulis saja. Seperti ketika kita menuangkan isi teko pada cangkir atau gelas. Masalah tata bahasa dan susunan kata, ada salah ketik, untuk sementara biarkan saja sampai apa yang ada dalam pikiran kita tertuliskan semua. Sebab, masalah editing nanti ada waktunya tersendiri. Yakni setelah selesai menulis buah pikiran kita.

Atas pola pikir tersebut, makannya sebelum menulis seorang penulis itu harus banyak membaca. Sehingga kualitas tulisan yang keluar dari pikiran pun kualitasnya terjamin. Bukan tulisan sampah. Tidak mengandung makna yang bermanfaat bagi pembacanya.

Dalam hal ini, saya selalu membiasakan membaca setiap saat dalam keadaan apapun. Kebiasaan membaca ini tidak lain untuk menambah pembendarahan kata, ilmu pengetahuan, dan inspirasi sebagai bahan tulisan.

Sejatinya, tiap kita itu sudah memiliki modal menulis yang lebih dari cukup. Menulislah seperti kita mengungkapkan lewat bahasa lisan. Seperti saat kita ngobrol mengungkapkan sesuatu pada orang lain. Saya setuju sekali dengan apa yang dikatakan Mohammad Natsir, "Mulailah dari apa yang ada, karena yang ada lebih dari cukup untuk memulai pekerjaan." Demikian pun dengan pekerjaan menulis. Mulailah menulis dengan apa yang Anda minati dan sukai. Hasilnya saya pastikan adalah tulisan.

Pada konteks ini, pantas saja Silaen mengatakan, "Mulailah menulis dari mana saja." Jadi, bagi Anda yang pengen menulis, maka segeralah menulis dari mana saja. Sebab, menulis itu adalah kerja menulis, menulis dan menulis. Segera mempraktikannya bukan memikirkan dan mengkhayalkan tulisan dalam pikiran. Ok, saya yakin Anda pasti bisa menulis. Saya tunggu kabar baiknya, ketika Anda berhasil menulis.

Bagaimana, menurut Anda?

Pangandara, 15 Oktober 2013
Salam inspirasi sukses menulis...

Arda Dinata,
Pendiri Majeis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. Www.miqraindonesia.com

"Mulailah menulis dari mana saja." (Silaen).

MENULIS DARI MANA SAJA
Oleh: Arda Dinata,
Pendiri Majeis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

Sesuatu yang disukai itu pasti menyenangkan. Dalam hidup ini akan terasa indah bila dikelilingi sesuatu yang menyenangkan. Begitu pun dalam hal menulis, kita akan lancar menulis bila dimulai sesuatu yang menyenangkan.

Rumus bisa menulis itu adalah dengan segera menuliskannya. Sebab, menulis itu adalah bahasa perbuatan. Bukan hanya dipikirkan. Menulislah apa apa yang ada dalam pikiran kita. Bukan sebaliknya, kita berpikir tentang apa apa yang akan dituliskan. Bila Anda memikirkan sesuatu apa yang akan ditulis, maka dapat dipastikan ketika menulis kita menjadi tersedat. Alias tidak lancar.

Jadi, pada waktunya menulis, ya menulis saja. Seperti ketika kita menuangkan isi teko pada cangkir atau gelas. Masalah tata bahasa dan susunan kata, ada salah ketik, untuk sementara biarkan saja sampai apa yang ada dalam pikiran kita tertuliskan semua. Sebab, masalah editing nanti ada waktunya tersendiri. Yakni setelah selesai menulis buah pikiran kita.

Atas pola pikir tersebut, makannya sebelum menulis seorang penulis itu harus banyak membaca. Sehingga kualitas tulisan yang keluar dari pikiran pun kualitasnya terjamin. Bukan tulisan sampah. Tidak mengandung makna yang bermanfaat bagi pembacanya.

Dalam hal ini, saya selalu membiasakan membaca setiap saat dalam keadaan apapun. Kebiasaan membaca ini tidak lain untuk menambah pembendarahan kata, ilmu pengetahuan, dan inspirasi sebagai bahan tulisan.

Sejatinya, tiap kita itu sudah memiliki modal menulis yang lebih dari cukup. Menulislah seperti kita mengungkapkan lewat bahasa lisan. Seperti saat kita ngobrol mengungkapkan sesuatu pada orang lain. Saya setuju sekali dengan apa yang dikatakan Mohammad Natsir, "Mulailah dari apa yang ada, karena yang ada lebih dari cukup untuk memulai pekerjaan." Demikian pun dengan pekerjaan menulis. Mulailah menulis dengan apa yang Anda minati dan sukai. Hasilnya saya pastikan adalah tulisan.

Pada konteks ini, pantas saja Silaen mengatakan, "Mulailah menulis dari mana saja." Jadi, bagi Anda yang pengen menulis, maka segeralah menulis dari mana saja. Sebab, menulis itu adalah kerja menulis, menulis dan menulis. Segera mempraktikannya bukan memikirkan dan mengkhayalkan tulisan dalam pikiran. Ok, saya yakin Anda pasti bisa menulis. Saya tunggu kabar baiknya, ketika Anda berhasil menulis.

Bagaimana, menurut Anda?

Pangandara, 15 Oktober 2013
Salam inspirasi sukses menulis...

Arda Dinata,
Pendiri Majeis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. Www.miqraindonesia.com

"Mulailah menulis dari mana saja." (Silaen).

MENULIS DARI MANA SAJA
Oleh: Arda Dinata,
Pendiri Majeis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

Sesuatu yang disukai itu pasti menyenangkan. Dalam hidup ini akan terasa indah bila dikelilingi sesuatu yang menyenangkan. Begitu pun dalam hal menulis, kita akan lancar menulis bila dimulai sesuatu yang menyenangkan.

Rumus bisa menulis itu adalah dengan segera menuliskannya. Sebab, menulis itu adalah bahasa perbuatan. Bukan hanya dipikirkan. Menulislah apa apa yang ada dalam pikiran kita. Bukan sebaliknya, kita berpikir tentang apa apa yang akan dituliskan. Bila Anda memikirkan sesuatu apa yang akan ditulis, maka dapat dipastikan ketika menulis kita menjadi tersedat. Alias tidak lancar.

Jadi, pada waktunya menulis, ya menulis saja. Seperti ketika kita menuangkan isi teko pada cangkir atau gelas. Masalah tata bahasa dan susunan kata, ada salah ketik, untuk sementara biarkan saja sampai apa yang ada dalam pikiran kita tertuliskan semua. Sebab, masalah editing nanti ada waktunya tersendiri. Yakni setelah selesai menulis buah pikiran kita.

Atas pola pikir tersebut, makannya sebelum menulis seorang penulis itu harus banyak membaca. Sehingga kualitas tulisan yang keluar dari pikiran pun kualitasnya terjamin. Bukan tulisan sampah. Tidak mengandung makna yang bermanfaat bagi pembacanya.

Dalam hal ini, saya selalu membiasakan membaca setiap saat dalam keadaan apapun. Kebiasaan membaca ini tidak lain untuk menambah pembendarahan kata, ilmu pengetahuan, dan inspirasi sebagai bahan tulisan.

Sejatinya, tiap kita itu sudah memiliki modal menulis yang lebih dari cukup. Menulislah seperti kita mengungkapkan lewat bahasa lisan. Seperti saat kita ngobrol mengungkapkan sesuatu pada orang lain. Saya setuju sekali dengan apa yang dikatakan Mohammad Natsir, "Mulailah dari apa yang ada, karena yang ada lebih dari cukup untuk memulai pekerjaan." Demikian pun dengan pekerjaan menulis. Mulailah menulis dengan apa yang Anda minati dan sukai. Hasilnya saya pastikan adalah tulisan.

Pada konteks ini, pantas saja Silaen mengatakan, "Mulailah menulis dari mana saja." Jadi, bagi Anda yang pengen menulis, maka segeralah menulis dari mana saja. Sebab, menulis itu adalah kerja menulis, menulis dan menulis. Segera mempraktikannya bukan memikirkan dan mengkhayalkan tulisan dalam pikiran. Ok, saya yakin Anda pasti bisa menulis. Saya tunggu kabar baiknya, ketika Anda berhasil menulis.

Bagaimana, menurut Anda?

Pangandara, 15 Oktober 2013
Salam inspirasi sukses menulis...

Arda Dinata,
Pendiri Majeis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia. Www.miqraindonesia.com

Menulis Bagai Cermin
Lihat Detail

Menulis Bagai Cermin


Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Menulis Bagai Cermin

By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 
Menulis Bagai Cermin
Lihat Detail

Menulis Bagai Cermin



Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya.

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis? 

http://www.miqrajurnalistik.blogspot.com/2013/03/menulis-bagai-cermin.htm 

Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda. 

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya. 

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 
Menulis Bagai Cermin
Lihat Detail

Menulis Bagai Cermin



Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya. 

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis?
Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.  

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda.

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya.

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya. 

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis?
Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.  

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda.

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya.

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya. 

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis?
Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.  

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda.

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya.

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 


Menulis Bagai Cermin
By. Arda Dinata



KETIKA cermin saja bisa menulis, maka Anda pun sangat bisa menulis. Apa yang Anda lihat ketika bercermin? Yup, sosok diri kita akan terlihat pada cermin. Dengan kata lain, cermin mampu membaca detail setiap benda atau mahluk hidup yang ada di hadapannya. Cermin ini, tentu mampu menguraikan apa saja yang terekamnya melalui bahasa gambar yang dipahaminya. 

Manusia dengan akal dan fikirannya, serta segala kelebihannya, tentu akan mampu lebih dasyat lagi dalam menuliskan sesuatu dalam hidupnya. Lalu, apa hubunganya antara cermin dan menulis?
Penulis itu tidak ubahnya ibarat sebuah cermin. Ia mampu dan tidak ragu-ragu untuk menuliskan apa pun yang pernah dilihat, dirasakan, dan didengarnya dalam sebuah tulisan. Arti lainnya, menulis itu sesungguhnya tinggal memindahkan apa-apa yang ada dalam pikiran kita. Teori sukses menulis, tidak lain adalah menulis itu sendiri. Sehingga sehebat apapun Anda menguasi teori menulis, dan tanpa Anda melakukan kegiatan menulis maka sesungguhnya Anda bukanlah seorang penulis. Menulis adalah bukan bermain teori, tapi mempraktekannya. Hanya orang-orang yang praktek menulislah, ia akan jadi seorang menulis. Jadi, menulislah dalam praktek keseharian. Tidak hanya pada ranah ingin, ingin, dan pengen menulis saja tanpa Anda pernah (praktek) menulis.  

Menulis itu sangat mudah. Dan bukan malah sebaliknya mempersulit diri Anda. Menulis itu, semudah Anda melakukan kegiatan melihat dan mendengar dalam kehidupan sehari-hari. Cuman masalahnya, banyak di antara kita yang terbelenggu oleh bayang-bayang ketidakbisaan diri sendiri. Jadi, menulislah sekarang juga. Menulis apa saja yang Anda inginkan dan pikirkan. Karena diri Andalah yang memiliki tulisan Anda.

Tulis apa saja yang Anda mau tulis. Bisa berupa surat, puisi, buku harian, unek-unek, opini, komentar, nasehat, ringkasan, atau apa saja, dan bahkan khayalan sekalipun boleh-boleh saja Anda menuliskannya. Intinya, menulis jangan dipersulit. Menulis kok dipersulit? Bagaimana kata dunia. Kasihan diri Anda, orang hidup ini saja sudah sulit, lalu kenapa Anda harus mempersulit juga dalam bidang tulis menulis?

Sebagai akhir catatan ini, kalau kita mau jujur, pada hakekatnya tulisan itu tak ubahnya seperti cermin yang memantulkan banyak realitas yang ada di hadapannya. Dan di hadapan diri Anda pun sungguh banyak sekali yang bisa kita sampaikan lewat bahasa tulisan. Anda berminta menulis, cobalah menulis seperti cermin yang mampu merekam sisi kehidupan yang ada di hadapannya.

Jadi, Anda pun sangat layak menjadi penulis sesuai zamannya. Itu pun, bila Anda mau?
Salam inspirasi sukses menulis.
Bagaimana menurut sahabat?

Pangandaran, 04/03/2013
@ardadinata