-->

Showing posts with label miqra indonesia. Show all posts
Showing posts with label miqra indonesia. Show all posts
Manisnya Nilai Iman
Lihat Detail

Manisnya Nilai Iman

Aktivitas membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti itu benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

 Rasulullah Saw. menyebutkan, “Iman itu naik dan turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan Laailahaillallah.”


Membangkitkan Nilai Keimanan

Oleh: Arda Dinata


IMAN yang bersemayam dalam diri manusia merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga bagi hidup manusia, setelahnya nikmat hidup. Dan kebanyakan orang sering mengatakan iman itu sebagai nikmat Allah tertinggi nilainya.

           
Aktivitas membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti itu benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

 Rasulullah Saw. menyebutkan, “Iman itu naik dan turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan Laailahaillallah.”


Membangkitkan Nilai Keimanan

Oleh: Arda Dinata


IMAN yang bersemayam dalam diri manusia merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga bagi hidup manusia, setelahnya nikmat hidup. Dan kebanyakan orang sering mengatakan iman itu sebagai nikmat Allah tertinggi nilainya.

           
Aktivitas membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti itu benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

 Rasulullah Saw. menyebutkan, “Iman itu naik dan turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan Laailahaillallah.”


Membangkitkan Nilai Keimanan

Oleh: Arda Dinata


IMAN yang bersemayam dalam diri manusia merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga bagi hidup manusia, setelahnya nikmat hidup. Dan kebanyakan orang sering mengatakan iman itu sebagai nikmat Allah tertinggi nilainya.

           
Aktivitas membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti itu benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

 Rasulullah Saw. menyebutkan, “Iman itu naik dan turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan Laailahaillallah.”


Membangkitkan Nilai Keimanan

Oleh: Arda Dinata


IMAN yang bersemayam dalam diri manusia merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga bagi hidup manusia, setelahnya nikmat hidup. Dan kebanyakan orang sering mengatakan iman itu sebagai nikmat Allah tertinggi nilainya.

           
Aktivitas membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti itu benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

 Rasulullah Saw. menyebutkan, “Iman itu naik dan turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan Laailahaillallah.”


Membangkitkan Nilai Keimanan

Oleh: Arda Dinata


IMAN yang bersemayam dalam diri manusia merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga bagi hidup manusia, setelahnya nikmat hidup. Dan kebanyakan orang sering mengatakan iman itu sebagai nikmat Allah tertinggi nilainya.

           
Aktivitas membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti itu benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

 Rasulullah Saw. menyebutkan, “Iman itu naik dan turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan Laailahaillallah.”


Membangkitkan Nilai Keimanan

Oleh: Arda Dinata


IMAN yang bersemayam dalam diri manusia merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga bagi hidup manusia, setelahnya nikmat hidup. Dan kebanyakan orang sering mengatakan iman itu sebagai nikmat Allah tertinggi nilainya.

           
Aktivitas membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti itu benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

 Rasulullah Saw. menyebutkan, “Iman itu naik dan turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan Laailahaillallah.”


Membangkitkan Nilai Keimanan

Oleh: Arda Dinata


IMAN yang bersemayam dalam diri manusia merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga bagi hidup manusia, setelahnya nikmat hidup. Dan kebanyakan orang sering mengatakan iman itu sebagai nikmat Allah tertinggi nilainya.

           
Aktivitas membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti itu benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

 Rasulullah Saw. menyebutkan, “Iman itu naik dan turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan Laailahaillallah.”


Membangkitkan Nilai Keimanan

Oleh: Arda Dinata


IMAN yang bersemayam dalam diri manusia merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga bagi hidup manusia, setelahnya nikmat hidup. Dan kebanyakan orang sering mengatakan iman itu sebagai nikmat Allah tertinggi nilainya.

           
Aktivitas membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti itu benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

 Rasulullah Saw. menyebutkan, “Iman itu naik dan turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan Laailahaillallah.”


Membangkitkan Nilai Keimanan

Oleh: Arda Dinata


IMAN yang bersemayam dalam diri manusia merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga bagi hidup manusia, setelahnya nikmat hidup. Dan kebanyakan orang sering mengatakan iman itu sebagai nikmat Allah tertinggi nilainya.

           
Aktivitas membangkitkan nilai keimanan seperti disebut di atas, paling tidak ia merupakan langkah yang tepat dalam menggapai posisi iman sejati. Lebih-lebih jalan menuju iman seperti itu benar-benar telah dipenuhi dan diaplikasikan dalam hidup keseharian.

 Rasulullah Saw. menyebutkan, “Iman itu naik dan turun, maka perbaharuilah iman kalian dengan Laailahaillallah.”


Membangkitkan Nilai Keimanan

Oleh: Arda Dinata


IMAN yang bersemayam dalam diri manusia merupakan salah satu nikmat Allah yang paling berharga bagi hidup manusia, setelahnya nikmat hidup. Dan kebanyakan orang sering mengatakan iman itu sebagai nikmat Allah tertinggi nilainya.

           
Haji Mabrur, Mau?
Lihat Detail

Haji Mabrur, Mau?


Haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Melanggengkan Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.


Haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Melanggengkan Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.


Haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Melanggengkan Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.


Haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Melanggengkan Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.


Haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Melanggengkan Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.


Haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Melanggengkan Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.


Haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Melanggengkan Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.


Haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Di kalangan ulama, diungkapkan kalau haji mabrur itu ialah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna bahwa berbagai kebaikan ibadah haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa dan berbagai tindakan kejahatan.

Berkait dengan itu, Imam Nawawi, mengungkapkan bahwa haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain menguatnya iman dan meningkatnya ibadah serta amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Melanggengkan Nilai Kemabruran Haji


KAUM Muslim yang sudah melaksanakan ibadah haji, tentunya kita harapkan menjadi haji mabrur. Doa ini penting kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan keinginan mendapatkan haji mabrur dapat dipahami, karena bukankah pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya. Nabi Saw bersabda, Haji yang mabrur tak ada balasan lain kecuali surga. (HR. Bukhari dan Muslim).

Mereka yang telah menggapai haji mabrur, tentu akan memancarkan berbagai kebaikan sosial dalam kehidupan kesehariannya, diantaranya, ialah memiliki peningkatan rasa persaudaraan di antara umat, karena saling berkenalan dan berkomunikasi dengan jamaah haji dari segala penjuru dunia, menumbuhkan rasa hormat menghormati dan mengalahkan rasa rendah diri, karena di sanalah jamaah haji akan menyadari kesamaan derajat di hadapan Allah SWT.

Sukses Menjadi Pribadi Idealis dan Kreatif
Lihat Detail

Sukses Menjadi Pribadi Idealis dan Kreatif

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. 

Ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya.

Idealisme dan Kreatifitas, Kunci Pribadi Sukses

MUSTAFA AL-RAFI’IE menggambarkan masa muda dengan mengatakan bahwa pemuda adalah kekuatan, sebab matahari tidak dapat bersinar di senja hari seterang ketika di waktu pagi. Pada masa muda ada saat ketika mati dianggap sebagai tidur, dan pohon pun berbuah ketika masih muda dan sesudah itu semua pohon tidak lagi menghasilkan apa pun kecuali kayu (Ashur Ahams; 1978).

Bagi pemuda, realitas kehidupan yang dihadapinya sering kali dipersepsikan sebagai kenyataan yang membatasi idealisme dan hasrat yang mendominasi pikirannya. Sehingga perlu disadari bahwa kedewasaan merupakan tahap kehidupan yang pasti dijalaninya. Bila pada tahap muda dapat dicapai afeks pertumbuhan fisikis, maka dalam tahap dewasa terjadi kematangan pertumbuhan psikik. Arti lainnya, kedewasaan seseorang itu minimal harus memenuhi enam syarat, yaitu memiliki kemampuan “lebih banyak diam daripada berbicara”; memiliki empati yang tinggi; bersikap waro; memiliki sikap amanah; menjadi suritauladan; dan bertindak adil.    

Dalam hal ini, Dr. M. Manzoor Alam (1989), menyebutkan ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya. Adapun parameter yang bisa kita amati dari generasi model ini, diantaranya berupa:

v  Pertama, mempunyai keterikatan pada Ilahi. Di dalamnya terhujam rasa cinta yang membara kepada Allah dan melangkahkan kaki sesuai dengan kehendak Allah, sebagai kekasihnya. Satu-satunya alternatif dalam hidupnya adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. (QS. 6: 162 dan QS. 3: 31).

v  Kedua, memiliki keberanian untuk berjihad dengan harta dan jiwa demi tegaknya kalimatullah (QS. 9: 41).

v  Ketiga, berserah diri secara total (kafah) kepada Allah dengan harapan mendapat petunjuk dan keridhoan-Nya (QS. 2: 128).

v  Keempat, memberikan penghormatan kepada kedua orang tuanya sebagai salah satu alternatif untuk mendapatkan keridhoan Allah (QS. 17: 23-24 dan QS. 31: 14).

v  Kelima, membina diri untuk selalu menegakkan sholat, berakhlak bijaksana dalam da’wah serta memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan. Dan rendah hati, tidak takabbur, dan tidak ingin pujian serta membantu orang yang lemah dengan harapan mendapat cinta Allah (QS. 31: 17).

v  Keenam, gandrung akan ilmu pengetahuan, peka terhadap lingkungan, banyak berdzikir dan pandai membaca situasi dan kondisi yang berkembang (QS. 39:91).

v  Ketujuh, memiliki perkataan dan tingkah laku yang lemah lembut, sangat kuat pendiriannya terhadap kebenaran, bagaikan bangunan yang berdiri kokoh, sehingga ia tidak takut dan berduka cita (QS. 46: 13-14).

v  Kedelapan, gemar membaca Alquran dan menjadikannya sebagai sistem kehidupan. Dengan Alquran ia dapat membedakan antara haq dan bathil, cara berpikir dan bertindaknya didasari pada Alquran dan Sunah Nabi. Ia berusaha untuk menjadi Quran yang hidup dan ia tidak suka kalau hanya bicara tanpa beramal, karena Allah memang tidak suka pada yang demikian. (QS. 2: 44 dan QS 61: 2-3).

Berpikir Kreatif

Untuk mengaktualisasikan karakteristik generasi Rabbi Rodhiya tersebut, maka di sini diperlukan sebuah pola pikir kreatif. Berbicara kreativitas, kita tidak akan terlepas dari fungsi otak manusia. Para ahli jiwa mengatakan, otak manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak kiri merupakan pusat fungsi intelektual seperti daya ingat, bahasa, logika perhitungan, daya analisis, dan pemikiran konvergen (cara berpikir searah). Dan otak kanan berfungsi mengandalkan mental dengan melibatkan intuisi, sikap, emosi, gambar, musik dan irama, gerak dan tari, serta pikiran divergen (menyebar/bercabang).

Namun, menurut Yogy RY (Remaja Kreatif Hindari Penggangguran; 2000), disebutkan kenyataannya kebanyakan orang cenderung hanya menggunakan otak kiri jika menghadapi persoalan. Padahal, jika diseimbangkan dengan memfungsikan otak kanan, orang akan berpikir lebih jernih dalam memecahkan persoalan.

Untuk itu, bagi yang mampu berpikir benar (berpikir dengan otak kiri dan kanan), maka mereka (baca: pemuda) sudah punya pola berpikir kreatif. Karenanya ia sanggup memelihara suatu virus dalam dirinya yang dinamakan N-ach (virus mental yang sanggup mengkondisikan manusia selalu dalam keadaan kreatif).

Kreativitas sendiri merupakan suatu bidang kajian yang sulit. Menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Definisi kreativitas menurut Dedi Supriadi (Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek; 1994), digolongkan menjadi definisi secara konsensual dan konseptual. Definisi konsensual menekankan segi produk kreatif yang dinilai derajat kreativitasnya oleh pengamat yang ahli.

Sedangkan definisi konseptual bertolak dari konsep tertentu tentang kreativitas yang dijabarkan ke dalam kriteria tentang apa yang disebut kreatif. Meskipun tetap menekankan segi produk, definisi ini tidak mengandalkan semata-mata pada konsensus pengamat dalam menilai kreativitas, melainkan didasarkan pada kriteria tertentu. Amabile (1983: 33), secara konseptual melukiskan bahwa suatu produk dinilai kreatif apabila: (a) produk tersebut bersifat baru, unik, berguna, benar, atau bernilai dilihat dari segi kebutuhan tertentu; (b) lebih bersifat heuristik, yaitu menampilkan metode yang masih belum pernah atau jarang dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

Jadi, unsur idealisme dan kreativitas ini dalam kehidupan manusia merupakan sesuatu yang menjadi salah satu kunci sukses seseorang. Dan orang sukses bukan berarti tanpa mengalami kegagalan. Kalah-menang akan silih berganti. Tapi, di sinilah justru letak perbedaan antara orang berjiwa besar (dewasa) dan berjiwa biasa (tidak dewasa).

Bagi orang yang dewasa, kekalahan yang dialaminya akan dimanfaatkan sebagai pendorong untuk lebih maju. Tapi bagi orang yang tidak dewasa, setiap kekalahan yang dialaminya, akan dianggap sebagai halangan untuk mencapai tujuan. Thamrin Nasution (1980), menyebutkan timbulnya kekalahan adalah disebabkan kurangnya pengetahuan yang mendalam mengenai masalah yang dihadapi itu. Dan hal ini akan dapat diatasi dengan memperdalam pengetahuan tentang masalahnya.

Membina Pribadi Sukses

Dalam pandangan Islam, bahwa ‘manusia’ itu yang menjadi pokok utama. Pribadi merupakan faktor konstitusi moral dan bertanggung jawab atasnya. Faktor pribadi juga adalah menjadi titik tolak pendidikan diri sendiri. Dan bertujuan kembali kepada pribadi pula. Dengan kata lain, mengenal dan mendidik pribadi sendiri artinya mengawali kesadaran sebagai makhluk ciptaan, yang harus tahu diri kepada Dzat Tertinggi yang menciptakannya. Sehingga dapat dikatakan, dengan mengenal diri sendiri secara keseluruhan, maka kita mengenal Allah Yang Maha Pencipta.

Untuk mewujudkan hal itu, maka dalam melakukan pembinaan pribadi ini, perlu adanya faktor agama sebagai landasan dalam menjaga keseimbangan eksistensi insan secara otentik. Cara terbaik dalam mengembangkannya ialah dengan senantiasa berpatokan pada “Takhallaquu Bi Akhlaqillaah” (berakhlaqlah dengan akhlaq Allah).

Konsepsi tauhid ini dalam Islam bermaksud menuntun orang untuk mengenal dan menyesuaikan penerapan nilai rendah dan nilai tinggi seorang pribadi dalam hidup yang selaras dengan kehendak Allah di dalam mewujudkan ciptaan-Nya. Janganlah kita sebagai hamba hendak berlaku sombong terhadap Allah dengan tidak mentaati perintah dan larangan-Nya, sedang sebagai makhluk yang seharusnya mengatur dan menundukan alam ini, malahan kita meredusir harga diri dan merendahkan nilai pribadi sebagai “raja makhluk.” (S. Qamarulhadi; 1986: 220).

Berawal dari pembinaan pribadi dengan berpatokan pada akhlaq Allah, kemudian yang perlu ditata pada pribadi kita dengan tekun agar mencapai pribadi sukses ialah harus memiliki iman dan ilmu. Dua syarat ini adalah mutlak, seperti dinyatakan dalam Alquran surat Al-Mujaadilah: 11, yang artinya: “…. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan mereka yang telah diberi ilmu, beberapa tingkat …..”

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. Dalam hal ini, M. Ridwan IR Lubis (1985) menuliskan bahwa untuk kesuksesan hati dan otak diperlukan ketekunan. Dari sifat tekun akan menyorot hati dan otak kita. Adapun untuk membangun dan mengembangkan suatu pekerjaan dengan tekun, maka diperlukan empat sikap mental, yaitu:

1.    Kerjakan menurut kemampuan. Segala sesuatu haruslah dikerjakan menurut kemampuan kita, jangan kerjakan sesuatu diluar kemampuan kita. Karena hasil yang didapat akan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

2.    Mengutamakan yang penting. Setelah kita dapat mengerjakan sesuatu, maka hendaklah kita terlebih dahulu melakukan penyortiran. Pekerjaan mana yang harus didahulukan. Maka lakukan penilaian terlebih dahulu terhadap pekerjaan tersebut. Mana yang penting, perlu dan berguna.

3.    Tetapkan pendirian. Anda jangan mudah diombang-ambingkan oleh orang lain, sehingga membuat rencana menjadi buyar. Anda harus tetapkan pendirian untuk mencapai apa yang anda cita-citakan.

4.    Jangan berputus asa. Tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah merupakan kekejaman Allah. Misalnya, kalau kita mendapati pekerjaan yang belum berhasil, maka kita harus bersabar. Karena kita harus yakin bahwa segala sesuatunya Allah sajalah yang amat mengetahui rahasia alam ini, termasuk rahasia dari ketidakberhasilan apa yang kita rencanakan. Jadi, kita tidak boleh berputus asa.

Akhirnya, kita harus sadar betul bahwa esensi kehidupan ini terletak pada pembentukan semangat dan cita-cita untuk memelihara dan menegakan kepribadian, sehingga kehidupan memperoleh daya mengembang dari dirinya sendiri beberapa alas kekuatan, seperti: memori intelektif, kecerdasan, keahlian, keteguhan hati, keikhlasan yang banyak membantu mengasimilasi kebiasaan dan perilaku kita.

Orang baik itu ialah orang yang selalu mencari jalan keluarnya setiap kali mendapat masalah. Bukannya menciptakan masalah dan kita sendiri yang menjadi sumber masalah bagi masyarakat. Sedangkan sukses itu hakekatnya adalah bagaimana setiap hari, waktu, saat, selalu berusaha memperbaiki diri dan menambah ilmu untuk menuju keridhoan Allah. Sehingga memiliki pandangan terhadap diri sendiri begitu penting bagi seseorang yang ingin mengelola diri menjadi sukses dalam hidup ini. Patut kita renungkan pernyataan yang menyebutkan, “Sukses tidak identik dengan posisi atau gelar dunia, tetapi seberapa besar Personal Vision (pandangan Pribadi) yang dimiliki seseorang.” Wallahu’alam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. 

Ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya.

Idealisme dan Kreatifitas, Kunci Pribadi Sukses

MUSTAFA AL-RAFI’IE menggambarkan masa muda dengan mengatakan bahwa pemuda adalah kekuatan, sebab matahari tidak dapat bersinar di senja hari seterang ketika di waktu pagi. Pada masa muda ada saat ketika mati dianggap sebagai tidur, dan pohon pun berbuah ketika masih muda dan sesudah itu semua pohon tidak lagi menghasilkan apa pun kecuali kayu (Ashur Ahams; 1978).

Bagi pemuda, realitas kehidupan yang dihadapinya sering kali dipersepsikan sebagai kenyataan yang membatasi idealisme dan hasrat yang mendominasi pikirannya. Sehingga perlu disadari bahwa kedewasaan merupakan tahap kehidupan yang pasti dijalaninya. Bila pada tahap muda dapat dicapai afeks pertumbuhan fisikis, maka dalam tahap dewasa terjadi kematangan pertumbuhan psikik. Arti lainnya, kedewasaan seseorang itu minimal harus memenuhi enam syarat, yaitu memiliki kemampuan “lebih banyak diam daripada berbicara”; memiliki empati yang tinggi; bersikap waro; memiliki sikap amanah; menjadi suritauladan; dan bertindak adil.    

Dalam hal ini, Dr. M. Manzoor Alam (1989), menyebutkan ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya. Adapun parameter yang bisa kita amati dari generasi model ini, diantaranya berupa:

v  Pertama, mempunyai keterikatan pada Ilahi. Di dalamnya terhujam rasa cinta yang membara kepada Allah dan melangkahkan kaki sesuai dengan kehendak Allah, sebagai kekasihnya. Satu-satunya alternatif dalam hidupnya adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. (QS. 6: 162 dan QS. 3: 31).

v  Kedua, memiliki keberanian untuk berjihad dengan harta dan jiwa demi tegaknya kalimatullah (QS. 9: 41).

v  Ketiga, berserah diri secara total (kafah) kepada Allah dengan harapan mendapat petunjuk dan keridhoan-Nya (QS. 2: 128).

v  Keempat, memberikan penghormatan kepada kedua orang tuanya sebagai salah satu alternatif untuk mendapatkan keridhoan Allah (QS. 17: 23-24 dan QS. 31: 14).

v  Kelima, membina diri untuk selalu menegakkan sholat, berakhlak bijaksana dalam da’wah serta memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan. Dan rendah hati, tidak takabbur, dan tidak ingin pujian serta membantu orang yang lemah dengan harapan mendapat cinta Allah (QS. 31: 17).

v  Keenam, gandrung akan ilmu pengetahuan, peka terhadap lingkungan, banyak berdzikir dan pandai membaca situasi dan kondisi yang berkembang (QS. 39:91).

v  Ketujuh, memiliki perkataan dan tingkah laku yang lemah lembut, sangat kuat pendiriannya terhadap kebenaran, bagaikan bangunan yang berdiri kokoh, sehingga ia tidak takut dan berduka cita (QS. 46: 13-14).

v  Kedelapan, gemar membaca Alquran dan menjadikannya sebagai sistem kehidupan. Dengan Alquran ia dapat membedakan antara haq dan bathil, cara berpikir dan bertindaknya didasari pada Alquran dan Sunah Nabi. Ia berusaha untuk menjadi Quran yang hidup dan ia tidak suka kalau hanya bicara tanpa beramal, karena Allah memang tidak suka pada yang demikian. (QS. 2: 44 dan QS 61: 2-3).

Berpikir Kreatif

Untuk mengaktualisasikan karakteristik generasi Rabbi Rodhiya tersebut, maka di sini diperlukan sebuah pola pikir kreatif. Berbicara kreativitas, kita tidak akan terlepas dari fungsi otak manusia. Para ahli jiwa mengatakan, otak manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak kiri merupakan pusat fungsi intelektual seperti daya ingat, bahasa, logika perhitungan, daya analisis, dan pemikiran konvergen (cara berpikir searah). Dan otak kanan berfungsi mengandalkan mental dengan melibatkan intuisi, sikap, emosi, gambar, musik dan irama, gerak dan tari, serta pikiran divergen (menyebar/bercabang).

Namun, menurut Yogy RY (Remaja Kreatif Hindari Penggangguran; 2000), disebutkan kenyataannya kebanyakan orang cenderung hanya menggunakan otak kiri jika menghadapi persoalan. Padahal, jika diseimbangkan dengan memfungsikan otak kanan, orang akan berpikir lebih jernih dalam memecahkan persoalan.

Untuk itu, bagi yang mampu berpikir benar (berpikir dengan otak kiri dan kanan), maka mereka (baca: pemuda) sudah punya pola berpikir kreatif. Karenanya ia sanggup memelihara suatu virus dalam dirinya yang dinamakan N-ach (virus mental yang sanggup mengkondisikan manusia selalu dalam keadaan kreatif).

Kreativitas sendiri merupakan suatu bidang kajian yang sulit. Menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Definisi kreativitas menurut Dedi Supriadi (Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek; 1994), digolongkan menjadi definisi secara konsensual dan konseptual. Definisi konsensual menekankan segi produk kreatif yang dinilai derajat kreativitasnya oleh pengamat yang ahli.

Sedangkan definisi konseptual bertolak dari konsep tertentu tentang kreativitas yang dijabarkan ke dalam kriteria tentang apa yang disebut kreatif. Meskipun tetap menekankan segi produk, definisi ini tidak mengandalkan semata-mata pada konsensus pengamat dalam menilai kreativitas, melainkan didasarkan pada kriteria tertentu. Amabile (1983: 33), secara konseptual melukiskan bahwa suatu produk dinilai kreatif apabila: (a) produk tersebut bersifat baru, unik, berguna, benar, atau bernilai dilihat dari segi kebutuhan tertentu; (b) lebih bersifat heuristik, yaitu menampilkan metode yang masih belum pernah atau jarang dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

Jadi, unsur idealisme dan kreativitas ini dalam kehidupan manusia merupakan sesuatu yang menjadi salah satu kunci sukses seseorang. Dan orang sukses bukan berarti tanpa mengalami kegagalan. Kalah-menang akan silih berganti. Tapi, di sinilah justru letak perbedaan antara orang berjiwa besar (dewasa) dan berjiwa biasa (tidak dewasa).

Bagi orang yang dewasa, kekalahan yang dialaminya akan dimanfaatkan sebagai pendorong untuk lebih maju. Tapi bagi orang yang tidak dewasa, setiap kekalahan yang dialaminya, akan dianggap sebagai halangan untuk mencapai tujuan. Thamrin Nasution (1980), menyebutkan timbulnya kekalahan adalah disebabkan kurangnya pengetahuan yang mendalam mengenai masalah yang dihadapi itu. Dan hal ini akan dapat diatasi dengan memperdalam pengetahuan tentang masalahnya.

Membina Pribadi Sukses

Dalam pandangan Islam, bahwa ‘manusia’ itu yang menjadi pokok utama. Pribadi merupakan faktor konstitusi moral dan bertanggung jawab atasnya. Faktor pribadi juga adalah menjadi titik tolak pendidikan diri sendiri. Dan bertujuan kembali kepada pribadi pula. Dengan kata lain, mengenal dan mendidik pribadi sendiri artinya mengawali kesadaran sebagai makhluk ciptaan, yang harus tahu diri kepada Dzat Tertinggi yang menciptakannya. Sehingga dapat dikatakan, dengan mengenal diri sendiri secara keseluruhan, maka kita mengenal Allah Yang Maha Pencipta.

Untuk mewujudkan hal itu, maka dalam melakukan pembinaan pribadi ini, perlu adanya faktor agama sebagai landasan dalam menjaga keseimbangan eksistensi insan secara otentik. Cara terbaik dalam mengembangkannya ialah dengan senantiasa berpatokan pada “Takhallaquu Bi Akhlaqillaah” (berakhlaqlah dengan akhlaq Allah).

Konsepsi tauhid ini dalam Islam bermaksud menuntun orang untuk mengenal dan menyesuaikan penerapan nilai rendah dan nilai tinggi seorang pribadi dalam hidup yang selaras dengan kehendak Allah di dalam mewujudkan ciptaan-Nya. Janganlah kita sebagai hamba hendak berlaku sombong terhadap Allah dengan tidak mentaati perintah dan larangan-Nya, sedang sebagai makhluk yang seharusnya mengatur dan menundukan alam ini, malahan kita meredusir harga diri dan merendahkan nilai pribadi sebagai “raja makhluk.” (S. Qamarulhadi; 1986: 220).

Berawal dari pembinaan pribadi dengan berpatokan pada akhlaq Allah, kemudian yang perlu ditata pada pribadi kita dengan tekun agar mencapai pribadi sukses ialah harus memiliki iman dan ilmu. Dua syarat ini adalah mutlak, seperti dinyatakan dalam Alquran surat Al-Mujaadilah: 11, yang artinya: “…. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan mereka yang telah diberi ilmu, beberapa tingkat …..”

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. Dalam hal ini, M. Ridwan IR Lubis (1985) menuliskan bahwa untuk kesuksesan hati dan otak diperlukan ketekunan. Dari sifat tekun akan menyorot hati dan otak kita. Adapun untuk membangun dan mengembangkan suatu pekerjaan dengan tekun, maka diperlukan empat sikap mental, yaitu:

1.    Kerjakan menurut kemampuan. Segala sesuatu haruslah dikerjakan menurut kemampuan kita, jangan kerjakan sesuatu diluar kemampuan kita. Karena hasil yang didapat akan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

2.    Mengutamakan yang penting. Setelah kita dapat mengerjakan sesuatu, maka hendaklah kita terlebih dahulu melakukan penyortiran. Pekerjaan mana yang harus didahulukan. Maka lakukan penilaian terlebih dahulu terhadap pekerjaan tersebut. Mana yang penting, perlu dan berguna.

3.    Tetapkan pendirian. Anda jangan mudah diombang-ambingkan oleh orang lain, sehingga membuat rencana menjadi buyar. Anda harus tetapkan pendirian untuk mencapai apa yang anda cita-citakan.

4.    Jangan berputus asa. Tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah merupakan kekejaman Allah. Misalnya, kalau kita mendapati pekerjaan yang belum berhasil, maka kita harus bersabar. Karena kita harus yakin bahwa segala sesuatunya Allah sajalah yang amat mengetahui rahasia alam ini, termasuk rahasia dari ketidakberhasilan apa yang kita rencanakan. Jadi, kita tidak boleh berputus asa.

Akhirnya, kita harus sadar betul bahwa esensi kehidupan ini terletak pada pembentukan semangat dan cita-cita untuk memelihara dan menegakan kepribadian, sehingga kehidupan memperoleh daya mengembang dari dirinya sendiri beberapa alas kekuatan, seperti: memori intelektif, kecerdasan, keahlian, keteguhan hati, keikhlasan yang banyak membantu mengasimilasi kebiasaan dan perilaku kita.

Orang baik itu ialah orang yang selalu mencari jalan keluarnya setiap kali mendapat masalah. Bukannya menciptakan masalah dan kita sendiri yang menjadi sumber masalah bagi masyarakat. Sedangkan sukses itu hakekatnya adalah bagaimana setiap hari, waktu, saat, selalu berusaha memperbaiki diri dan menambah ilmu untuk menuju keridhoan Allah. Sehingga memiliki pandangan terhadap diri sendiri begitu penting bagi seseorang yang ingin mengelola diri menjadi sukses dalam hidup ini. Patut kita renungkan pernyataan yang menyebutkan, “Sukses tidak identik dengan posisi atau gelar dunia, tetapi seberapa besar Personal Vision (pandangan Pribadi) yang dimiliki seseorang.” Wallahu’alam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. 

Ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya.

Idealisme dan Kreatifitas, Kunci Pribadi Sukses

MUSTAFA AL-RAFI’IE menggambarkan masa muda dengan mengatakan bahwa pemuda adalah kekuatan, sebab matahari tidak dapat bersinar di senja hari seterang ketika di waktu pagi. Pada masa muda ada saat ketika mati dianggap sebagai tidur, dan pohon pun berbuah ketika masih muda dan sesudah itu semua pohon tidak lagi menghasilkan apa pun kecuali kayu (Ashur Ahams; 1978).

Bagi pemuda, realitas kehidupan yang dihadapinya sering kali dipersepsikan sebagai kenyataan yang membatasi idealisme dan hasrat yang mendominasi pikirannya. Sehingga perlu disadari bahwa kedewasaan merupakan tahap kehidupan yang pasti dijalaninya. Bila pada tahap muda dapat dicapai afeks pertumbuhan fisikis, maka dalam tahap dewasa terjadi kematangan pertumbuhan psikik. Arti lainnya, kedewasaan seseorang itu minimal harus memenuhi enam syarat, yaitu memiliki kemampuan “lebih banyak diam daripada berbicara”; memiliki empati yang tinggi; bersikap waro; memiliki sikap amanah; menjadi suritauladan; dan bertindak adil.    

Dalam hal ini, Dr. M. Manzoor Alam (1989), menyebutkan ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya. Adapun parameter yang bisa kita amati dari generasi model ini, diantaranya berupa:

v  Pertama, mempunyai keterikatan pada Ilahi. Di dalamnya terhujam rasa cinta yang membara kepada Allah dan melangkahkan kaki sesuai dengan kehendak Allah, sebagai kekasihnya. Satu-satunya alternatif dalam hidupnya adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. (QS. 6: 162 dan QS. 3: 31).

v  Kedua, memiliki keberanian untuk berjihad dengan harta dan jiwa demi tegaknya kalimatullah (QS. 9: 41).

v  Ketiga, berserah diri secara total (kafah) kepada Allah dengan harapan mendapat petunjuk dan keridhoan-Nya (QS. 2: 128).

v  Keempat, memberikan penghormatan kepada kedua orang tuanya sebagai salah satu alternatif untuk mendapatkan keridhoan Allah (QS. 17: 23-24 dan QS. 31: 14).

v  Kelima, membina diri untuk selalu menegakkan sholat, berakhlak bijaksana dalam da’wah serta memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan. Dan rendah hati, tidak takabbur, dan tidak ingin pujian serta membantu orang yang lemah dengan harapan mendapat cinta Allah (QS. 31: 17).

v  Keenam, gandrung akan ilmu pengetahuan, peka terhadap lingkungan, banyak berdzikir dan pandai membaca situasi dan kondisi yang berkembang (QS. 39:91).

v  Ketujuh, memiliki perkataan dan tingkah laku yang lemah lembut, sangat kuat pendiriannya terhadap kebenaran, bagaikan bangunan yang berdiri kokoh, sehingga ia tidak takut dan berduka cita (QS. 46: 13-14).

v  Kedelapan, gemar membaca Alquran dan menjadikannya sebagai sistem kehidupan. Dengan Alquran ia dapat membedakan antara haq dan bathil, cara berpikir dan bertindaknya didasari pada Alquran dan Sunah Nabi. Ia berusaha untuk menjadi Quran yang hidup dan ia tidak suka kalau hanya bicara tanpa beramal, karena Allah memang tidak suka pada yang demikian. (QS. 2: 44 dan QS 61: 2-3).

Berpikir Kreatif

Untuk mengaktualisasikan karakteristik generasi Rabbi Rodhiya tersebut, maka di sini diperlukan sebuah pola pikir kreatif. Berbicara kreativitas, kita tidak akan terlepas dari fungsi otak manusia. Para ahli jiwa mengatakan, otak manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak kiri merupakan pusat fungsi intelektual seperti daya ingat, bahasa, logika perhitungan, daya analisis, dan pemikiran konvergen (cara berpikir searah). Dan otak kanan berfungsi mengandalkan mental dengan melibatkan intuisi, sikap, emosi, gambar, musik dan irama, gerak dan tari, serta pikiran divergen (menyebar/bercabang).

Namun, menurut Yogy RY (Remaja Kreatif Hindari Penggangguran; 2000), disebutkan kenyataannya kebanyakan orang cenderung hanya menggunakan otak kiri jika menghadapi persoalan. Padahal, jika diseimbangkan dengan memfungsikan otak kanan, orang akan berpikir lebih jernih dalam memecahkan persoalan.

Untuk itu, bagi yang mampu berpikir benar (berpikir dengan otak kiri dan kanan), maka mereka (baca: pemuda) sudah punya pola berpikir kreatif. Karenanya ia sanggup memelihara suatu virus dalam dirinya yang dinamakan N-ach (virus mental yang sanggup mengkondisikan manusia selalu dalam keadaan kreatif).

Kreativitas sendiri merupakan suatu bidang kajian yang sulit. Menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Definisi kreativitas menurut Dedi Supriadi (Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek; 1994), digolongkan menjadi definisi secara konsensual dan konseptual. Definisi konsensual menekankan segi produk kreatif yang dinilai derajat kreativitasnya oleh pengamat yang ahli.

Sedangkan definisi konseptual bertolak dari konsep tertentu tentang kreativitas yang dijabarkan ke dalam kriteria tentang apa yang disebut kreatif. Meskipun tetap menekankan segi produk, definisi ini tidak mengandalkan semata-mata pada konsensus pengamat dalam menilai kreativitas, melainkan didasarkan pada kriteria tertentu. Amabile (1983: 33), secara konseptual melukiskan bahwa suatu produk dinilai kreatif apabila: (a) produk tersebut bersifat baru, unik, berguna, benar, atau bernilai dilihat dari segi kebutuhan tertentu; (b) lebih bersifat heuristik, yaitu menampilkan metode yang masih belum pernah atau jarang dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

Jadi, unsur idealisme dan kreativitas ini dalam kehidupan manusia merupakan sesuatu yang menjadi salah satu kunci sukses seseorang. Dan orang sukses bukan berarti tanpa mengalami kegagalan. Kalah-menang akan silih berganti. Tapi, di sinilah justru letak perbedaan antara orang berjiwa besar (dewasa) dan berjiwa biasa (tidak dewasa).

Bagi orang yang dewasa, kekalahan yang dialaminya akan dimanfaatkan sebagai pendorong untuk lebih maju. Tapi bagi orang yang tidak dewasa, setiap kekalahan yang dialaminya, akan dianggap sebagai halangan untuk mencapai tujuan. Thamrin Nasution (1980), menyebutkan timbulnya kekalahan adalah disebabkan kurangnya pengetahuan yang mendalam mengenai masalah yang dihadapi itu. Dan hal ini akan dapat diatasi dengan memperdalam pengetahuan tentang masalahnya.

Membina Pribadi Sukses

Dalam pandangan Islam, bahwa ‘manusia’ itu yang menjadi pokok utama. Pribadi merupakan faktor konstitusi moral dan bertanggung jawab atasnya. Faktor pribadi juga adalah menjadi titik tolak pendidikan diri sendiri. Dan bertujuan kembali kepada pribadi pula. Dengan kata lain, mengenal dan mendidik pribadi sendiri artinya mengawali kesadaran sebagai makhluk ciptaan, yang harus tahu diri kepada Dzat Tertinggi yang menciptakannya. Sehingga dapat dikatakan, dengan mengenal diri sendiri secara keseluruhan, maka kita mengenal Allah Yang Maha Pencipta.

Untuk mewujudkan hal itu, maka dalam melakukan pembinaan pribadi ini, perlu adanya faktor agama sebagai landasan dalam menjaga keseimbangan eksistensi insan secara otentik. Cara terbaik dalam mengembangkannya ialah dengan senantiasa berpatokan pada “Takhallaquu Bi Akhlaqillaah” (berakhlaqlah dengan akhlaq Allah).

Konsepsi tauhid ini dalam Islam bermaksud menuntun orang untuk mengenal dan menyesuaikan penerapan nilai rendah dan nilai tinggi seorang pribadi dalam hidup yang selaras dengan kehendak Allah di dalam mewujudkan ciptaan-Nya. Janganlah kita sebagai hamba hendak berlaku sombong terhadap Allah dengan tidak mentaati perintah dan larangan-Nya, sedang sebagai makhluk yang seharusnya mengatur dan menundukan alam ini, malahan kita meredusir harga diri dan merendahkan nilai pribadi sebagai “raja makhluk.” (S. Qamarulhadi; 1986: 220).

Berawal dari pembinaan pribadi dengan berpatokan pada akhlaq Allah, kemudian yang perlu ditata pada pribadi kita dengan tekun agar mencapai pribadi sukses ialah harus memiliki iman dan ilmu. Dua syarat ini adalah mutlak, seperti dinyatakan dalam Alquran surat Al-Mujaadilah: 11, yang artinya: “…. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan mereka yang telah diberi ilmu, beberapa tingkat …..”

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. Dalam hal ini, M. Ridwan IR Lubis (1985) menuliskan bahwa untuk kesuksesan hati dan otak diperlukan ketekunan. Dari sifat tekun akan menyorot hati dan otak kita. Adapun untuk membangun dan mengembangkan suatu pekerjaan dengan tekun, maka diperlukan empat sikap mental, yaitu:

1.    Kerjakan menurut kemampuan. Segala sesuatu haruslah dikerjakan menurut kemampuan kita, jangan kerjakan sesuatu diluar kemampuan kita. Karena hasil yang didapat akan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

2.    Mengutamakan yang penting. Setelah kita dapat mengerjakan sesuatu, maka hendaklah kita terlebih dahulu melakukan penyortiran. Pekerjaan mana yang harus didahulukan. Maka lakukan penilaian terlebih dahulu terhadap pekerjaan tersebut. Mana yang penting, perlu dan berguna.

3.    Tetapkan pendirian. Anda jangan mudah diombang-ambingkan oleh orang lain, sehingga membuat rencana menjadi buyar. Anda harus tetapkan pendirian untuk mencapai apa yang anda cita-citakan.

4.    Jangan berputus asa. Tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah merupakan kekejaman Allah. Misalnya, kalau kita mendapati pekerjaan yang belum berhasil, maka kita harus bersabar. Karena kita harus yakin bahwa segala sesuatunya Allah sajalah yang amat mengetahui rahasia alam ini, termasuk rahasia dari ketidakberhasilan apa yang kita rencanakan. Jadi, kita tidak boleh berputus asa.

Akhirnya, kita harus sadar betul bahwa esensi kehidupan ini terletak pada pembentukan semangat dan cita-cita untuk memelihara dan menegakan kepribadian, sehingga kehidupan memperoleh daya mengembang dari dirinya sendiri beberapa alas kekuatan, seperti: memori intelektif, kecerdasan, keahlian, keteguhan hati, keikhlasan yang banyak membantu mengasimilasi kebiasaan dan perilaku kita.

Orang baik itu ialah orang yang selalu mencari jalan keluarnya setiap kali mendapat masalah. Bukannya menciptakan masalah dan kita sendiri yang menjadi sumber masalah bagi masyarakat. Sedangkan sukses itu hakekatnya adalah bagaimana setiap hari, waktu, saat, selalu berusaha memperbaiki diri dan menambah ilmu untuk menuju keridhoan Allah. Sehingga memiliki pandangan terhadap diri sendiri begitu penting bagi seseorang yang ingin mengelola diri menjadi sukses dalam hidup ini. Patut kita renungkan pernyataan yang menyebutkan, “Sukses tidak identik dengan posisi atau gelar dunia, tetapi seberapa besar Personal Vision (pandangan Pribadi) yang dimiliki seseorang.” Wallahu’alam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. 

Ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya.

Idealisme dan Kreatifitas, Kunci Pribadi Sukses

MUSTAFA AL-RAFI’IE menggambarkan masa muda dengan mengatakan bahwa pemuda adalah kekuatan, sebab matahari tidak dapat bersinar di senja hari seterang ketika di waktu pagi. Pada masa muda ada saat ketika mati dianggap sebagai tidur, dan pohon pun berbuah ketika masih muda dan sesudah itu semua pohon tidak lagi menghasilkan apa pun kecuali kayu (Ashur Ahams; 1978).

Bagi pemuda, realitas kehidupan yang dihadapinya sering kali dipersepsikan sebagai kenyataan yang membatasi idealisme dan hasrat yang mendominasi pikirannya. Sehingga perlu disadari bahwa kedewasaan merupakan tahap kehidupan yang pasti dijalaninya. Bila pada tahap muda dapat dicapai afeks pertumbuhan fisikis, maka dalam tahap dewasa terjadi kematangan pertumbuhan psikik. Arti lainnya, kedewasaan seseorang itu minimal harus memenuhi enam syarat, yaitu memiliki kemampuan “lebih banyak diam daripada berbicara”; memiliki empati yang tinggi; bersikap waro; memiliki sikap amanah; menjadi suritauladan; dan bertindak adil.    

Dalam hal ini, Dr. M. Manzoor Alam (1989), menyebutkan ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya. Adapun parameter yang bisa kita amati dari generasi model ini, diantaranya berupa:

v  Pertama, mempunyai keterikatan pada Ilahi. Di dalamnya terhujam rasa cinta yang membara kepada Allah dan melangkahkan kaki sesuai dengan kehendak Allah, sebagai kekasihnya. Satu-satunya alternatif dalam hidupnya adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. (QS. 6: 162 dan QS. 3: 31).

v  Kedua, memiliki keberanian untuk berjihad dengan harta dan jiwa demi tegaknya kalimatullah (QS. 9: 41).

v  Ketiga, berserah diri secara total (kafah) kepada Allah dengan harapan mendapat petunjuk dan keridhoan-Nya (QS. 2: 128).

v  Keempat, memberikan penghormatan kepada kedua orang tuanya sebagai salah satu alternatif untuk mendapatkan keridhoan Allah (QS. 17: 23-24 dan QS. 31: 14).

v  Kelima, membina diri untuk selalu menegakkan sholat, berakhlak bijaksana dalam da’wah serta memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan. Dan rendah hati, tidak takabbur, dan tidak ingin pujian serta membantu orang yang lemah dengan harapan mendapat cinta Allah (QS. 31: 17).

v  Keenam, gandrung akan ilmu pengetahuan, peka terhadap lingkungan, banyak berdzikir dan pandai membaca situasi dan kondisi yang berkembang (QS. 39:91).

v  Ketujuh, memiliki perkataan dan tingkah laku yang lemah lembut, sangat kuat pendiriannya terhadap kebenaran, bagaikan bangunan yang berdiri kokoh, sehingga ia tidak takut dan berduka cita (QS. 46: 13-14).

v  Kedelapan, gemar membaca Alquran dan menjadikannya sebagai sistem kehidupan. Dengan Alquran ia dapat membedakan antara haq dan bathil, cara berpikir dan bertindaknya didasari pada Alquran dan Sunah Nabi. Ia berusaha untuk menjadi Quran yang hidup dan ia tidak suka kalau hanya bicara tanpa beramal, karena Allah memang tidak suka pada yang demikian. (QS. 2: 44 dan QS 61: 2-3).

Berpikir Kreatif

Untuk mengaktualisasikan karakteristik generasi Rabbi Rodhiya tersebut, maka di sini diperlukan sebuah pola pikir kreatif. Berbicara kreativitas, kita tidak akan terlepas dari fungsi otak manusia. Para ahli jiwa mengatakan, otak manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak kiri merupakan pusat fungsi intelektual seperti daya ingat, bahasa, logika perhitungan, daya analisis, dan pemikiran konvergen (cara berpikir searah). Dan otak kanan berfungsi mengandalkan mental dengan melibatkan intuisi, sikap, emosi, gambar, musik dan irama, gerak dan tari, serta pikiran divergen (menyebar/bercabang).

Namun, menurut Yogy RY (Remaja Kreatif Hindari Penggangguran; 2000), disebutkan kenyataannya kebanyakan orang cenderung hanya menggunakan otak kiri jika menghadapi persoalan. Padahal, jika diseimbangkan dengan memfungsikan otak kanan, orang akan berpikir lebih jernih dalam memecahkan persoalan.

Untuk itu, bagi yang mampu berpikir benar (berpikir dengan otak kiri dan kanan), maka mereka (baca: pemuda) sudah punya pola berpikir kreatif. Karenanya ia sanggup memelihara suatu virus dalam dirinya yang dinamakan N-ach (virus mental yang sanggup mengkondisikan manusia selalu dalam keadaan kreatif).

Kreativitas sendiri merupakan suatu bidang kajian yang sulit. Menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Definisi kreativitas menurut Dedi Supriadi (Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek; 1994), digolongkan menjadi definisi secara konsensual dan konseptual. Definisi konsensual menekankan segi produk kreatif yang dinilai derajat kreativitasnya oleh pengamat yang ahli.

Sedangkan definisi konseptual bertolak dari konsep tertentu tentang kreativitas yang dijabarkan ke dalam kriteria tentang apa yang disebut kreatif. Meskipun tetap menekankan segi produk, definisi ini tidak mengandalkan semata-mata pada konsensus pengamat dalam menilai kreativitas, melainkan didasarkan pada kriteria tertentu. Amabile (1983: 33), secara konseptual melukiskan bahwa suatu produk dinilai kreatif apabila: (a) produk tersebut bersifat baru, unik, berguna, benar, atau bernilai dilihat dari segi kebutuhan tertentu; (b) lebih bersifat heuristik, yaitu menampilkan metode yang masih belum pernah atau jarang dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

Jadi, unsur idealisme dan kreativitas ini dalam kehidupan manusia merupakan sesuatu yang menjadi salah satu kunci sukses seseorang. Dan orang sukses bukan berarti tanpa mengalami kegagalan. Kalah-menang akan silih berganti. Tapi, di sinilah justru letak perbedaan antara orang berjiwa besar (dewasa) dan berjiwa biasa (tidak dewasa).

Bagi orang yang dewasa, kekalahan yang dialaminya akan dimanfaatkan sebagai pendorong untuk lebih maju. Tapi bagi orang yang tidak dewasa, setiap kekalahan yang dialaminya, akan dianggap sebagai halangan untuk mencapai tujuan. Thamrin Nasution (1980), menyebutkan timbulnya kekalahan adalah disebabkan kurangnya pengetahuan yang mendalam mengenai masalah yang dihadapi itu. Dan hal ini akan dapat diatasi dengan memperdalam pengetahuan tentang masalahnya.

Membina Pribadi Sukses

Dalam pandangan Islam, bahwa ‘manusia’ itu yang menjadi pokok utama. Pribadi merupakan faktor konstitusi moral dan bertanggung jawab atasnya. Faktor pribadi juga adalah menjadi titik tolak pendidikan diri sendiri. Dan bertujuan kembali kepada pribadi pula. Dengan kata lain, mengenal dan mendidik pribadi sendiri artinya mengawali kesadaran sebagai makhluk ciptaan, yang harus tahu diri kepada Dzat Tertinggi yang menciptakannya. Sehingga dapat dikatakan, dengan mengenal diri sendiri secara keseluruhan, maka kita mengenal Allah Yang Maha Pencipta.

Untuk mewujudkan hal itu, maka dalam melakukan pembinaan pribadi ini, perlu adanya faktor agama sebagai landasan dalam menjaga keseimbangan eksistensi insan secara otentik. Cara terbaik dalam mengembangkannya ialah dengan senantiasa berpatokan pada “Takhallaquu Bi Akhlaqillaah” (berakhlaqlah dengan akhlaq Allah).

Konsepsi tauhid ini dalam Islam bermaksud menuntun orang untuk mengenal dan menyesuaikan penerapan nilai rendah dan nilai tinggi seorang pribadi dalam hidup yang selaras dengan kehendak Allah di dalam mewujudkan ciptaan-Nya. Janganlah kita sebagai hamba hendak berlaku sombong terhadap Allah dengan tidak mentaati perintah dan larangan-Nya, sedang sebagai makhluk yang seharusnya mengatur dan menundukan alam ini, malahan kita meredusir harga diri dan merendahkan nilai pribadi sebagai “raja makhluk.” (S. Qamarulhadi; 1986: 220).

Berawal dari pembinaan pribadi dengan berpatokan pada akhlaq Allah, kemudian yang perlu ditata pada pribadi kita dengan tekun agar mencapai pribadi sukses ialah harus memiliki iman dan ilmu. Dua syarat ini adalah mutlak, seperti dinyatakan dalam Alquran surat Al-Mujaadilah: 11, yang artinya: “…. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan mereka yang telah diberi ilmu, beberapa tingkat …..”

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. Dalam hal ini, M. Ridwan IR Lubis (1985) menuliskan bahwa untuk kesuksesan hati dan otak diperlukan ketekunan. Dari sifat tekun akan menyorot hati dan otak kita. Adapun untuk membangun dan mengembangkan suatu pekerjaan dengan tekun, maka diperlukan empat sikap mental, yaitu:

1.    Kerjakan menurut kemampuan. Segala sesuatu haruslah dikerjakan menurut kemampuan kita, jangan kerjakan sesuatu diluar kemampuan kita. Karena hasil yang didapat akan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

2.    Mengutamakan yang penting. Setelah kita dapat mengerjakan sesuatu, maka hendaklah kita terlebih dahulu melakukan penyortiran. Pekerjaan mana yang harus didahulukan. Maka lakukan penilaian terlebih dahulu terhadap pekerjaan tersebut. Mana yang penting, perlu dan berguna.

3.    Tetapkan pendirian. Anda jangan mudah diombang-ambingkan oleh orang lain, sehingga membuat rencana menjadi buyar. Anda harus tetapkan pendirian untuk mencapai apa yang anda cita-citakan.

4.    Jangan berputus asa. Tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah merupakan kekejaman Allah. Misalnya, kalau kita mendapati pekerjaan yang belum berhasil, maka kita harus bersabar. Karena kita harus yakin bahwa segala sesuatunya Allah sajalah yang amat mengetahui rahasia alam ini, termasuk rahasia dari ketidakberhasilan apa yang kita rencanakan. Jadi, kita tidak boleh berputus asa.

Akhirnya, kita harus sadar betul bahwa esensi kehidupan ini terletak pada pembentukan semangat dan cita-cita untuk memelihara dan menegakan kepribadian, sehingga kehidupan memperoleh daya mengembang dari dirinya sendiri beberapa alas kekuatan, seperti: memori intelektif, kecerdasan, keahlian, keteguhan hati, keikhlasan yang banyak membantu mengasimilasi kebiasaan dan perilaku kita.

Orang baik itu ialah orang yang selalu mencari jalan keluarnya setiap kali mendapat masalah. Bukannya menciptakan masalah dan kita sendiri yang menjadi sumber masalah bagi masyarakat. Sedangkan sukses itu hakekatnya adalah bagaimana setiap hari, waktu, saat, selalu berusaha memperbaiki diri dan menambah ilmu untuk menuju keridhoan Allah. Sehingga memiliki pandangan terhadap diri sendiri begitu penting bagi seseorang yang ingin mengelola diri menjadi sukses dalam hidup ini. Patut kita renungkan pernyataan yang menyebutkan, “Sukses tidak identik dengan posisi atau gelar dunia, tetapi seberapa besar Personal Vision (pandangan Pribadi) yang dimiliki seseorang.” Wallahu’alam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. 

Ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya.

Idealisme dan Kreatifitas, Kunci Pribadi Sukses

MUSTAFA AL-RAFI’IE menggambarkan masa muda dengan mengatakan bahwa pemuda adalah kekuatan, sebab matahari tidak dapat bersinar di senja hari seterang ketika di waktu pagi. Pada masa muda ada saat ketika mati dianggap sebagai tidur, dan pohon pun berbuah ketika masih muda dan sesudah itu semua pohon tidak lagi menghasilkan apa pun kecuali kayu (Ashur Ahams; 1978).

Bagi pemuda, realitas kehidupan yang dihadapinya sering kali dipersepsikan sebagai kenyataan yang membatasi idealisme dan hasrat yang mendominasi pikirannya. Sehingga perlu disadari bahwa kedewasaan merupakan tahap kehidupan yang pasti dijalaninya. Bila pada tahap muda dapat dicapai afeks pertumbuhan fisikis, maka dalam tahap dewasa terjadi kematangan pertumbuhan psikik. Arti lainnya, kedewasaan seseorang itu minimal harus memenuhi enam syarat, yaitu memiliki kemampuan “lebih banyak diam daripada berbicara”; memiliki empati yang tinggi; bersikap waro; memiliki sikap amanah; menjadi suritauladan; dan bertindak adil.    

Dalam hal ini, Dr. M. Manzoor Alam (1989), menyebutkan ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya. Adapun parameter yang bisa kita amati dari generasi model ini, diantaranya berupa:

v  Pertama, mempunyai keterikatan pada Ilahi. Di dalamnya terhujam rasa cinta yang membara kepada Allah dan melangkahkan kaki sesuai dengan kehendak Allah, sebagai kekasihnya. Satu-satunya alternatif dalam hidupnya adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. (QS. 6: 162 dan QS. 3: 31).

v  Kedua, memiliki keberanian untuk berjihad dengan harta dan jiwa demi tegaknya kalimatullah (QS. 9: 41).

v  Ketiga, berserah diri secara total (kafah) kepada Allah dengan harapan mendapat petunjuk dan keridhoan-Nya (QS. 2: 128).

v  Keempat, memberikan penghormatan kepada kedua orang tuanya sebagai salah satu alternatif untuk mendapatkan keridhoan Allah (QS. 17: 23-24 dan QS. 31: 14).

v  Kelima, membina diri untuk selalu menegakkan sholat, berakhlak bijaksana dalam da’wah serta memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan. Dan rendah hati, tidak takabbur, dan tidak ingin pujian serta membantu orang yang lemah dengan harapan mendapat cinta Allah (QS. 31: 17).

v  Keenam, gandrung akan ilmu pengetahuan, peka terhadap lingkungan, banyak berdzikir dan pandai membaca situasi dan kondisi yang berkembang (QS. 39:91).

v  Ketujuh, memiliki perkataan dan tingkah laku yang lemah lembut, sangat kuat pendiriannya terhadap kebenaran, bagaikan bangunan yang berdiri kokoh, sehingga ia tidak takut dan berduka cita (QS. 46: 13-14).

v  Kedelapan, gemar membaca Alquran dan menjadikannya sebagai sistem kehidupan. Dengan Alquran ia dapat membedakan antara haq dan bathil, cara berpikir dan bertindaknya didasari pada Alquran dan Sunah Nabi. Ia berusaha untuk menjadi Quran yang hidup dan ia tidak suka kalau hanya bicara tanpa beramal, karena Allah memang tidak suka pada yang demikian. (QS. 2: 44 dan QS 61: 2-3).

Berpikir Kreatif

Untuk mengaktualisasikan karakteristik generasi Rabbi Rodhiya tersebut, maka di sini diperlukan sebuah pola pikir kreatif. Berbicara kreativitas, kita tidak akan terlepas dari fungsi otak manusia. Para ahli jiwa mengatakan, otak manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak kiri merupakan pusat fungsi intelektual seperti daya ingat, bahasa, logika perhitungan, daya analisis, dan pemikiran konvergen (cara berpikir searah). Dan otak kanan berfungsi mengandalkan mental dengan melibatkan intuisi, sikap, emosi, gambar, musik dan irama, gerak dan tari, serta pikiran divergen (menyebar/bercabang).

Namun, menurut Yogy RY (Remaja Kreatif Hindari Penggangguran; 2000), disebutkan kenyataannya kebanyakan orang cenderung hanya menggunakan otak kiri jika menghadapi persoalan. Padahal, jika diseimbangkan dengan memfungsikan otak kanan, orang akan berpikir lebih jernih dalam memecahkan persoalan.

Untuk itu, bagi yang mampu berpikir benar (berpikir dengan otak kiri dan kanan), maka mereka (baca: pemuda) sudah punya pola berpikir kreatif. Karenanya ia sanggup memelihara suatu virus dalam dirinya yang dinamakan N-ach (virus mental yang sanggup mengkondisikan manusia selalu dalam keadaan kreatif).

Kreativitas sendiri merupakan suatu bidang kajian yang sulit. Menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Definisi kreativitas menurut Dedi Supriadi (Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek; 1994), digolongkan menjadi definisi secara konsensual dan konseptual. Definisi konsensual menekankan segi produk kreatif yang dinilai derajat kreativitasnya oleh pengamat yang ahli.

Sedangkan definisi konseptual bertolak dari konsep tertentu tentang kreativitas yang dijabarkan ke dalam kriteria tentang apa yang disebut kreatif. Meskipun tetap menekankan segi produk, definisi ini tidak mengandalkan semata-mata pada konsensus pengamat dalam menilai kreativitas, melainkan didasarkan pada kriteria tertentu. Amabile (1983: 33), secara konseptual melukiskan bahwa suatu produk dinilai kreatif apabila: (a) produk tersebut bersifat baru, unik, berguna, benar, atau bernilai dilihat dari segi kebutuhan tertentu; (b) lebih bersifat heuristik, yaitu menampilkan metode yang masih belum pernah atau jarang dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

Jadi, unsur idealisme dan kreativitas ini dalam kehidupan manusia merupakan sesuatu yang menjadi salah satu kunci sukses seseorang. Dan orang sukses bukan berarti tanpa mengalami kegagalan. Kalah-menang akan silih berganti. Tapi, di sinilah justru letak perbedaan antara orang berjiwa besar (dewasa) dan berjiwa biasa (tidak dewasa).

Bagi orang yang dewasa, kekalahan yang dialaminya akan dimanfaatkan sebagai pendorong untuk lebih maju. Tapi bagi orang yang tidak dewasa, setiap kekalahan yang dialaminya, akan dianggap sebagai halangan untuk mencapai tujuan. Thamrin Nasution (1980), menyebutkan timbulnya kekalahan adalah disebabkan kurangnya pengetahuan yang mendalam mengenai masalah yang dihadapi itu. Dan hal ini akan dapat diatasi dengan memperdalam pengetahuan tentang masalahnya.

Membina Pribadi Sukses

Dalam pandangan Islam, bahwa ‘manusia’ itu yang menjadi pokok utama. Pribadi merupakan faktor konstitusi moral dan bertanggung jawab atasnya. Faktor pribadi juga adalah menjadi titik tolak pendidikan diri sendiri. Dan bertujuan kembali kepada pribadi pula. Dengan kata lain, mengenal dan mendidik pribadi sendiri artinya mengawali kesadaran sebagai makhluk ciptaan, yang harus tahu diri kepada Dzat Tertinggi yang menciptakannya. Sehingga dapat dikatakan, dengan mengenal diri sendiri secara keseluruhan, maka kita mengenal Allah Yang Maha Pencipta.

Untuk mewujudkan hal itu, maka dalam melakukan pembinaan pribadi ini, perlu adanya faktor agama sebagai landasan dalam menjaga keseimbangan eksistensi insan secara otentik. Cara terbaik dalam mengembangkannya ialah dengan senantiasa berpatokan pada “Takhallaquu Bi Akhlaqillaah” (berakhlaqlah dengan akhlaq Allah).

Konsepsi tauhid ini dalam Islam bermaksud menuntun orang untuk mengenal dan menyesuaikan penerapan nilai rendah dan nilai tinggi seorang pribadi dalam hidup yang selaras dengan kehendak Allah di dalam mewujudkan ciptaan-Nya. Janganlah kita sebagai hamba hendak berlaku sombong terhadap Allah dengan tidak mentaati perintah dan larangan-Nya, sedang sebagai makhluk yang seharusnya mengatur dan menundukan alam ini, malahan kita meredusir harga diri dan merendahkan nilai pribadi sebagai “raja makhluk.” (S. Qamarulhadi; 1986: 220).

Berawal dari pembinaan pribadi dengan berpatokan pada akhlaq Allah, kemudian yang perlu ditata pada pribadi kita dengan tekun agar mencapai pribadi sukses ialah harus memiliki iman dan ilmu. Dua syarat ini adalah mutlak, seperti dinyatakan dalam Alquran surat Al-Mujaadilah: 11, yang artinya: “…. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan mereka yang telah diberi ilmu, beberapa tingkat …..”

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. Dalam hal ini, M. Ridwan IR Lubis (1985) menuliskan bahwa untuk kesuksesan hati dan otak diperlukan ketekunan. Dari sifat tekun akan menyorot hati dan otak kita. Adapun untuk membangun dan mengembangkan suatu pekerjaan dengan tekun, maka diperlukan empat sikap mental, yaitu:

1.    Kerjakan menurut kemampuan. Segala sesuatu haruslah dikerjakan menurut kemampuan kita, jangan kerjakan sesuatu diluar kemampuan kita. Karena hasil yang didapat akan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

2.    Mengutamakan yang penting. Setelah kita dapat mengerjakan sesuatu, maka hendaklah kita terlebih dahulu melakukan penyortiran. Pekerjaan mana yang harus didahulukan. Maka lakukan penilaian terlebih dahulu terhadap pekerjaan tersebut. Mana yang penting, perlu dan berguna.

3.    Tetapkan pendirian. Anda jangan mudah diombang-ambingkan oleh orang lain, sehingga membuat rencana menjadi buyar. Anda harus tetapkan pendirian untuk mencapai apa yang anda cita-citakan.

4.    Jangan berputus asa. Tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah merupakan kekejaman Allah. Misalnya, kalau kita mendapati pekerjaan yang belum berhasil, maka kita harus bersabar. Karena kita harus yakin bahwa segala sesuatunya Allah sajalah yang amat mengetahui rahasia alam ini, termasuk rahasia dari ketidakberhasilan apa yang kita rencanakan. Jadi, kita tidak boleh berputus asa.

Akhirnya, kita harus sadar betul bahwa esensi kehidupan ini terletak pada pembentukan semangat dan cita-cita untuk memelihara dan menegakan kepribadian, sehingga kehidupan memperoleh daya mengembang dari dirinya sendiri beberapa alas kekuatan, seperti: memori intelektif, kecerdasan, keahlian, keteguhan hati, keikhlasan yang banyak membantu mengasimilasi kebiasaan dan perilaku kita.

Orang baik itu ialah orang yang selalu mencari jalan keluarnya setiap kali mendapat masalah. Bukannya menciptakan masalah dan kita sendiri yang menjadi sumber masalah bagi masyarakat. Sedangkan sukses itu hakekatnya adalah bagaimana setiap hari, waktu, saat, selalu berusaha memperbaiki diri dan menambah ilmu untuk menuju keridhoan Allah. Sehingga memiliki pandangan terhadap diri sendiri begitu penting bagi seseorang yang ingin mengelola diri menjadi sukses dalam hidup ini. Patut kita renungkan pernyataan yang menyebutkan, “Sukses tidak identik dengan posisi atau gelar dunia, tetapi seberapa besar Personal Vision (pandangan Pribadi) yang dimiliki seseorang.” Wallahu’alam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. 

Ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya.

Idealisme dan Kreatifitas, Kunci Pribadi Sukses

MUSTAFA AL-RAFI’IE menggambarkan masa muda dengan mengatakan bahwa pemuda adalah kekuatan, sebab matahari tidak dapat bersinar di senja hari seterang ketika di waktu pagi. Pada masa muda ada saat ketika mati dianggap sebagai tidur, dan pohon pun berbuah ketika masih muda dan sesudah itu semua pohon tidak lagi menghasilkan apa pun kecuali kayu (Ashur Ahams; 1978).

Bagi pemuda, realitas kehidupan yang dihadapinya sering kali dipersepsikan sebagai kenyataan yang membatasi idealisme dan hasrat yang mendominasi pikirannya. Sehingga perlu disadari bahwa kedewasaan merupakan tahap kehidupan yang pasti dijalaninya. Bila pada tahap muda dapat dicapai afeks pertumbuhan fisikis, maka dalam tahap dewasa terjadi kematangan pertumbuhan psikik. Arti lainnya, kedewasaan seseorang itu minimal harus memenuhi enam syarat, yaitu memiliki kemampuan “lebih banyak diam daripada berbicara”; memiliki empati yang tinggi; bersikap waro; memiliki sikap amanah; menjadi suritauladan; dan bertindak adil.    

Dalam hal ini, Dr. M. Manzoor Alam (1989), menyebutkan ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya. Adapun parameter yang bisa kita amati dari generasi model ini, diantaranya berupa:

v  Pertama, mempunyai keterikatan pada Ilahi. Di dalamnya terhujam rasa cinta yang membara kepada Allah dan melangkahkan kaki sesuai dengan kehendak Allah, sebagai kekasihnya. Satu-satunya alternatif dalam hidupnya adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. (QS. 6: 162 dan QS. 3: 31).

v  Kedua, memiliki keberanian untuk berjihad dengan harta dan jiwa demi tegaknya kalimatullah (QS. 9: 41).

v  Ketiga, berserah diri secara total (kafah) kepada Allah dengan harapan mendapat petunjuk dan keridhoan-Nya (QS. 2: 128).

v  Keempat, memberikan penghormatan kepada kedua orang tuanya sebagai salah satu alternatif untuk mendapatkan keridhoan Allah (QS. 17: 23-24 dan QS. 31: 14).

v  Kelima, membina diri untuk selalu menegakkan sholat, berakhlak bijaksana dalam da’wah serta memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan. Dan rendah hati, tidak takabbur, dan tidak ingin pujian serta membantu orang yang lemah dengan harapan mendapat cinta Allah (QS. 31: 17).

v  Keenam, gandrung akan ilmu pengetahuan, peka terhadap lingkungan, banyak berdzikir dan pandai membaca situasi dan kondisi yang berkembang (QS. 39:91).

v  Ketujuh, memiliki perkataan dan tingkah laku yang lemah lembut, sangat kuat pendiriannya terhadap kebenaran, bagaikan bangunan yang berdiri kokoh, sehingga ia tidak takut dan berduka cita (QS. 46: 13-14).

v  Kedelapan, gemar membaca Alquran dan menjadikannya sebagai sistem kehidupan. Dengan Alquran ia dapat membedakan antara haq dan bathil, cara berpikir dan bertindaknya didasari pada Alquran dan Sunah Nabi. Ia berusaha untuk menjadi Quran yang hidup dan ia tidak suka kalau hanya bicara tanpa beramal, karena Allah memang tidak suka pada yang demikian. (QS. 2: 44 dan QS 61: 2-3).

Berpikir Kreatif

Untuk mengaktualisasikan karakteristik generasi Rabbi Rodhiya tersebut, maka di sini diperlukan sebuah pola pikir kreatif. Berbicara kreativitas, kita tidak akan terlepas dari fungsi otak manusia. Para ahli jiwa mengatakan, otak manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak kiri merupakan pusat fungsi intelektual seperti daya ingat, bahasa, logika perhitungan, daya analisis, dan pemikiran konvergen (cara berpikir searah). Dan otak kanan berfungsi mengandalkan mental dengan melibatkan intuisi, sikap, emosi, gambar, musik dan irama, gerak dan tari, serta pikiran divergen (menyebar/bercabang).

Namun, menurut Yogy RY (Remaja Kreatif Hindari Penggangguran; 2000), disebutkan kenyataannya kebanyakan orang cenderung hanya menggunakan otak kiri jika menghadapi persoalan. Padahal, jika diseimbangkan dengan memfungsikan otak kanan, orang akan berpikir lebih jernih dalam memecahkan persoalan.

Untuk itu, bagi yang mampu berpikir benar (berpikir dengan otak kiri dan kanan), maka mereka (baca: pemuda) sudah punya pola berpikir kreatif. Karenanya ia sanggup memelihara suatu virus dalam dirinya yang dinamakan N-ach (virus mental yang sanggup mengkondisikan manusia selalu dalam keadaan kreatif).

Kreativitas sendiri merupakan suatu bidang kajian yang sulit. Menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Definisi kreativitas menurut Dedi Supriadi (Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek; 1994), digolongkan menjadi definisi secara konsensual dan konseptual. Definisi konsensual menekankan segi produk kreatif yang dinilai derajat kreativitasnya oleh pengamat yang ahli.

Sedangkan definisi konseptual bertolak dari konsep tertentu tentang kreativitas yang dijabarkan ke dalam kriteria tentang apa yang disebut kreatif. Meskipun tetap menekankan segi produk, definisi ini tidak mengandalkan semata-mata pada konsensus pengamat dalam menilai kreativitas, melainkan didasarkan pada kriteria tertentu. Amabile (1983: 33), secara konseptual melukiskan bahwa suatu produk dinilai kreatif apabila: (a) produk tersebut bersifat baru, unik, berguna, benar, atau bernilai dilihat dari segi kebutuhan tertentu; (b) lebih bersifat heuristik, yaitu menampilkan metode yang masih belum pernah atau jarang dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

Jadi, unsur idealisme dan kreativitas ini dalam kehidupan manusia merupakan sesuatu yang menjadi salah satu kunci sukses seseorang. Dan orang sukses bukan berarti tanpa mengalami kegagalan. Kalah-menang akan silih berganti. Tapi, di sinilah justru letak perbedaan antara orang berjiwa besar (dewasa) dan berjiwa biasa (tidak dewasa).

Bagi orang yang dewasa, kekalahan yang dialaminya akan dimanfaatkan sebagai pendorong untuk lebih maju. Tapi bagi orang yang tidak dewasa, setiap kekalahan yang dialaminya, akan dianggap sebagai halangan untuk mencapai tujuan. Thamrin Nasution (1980), menyebutkan timbulnya kekalahan adalah disebabkan kurangnya pengetahuan yang mendalam mengenai masalah yang dihadapi itu. Dan hal ini akan dapat diatasi dengan memperdalam pengetahuan tentang masalahnya.

Membina Pribadi Sukses

Dalam pandangan Islam, bahwa ‘manusia’ itu yang menjadi pokok utama. Pribadi merupakan faktor konstitusi moral dan bertanggung jawab atasnya. Faktor pribadi juga adalah menjadi titik tolak pendidikan diri sendiri. Dan bertujuan kembali kepada pribadi pula. Dengan kata lain, mengenal dan mendidik pribadi sendiri artinya mengawali kesadaran sebagai makhluk ciptaan, yang harus tahu diri kepada Dzat Tertinggi yang menciptakannya. Sehingga dapat dikatakan, dengan mengenal diri sendiri secara keseluruhan, maka kita mengenal Allah Yang Maha Pencipta.

Untuk mewujudkan hal itu, maka dalam melakukan pembinaan pribadi ini, perlu adanya faktor agama sebagai landasan dalam menjaga keseimbangan eksistensi insan secara otentik. Cara terbaik dalam mengembangkannya ialah dengan senantiasa berpatokan pada “Takhallaquu Bi Akhlaqillaah” (berakhlaqlah dengan akhlaq Allah).

Konsepsi tauhid ini dalam Islam bermaksud menuntun orang untuk mengenal dan menyesuaikan penerapan nilai rendah dan nilai tinggi seorang pribadi dalam hidup yang selaras dengan kehendak Allah di dalam mewujudkan ciptaan-Nya. Janganlah kita sebagai hamba hendak berlaku sombong terhadap Allah dengan tidak mentaati perintah dan larangan-Nya, sedang sebagai makhluk yang seharusnya mengatur dan menundukan alam ini, malahan kita meredusir harga diri dan merendahkan nilai pribadi sebagai “raja makhluk.” (S. Qamarulhadi; 1986: 220).

Berawal dari pembinaan pribadi dengan berpatokan pada akhlaq Allah, kemudian yang perlu ditata pada pribadi kita dengan tekun agar mencapai pribadi sukses ialah harus memiliki iman dan ilmu. Dua syarat ini adalah mutlak, seperti dinyatakan dalam Alquran surat Al-Mujaadilah: 11, yang artinya: “…. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan mereka yang telah diberi ilmu, beberapa tingkat …..”

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. Dalam hal ini, M. Ridwan IR Lubis (1985) menuliskan bahwa untuk kesuksesan hati dan otak diperlukan ketekunan. Dari sifat tekun akan menyorot hati dan otak kita. Adapun untuk membangun dan mengembangkan suatu pekerjaan dengan tekun, maka diperlukan empat sikap mental, yaitu:

1.    Kerjakan menurut kemampuan. Segala sesuatu haruslah dikerjakan menurut kemampuan kita, jangan kerjakan sesuatu diluar kemampuan kita. Karena hasil yang didapat akan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

2.    Mengutamakan yang penting. Setelah kita dapat mengerjakan sesuatu, maka hendaklah kita terlebih dahulu melakukan penyortiran. Pekerjaan mana yang harus didahulukan. Maka lakukan penilaian terlebih dahulu terhadap pekerjaan tersebut. Mana yang penting, perlu dan berguna.

3.    Tetapkan pendirian. Anda jangan mudah diombang-ambingkan oleh orang lain, sehingga membuat rencana menjadi buyar. Anda harus tetapkan pendirian untuk mencapai apa yang anda cita-citakan.

4.    Jangan berputus asa. Tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah merupakan kekejaman Allah. Misalnya, kalau kita mendapati pekerjaan yang belum berhasil, maka kita harus bersabar. Karena kita harus yakin bahwa segala sesuatunya Allah sajalah yang amat mengetahui rahasia alam ini, termasuk rahasia dari ketidakberhasilan apa yang kita rencanakan. Jadi, kita tidak boleh berputus asa.

Akhirnya, kita harus sadar betul bahwa esensi kehidupan ini terletak pada pembentukan semangat dan cita-cita untuk memelihara dan menegakan kepribadian, sehingga kehidupan memperoleh daya mengembang dari dirinya sendiri beberapa alas kekuatan, seperti: memori intelektif, kecerdasan, keahlian, keteguhan hati, keikhlasan yang banyak membantu mengasimilasi kebiasaan dan perilaku kita.

Orang baik itu ialah orang yang selalu mencari jalan keluarnya setiap kali mendapat masalah. Bukannya menciptakan masalah dan kita sendiri yang menjadi sumber masalah bagi masyarakat. Sedangkan sukses itu hakekatnya adalah bagaimana setiap hari, waktu, saat, selalu berusaha memperbaiki diri dan menambah ilmu untuk menuju keridhoan Allah. Sehingga memiliki pandangan terhadap diri sendiri begitu penting bagi seseorang yang ingin mengelola diri menjadi sukses dalam hidup ini. Patut kita renungkan pernyataan yang menyebutkan, “Sukses tidak identik dengan posisi atau gelar dunia, tetapi seberapa besar Personal Vision (pandangan Pribadi) yang dimiliki seseorang.” Wallahu’alam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. 

Ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya.

Idealisme dan Kreatifitas, Kunci Pribadi Sukses

MUSTAFA AL-RAFI’IE menggambarkan masa muda dengan mengatakan bahwa pemuda adalah kekuatan, sebab matahari tidak dapat bersinar di senja hari seterang ketika di waktu pagi. Pada masa muda ada saat ketika mati dianggap sebagai tidur, dan pohon pun berbuah ketika masih muda dan sesudah itu semua pohon tidak lagi menghasilkan apa pun kecuali kayu (Ashur Ahams; 1978).

Bagi pemuda, realitas kehidupan yang dihadapinya sering kali dipersepsikan sebagai kenyataan yang membatasi idealisme dan hasrat yang mendominasi pikirannya. Sehingga perlu disadari bahwa kedewasaan merupakan tahap kehidupan yang pasti dijalaninya. Bila pada tahap muda dapat dicapai afeks pertumbuhan fisikis, maka dalam tahap dewasa terjadi kematangan pertumbuhan psikik. Arti lainnya, kedewasaan seseorang itu minimal harus memenuhi enam syarat, yaitu memiliki kemampuan “lebih banyak diam daripada berbicara”; memiliki empati yang tinggi; bersikap waro; memiliki sikap amanah; menjadi suritauladan; dan bertindak adil.    

Dalam hal ini, Dr. M. Manzoor Alam (1989), menyebutkan ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya. Adapun parameter yang bisa kita amati dari generasi model ini, diantaranya berupa:

v  Pertama, mempunyai keterikatan pada Ilahi. Di dalamnya terhujam rasa cinta yang membara kepada Allah dan melangkahkan kaki sesuai dengan kehendak Allah, sebagai kekasihnya. Satu-satunya alternatif dalam hidupnya adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. (QS. 6: 162 dan QS. 3: 31).

v  Kedua, memiliki keberanian untuk berjihad dengan harta dan jiwa demi tegaknya kalimatullah (QS. 9: 41).

v  Ketiga, berserah diri secara total (kafah) kepada Allah dengan harapan mendapat petunjuk dan keridhoan-Nya (QS. 2: 128).

v  Keempat, memberikan penghormatan kepada kedua orang tuanya sebagai salah satu alternatif untuk mendapatkan keridhoan Allah (QS. 17: 23-24 dan QS. 31: 14).

v  Kelima, membina diri untuk selalu menegakkan sholat, berakhlak bijaksana dalam da’wah serta memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan. Dan rendah hati, tidak takabbur, dan tidak ingin pujian serta membantu orang yang lemah dengan harapan mendapat cinta Allah (QS. 31: 17).

v  Keenam, gandrung akan ilmu pengetahuan, peka terhadap lingkungan, banyak berdzikir dan pandai membaca situasi dan kondisi yang berkembang (QS. 39:91).

v  Ketujuh, memiliki perkataan dan tingkah laku yang lemah lembut, sangat kuat pendiriannya terhadap kebenaran, bagaikan bangunan yang berdiri kokoh, sehingga ia tidak takut dan berduka cita (QS. 46: 13-14).

v  Kedelapan, gemar membaca Alquran dan menjadikannya sebagai sistem kehidupan. Dengan Alquran ia dapat membedakan antara haq dan bathil, cara berpikir dan bertindaknya didasari pada Alquran dan Sunah Nabi. Ia berusaha untuk menjadi Quran yang hidup dan ia tidak suka kalau hanya bicara tanpa beramal, karena Allah memang tidak suka pada yang demikian. (QS. 2: 44 dan QS 61: 2-3).

Berpikir Kreatif

Untuk mengaktualisasikan karakteristik generasi Rabbi Rodhiya tersebut, maka di sini diperlukan sebuah pola pikir kreatif. Berbicara kreativitas, kita tidak akan terlepas dari fungsi otak manusia. Para ahli jiwa mengatakan, otak manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak kiri merupakan pusat fungsi intelektual seperti daya ingat, bahasa, logika perhitungan, daya analisis, dan pemikiran konvergen (cara berpikir searah). Dan otak kanan berfungsi mengandalkan mental dengan melibatkan intuisi, sikap, emosi, gambar, musik dan irama, gerak dan tari, serta pikiran divergen (menyebar/bercabang).

Namun, menurut Yogy RY (Remaja Kreatif Hindari Penggangguran; 2000), disebutkan kenyataannya kebanyakan orang cenderung hanya menggunakan otak kiri jika menghadapi persoalan. Padahal, jika diseimbangkan dengan memfungsikan otak kanan, orang akan berpikir lebih jernih dalam memecahkan persoalan.

Untuk itu, bagi yang mampu berpikir benar (berpikir dengan otak kiri dan kanan), maka mereka (baca: pemuda) sudah punya pola berpikir kreatif. Karenanya ia sanggup memelihara suatu virus dalam dirinya yang dinamakan N-ach (virus mental yang sanggup mengkondisikan manusia selalu dalam keadaan kreatif).

Kreativitas sendiri merupakan suatu bidang kajian yang sulit. Menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Definisi kreativitas menurut Dedi Supriadi (Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek; 1994), digolongkan menjadi definisi secara konsensual dan konseptual. Definisi konsensual menekankan segi produk kreatif yang dinilai derajat kreativitasnya oleh pengamat yang ahli.

Sedangkan definisi konseptual bertolak dari konsep tertentu tentang kreativitas yang dijabarkan ke dalam kriteria tentang apa yang disebut kreatif. Meskipun tetap menekankan segi produk, definisi ini tidak mengandalkan semata-mata pada konsensus pengamat dalam menilai kreativitas, melainkan didasarkan pada kriteria tertentu. Amabile (1983: 33), secara konseptual melukiskan bahwa suatu produk dinilai kreatif apabila: (a) produk tersebut bersifat baru, unik, berguna, benar, atau bernilai dilihat dari segi kebutuhan tertentu; (b) lebih bersifat heuristik, yaitu menampilkan metode yang masih belum pernah atau jarang dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

Jadi, unsur idealisme dan kreativitas ini dalam kehidupan manusia merupakan sesuatu yang menjadi salah satu kunci sukses seseorang. Dan orang sukses bukan berarti tanpa mengalami kegagalan. Kalah-menang akan silih berganti. Tapi, di sinilah justru letak perbedaan antara orang berjiwa besar (dewasa) dan berjiwa biasa (tidak dewasa).

Bagi orang yang dewasa, kekalahan yang dialaminya akan dimanfaatkan sebagai pendorong untuk lebih maju. Tapi bagi orang yang tidak dewasa, setiap kekalahan yang dialaminya, akan dianggap sebagai halangan untuk mencapai tujuan. Thamrin Nasution (1980), menyebutkan timbulnya kekalahan adalah disebabkan kurangnya pengetahuan yang mendalam mengenai masalah yang dihadapi itu. Dan hal ini akan dapat diatasi dengan memperdalam pengetahuan tentang masalahnya.

Membina Pribadi Sukses

Dalam pandangan Islam, bahwa ‘manusia’ itu yang menjadi pokok utama. Pribadi merupakan faktor konstitusi moral dan bertanggung jawab atasnya. Faktor pribadi juga adalah menjadi titik tolak pendidikan diri sendiri. Dan bertujuan kembali kepada pribadi pula. Dengan kata lain, mengenal dan mendidik pribadi sendiri artinya mengawali kesadaran sebagai makhluk ciptaan, yang harus tahu diri kepada Dzat Tertinggi yang menciptakannya. Sehingga dapat dikatakan, dengan mengenal diri sendiri secara keseluruhan, maka kita mengenal Allah Yang Maha Pencipta.

Untuk mewujudkan hal itu, maka dalam melakukan pembinaan pribadi ini, perlu adanya faktor agama sebagai landasan dalam menjaga keseimbangan eksistensi insan secara otentik. Cara terbaik dalam mengembangkannya ialah dengan senantiasa berpatokan pada “Takhallaquu Bi Akhlaqillaah” (berakhlaqlah dengan akhlaq Allah).

Konsepsi tauhid ini dalam Islam bermaksud menuntun orang untuk mengenal dan menyesuaikan penerapan nilai rendah dan nilai tinggi seorang pribadi dalam hidup yang selaras dengan kehendak Allah di dalam mewujudkan ciptaan-Nya. Janganlah kita sebagai hamba hendak berlaku sombong terhadap Allah dengan tidak mentaati perintah dan larangan-Nya, sedang sebagai makhluk yang seharusnya mengatur dan menundukan alam ini, malahan kita meredusir harga diri dan merendahkan nilai pribadi sebagai “raja makhluk.” (S. Qamarulhadi; 1986: 220).

Berawal dari pembinaan pribadi dengan berpatokan pada akhlaq Allah, kemudian yang perlu ditata pada pribadi kita dengan tekun agar mencapai pribadi sukses ialah harus memiliki iman dan ilmu. Dua syarat ini adalah mutlak, seperti dinyatakan dalam Alquran surat Al-Mujaadilah: 11, yang artinya: “…. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan mereka yang telah diberi ilmu, beberapa tingkat …..”

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. Dalam hal ini, M. Ridwan IR Lubis (1985) menuliskan bahwa untuk kesuksesan hati dan otak diperlukan ketekunan. Dari sifat tekun akan menyorot hati dan otak kita. Adapun untuk membangun dan mengembangkan suatu pekerjaan dengan tekun, maka diperlukan empat sikap mental, yaitu:

1.    Kerjakan menurut kemampuan. Segala sesuatu haruslah dikerjakan menurut kemampuan kita, jangan kerjakan sesuatu diluar kemampuan kita. Karena hasil yang didapat akan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

2.    Mengutamakan yang penting. Setelah kita dapat mengerjakan sesuatu, maka hendaklah kita terlebih dahulu melakukan penyortiran. Pekerjaan mana yang harus didahulukan. Maka lakukan penilaian terlebih dahulu terhadap pekerjaan tersebut. Mana yang penting, perlu dan berguna.

3.    Tetapkan pendirian. Anda jangan mudah diombang-ambingkan oleh orang lain, sehingga membuat rencana menjadi buyar. Anda harus tetapkan pendirian untuk mencapai apa yang anda cita-citakan.

4.    Jangan berputus asa. Tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah merupakan kekejaman Allah. Misalnya, kalau kita mendapati pekerjaan yang belum berhasil, maka kita harus bersabar. Karena kita harus yakin bahwa segala sesuatunya Allah sajalah yang amat mengetahui rahasia alam ini, termasuk rahasia dari ketidakberhasilan apa yang kita rencanakan. Jadi, kita tidak boleh berputus asa.

Akhirnya, kita harus sadar betul bahwa esensi kehidupan ini terletak pada pembentukan semangat dan cita-cita untuk memelihara dan menegakan kepribadian, sehingga kehidupan memperoleh daya mengembang dari dirinya sendiri beberapa alas kekuatan, seperti: memori intelektif, kecerdasan, keahlian, keteguhan hati, keikhlasan yang banyak membantu mengasimilasi kebiasaan dan perilaku kita.

Orang baik itu ialah orang yang selalu mencari jalan keluarnya setiap kali mendapat masalah. Bukannya menciptakan masalah dan kita sendiri yang menjadi sumber masalah bagi masyarakat. Sedangkan sukses itu hakekatnya adalah bagaimana setiap hari, waktu, saat, selalu berusaha memperbaiki diri dan menambah ilmu untuk menuju keridhoan Allah. Sehingga memiliki pandangan terhadap diri sendiri begitu penting bagi seseorang yang ingin mengelola diri menjadi sukses dalam hidup ini. Patut kita renungkan pernyataan yang menyebutkan, “Sukses tidak identik dengan posisi atau gelar dunia, tetapi seberapa besar Personal Vision (pandangan Pribadi) yang dimiliki seseorang.” Wallahu’alam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. 

Ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya.

Idealisme dan Kreatifitas, Kunci Pribadi Sukses

MUSTAFA AL-RAFI’IE menggambarkan masa muda dengan mengatakan bahwa pemuda adalah kekuatan, sebab matahari tidak dapat bersinar di senja hari seterang ketika di waktu pagi. Pada masa muda ada saat ketika mati dianggap sebagai tidur, dan pohon pun berbuah ketika masih muda dan sesudah itu semua pohon tidak lagi menghasilkan apa pun kecuali kayu (Ashur Ahams; 1978).

Bagi pemuda, realitas kehidupan yang dihadapinya sering kali dipersepsikan sebagai kenyataan yang membatasi idealisme dan hasrat yang mendominasi pikirannya. Sehingga perlu disadari bahwa kedewasaan merupakan tahap kehidupan yang pasti dijalaninya. Bila pada tahap muda dapat dicapai afeks pertumbuhan fisikis, maka dalam tahap dewasa terjadi kematangan pertumbuhan psikik. Arti lainnya, kedewasaan seseorang itu minimal harus memenuhi enam syarat, yaitu memiliki kemampuan “lebih banyak diam daripada berbicara”; memiliki empati yang tinggi; bersikap waro; memiliki sikap amanah; menjadi suritauladan; dan bertindak adil.    

Dalam hal ini, Dr. M. Manzoor Alam (1989), menyebutkan ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, diantaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orang tua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Rodhiya. Adapun parameter yang bisa kita amati dari generasi model ini, diantaranya berupa:

v  Pertama, mempunyai keterikatan pada Ilahi. Di dalamnya terhujam rasa cinta yang membara kepada Allah dan melangkahkan kaki sesuai dengan kehendak Allah, sebagai kekasihnya. Satu-satunya alternatif dalam hidupnya adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. (QS. 6: 162 dan QS. 3: 31).

v  Kedua, memiliki keberanian untuk berjihad dengan harta dan jiwa demi tegaknya kalimatullah (QS. 9: 41).

v  Ketiga, berserah diri secara total (kafah) kepada Allah dengan harapan mendapat petunjuk dan keridhoan-Nya (QS. 2: 128).

v  Keempat, memberikan penghormatan kepada kedua orang tuanya sebagai salah satu alternatif untuk mendapatkan keridhoan Allah (QS. 17: 23-24 dan QS. 31: 14).

v  Kelima, membina diri untuk selalu menegakkan sholat, berakhlak bijaksana dalam da’wah serta memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan. Dan rendah hati, tidak takabbur, dan tidak ingin pujian serta membantu orang yang lemah dengan harapan mendapat cinta Allah (QS. 31: 17).

v  Keenam, gandrung akan ilmu pengetahuan, peka terhadap lingkungan, banyak berdzikir dan pandai membaca situasi dan kondisi yang berkembang (QS. 39:91).

v  Ketujuh, memiliki perkataan dan tingkah laku yang lemah lembut, sangat kuat pendiriannya terhadap kebenaran, bagaikan bangunan yang berdiri kokoh, sehingga ia tidak takut dan berduka cita (QS. 46: 13-14).

v  Kedelapan, gemar membaca Alquran dan menjadikannya sebagai sistem kehidupan. Dengan Alquran ia dapat membedakan antara haq dan bathil, cara berpikir dan bertindaknya didasari pada Alquran dan Sunah Nabi. Ia berusaha untuk menjadi Quran yang hidup dan ia tidak suka kalau hanya bicara tanpa beramal, karena Allah memang tidak suka pada yang demikian. (QS. 2: 44 dan QS 61: 2-3).

Berpikir Kreatif

Untuk mengaktualisasikan karakteristik generasi Rabbi Rodhiya tersebut, maka di sini diperlukan sebuah pola pikir kreatif. Berbicara kreativitas, kita tidak akan terlepas dari fungsi otak manusia. Para ahli jiwa mengatakan, otak manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak kiri merupakan pusat fungsi intelektual seperti daya ingat, bahasa, logika perhitungan, daya analisis, dan pemikiran konvergen (cara berpikir searah). Dan otak kanan berfungsi mengandalkan mental dengan melibatkan intuisi, sikap, emosi, gambar, musik dan irama, gerak dan tari, serta pikiran divergen (menyebar/bercabang).

Namun, menurut Yogy RY (Remaja Kreatif Hindari Penggangguran; 2000), disebutkan kenyataannya kebanyakan orang cenderung hanya menggunakan otak kiri jika menghadapi persoalan. Padahal, jika diseimbangkan dengan memfungsikan otak kanan, orang akan berpikir lebih jernih dalam memecahkan persoalan.

Untuk itu, bagi yang mampu berpikir benar (berpikir dengan otak kiri dan kanan), maka mereka (baca: pemuda) sudah punya pola berpikir kreatif. Karenanya ia sanggup memelihara suatu virus dalam dirinya yang dinamakan N-ach (virus mental yang sanggup mengkondisikan manusia selalu dalam keadaan kreatif).

Kreativitas sendiri merupakan suatu bidang kajian yang sulit. Menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Definisi kreativitas menurut Dedi Supriadi (Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek; 1994), digolongkan menjadi definisi secara konsensual dan konseptual. Definisi konsensual menekankan segi produk kreatif yang dinilai derajat kreativitasnya oleh pengamat yang ahli.

Sedangkan definisi konseptual bertolak dari konsep tertentu tentang kreativitas yang dijabarkan ke dalam kriteria tentang apa yang disebut kreatif. Meskipun tetap menekankan segi produk, definisi ini tidak mengandalkan semata-mata pada konsensus pengamat dalam menilai kreativitas, melainkan didasarkan pada kriteria tertentu. Amabile (1983: 33), secara konseptual melukiskan bahwa suatu produk dinilai kreatif apabila: (a) produk tersebut bersifat baru, unik, berguna, benar, atau bernilai dilihat dari segi kebutuhan tertentu; (b) lebih bersifat heuristik, yaitu menampilkan metode yang masih belum pernah atau jarang dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

Jadi, unsur idealisme dan kreativitas ini dalam kehidupan manusia merupakan sesuatu yang menjadi salah satu kunci sukses seseorang. Dan orang sukses bukan berarti tanpa mengalami kegagalan. Kalah-menang akan silih berganti. Tapi, di sinilah justru letak perbedaan antara orang berjiwa besar (dewasa) dan berjiwa biasa (tidak dewasa).

Bagi orang yang dewasa, kekalahan yang dialaminya akan dimanfaatkan sebagai pendorong untuk lebih maju. Tapi bagi orang yang tidak dewasa, setiap kekalahan yang dialaminya, akan dianggap sebagai halangan untuk mencapai tujuan. Thamrin Nasution (1980), menyebutkan timbulnya kekalahan adalah disebabkan kurangnya pengetahuan yang mendalam mengenai masalah yang dihadapi itu. Dan hal ini akan dapat diatasi dengan memperdalam pengetahuan tentang masalahnya.

Membina Pribadi Sukses

Dalam pandangan Islam, bahwa ‘manusia’ itu yang menjadi pokok utama. Pribadi merupakan faktor konstitusi moral dan bertanggung jawab atasnya. Faktor pribadi juga adalah menjadi titik tolak pendidikan diri sendiri. Dan bertujuan kembali kepada pribadi pula. Dengan kata lain, mengenal dan mendidik pribadi sendiri artinya mengawali kesadaran sebagai makhluk ciptaan, yang harus tahu diri kepada Dzat Tertinggi yang menciptakannya. Sehingga dapat dikatakan, dengan mengenal diri sendiri secara keseluruhan, maka kita mengenal Allah Yang Maha Pencipta.

Untuk mewujudkan hal itu, maka dalam melakukan pembinaan pribadi ini, perlu adanya faktor agama sebagai landasan dalam menjaga keseimbangan eksistensi insan secara otentik. Cara terbaik dalam mengembangkannya ialah dengan senantiasa berpatokan pada “Takhallaquu Bi Akhlaqillaah” (berakhlaqlah dengan akhlaq Allah).

Konsepsi tauhid ini dalam Islam bermaksud menuntun orang untuk mengenal dan menyesuaikan penerapan nilai rendah dan nilai tinggi seorang pribadi dalam hidup yang selaras dengan kehendak Allah di dalam mewujudkan ciptaan-Nya. Janganlah kita sebagai hamba hendak berlaku sombong terhadap Allah dengan tidak mentaati perintah dan larangan-Nya, sedang sebagai makhluk yang seharusnya mengatur dan menundukan alam ini, malahan kita meredusir harga diri dan merendahkan nilai pribadi sebagai “raja makhluk.” (S. Qamarulhadi; 1986: 220).

Berawal dari pembinaan pribadi dengan berpatokan pada akhlaq Allah, kemudian yang perlu ditata pada pribadi kita dengan tekun agar mencapai pribadi sukses ialah harus memiliki iman dan ilmu. Dua syarat ini adalah mutlak, seperti dinyatakan dalam Alquran surat Al-Mujaadilah: 11, yang artinya: “…. Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kamu dan mereka yang telah diberi ilmu, beberapa tingkat …..”

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. Dalam hal ini, M. Ridwan IR Lubis (1985) menuliskan bahwa untuk kesuksesan hati dan otak diperlukan ketekunan. Dari sifat tekun akan menyorot hati dan otak kita. Adapun untuk membangun dan mengembangkan suatu pekerjaan dengan tekun, maka diperlukan empat sikap mental, yaitu:

1.    Kerjakan menurut kemampuan. Segala sesuatu haruslah dikerjakan menurut kemampuan kita, jangan kerjakan sesuatu diluar kemampuan kita. Karena hasil yang didapat akan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

2.    Mengutamakan yang penting. Setelah kita dapat mengerjakan sesuatu, maka hendaklah kita terlebih dahulu melakukan penyortiran. Pekerjaan mana yang harus didahulukan. Maka lakukan penilaian terlebih dahulu terhadap pekerjaan tersebut. Mana yang penting, perlu dan berguna.

3.    Tetapkan pendirian. Anda jangan mudah diombang-ambingkan oleh orang lain, sehingga membuat rencana menjadi buyar. Anda harus tetapkan pendirian untuk mencapai apa yang anda cita-citakan.

4.    Jangan berputus asa. Tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah merupakan kekejaman Allah. Misalnya, kalau kita mendapati pekerjaan yang belum berhasil, maka kita harus bersabar. Karena kita harus yakin bahwa segala sesuatunya Allah sajalah yang amat mengetahui rahasia alam ini, termasuk rahasia dari ketidakberhasilan apa yang kita rencanakan. Jadi, kita tidak boleh berputus asa.

Akhirnya, kita harus sadar betul bahwa esensi kehidupan ini terletak pada pembentukan semangat dan cita-cita untuk memelihara dan menegakan kepribadian, sehingga kehidupan memperoleh daya mengembang dari dirinya sendiri beberapa alas kekuatan, seperti: memori intelektif, kecerdasan, keahlian, keteguhan hati, keikhlasan yang banyak membantu mengasimilasi kebiasaan dan perilaku kita.

Orang baik itu ialah orang yang selalu mencari jalan keluarnya setiap kali mendapat masalah. Bukannya menciptakan masalah dan kita sendiri yang menjadi sumber masalah bagi masyarakat. Sedangkan sukses itu hakekatnya adalah bagaimana setiap hari, waktu, saat, selalu berusaha memperbaiki diri dan menambah ilmu untuk menuju keridhoan Allah. Sehingga memiliki pandangan terhadap diri sendiri begitu penting bagi seseorang yang ingin mengelola diri menjadi sukses dalam hidup ini. Patut kita renungkan pernyataan yang menyebutkan, “Sukses tidak identik dengan posisi atau gelar dunia, tetapi seberapa besar Personal Vision (pandangan Pribadi) yang dimiliki seseorang.” Wallahu’alam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

Menjadi Wirausaha Mandiri
Lihat Detail

Menjadi Wirausaha Mandiri

MANDIRI merupakan sebuah predikat yang didambakan oleh setiap manusia, termasuk seorang wirausahawan. Mandiri berarti berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain. 
Untuk mewujudkan mimpi menjadi wirausahawan mandiri, tentu bukan hal yang mudah dan instan. Tapi, ia terbentuk oleh usaha yang terus menerus dan maksimal dalam melakukan langkah-langkah suksesnya menjalankan wirausaha.
 
Kiat Sukses Menjadi Wirausahawan Mandiri
MANDIRI merupakan sebuah predikat yang didambakan oleh setiap manusia, termasuk seorang wirausahawan. Mandiri berarti berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain. 
Untuk mewujudkan mimpi menjadi wirausahawan mandiri, tentu bukan hal yang mudah dan instan. Tapi, ia terbentuk oleh usaha yang terus menerus dan maksimal dalam melakukan langkah-langkah suksesnya menjalankan wirausaha.
 
Kiat Sukses Menjadi Wirausahawan Mandiri
MANDIRI merupakan sebuah predikat yang didambakan oleh setiap manusia, termasuk seorang wirausahawan. Mandiri berarti berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain. 
Untuk mewujudkan mimpi menjadi wirausahawan mandiri, tentu bukan hal yang mudah dan instan. Tapi, ia terbentuk oleh usaha yang terus menerus dan maksimal dalam melakukan langkah-langkah suksesnya menjalankan wirausaha.
 
Kiat Sukses Menjadi Wirausahawan Mandiri
MANDIRI merupakan sebuah predikat yang didambakan oleh setiap manusia, termasuk seorang wirausahawan. Mandiri berarti berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain. 
Untuk mewujudkan mimpi menjadi wirausahawan mandiri, tentu bukan hal yang mudah dan instan. Tapi, ia terbentuk oleh usaha yang terus menerus dan maksimal dalam melakukan langkah-langkah suksesnya menjalankan wirausaha.
 
Kiat Sukses Menjadi Wirausahawan Mandiri
MANDIRI merupakan sebuah predikat yang didambakan oleh setiap manusia, termasuk seorang wirausahawan. Mandiri berarti berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain. 
Untuk mewujudkan mimpi menjadi wirausahawan mandiri, tentu bukan hal yang mudah dan instan. Tapi, ia terbentuk oleh usaha yang terus menerus dan maksimal dalam melakukan langkah-langkah suksesnya menjalankan wirausaha.
 
Kiat Sukses Menjadi Wirausahawan Mandiri
MANDIRI merupakan sebuah predikat yang didambakan oleh setiap manusia, termasuk seorang wirausahawan. Mandiri berarti berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain. 
Untuk mewujudkan mimpi menjadi wirausahawan mandiri, tentu bukan hal yang mudah dan instan. Tapi, ia terbentuk oleh usaha yang terus menerus dan maksimal dalam melakukan langkah-langkah suksesnya menjalankan wirausaha.
 
Kiat Sukses Menjadi Wirausahawan Mandiri
MANDIRI merupakan sebuah predikat yang didambakan oleh setiap manusia, termasuk seorang wirausahawan. Mandiri berarti berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain. 
Untuk mewujudkan mimpi menjadi wirausahawan mandiri, tentu bukan hal yang mudah dan instan. Tapi, ia terbentuk oleh usaha yang terus menerus dan maksimal dalam melakukan langkah-langkah suksesnya menjalankan wirausaha.
 
Kiat Sukses Menjadi Wirausahawan Mandiri
Kiat Menjadi Percaya Diri
Lihat Detail

Kiat Menjadi Percaya Diri


KESUKSESAN hidup seseorang, kadangkala menjadi terhalang disebabkan karena ia tidak mempercayai kemampuan yang dimilikinya. Padahal, kalau kita dapat berpikir bijaksana, tentu akan timbul kesadaran bahwa semua manusia itu pada dasarnya dilahirkan sama. Yakni memiliki kelebihan dan kekurangan.


Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anda


KESUKSESAN hidup seseorang, kadangkala menjadi terhalang disebabkan karena ia tidak mempercayai kemampuan yang dimilikinya. Padahal, kalau kita dapat berpikir bijaksana, tentu akan timbul kesadaran bahwa semua manusia itu pada dasarnya dilahirkan sama. Yakni memiliki kelebihan dan kekurangan.


Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anda


KESUKSESAN hidup seseorang, kadangkala menjadi terhalang disebabkan karena ia tidak mempercayai kemampuan yang dimilikinya. Padahal, kalau kita dapat berpikir bijaksana, tentu akan timbul kesadaran bahwa semua manusia itu pada dasarnya dilahirkan sama. Yakni memiliki kelebihan dan kekurangan.


Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anda


KESUKSESAN hidup seseorang, kadangkala menjadi terhalang disebabkan karena ia tidak mempercayai kemampuan yang dimilikinya. Padahal, kalau kita dapat berpikir bijaksana, tentu akan timbul kesadaran bahwa semua manusia itu pada dasarnya dilahirkan sama. Yakni memiliki kelebihan dan kekurangan.


Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anda


KESUKSESAN hidup seseorang, kadangkala menjadi terhalang disebabkan karena ia tidak mempercayai kemampuan yang dimilikinya. Padahal, kalau kita dapat berpikir bijaksana, tentu akan timbul kesadaran bahwa semua manusia itu pada dasarnya dilahirkan sama. Yakni memiliki kelebihan dan kekurangan.


Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anda


KESUKSESAN hidup seseorang, kadangkala menjadi terhalang disebabkan karena ia tidak mempercayai kemampuan yang dimilikinya. Padahal, kalau kita dapat berpikir bijaksana, tentu akan timbul kesadaran bahwa semua manusia itu pada dasarnya dilahirkan sama. Yakni memiliki kelebihan dan kekurangan.


Menumbuhkan Kepercayaan Diri Anda

Jodoh Akan Datang Euy...!
Lihat Detail

Jodoh Akan Datang Euy...!

Menikmati Episode Menunggu Jodoh?

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bagi kamu pasangan dari jenis kamu sendiri agar kamu sakinah bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kamu yang berpikir.” (QS. Ar Ruum: 21)
JODOH berarti pasangan hidup manusia yang sepadan; cocok; serasi; sesuai benar; kena benar; atau setuju hatinya. Dewasa ini banyak pasangan yang belum berjodoh bingung apa yang mesti diperbuat dalam menunggu jodohnya. Padahal dari ayat Alquran di atas, mengajarkan kita agar berpikir, termasuk dalam menentukan pasangan (jodoh). Di sini, ada makna rentang waktu antara menunggu jodoh dengan membangun keluarga sakinah bersama pasangan kita kelak. Menunggu jodoh ialah menantikan; mengharapkan (sesuatu yang mesti datang atau terjadi) terhadap pasangan hidup kita. Jadi, menunggu jodoh bukan berarti menunda jodoh untuk terlaksananya perkawinan.
Pada koridor itulah, kita seharusnya dapat menikmati episode menunggu jodoh sebagai ladang amal mempersiapkan membangun keluarga sakinah, sambil menunggu pasangan hidup kita. Pertanyaannya, apa saja yang perlu kita nikmati dalam menunggu jodoh itu?
Menikmati Episode Menunggu Jodoh?

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bagi kamu pasangan dari jenis kamu sendiri agar kamu sakinah bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kamu yang berpikir.” (QS. Ar Ruum: 21)
JODOH berarti pasangan hidup manusia yang sepadan; cocok; serasi; sesuai benar; kena benar; atau setuju hatinya. Dewasa ini banyak pasangan yang belum berjodoh bingung apa yang mesti diperbuat dalam menunggu jodohnya. Padahal dari ayat Alquran di atas, mengajarkan kita agar berpikir, termasuk dalam menentukan pasangan (jodoh). Di sini, ada makna rentang waktu antara menunggu jodoh dengan membangun keluarga sakinah bersama pasangan kita kelak. Menunggu jodoh ialah menantikan; mengharapkan (sesuatu yang mesti datang atau terjadi) terhadap pasangan hidup kita. Jadi, menunggu jodoh bukan berarti menunda jodoh untuk terlaksananya perkawinan.
Pada koridor itulah, kita seharusnya dapat menikmati episode menunggu jodoh sebagai ladang amal mempersiapkan membangun keluarga sakinah, sambil menunggu pasangan hidup kita. Pertanyaannya, apa saja yang perlu kita nikmati dalam menunggu jodoh itu?
Menikmati Episode Menunggu Jodoh?

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bagi kamu pasangan dari jenis kamu sendiri agar kamu sakinah bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kamu yang berpikir.” (QS. Ar Ruum: 21)
JODOH berarti pasangan hidup manusia yang sepadan; cocok; serasi; sesuai benar; kena benar; atau setuju hatinya. Dewasa ini banyak pasangan yang belum berjodoh bingung apa yang mesti diperbuat dalam menunggu jodohnya. Padahal dari ayat Alquran di atas, mengajarkan kita agar berpikir, termasuk dalam menentukan pasangan (jodoh). Di sini, ada makna rentang waktu antara menunggu jodoh dengan membangun keluarga sakinah bersama pasangan kita kelak. Menunggu jodoh ialah menantikan; mengharapkan (sesuatu yang mesti datang atau terjadi) terhadap pasangan hidup kita. Jadi, menunggu jodoh bukan berarti menunda jodoh untuk terlaksananya perkawinan.
Pada koridor itulah, kita seharusnya dapat menikmati episode menunggu jodoh sebagai ladang amal mempersiapkan membangun keluarga sakinah, sambil menunggu pasangan hidup kita. Pertanyaannya, apa saja yang perlu kita nikmati dalam menunggu jodoh itu?
Menikmati Episode Menunggu Jodoh?

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bagi kamu pasangan dari jenis kamu sendiri agar kamu sakinah bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kamu yang berpikir.” (QS. Ar Ruum: 21)
JODOH berarti pasangan hidup manusia yang sepadan; cocok; serasi; sesuai benar; kena benar; atau setuju hatinya. Dewasa ini banyak pasangan yang belum berjodoh bingung apa yang mesti diperbuat dalam menunggu jodohnya. Padahal dari ayat Alquran di atas, mengajarkan kita agar berpikir, termasuk dalam menentukan pasangan (jodoh). Di sini, ada makna rentang waktu antara menunggu jodoh dengan membangun keluarga sakinah bersama pasangan kita kelak. Menunggu jodoh ialah menantikan; mengharapkan (sesuatu yang mesti datang atau terjadi) terhadap pasangan hidup kita. Jadi, menunggu jodoh bukan berarti menunda jodoh untuk terlaksananya perkawinan.
Pada koridor itulah, kita seharusnya dapat menikmati episode menunggu jodoh sebagai ladang amal mempersiapkan membangun keluarga sakinah, sambil menunggu pasangan hidup kita. Pertanyaannya, apa saja yang perlu kita nikmati dalam menunggu jodoh itu?
Menikmati Episode Menunggu Jodoh?

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bagi kamu pasangan dari jenis kamu sendiri agar kamu sakinah bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kamu yang berpikir.” (QS. Ar Ruum: 21)
JODOH berarti pasangan hidup manusia yang sepadan; cocok; serasi; sesuai benar; kena benar; atau setuju hatinya. Dewasa ini banyak pasangan yang belum berjodoh bingung apa yang mesti diperbuat dalam menunggu jodohnya. Padahal dari ayat Alquran di atas, mengajarkan kita agar berpikir, termasuk dalam menentukan pasangan (jodoh). Di sini, ada makna rentang waktu antara menunggu jodoh dengan membangun keluarga sakinah bersama pasangan kita kelak. Menunggu jodoh ialah menantikan; mengharapkan (sesuatu yang mesti datang atau terjadi) terhadap pasangan hidup kita. Jadi, menunggu jodoh bukan berarti menunda jodoh untuk terlaksananya perkawinan.
Pada koridor itulah, kita seharusnya dapat menikmati episode menunggu jodoh sebagai ladang amal mempersiapkan membangun keluarga sakinah, sambil menunggu pasangan hidup kita. Pertanyaannya, apa saja yang perlu kita nikmati dalam menunggu jodoh itu?
Menikmati Episode Menunggu Jodoh?

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bagi kamu pasangan dari jenis kamu sendiri agar kamu sakinah bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kamu yang berpikir.” (QS. Ar Ruum: 21)
JODOH berarti pasangan hidup manusia yang sepadan; cocok; serasi; sesuai benar; kena benar; atau setuju hatinya. Dewasa ini banyak pasangan yang belum berjodoh bingung apa yang mesti diperbuat dalam menunggu jodohnya. Padahal dari ayat Alquran di atas, mengajarkan kita agar berpikir, termasuk dalam menentukan pasangan (jodoh). Di sini, ada makna rentang waktu antara menunggu jodoh dengan membangun keluarga sakinah bersama pasangan kita kelak. Menunggu jodoh ialah menantikan; mengharapkan (sesuatu yang mesti datang atau terjadi) terhadap pasangan hidup kita. Jadi, menunggu jodoh bukan berarti menunda jodoh untuk terlaksananya perkawinan.
Pada koridor itulah, kita seharusnya dapat menikmati episode menunggu jodoh sebagai ladang amal mempersiapkan membangun keluarga sakinah, sambil menunggu pasangan hidup kita. Pertanyaannya, apa saja yang perlu kita nikmati dalam menunggu jodoh itu?
Menikmati Episode Menunggu Jodoh?

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan bagi kamu pasangan dari jenis kamu sendiri agar kamu sakinah bersamanya dan Dia menjadikan cinta dan kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi kamu yang berpikir.” (QS. Ar Ruum: 21)
JODOH berarti pasangan hidup manusia yang sepadan; cocok; serasi; sesuai benar; kena benar; atau setuju hatinya. Dewasa ini banyak pasangan yang belum berjodoh bingung apa yang mesti diperbuat dalam menunggu jodohnya. Padahal dari ayat Alquran di atas, mengajarkan kita agar berpikir, termasuk dalam menentukan pasangan (jodoh). Di sini, ada makna rentang waktu antara menunggu jodoh dengan membangun keluarga sakinah bersama pasangan kita kelak. Menunggu jodoh ialah menantikan; mengharapkan (sesuatu yang mesti datang atau terjadi) terhadap pasangan hidup kita. Jadi, menunggu jodoh bukan berarti menunda jodoh untuk terlaksananya perkawinan.
Pada koridor itulah, kita seharusnya dapat menikmati episode menunggu jodoh sebagai ladang amal mempersiapkan membangun keluarga sakinah, sambil menunggu pasangan hidup kita. Pertanyaannya, apa saja yang perlu kita nikmati dalam menunggu jodoh itu?
Kiat Bisnis Waralaba
Lihat Detail

Kiat Bisnis Waralaba

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Dalam konteks ini, Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Pertimbangan Dalam Bisnis Waralaba

MENURUT Zaim Saidi, pengamat ekonomi dan aktivitas LSM, di atas kertas aksi boikot suatu produk dapat dengan mudah dilakukan, yakni dengan cara menghentikan pemakaian produk-produk yang dimaksudkan. Dan, memang, bila berhasil aksi boikot akan memberikan pengaruh besar justru karena invasi yang sesungguhnya terjadi atas masyarakat global saat ini adalah invasi pasar. Dominasi kekuatan Sekutu dalam kehidupan sehari-hari, dalam situasi “damai” tanpa perang, adalah pada penguasaan pasar dengan produk-produk multinasional yang menjadi ikon-ikon konsumsi: “di mana saja, kapan saja, siapa saja”, makan dan minum produk multinasional.

Pelajaran dan hikmah yang bisa kita dapatkan dari fenomena tersebut adalah setiap umat hendaknya mampu membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam. Dalam bahasa Zaim Saidi, tujuannya haruslah berdimensi jangka panjang dan mendasar yakni mengalihkan pola konsumsi masyarakat dari produk-produk multinasional yang memiskinkan bangsa kepada produk-produk nasional dan lokal yang meningkatkan kesejahteraan bangsa sendiri.

Jadi, aksi boikot seharusnya hanya dijadikan momentum untuk mengembangkan dan membangun jaringan bisnis dikalangan umat Islam. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah berupa usaha waralaba. Usaha waralaba merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Dalam konteks ini, Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Pertimbangan Dalam Bisnis Waralaba

MENURUT Zaim Saidi, pengamat ekonomi dan aktivitas LSM, di atas kertas aksi boikot suatu produk dapat dengan mudah dilakukan, yakni dengan cara menghentikan pemakaian produk-produk yang dimaksudkan. Dan, memang, bila berhasil aksi boikot akan memberikan pengaruh besar justru karena invasi yang sesungguhnya terjadi atas masyarakat global saat ini adalah invasi pasar. Dominasi kekuatan Sekutu dalam kehidupan sehari-hari, dalam situasi “damai” tanpa perang, adalah pada penguasaan pasar dengan produk-produk multinasional yang menjadi ikon-ikon konsumsi: “di mana saja, kapan saja, siapa saja”, makan dan minum produk multinasional.

Pelajaran dan hikmah yang bisa kita dapatkan dari fenomena tersebut adalah setiap umat hendaknya mampu membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam. Dalam bahasa Zaim Saidi, tujuannya haruslah berdimensi jangka panjang dan mendasar yakni mengalihkan pola konsumsi masyarakat dari produk-produk multinasional yang memiskinkan bangsa kepada produk-produk nasional dan lokal yang meningkatkan kesejahteraan bangsa sendiri.

Jadi, aksi boikot seharusnya hanya dijadikan momentum untuk mengembangkan dan membangun jaringan bisnis dikalangan umat Islam. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah berupa usaha waralaba. Usaha waralaba merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Dalam konteks ini, Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Pertimbangan Dalam Bisnis Waralaba

MENURUT Zaim Saidi, pengamat ekonomi dan aktivitas LSM, di atas kertas aksi boikot suatu produk dapat dengan mudah dilakukan, yakni dengan cara menghentikan pemakaian produk-produk yang dimaksudkan. Dan, memang, bila berhasil aksi boikot akan memberikan pengaruh besar justru karena invasi yang sesungguhnya terjadi atas masyarakat global saat ini adalah invasi pasar. Dominasi kekuatan Sekutu dalam kehidupan sehari-hari, dalam situasi “damai” tanpa perang, adalah pada penguasaan pasar dengan produk-produk multinasional yang menjadi ikon-ikon konsumsi: “di mana saja, kapan saja, siapa saja”, makan dan minum produk multinasional.

Pelajaran dan hikmah yang bisa kita dapatkan dari fenomena tersebut adalah setiap umat hendaknya mampu membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam. Dalam bahasa Zaim Saidi, tujuannya haruslah berdimensi jangka panjang dan mendasar yakni mengalihkan pola konsumsi masyarakat dari produk-produk multinasional yang memiskinkan bangsa kepada produk-produk nasional dan lokal yang meningkatkan kesejahteraan bangsa sendiri.

Jadi, aksi boikot seharusnya hanya dijadikan momentum untuk mengembangkan dan membangun jaringan bisnis dikalangan umat Islam. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah berupa usaha waralaba. Usaha waralaba merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Dalam konteks ini, Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Pertimbangan Dalam Bisnis Waralaba

MENURUT Zaim Saidi, pengamat ekonomi dan aktivitas LSM, di atas kertas aksi boikot suatu produk dapat dengan mudah dilakukan, yakni dengan cara menghentikan pemakaian produk-produk yang dimaksudkan. Dan, memang, bila berhasil aksi boikot akan memberikan pengaruh besar justru karena invasi yang sesungguhnya terjadi atas masyarakat global saat ini adalah invasi pasar. Dominasi kekuatan Sekutu dalam kehidupan sehari-hari, dalam situasi “damai” tanpa perang, adalah pada penguasaan pasar dengan produk-produk multinasional yang menjadi ikon-ikon konsumsi: “di mana saja, kapan saja, siapa saja”, makan dan minum produk multinasional.

Pelajaran dan hikmah yang bisa kita dapatkan dari fenomena tersebut adalah setiap umat hendaknya mampu membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam. Dalam bahasa Zaim Saidi, tujuannya haruslah berdimensi jangka panjang dan mendasar yakni mengalihkan pola konsumsi masyarakat dari produk-produk multinasional yang memiskinkan bangsa kepada produk-produk nasional dan lokal yang meningkatkan kesejahteraan bangsa sendiri.

Jadi, aksi boikot seharusnya hanya dijadikan momentum untuk mengembangkan dan membangun jaringan bisnis dikalangan umat Islam. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah berupa usaha waralaba. Usaha waralaba merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Dalam konteks ini, Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Pertimbangan Dalam Bisnis Waralaba

MENURUT Zaim Saidi, pengamat ekonomi dan aktivitas LSM, di atas kertas aksi boikot suatu produk dapat dengan mudah dilakukan, yakni dengan cara menghentikan pemakaian produk-produk yang dimaksudkan. Dan, memang, bila berhasil aksi boikot akan memberikan pengaruh besar justru karena invasi yang sesungguhnya terjadi atas masyarakat global saat ini adalah invasi pasar. Dominasi kekuatan Sekutu dalam kehidupan sehari-hari, dalam situasi “damai” tanpa perang, adalah pada penguasaan pasar dengan produk-produk multinasional yang menjadi ikon-ikon konsumsi: “di mana saja, kapan saja, siapa saja”, makan dan minum produk multinasional.

Pelajaran dan hikmah yang bisa kita dapatkan dari fenomena tersebut adalah setiap umat hendaknya mampu membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam. Dalam bahasa Zaim Saidi, tujuannya haruslah berdimensi jangka panjang dan mendasar yakni mengalihkan pola konsumsi masyarakat dari produk-produk multinasional yang memiskinkan bangsa kepada produk-produk nasional dan lokal yang meningkatkan kesejahteraan bangsa sendiri.

Jadi, aksi boikot seharusnya hanya dijadikan momentum untuk mengembangkan dan membangun jaringan bisnis dikalangan umat Islam. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah berupa usaha waralaba. Usaha waralaba merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Dalam konteks ini, Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Pertimbangan Dalam Bisnis Waralaba

MENURUT Zaim Saidi, pengamat ekonomi dan aktivitas LSM, di atas kertas aksi boikot suatu produk dapat dengan mudah dilakukan, yakni dengan cara menghentikan pemakaian produk-produk yang dimaksudkan. Dan, memang, bila berhasil aksi boikot akan memberikan pengaruh besar justru karena invasi yang sesungguhnya terjadi atas masyarakat global saat ini adalah invasi pasar. Dominasi kekuatan Sekutu dalam kehidupan sehari-hari, dalam situasi “damai” tanpa perang, adalah pada penguasaan pasar dengan produk-produk multinasional yang menjadi ikon-ikon konsumsi: “di mana saja, kapan saja, siapa saja”, makan dan minum produk multinasional.

Pelajaran dan hikmah yang bisa kita dapatkan dari fenomena tersebut adalah setiap umat hendaknya mampu membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam. Dalam bahasa Zaim Saidi, tujuannya haruslah berdimensi jangka panjang dan mendasar yakni mengalihkan pola konsumsi masyarakat dari produk-produk multinasional yang memiskinkan bangsa kepada produk-produk nasional dan lokal yang meningkatkan kesejahteraan bangsa sendiri.

Jadi, aksi boikot seharusnya hanya dijadikan momentum untuk mengembangkan dan membangun jaringan bisnis dikalangan umat Islam. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah berupa usaha waralaba. Usaha waralaba merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.

Konsep usaha waralaba ini didalamnya terkandung ajaran berupa terjalinnya silaturrahmi. Kita tahu, aktivitas silaturrahmi dalam ajaran Islam disebutkan sebagai aktivitas yang akan mendatangkan rahmat Allah yang tidak terkira. Dalam konteks ini, Islam telah lebih dahulu memberikan kunci bagi mereka yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, yaitu dengan cara menyambung persaudaraan. Salah satu bentuk persaudaraan dalam dunia bisnis adalah dengan membangun jaringan bisnis secara Islami.

Pertimbangan Dalam Bisnis Waralaba

MENURUT Zaim Saidi, pengamat ekonomi dan aktivitas LSM, di atas kertas aksi boikot suatu produk dapat dengan mudah dilakukan, yakni dengan cara menghentikan pemakaian produk-produk yang dimaksudkan. Dan, memang, bila berhasil aksi boikot akan memberikan pengaruh besar justru karena invasi yang sesungguhnya terjadi atas masyarakat global saat ini adalah invasi pasar. Dominasi kekuatan Sekutu dalam kehidupan sehari-hari, dalam situasi “damai” tanpa perang, adalah pada penguasaan pasar dengan produk-produk multinasional yang menjadi ikon-ikon konsumsi: “di mana saja, kapan saja, siapa saja”, makan dan minum produk multinasional.

Pelajaran dan hikmah yang bisa kita dapatkan dari fenomena tersebut adalah setiap umat hendaknya mampu membangun kekuatan jaringan usaha perekonomian yang dikelola oleh umat Islam. Dalam bahasa Zaim Saidi, tujuannya haruslah berdimensi jangka panjang dan mendasar yakni mengalihkan pola konsumsi masyarakat dari produk-produk multinasional yang memiskinkan bangsa kepada produk-produk nasional dan lokal yang meningkatkan kesejahteraan bangsa sendiri.

Jadi, aksi boikot seharusnya hanya dijadikan momentum untuk mengembangkan dan membangun jaringan bisnis dikalangan umat Islam. Salah satu bentuk usaha yang dapat dikembangkan adalah berupa usaha waralaba. Usaha waralaba merupakan bentuk khusus dari lisensi di mana pemberi hak bukan hanya menjual haknya tetapi juga turut serta membentuk si penerima hak dalam melakukan bisnisnya.

Usaha waralaba ini tentu akan membentuk sebuah usaha yang bermanfaat bagi banyak orang. Pada dasarnya konsep bisnis waralaba ini dirancang guna memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam menjalin kemitraan bisnis yang saling melindungi dan menguntungkan.

Keberhasilan Wirausaha
Lihat Detail

Keberhasilan Wirausaha


WIRAUSAHA atau enterpreneur merupakan orang yang berperilaku kreatif dan inovatif sebagai tanggapan terhadap lingkungan. Jadi, kewirausahaan adalah perilaku. Dan sebagai perilaku, kewirausahaan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.

Faktor Psikologis Keberhasilan Wirausaha


WIRAUSAHA atau enterpreneur merupakan orang yang berperilaku kreatif dan inovatif sebagai tanggapan terhadap lingkungan. Jadi, kewirausahaan adalah perilaku. Dan sebagai perilaku, kewirausahaan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.

Keberadaan faktor psikologis ini, sebagian dapat dianggap faktor ‘bawaan’, dan sebagian terbesar merupakan faktor ‘didikan’, artinya keberadaannya itu merupakan perolehan dari perjalanan hidup seseorang. Berikut ini, beberapa faktor psikologis penting yang telah banyak diyakini sebagai faktor penunjang keberhasilan wirausaha.

  1. Keinginan mandiri. Seorang wirausaha umumnya terbentuk karena keinginan mandirinya mendominasi sikap hidupnya dalam bekerja. Ia tidak ingin tergantung kepada orang lain (baca: perintah dan pemikiran orang lain). Bila orang seperti ini bekerja dibawah pengaruh orang lain ada kecenderungan untuk terjadi konflik dengan atasannya, maka kerap kali hal ini yang memperkuat hasratnya untuk mandiri dan menjadi wirausaha.

  1. Dorongan untuk berprestasi. Dorongan semacam ini digolongkan sebagai suatu faktor kewirausahaan yang penting. Wirausaha yang berhasil rata-rata memiliki dorongan berprestasi yang tinggi. Orang seperti itu, tentu mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi wiraushawan yang berhasil. Dorongan berprestasi ini dipandang sedemikian penting sehingga dibanyak negara, telah memasukkan faktor ini dalam kepribadian seseorang dengan melakukan pelatihan “Achievment Motivation Training.”

  1. Dorongan untuk mempengaruhi kepada orang lain. Ketika seorang wirausaha mulai mencoba mewujudkan cita-citanya, maka ia tentu membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, dorongan untuk berpengaruh kepada orang lain menjadi penting bagi keberhasilan usahanya. Kebutuhan inilah yang menempatkan dirinya dalam barisan pemimpin, dan diakui sebagai pemimpin.

  1. Menghargai kerja tangan. Dalam banyak penelitian tampak bahwa para wirausaha yang berhasil umumnya lebih menghargai kerja tangan secara langsung dibandingkan dengan mereka yang bukan wirausaha. Hal ini bisa dimengerti karena yang bukan dari tangan dan ketrampilannya, orang bisa melihat lahirnya produk-produk wirausaha.

  1. Belajar dari pengalaman. Seorang wirausaha mempunyai kecenderungan untuk terbuka terhadap umpan balik yang diterimanya. Umpan balik selalu penting untuk mengoreksi dan memperbaiki diri. Umpan balik ini bisa datang dari pekerjaan, pengalaman, lingkungan dan orang lain. Karenanya seorang wirausaha luwes, tidak kaku, berani berubah bila ternyata langkahnya dianggap tidak tepat lagi.

  1. Menghargai hasil. Seorang wirausaha menunjukkan kecenderungan mengutamakan hasil dan bukan cara. Sebagai seseorang yang mengutamakan hasil, seorang wirausaha juga selalu berorentasi pada pemecahan persoalan, dan tidak cenderung menghindar dari persoalan.

  1. Menabung untuk esok hari. Ada kecenderungan bahwa wirausaha yang berhasil adalah mereka yang gemar menabung untuk hari depannya. Uang baginya merupakan modal, bahan baku yang dapat mewujudkan ide-ide cemerlangnya dan bukannya sekedar anggaran belanja yang bisa dihabiskan sesaat.

 

8.    Sadar arti penting sebuah waktu. Orang yang selalu menyeselai kegagalan dan mengenang keberhasilan masa lalu tidak dapat hidup realistis. Seorang wirausaha mempunyai orentasi waktu yang seimbang. Masa depan dilihatnya sebagai ladang peluang-peluang. Tetapi, ia cukup pragmatis untuk hidup dan memanfaatkan waktu-waktu sekarang. Tepatnya, ia sangat menghargai waktu. Ia sadar bahwa peluang sangat tergantung kecepatan bergerak dan ketepatan waktu.


  1. Berpandangan bahwa nasibnya lebih ditentukan oleh dirinya sendiri. Dalam ilmu psikologi dikenal dua macam cara seseorang memandang akibat-akibat yang terjadi pada dirinya. Pertama, pandangan bahwa akibat-akibat yang terjadi pada diri seseorang itu lebih ditentukan oleh faktor di luar dirinya. Kedua, berpandangan bahwa kejadian-kejadian yang dialami seseorang sebenarnya lebih diakibatkan oleh ulahnya sendiri.

Dari sini, para wirausaha cenderung memiliki pandangan yang kedua. Artinya kegagalan yang dialaminya bukan dianggap sebagai nasib buruk (baca: kesalahan orang lain), tetapi lebih dipercayai sebagai ketidaktepatan tindakannya atau kekurang mampuannya.

Berhitung dalam mengambil resiko. Semua wirausaha yang memulai usahanya selalu dihadapkan pada berbagai resiko. Wirausaha yang berhasil umumnya bukan mereka yang memandang enteng terhadap resiko, bukan pula mereka yang selalu menghindari resiko dan cari aman saja. Namun, umumnya mereka berhasil karena selalu memperhitungkan resiko itu. Wallahu a’lam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

WIRAUSAHA atau enterpreneur merupakan orang yang berperilaku kreatif dan inovatif sebagai tanggapan terhadap lingkungan. Jadi, kewirausahaan adalah perilaku. Dan sebagai perilaku, kewirausahaan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.

Faktor Psikologis Keberhasilan Wirausaha


WIRAUSAHA atau enterpreneur merupakan orang yang berperilaku kreatif dan inovatif sebagai tanggapan terhadap lingkungan. Jadi, kewirausahaan adalah perilaku. Dan sebagai perilaku, kewirausahaan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.

Keberadaan faktor psikologis ini, sebagian dapat dianggap faktor ‘bawaan’, dan sebagian terbesar merupakan faktor ‘didikan’, artinya keberadaannya itu merupakan perolehan dari perjalanan hidup seseorang. Berikut ini, beberapa faktor psikologis penting yang telah banyak diyakini sebagai faktor penunjang keberhasilan wirausaha.

  1. Keinginan mandiri. Seorang wirausaha umumnya terbentuk karena keinginan mandirinya mendominasi sikap hidupnya dalam bekerja. Ia tidak ingin tergantung kepada orang lain (baca: perintah dan pemikiran orang lain). Bila orang seperti ini bekerja dibawah pengaruh orang lain ada kecenderungan untuk terjadi konflik dengan atasannya, maka kerap kali hal ini yang memperkuat hasratnya untuk mandiri dan menjadi wirausaha.

  1. Dorongan untuk berprestasi. Dorongan semacam ini digolongkan sebagai suatu faktor kewirausahaan yang penting. Wirausaha yang berhasil rata-rata memiliki dorongan berprestasi yang tinggi. Orang seperti itu, tentu mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi wiraushawan yang berhasil. Dorongan berprestasi ini dipandang sedemikian penting sehingga dibanyak negara, telah memasukkan faktor ini dalam kepribadian seseorang dengan melakukan pelatihan “Achievment Motivation Training.”

  1. Dorongan untuk mempengaruhi kepada orang lain. Ketika seorang wirausaha mulai mencoba mewujudkan cita-citanya, maka ia tentu membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, dorongan untuk berpengaruh kepada orang lain menjadi penting bagi keberhasilan usahanya. Kebutuhan inilah yang menempatkan dirinya dalam barisan pemimpin, dan diakui sebagai pemimpin.

  1. Menghargai kerja tangan. Dalam banyak penelitian tampak bahwa para wirausaha yang berhasil umumnya lebih menghargai kerja tangan secara langsung dibandingkan dengan mereka yang bukan wirausaha. Hal ini bisa dimengerti karena yang bukan dari tangan dan ketrampilannya, orang bisa melihat lahirnya produk-produk wirausaha.

  1. Belajar dari pengalaman. Seorang wirausaha mempunyai kecenderungan untuk terbuka terhadap umpan balik yang diterimanya. Umpan balik selalu penting untuk mengoreksi dan memperbaiki diri. Umpan balik ini bisa datang dari pekerjaan, pengalaman, lingkungan dan orang lain. Karenanya seorang wirausaha luwes, tidak kaku, berani berubah bila ternyata langkahnya dianggap tidak tepat lagi.

  1. Menghargai hasil. Seorang wirausaha menunjukkan kecenderungan mengutamakan hasil dan bukan cara. Sebagai seseorang yang mengutamakan hasil, seorang wirausaha juga selalu berorentasi pada pemecahan persoalan, dan tidak cenderung menghindar dari persoalan.

  1. Menabung untuk esok hari. Ada kecenderungan bahwa wirausaha yang berhasil adalah mereka yang gemar menabung untuk hari depannya. Uang baginya merupakan modal, bahan baku yang dapat mewujudkan ide-ide cemerlangnya dan bukannya sekedar anggaran belanja yang bisa dihabiskan sesaat.

 

8.    Sadar arti penting sebuah waktu. Orang yang selalu menyeselai kegagalan dan mengenang keberhasilan masa lalu tidak dapat hidup realistis. Seorang wirausaha mempunyai orentasi waktu yang seimbang. Masa depan dilihatnya sebagai ladang peluang-peluang. Tetapi, ia cukup pragmatis untuk hidup dan memanfaatkan waktu-waktu sekarang. Tepatnya, ia sangat menghargai waktu. Ia sadar bahwa peluang sangat tergantung kecepatan bergerak dan ketepatan waktu.


  1. Berpandangan bahwa nasibnya lebih ditentukan oleh dirinya sendiri. Dalam ilmu psikologi dikenal dua macam cara seseorang memandang akibat-akibat yang terjadi pada dirinya. Pertama, pandangan bahwa akibat-akibat yang terjadi pada diri seseorang itu lebih ditentukan oleh faktor di luar dirinya. Kedua, berpandangan bahwa kejadian-kejadian yang dialami seseorang sebenarnya lebih diakibatkan oleh ulahnya sendiri.

Dari sini, para wirausaha cenderung memiliki pandangan yang kedua. Artinya kegagalan yang dialaminya bukan dianggap sebagai nasib buruk (baca: kesalahan orang lain), tetapi lebih dipercayai sebagai ketidaktepatan tindakannya atau kekurang mampuannya.

Berhitung dalam mengambil resiko. Semua wirausaha yang memulai usahanya selalu dihadapkan pada berbagai resiko. Wirausaha yang berhasil umumnya bukan mereka yang memandang enteng terhadap resiko, bukan pula mereka yang selalu menghindari resiko dan cari aman saja. Namun, umumnya mereka berhasil karena selalu memperhitungkan resiko itu. Wallahu a’lam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

WIRAUSAHA atau enterpreneur merupakan orang yang berperilaku kreatif dan inovatif sebagai tanggapan terhadap lingkungan. Jadi, kewirausahaan adalah perilaku. Dan sebagai perilaku, kewirausahaan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.

Faktor Psikologis Keberhasilan Wirausaha


WIRAUSAHA atau enterpreneur merupakan orang yang berperilaku kreatif dan inovatif sebagai tanggapan terhadap lingkungan. Jadi, kewirausahaan adalah perilaku. Dan sebagai perilaku, kewirausahaan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.

Keberadaan faktor psikologis ini, sebagian dapat dianggap faktor ‘bawaan’, dan sebagian terbesar merupakan faktor ‘didikan’, artinya keberadaannya itu merupakan perolehan dari perjalanan hidup seseorang. Berikut ini, beberapa faktor psikologis penting yang telah banyak diyakini sebagai faktor penunjang keberhasilan wirausaha.

  1. Keinginan mandiri. Seorang wirausaha umumnya terbentuk karena keinginan mandirinya mendominasi sikap hidupnya dalam bekerja. Ia tidak ingin tergantung kepada orang lain (baca: perintah dan pemikiran orang lain). Bila orang seperti ini bekerja dibawah pengaruh orang lain ada kecenderungan untuk terjadi konflik dengan atasannya, maka kerap kali hal ini yang memperkuat hasratnya untuk mandiri dan menjadi wirausaha.

  1. Dorongan untuk berprestasi. Dorongan semacam ini digolongkan sebagai suatu faktor kewirausahaan yang penting. Wirausaha yang berhasil rata-rata memiliki dorongan berprestasi yang tinggi. Orang seperti itu, tentu mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi wiraushawan yang berhasil. Dorongan berprestasi ini dipandang sedemikian penting sehingga dibanyak negara, telah memasukkan faktor ini dalam kepribadian seseorang dengan melakukan pelatihan “Achievment Motivation Training.”

  1. Dorongan untuk mempengaruhi kepada orang lain. Ketika seorang wirausaha mulai mencoba mewujudkan cita-citanya, maka ia tentu membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, dorongan untuk berpengaruh kepada orang lain menjadi penting bagi keberhasilan usahanya. Kebutuhan inilah yang menempatkan dirinya dalam barisan pemimpin, dan diakui sebagai pemimpin.

  1. Menghargai kerja tangan. Dalam banyak penelitian tampak bahwa para wirausaha yang berhasil umumnya lebih menghargai kerja tangan secara langsung dibandingkan dengan mereka yang bukan wirausaha. Hal ini bisa dimengerti karena yang bukan dari tangan dan ketrampilannya, orang bisa melihat lahirnya produk-produk wirausaha.

  1. Belajar dari pengalaman. Seorang wirausaha mempunyai kecenderungan untuk terbuka terhadap umpan balik yang diterimanya. Umpan balik selalu penting untuk mengoreksi dan memperbaiki diri. Umpan balik ini bisa datang dari pekerjaan, pengalaman, lingkungan dan orang lain. Karenanya seorang wirausaha luwes, tidak kaku, berani berubah bila ternyata langkahnya dianggap tidak tepat lagi.

  1. Menghargai hasil. Seorang wirausaha menunjukkan kecenderungan mengutamakan hasil dan bukan cara. Sebagai seseorang yang mengutamakan hasil, seorang wirausaha juga selalu berorentasi pada pemecahan persoalan, dan tidak cenderung menghindar dari persoalan.

  1. Menabung untuk esok hari. Ada kecenderungan bahwa wirausaha yang berhasil adalah mereka yang gemar menabung untuk hari depannya. Uang baginya merupakan modal, bahan baku yang dapat mewujudkan ide-ide cemerlangnya dan bukannya sekedar anggaran belanja yang bisa dihabiskan sesaat.

 

8.    Sadar arti penting sebuah waktu. Orang yang selalu menyeselai kegagalan dan mengenang keberhasilan masa lalu tidak dapat hidup realistis. Seorang wirausaha mempunyai orentasi waktu yang seimbang. Masa depan dilihatnya sebagai ladang peluang-peluang. Tetapi, ia cukup pragmatis untuk hidup dan memanfaatkan waktu-waktu sekarang. Tepatnya, ia sangat menghargai waktu. Ia sadar bahwa peluang sangat tergantung kecepatan bergerak dan ketepatan waktu.


  1. Berpandangan bahwa nasibnya lebih ditentukan oleh dirinya sendiri. Dalam ilmu psikologi dikenal dua macam cara seseorang memandang akibat-akibat yang terjadi pada dirinya. Pertama, pandangan bahwa akibat-akibat yang terjadi pada diri seseorang itu lebih ditentukan oleh faktor di luar dirinya. Kedua, berpandangan bahwa kejadian-kejadian yang dialami seseorang sebenarnya lebih diakibatkan oleh ulahnya sendiri.

Dari sini, para wirausaha cenderung memiliki pandangan yang kedua. Artinya kegagalan yang dialaminya bukan dianggap sebagai nasib buruk (baca: kesalahan orang lain), tetapi lebih dipercayai sebagai ketidaktepatan tindakannya atau kekurang mampuannya.

Berhitung dalam mengambil resiko. Semua wirausaha yang memulai usahanya selalu dihadapkan pada berbagai resiko. Wirausaha yang berhasil umumnya bukan mereka yang memandang enteng terhadap resiko, bukan pula mereka yang selalu menghindari resiko dan cari aman saja. Namun, umumnya mereka berhasil karena selalu memperhitungkan resiko itu. Wallahu a’lam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

WIRAUSAHA atau enterpreneur merupakan orang yang berperilaku kreatif dan inovatif sebagai tanggapan terhadap lingkungan. Jadi, kewirausahaan adalah perilaku. Dan sebagai perilaku, kewirausahaan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.

Faktor Psikologis Keberhasilan Wirausaha


WIRAUSAHA atau enterpreneur merupakan orang yang berperilaku kreatif dan inovatif sebagai tanggapan terhadap lingkungan. Jadi, kewirausahaan adalah perilaku. Dan sebagai perilaku, kewirausahaan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.

Keberadaan faktor psikologis ini, sebagian dapat dianggap faktor ‘bawaan’, dan sebagian terbesar merupakan faktor ‘didikan’, artinya keberadaannya itu merupakan perolehan dari perjalanan hidup seseorang. Berikut ini, beberapa faktor psikologis penting yang telah banyak diyakini sebagai faktor penunjang keberhasilan wirausaha.

  1. Keinginan mandiri. Seorang wirausaha umumnya terbentuk karena keinginan mandirinya mendominasi sikap hidupnya dalam bekerja. Ia tidak ingin tergantung kepada orang lain (baca: perintah dan pemikiran orang lain). Bila orang seperti ini bekerja dibawah pengaruh orang lain ada kecenderungan untuk terjadi konflik dengan atasannya, maka kerap kali hal ini yang memperkuat hasratnya untuk mandiri dan menjadi wirausaha.

  1. Dorongan untuk berprestasi. Dorongan semacam ini digolongkan sebagai suatu faktor kewirausahaan yang penting. Wirausaha yang berhasil rata-rata memiliki dorongan berprestasi yang tinggi. Orang seperti itu, tentu mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi wiraushawan yang berhasil. Dorongan berprestasi ini dipandang sedemikian penting sehingga dibanyak negara, telah memasukkan faktor ini dalam kepribadian seseorang dengan melakukan pelatihan “Achievment Motivation Training.”

  1. Dorongan untuk mempengaruhi kepada orang lain. Ketika seorang wirausaha mulai mencoba mewujudkan cita-citanya, maka ia tentu membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, dorongan untuk berpengaruh kepada orang lain menjadi penting bagi keberhasilan usahanya. Kebutuhan inilah yang menempatkan dirinya dalam barisan pemimpin, dan diakui sebagai pemimpin.

  1. Menghargai kerja tangan. Dalam banyak penelitian tampak bahwa para wirausaha yang berhasil umumnya lebih menghargai kerja tangan secara langsung dibandingkan dengan mereka yang bukan wirausaha. Hal ini bisa dimengerti karena yang bukan dari tangan dan ketrampilannya, orang bisa melihat lahirnya produk-produk wirausaha.

  1. Belajar dari pengalaman. Seorang wirausaha mempunyai kecenderungan untuk terbuka terhadap umpan balik yang diterimanya. Umpan balik selalu penting untuk mengoreksi dan memperbaiki diri. Umpan balik ini bisa datang dari pekerjaan, pengalaman, lingkungan dan orang lain. Karenanya seorang wirausaha luwes, tidak kaku, berani berubah bila ternyata langkahnya dianggap tidak tepat lagi.

  1. Menghargai hasil. Seorang wirausaha menunjukkan kecenderungan mengutamakan hasil dan bukan cara. Sebagai seseorang yang mengutamakan hasil, seorang wirausaha juga selalu berorentasi pada pemecahan persoalan, dan tidak cenderung menghindar dari persoalan.

  1. Menabung untuk esok hari. Ada kecenderungan bahwa wirausaha yang berhasil adalah mereka yang gemar menabung untuk hari depannya. Uang baginya merupakan modal, bahan baku yang dapat mewujudkan ide-ide cemerlangnya dan bukannya sekedar anggaran belanja yang bisa dihabiskan sesaat.

 

8.    Sadar arti penting sebuah waktu. Orang yang selalu menyeselai kegagalan dan mengenang keberhasilan masa lalu tidak dapat hidup realistis. Seorang wirausaha mempunyai orentasi waktu yang seimbang. Masa depan dilihatnya sebagai ladang peluang-peluang. Tetapi, ia cukup pragmatis untuk hidup dan memanfaatkan waktu-waktu sekarang. Tepatnya, ia sangat menghargai waktu. Ia sadar bahwa peluang sangat tergantung kecepatan bergerak dan ketepatan waktu.


  1. Berpandangan bahwa nasibnya lebih ditentukan oleh dirinya sendiri. Dalam ilmu psikologi dikenal dua macam cara seseorang memandang akibat-akibat yang terjadi pada dirinya. Pertama, pandangan bahwa akibat-akibat yang terjadi pada diri seseorang itu lebih ditentukan oleh faktor di luar dirinya. Kedua, berpandangan bahwa kejadian-kejadian yang dialami seseorang sebenarnya lebih diakibatkan oleh ulahnya sendiri.

Dari sini, para wirausaha cenderung memiliki pandangan yang kedua. Artinya kegagalan yang dialaminya bukan dianggap sebagai nasib buruk (baca: kesalahan orang lain), tetapi lebih dipercayai sebagai ketidaktepatan tindakannya atau kekurang mampuannya.

Berhitung dalam mengambil resiko. Semua wirausaha yang memulai usahanya selalu dihadapkan pada berbagai resiko. Wirausaha yang berhasil umumnya bukan mereka yang memandang enteng terhadap resiko, bukan pula mereka yang selalu menghindari resiko dan cari aman saja. Namun, umumnya mereka berhasil karena selalu memperhitungkan resiko itu. Wallahu a’lam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

WIRAUSAHA atau enterpreneur merupakan orang yang berperilaku kreatif dan inovatif sebagai tanggapan terhadap lingkungan. Jadi, kewirausahaan adalah perilaku. Dan sebagai perilaku, kewirausahaan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.

Faktor Psikologis Keberhasilan Wirausaha


WIRAUSAHA atau enterpreneur merupakan orang yang berperilaku kreatif dan inovatif sebagai tanggapan terhadap lingkungan. Jadi, kewirausahaan adalah perilaku. Dan sebagai perilaku, kewirausahaan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.

Keberadaan faktor psikologis ini, sebagian dapat dianggap faktor ‘bawaan’, dan sebagian terbesar merupakan faktor ‘didikan’, artinya keberadaannya itu merupakan perolehan dari perjalanan hidup seseorang. Berikut ini, beberapa faktor psikologis penting yang telah banyak diyakini sebagai faktor penunjang keberhasilan wirausaha.

  1. Keinginan mandiri. Seorang wirausaha umumnya terbentuk karena keinginan mandirinya mendominasi sikap hidupnya dalam bekerja. Ia tidak ingin tergantung kepada orang lain (baca: perintah dan pemikiran orang lain). Bila orang seperti ini bekerja dibawah pengaruh orang lain ada kecenderungan untuk terjadi konflik dengan atasannya, maka kerap kali hal ini yang memperkuat hasratnya untuk mandiri dan menjadi wirausaha.

  1. Dorongan untuk berprestasi. Dorongan semacam ini digolongkan sebagai suatu faktor kewirausahaan yang penting. Wirausaha yang berhasil rata-rata memiliki dorongan berprestasi yang tinggi. Orang seperti itu, tentu mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi wiraushawan yang berhasil. Dorongan berprestasi ini dipandang sedemikian penting sehingga dibanyak negara, telah memasukkan faktor ini dalam kepribadian seseorang dengan melakukan pelatihan “Achievment Motivation Training.”

  1. Dorongan untuk mempengaruhi kepada orang lain. Ketika seorang wirausaha mulai mencoba mewujudkan cita-citanya, maka ia tentu membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, dorongan untuk berpengaruh kepada orang lain menjadi penting bagi keberhasilan usahanya. Kebutuhan inilah yang menempatkan dirinya dalam barisan pemimpin, dan diakui sebagai pemimpin.

  1. Menghargai kerja tangan. Dalam banyak penelitian tampak bahwa para wirausaha yang berhasil umumnya lebih menghargai kerja tangan secara langsung dibandingkan dengan mereka yang bukan wirausaha. Hal ini bisa dimengerti karena yang bukan dari tangan dan ketrampilannya, orang bisa melihat lahirnya produk-produk wirausaha.

  1. Belajar dari pengalaman. Seorang wirausaha mempunyai kecenderungan untuk terbuka terhadap umpan balik yang diterimanya. Umpan balik selalu penting untuk mengoreksi dan memperbaiki diri. Umpan balik ini bisa datang dari pekerjaan, pengalaman, lingkungan dan orang lain. Karenanya seorang wirausaha luwes, tidak kaku, berani berubah bila ternyata langkahnya dianggap tidak tepat lagi.

  1. Menghargai hasil. Seorang wirausaha menunjukkan kecenderungan mengutamakan hasil dan bukan cara. Sebagai seseorang yang mengutamakan hasil, seorang wirausaha juga selalu berorentasi pada pemecahan persoalan, dan tidak cenderung menghindar dari persoalan.

  1. Menabung untuk esok hari. Ada kecenderungan bahwa wirausaha yang berhasil adalah mereka yang gemar menabung untuk hari depannya. Uang baginya merupakan modal, bahan baku yang dapat mewujudkan ide-ide cemerlangnya dan bukannya sekedar anggaran belanja yang bisa dihabiskan sesaat.

 

8.    Sadar arti penting sebuah waktu. Orang yang selalu menyeselai kegagalan dan mengenang keberhasilan masa lalu tidak dapat hidup realistis. Seorang wirausaha mempunyai orentasi waktu yang seimbang. Masa depan dilihatnya sebagai ladang peluang-peluang. Tetapi, ia cukup pragmatis untuk hidup dan memanfaatkan waktu-waktu sekarang. Tepatnya, ia sangat menghargai waktu. Ia sadar bahwa peluang sangat tergantung kecepatan bergerak dan ketepatan waktu.


  1. Berpandangan bahwa nasibnya lebih ditentukan oleh dirinya sendiri. Dalam ilmu psikologi dikenal dua macam cara seseorang memandang akibat-akibat yang terjadi pada dirinya. Pertama, pandangan bahwa akibat-akibat yang terjadi pada diri seseorang itu lebih ditentukan oleh faktor di luar dirinya. Kedua, berpandangan bahwa kejadian-kejadian yang dialami seseorang sebenarnya lebih diakibatkan oleh ulahnya sendiri.

Dari sini, para wirausaha cenderung memiliki pandangan yang kedua. Artinya kegagalan yang dialaminya bukan dianggap sebagai nasib buruk (baca: kesalahan orang lain), tetapi lebih dipercayai sebagai ketidaktepatan tindakannya atau kekurang mampuannya.

Berhitung dalam mengambil resiko. Semua wirausaha yang memulai usahanya selalu dihadapkan pada berbagai resiko. Wirausaha yang berhasil umumnya bukan mereka yang memandang enteng terhadap resiko, bukan pula mereka yang selalu menghindari resiko dan cari aman saja. Namun, umumnya mereka berhasil karena selalu memperhitungkan resiko itu. Wallahu a’lam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

WIRAUSAHA atau enterpreneur merupakan orang yang berperilaku kreatif dan inovatif sebagai tanggapan terhadap lingkungan. Jadi, kewirausahaan adalah perilaku. Dan sebagai perilaku, kewirausahaan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.

Faktor Psikologis Keberhasilan Wirausaha


WIRAUSAHA atau enterpreneur merupakan orang yang berperilaku kreatif dan inovatif sebagai tanggapan terhadap lingkungan. Jadi, kewirausahaan adalah perilaku. Dan sebagai perilaku, kewirausahaan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.

Keberadaan faktor psikologis ini, sebagian dapat dianggap faktor ‘bawaan’, dan sebagian terbesar merupakan faktor ‘didikan’, artinya keberadaannya itu merupakan perolehan dari perjalanan hidup seseorang. Berikut ini, beberapa faktor psikologis penting yang telah banyak diyakini sebagai faktor penunjang keberhasilan wirausaha.

  1. Keinginan mandiri. Seorang wirausaha umumnya terbentuk karena keinginan mandirinya mendominasi sikap hidupnya dalam bekerja. Ia tidak ingin tergantung kepada orang lain (baca: perintah dan pemikiran orang lain). Bila orang seperti ini bekerja dibawah pengaruh orang lain ada kecenderungan untuk terjadi konflik dengan atasannya, maka kerap kali hal ini yang memperkuat hasratnya untuk mandiri dan menjadi wirausaha.

  1. Dorongan untuk berprestasi. Dorongan semacam ini digolongkan sebagai suatu faktor kewirausahaan yang penting. Wirausaha yang berhasil rata-rata memiliki dorongan berprestasi yang tinggi. Orang seperti itu, tentu mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi wiraushawan yang berhasil. Dorongan berprestasi ini dipandang sedemikian penting sehingga dibanyak negara, telah memasukkan faktor ini dalam kepribadian seseorang dengan melakukan pelatihan “Achievment Motivation Training.”

  1. Dorongan untuk mempengaruhi kepada orang lain. Ketika seorang wirausaha mulai mencoba mewujudkan cita-citanya, maka ia tentu membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, dorongan untuk berpengaruh kepada orang lain menjadi penting bagi keberhasilan usahanya. Kebutuhan inilah yang menempatkan dirinya dalam barisan pemimpin, dan diakui sebagai pemimpin.

  1. Menghargai kerja tangan. Dalam banyak penelitian tampak bahwa para wirausaha yang berhasil umumnya lebih menghargai kerja tangan secara langsung dibandingkan dengan mereka yang bukan wirausaha. Hal ini bisa dimengerti karena yang bukan dari tangan dan ketrampilannya, orang bisa melihat lahirnya produk-produk wirausaha.

  1. Belajar dari pengalaman. Seorang wirausaha mempunyai kecenderungan untuk terbuka terhadap umpan balik yang diterimanya. Umpan balik selalu penting untuk mengoreksi dan memperbaiki diri. Umpan balik ini bisa datang dari pekerjaan, pengalaman, lingkungan dan orang lain. Karenanya seorang wirausaha luwes, tidak kaku, berani berubah bila ternyata langkahnya dianggap tidak tepat lagi.

  1. Menghargai hasil. Seorang wirausaha menunjukkan kecenderungan mengutamakan hasil dan bukan cara. Sebagai seseorang yang mengutamakan hasil, seorang wirausaha juga selalu berorentasi pada pemecahan persoalan, dan tidak cenderung menghindar dari persoalan.

  1. Menabung untuk esok hari. Ada kecenderungan bahwa wirausaha yang berhasil adalah mereka yang gemar menabung untuk hari depannya. Uang baginya merupakan modal, bahan baku yang dapat mewujudkan ide-ide cemerlangnya dan bukannya sekedar anggaran belanja yang bisa dihabiskan sesaat.

 

8.    Sadar arti penting sebuah waktu. Orang yang selalu menyeselai kegagalan dan mengenang keberhasilan masa lalu tidak dapat hidup realistis. Seorang wirausaha mempunyai orentasi waktu yang seimbang. Masa depan dilihatnya sebagai ladang peluang-peluang. Tetapi, ia cukup pragmatis untuk hidup dan memanfaatkan waktu-waktu sekarang. Tepatnya, ia sangat menghargai waktu. Ia sadar bahwa peluang sangat tergantung kecepatan bergerak dan ketepatan waktu.


  1. Berpandangan bahwa nasibnya lebih ditentukan oleh dirinya sendiri. Dalam ilmu psikologi dikenal dua macam cara seseorang memandang akibat-akibat yang terjadi pada dirinya. Pertama, pandangan bahwa akibat-akibat yang terjadi pada diri seseorang itu lebih ditentukan oleh faktor di luar dirinya. Kedua, berpandangan bahwa kejadian-kejadian yang dialami seseorang sebenarnya lebih diakibatkan oleh ulahnya sendiri.

Dari sini, para wirausaha cenderung memiliki pandangan yang kedua. Artinya kegagalan yang dialaminya bukan dianggap sebagai nasib buruk (baca: kesalahan orang lain), tetapi lebih dipercayai sebagai ketidaktepatan tindakannya atau kekurang mampuannya.

Berhitung dalam mengambil resiko. Semua wirausaha yang memulai usahanya selalu dihadapkan pada berbagai resiko. Wirausaha yang berhasil umumnya bukan mereka yang memandang enteng terhadap resiko, bukan pula mereka yang selalu menghindari resiko dan cari aman saja. Namun, umumnya mereka berhasil karena selalu memperhitungkan resiko itu. Wallahu a’lam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com 

WIRAUSAHA atau enterpreneur merupakan orang yang berperilaku kreatif dan inovatif sebagai tanggapan terhadap lingkungan. Jadi, kewirausahaan adalah perilaku. Dan sebagai perilaku, kewirausahaan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.

Faktor Psikologis Keberhasilan Wirausaha


WIRAUSAHA atau enterpreneur merupakan orang yang berperilaku kreatif dan inovatif sebagai tanggapan terhadap lingkungan. Jadi, kewirausahaan adalah perilaku. Dan sebagai perilaku, kewirausahaan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis.

Keberadaan faktor psikologis ini, sebagian dapat dianggap faktor ‘bawaan’, dan sebagian terbesar merupakan faktor ‘didikan’, artinya keberadaannya itu merupakan perolehan dari perjalanan hidup seseorang. Berikut ini, beberapa faktor psikologis penting yang telah banyak diyakini sebagai faktor penunjang keberhasilan wirausaha.

  1. Keinginan mandiri. Seorang wirausaha umumnya terbentuk karena keinginan mandirinya mendominasi sikap hidupnya dalam bekerja. Ia tidak ingin tergantung kepada orang lain (baca: perintah dan pemikiran orang lain). Bila orang seperti ini bekerja dibawah pengaruh orang lain ada kecenderungan untuk terjadi konflik dengan atasannya, maka kerap kali hal ini yang memperkuat hasratnya untuk mandiri dan menjadi wirausaha.

  1. Dorongan untuk berprestasi. Dorongan semacam ini digolongkan sebagai suatu faktor kewirausahaan yang penting. Wirausaha yang berhasil rata-rata memiliki dorongan berprestasi yang tinggi. Orang seperti itu, tentu mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menjadi wiraushawan yang berhasil. Dorongan berprestasi ini dipandang sedemikian penting sehingga dibanyak negara, telah memasukkan faktor ini dalam kepribadian seseorang dengan melakukan pelatihan “Achievment Motivation Training.”

  1. Dorongan untuk mempengaruhi kepada orang lain. Ketika seorang wirausaha mulai mencoba mewujudkan cita-citanya, maka ia tentu membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, dorongan untuk berpengaruh kepada orang lain menjadi penting bagi keberhasilan usahanya. Kebutuhan inilah yang menempatkan dirinya dalam barisan pemimpin, dan diakui sebagai pemimpin.

  1. Menghargai kerja tangan. Dalam banyak penelitian tampak bahwa para wirausaha yang berhasil umumnya lebih menghargai kerja tangan secara langsung dibandingkan dengan mereka yang bukan wirausaha. Hal ini bisa dimengerti karena yang bukan dari tangan dan ketrampilannya, orang bisa melihat lahirnya produk-produk wirausaha.

  1. Belajar dari pengalaman. Seorang wirausaha mempunyai kecenderungan untuk terbuka terhadap umpan balik yang diterimanya. Umpan balik selalu penting untuk mengoreksi dan memperbaiki diri. Umpan balik ini bisa datang dari pekerjaan, pengalaman, lingkungan dan orang lain. Karenanya seorang wirausaha luwes, tidak kaku, berani berubah bila ternyata langkahnya dianggap tidak tepat lagi.

  1. Menghargai hasil. Seorang wirausaha menunjukkan kecenderungan mengutamakan hasil dan bukan cara. Sebagai seseorang yang mengutamakan hasil, seorang wirausaha juga selalu berorentasi pada pemecahan persoalan, dan tidak cenderung menghindar dari persoalan.

  1. Menabung untuk esok hari. Ada kecenderungan bahwa wirausaha yang berhasil adalah mereka yang gemar menabung untuk hari depannya. Uang baginya merupakan modal, bahan baku yang dapat mewujudkan ide-ide cemerlangnya dan bukannya sekedar anggaran belanja yang bisa dihabiskan sesaat.

 

8.    Sadar arti penting sebuah waktu. Orang yang selalu menyeselai kegagalan dan mengenang keberhasilan masa lalu tidak dapat hidup realistis. Seorang wirausaha mempunyai orentasi waktu yang seimbang. Masa depan dilihatnya sebagai ladang peluang-peluang. Tetapi, ia cukup pragmatis untuk hidup dan memanfaatkan waktu-waktu sekarang. Tepatnya, ia sangat menghargai waktu. Ia sadar bahwa peluang sangat tergantung kecepatan bergerak dan ketepatan waktu.


  1. Berpandangan bahwa nasibnya lebih ditentukan oleh dirinya sendiri. Dalam ilmu psikologi dikenal dua macam cara seseorang memandang akibat-akibat yang terjadi pada dirinya. Pertama, pandangan bahwa akibat-akibat yang terjadi pada diri seseorang itu lebih ditentukan oleh faktor di luar dirinya. Kedua, berpandangan bahwa kejadian-kejadian yang dialami seseorang sebenarnya lebih diakibatkan oleh ulahnya sendiri.

Dari sini, para wirausaha cenderung memiliki pandangan yang kedua. Artinya kegagalan yang dialaminya bukan dianggap sebagai nasib buruk (baca: kesalahan orang lain), tetapi lebih dipercayai sebagai ketidaktepatan tindakannya atau kekurang mampuannya.

Berhitung dalam mengambil resiko. Semua wirausaha yang memulai usahanya selalu dihadapkan pada berbagai resiko. Wirausaha yang berhasil umumnya bukan mereka yang memandang enteng terhadap resiko, bukan pula mereka yang selalu menghindari resiko dan cari aman saja. Namun, umumnya mereka berhasil karena selalu memperhitungkan resiko itu. Wallahu a’lam.***
Bagaimana menurut Anda?  

Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com