-->
INILAH LIST SIARAN ARDA TV
Toko Sosmed
EBOOK: KESLING, MOTIVASI & PENGEMBANGAN DIRI
WWW.ARDADINATA.COM WWW.ARDADINATA.COM

Daftar Artikel


Bersatunya Bank Syariah Milik BUMN
Lihat Detail

Bersatunya Bank Syariah Milik BUMN

Toko Sosmed
PUSAT EBOOK: KESLING-MOTIVASI-PENGEMBANGAN DIRI-
Miliki Ebook Inspiratif Karya Arda Dinata Di Sini!

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Bapak/ibu nasabah yang kami hormati dan kami banggakan,

Dengan senang hati kami menyampaikan kabar gembira bahwa saat ini, ketiga bank syariah milik BUMN yakni PT Bank BRIsyariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah, sedang menjalani proses penggabungan sesuai yang diamanahkan Kementerian BUMN Republik Indonesia.

Penggabungan ini merupakan bagian dari komitmen dan program besar Pemerintah Indonesia untuk menjadikan keuangan dan ekonomi Syariah sebagai pilar kekuatan baru ekonomi nasional dan menjadi salah satu pusat keuangan syariah global, sehingga lebih banyak masyarakat Indonesia dapat memperoleh manfaat dari hadirnya bank syariah nasional yang besar dan kuat.

Dengan visi “Menjadi Salah Satu dari 10 Bank Syariah Terbesar Berdasarkan Kapitalisasi Pasar Secara Global Dalam Waktu 5 Tahun Ke depan”, penggabungan ini akan menghadirkan layanan dan solusi keuangan Syariah yang lengkap dalam satu atap untuk berbagai segmen nasabah dan berbagai kebutuhan dengan jaringan lebih dari 1.200 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Mulai dari segmen UMKM, ritel, komersial, wholesale Syariah, sampai korporasi, baik untuk nasabah nasional maupun investor global.

Terimakasih kepada segenap nasabah yang kami cintai, kepercayaan dan dukungan Anda adalah amanah yang kami emban. Dengan penggabungan tiga bank Syariah ini, kami memulai sebuah perjalanan baru untuk menjadi bank Syariah pilihan utama di Indonesia. Diperkuat dengan teknologi digital, kami akan menjadikan pengalaman perbankan syariah Anda lebih terintegrasi, simpel, dan mudah.

Meski demikian, masih ada serangkaian proses dan tahapan penting yang harus dilalui hingga penggabungan berlaku efektif pada 1 Februari 2021.

Dapat kami sampaikan bahwa selama proses integrasi berlangsung tidak ada perubahan operasional dan layanan. Kami juga memastikan seluruh produk dan layanan tetap dapat dinikmati secara optimal.

Kami juga mohon dukungan dari bapak/ibu yang telah menjadi nasabah setia kami pada momen bersejarah ini untuk melahirkan bank syariah terbesar pertama milik Indonesia yang siap bersaing secara global. Insya Allah, proses ini akan berjalan dengan lancar, barokah, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh masyarakat.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

WWW.ARDADINATA.COM

WWW.ARDADINATA.COM
Cara Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup Akibat Limbah Pabrik Tahu
Lihat Detail

Cara Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup Akibat Limbah Pabrik Tahu


Oleh: Aghi Vaiz Zakaria

Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman Angkatan Tahun 2020 

Masyarakat Indonesia tentu familiar dengan makanan bernama tahu. Terbuat dari biji kedelai yang diendapkan sehingga mengalami koagulasi. Tahu biasanya diolah menjadi gorengan tahu atau dijadikan lauk pauk yang dipadu padankan dengan sayuran. Keberadaan tahu ini mudah didapat dan harganya yang dapat dikatakan ramah di katong. Namun, saat ini masyarakat sedang dihebohkan dengan kelangkaan tahu disebabkan harga kedelai yang melonjak naik, sehingga banyak produsen tahu yang memilih mogok memproduksi tahunya.

Di sisi lain, dengan banyaknya konsumen tahu di Indonesia tidak dapat dipungkiri bahwa produksi tahu terus meningkat, sebagai konsekuensinya limbah domestik dari pabrik tahu di Indonesia pun ikut meningkat. Mengingat pembuatan tahu yang melewati beberapa proses, seperti pencucian kedelai, penyaringan, kemudian proses pengendapan sampai terbentuklah tahu. Tentu dari masing-masing proses tersebut terdapat limbah yang dapat merusak lingkungan sekitar tempat produksi tahu.



Limbah tahu itu terbagi mejadi dua, yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat tahu berasal dari proses pencucian kedelai yang terdapat tanahnya maupun dari ampas tahu itu sendiri. Sedangkan limbah cair berasal dari proses perendaman, pencucian kedelai, penyaringan maupun pengendapan tahu itu sendiri. Limbah tahu yang cair umumnya berwarna kuning dan memiliki bau yang menyengat.

Limbah tahu yang tidak diolah dengan baik, tentunya dapat mejadi bumerang bagi produsen tahu itu sendiri dan masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik tahu tersebut karena dapat mencemari lingkungan sekitar. Dalam limbah cair tahu hasil degradasi senyawa protein tersebut ada senyawa asam amino, amonia, dan H2S yang dapat menimbulkan bau busuk pada limbah cair tahu.

Bahayakan Lingkungan dan Manusia

Pada beberapa kasus, produsen atau pabrik tahu memilih membuang limbahnya ke sungai. Hal ini tentu sangat merugikan ekosistem sungai. Selain menimbulkan bau tak sedap bagi masyarakat sekitar, juga mencemari sungai. Bagi masyarakat awam, mungkin akan memilih untuk ikhlas dan tidak mempermasalahkan limbah tahu tersebut. Namun, dampak yang ditimbulkan dari limbah tersebut apabila tetap dibiarkan dapat merusak lingkungan. Pasalnya, limbah tahu yang dibiarkan akan berubah warna menjadi kecoklatan dan berbau busuk. Bau busuk ini dapat mengganggu pernafasan. Selain itu, apabila limbah cair ini merambah ke sumur atau perairan warga maka dapat mecemari air bersih yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti diare, kolera maupun gatal-gatal.

Tercemarnya lingkungan akibat limbah pabrik tahu sangatlah berbahaya. Yakni, rusaknya kualitas lingkungan terutama perairan sebagai salah satu kebutuhan umat manusia dan makhluk hidup lainnya.

Selain berdampak buruk bagi lingkungan sekitar, limbah pabrik tahu juga dapat merusak kesehatan manusia. Rusaknya ekosistem perairan mengakibatkan menurunnya kualitas air pada perairan tersebut yang kemudian akan menghilangkan manfaat dari air tersebut.

Alasan mengapa limbah pabrik tahu dapat merusak lingkungan dan manusia adalah karena mempunyai bahan yang jika dibuang sembarangan ke lingkungan maka itu akan sangat berbahaya.

Cara Pengelolaan Limbah Tahu

Pecemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah tahu dapat dihindari apabila produsen tahu dapat memahami cara pengolahan limbah tahu yang baik dan benar. Hal ini juga diterangkan dalam Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Pada pasal 1 disebutkan bahwa pengelolaan limbah mencakup reduksi, peyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengelolaan dan penimbunan.

Disisi lain, terdapat Peraturan Perundang-undangan No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dapat dijadikan bahan evaluasi bagi pabrik tahu maupun produsen tahu domestik dalam mengelola limbah yang dihasilkan dalam proses pembuatan tahu. Dijelaskan pada pasal 20 ayat 3, bahwa setiap orang diperbolehkan membuang limbah ke media lingkungan hidup dengan persyaratan: (a) Memenuhi baku mutu lingkungan hidup; dan (b) Mendapat izin dari menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenanganya.

Limbah industri, hendaknya diproses terlebih dahulu dengan teknik pengolahan limbah. Baru setelah memenuhi syarat baku mutu air buangan, limbah hasil pengolahan tersebut bisa dialirkan ke badan air atau sungai. Dengan demikian akan tercipta sungai yang bersih dan memiliki fungsi ekologis. Memang, setiap ekosistem itu selalu beradaptasi dengan tempatnya. Walaupun begitu, tingkat adaptasinya terbatas, bila batas tersebut melampaui batas, maka ikan tersebut akan mati. Punahnya sepesis tertentu akan berakibat pada kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Mandirinya Desa Kalisari Dengan Biogas dan Pemasaran Tahu

Sebagai warga negara yang baik, tentu wajib bagi setiap idividu untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan cara megendalikan pencemaran lingkungan atau kerusakan lingkungan. Yakni, seperti yang dilakukan oleh produsen tahu domestik yang berada di Desa Kalisari, Cilongkok, Banyumas. Produsen tahu mengolah limbah tahu dengan cara memanfaatkannya menjadi energi biogas. Selain dimanfaatkan sebagai energi biogas, limbah tahu cair juga dapat dimafaatkan sebagai pupuk organic cair (POC) seperti yang dilakukan oleh warga Kelurahan Karanganyar, Kota Makasar.

Lindungi Lingkungan Hidup Dari Limbah Tahu

Industri yang berdampingan langsung dengan masyarakat seperti pabrik tahu, selain menimbulkan dampak positif seperti menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Namun, juga memiliki dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar seperti terjadinya pencemaran lingkungan.

Fakta di lapangan, meskipun masyarakat merasakan dampak negatif langsung, namun rata-rata masyarakat Indonesia acuh terhadap dampak negatif yang telah ditimbulkan oleh industri tersebut. Salah satu penyebabnya adalah karena masyarakat di Indonesia hanya bisa mengadu pada pemerintah setempat atau pelaku industri langsung dengan hanya bermodalkan dari dampak yang mereka rasakan tanpa ada dasar hukum yang kuat, sehingga kasus seperti ini mudah dilupakan dan dibiarkan oleh pelaku industri dan juga pemerintah setempat.

Melihat permasalahan lingkungan di Indonesia seperti tersebut, maka seharusnya masyarakat bisa mengetahui perlunya penerapan peraturan seperti UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup untuk mengatur berbagai macam kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh industri yang merusak kualitas dan baku mutu lingkungan hidup; melakukan perbuatan melawan hukum berupa pencemaran limbah yang dapat merusak lingkungan hidup dan membahayakan kesehatan pada manusia dan pada ekosistem yang berada diperairan.

Jika, industri tersebut melanggar ketentuan yang telah diberlakukan oleh pemerintah, maka para industri tersebut wajib mendapatkan sanksi berdasarkan peraturan yang berlaku. Sebab, saat ini masih banyak industri yang tidak peduli jika hanya mendapatkan teguran atau hanya tindakan dari masyarakat sekitar. Harapannya, dengan perbedoman dan berdasarkan pada peraturan negara yang sudah ada, para pelaku industri lebih memahami pentingnya menjaga lingkungan sekitar.

Kasus pencemaran di wilayah perairan atau sungai juga diatur dalam Undang Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, menyebutkan bahwa setiap orang atau badan usaha dilarang melakukan kegiatan yang mengakibatkan rusaknya sumber daya air dan prasarana, menganggu upaya pengawetan air, dan/atau mengakibatkan pencemaran air. Tentunya kerusakan air akibat limbah ini bukan hanya terjadi saat limbah itu mengalir di air saja, tetapi ketika pelaku kerusakan berusaha mengawetkan air limbah tersebut pun sudah dapat dikatakan perilaku merusak sumber daya air.

Harapannya, dengan penerapan peraturan yang sudah ditetapkan pemerintah terhadap lingkungan dan industri di tanah air, maka para pelaku industri bisa lebih bijaksana lagi dalam hal membuang limbah ataupun kegiatan industri lainnya yang sekiranya dapat merusak alam. Karena dampak dari kerusakan lingkungan itu sendiri, selain bisa dirasakan secara langsung pada saat itu juga dapat berakibat dalam jangka waktu lama. Kemudian untuk mengembalikan kondisi alam dan lingkungan menjadi seperti semula itu bukan perkara yang mudah. Maka dari itu, komunikasi antara dua belah pihak, baik dari pelaku industri dan masyarakat sangatlah diperlukan. Artinya, pelaku industri tidak akan bisa mengontrol industrinya itu secara sendirian, jika tidak mendapat pengawasan dari pemerintah dan masyarakat sekitar.

Kesimpulan

Untuk menjaga kelestarian alam, maka kita sebagai manusia haruslah melindungi dan mengelola lingkungan hidup agar tetap bisa lestari dan terjaga dengan baik. Dalam hal melindungi lingkungan hidup, kita sebagai warga negara Indonesia yang merupakan negara hukum hendaknya melindungi alam dan lingkungan kita dengan berlandaskan hukum dan peraturan pemerintah yang sudah ditetapkan.

Kegiatan pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup seperti itu merupakan salah satu upaya yang bertujuan untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup yang berdasarkan pada peraturan yang sudah ditetapkan pemerintah dan norma-norma hukum lingkungan sehingga lingkungan hidup akan seimbang antara kepentingan ekonomi, pelestarian lingkungan hidup dan kondisi sosial masyarakat.

Akhirnya, dalam menciptakan lingkungan berkualitas, kita harus menjalankan segala peraturan yang ada, karena Indonesia ini negara hukum. Pada dasarnya, masalah pencemaran limbah tahu ini adalah masalah kita bersama. Jadi, sebaiknya dalam mengatasi serta menanggulangi setiap kasus pemcemaran limbah tahu harus dilakukan secara bersama-sama, yaitu kita harus terlibat aktif dalam memperhatikan lingkungan ini. Mulai dari badan lingkungan hidup, aparat penegak hukum dan hingga masyarakat setempat.***


Oleh: Aghi Vaiz Zakaria

Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman Angkatan Tahun 2020 

Masyarakat Indonesia tentu familiar dengan makanan bernama tahu. Terbuat dari biji kedelai yang diendapkan sehingga mengalami koagulasi. Tahu biasanya diolah menjadi gorengan tahu atau dijadikan lauk pauk yang dipadu padankan dengan sayuran. Keberadaan tahu ini mudah didapat dan harganya yang dapat dikatakan ramah di katong. Namun, saat ini masyarakat sedang dihebohkan dengan kelangkaan tahu disebabkan harga kedelai yang melonjak naik, sehingga banyak produsen tahu yang memilih mogok memproduksi tahunya.

Di sisi lain, dengan banyaknya konsumen tahu di Indonesia tidak dapat dipungkiri bahwa produksi tahu terus meningkat, sebagai konsekuensinya limbah domestik dari pabrik tahu di Indonesia pun ikut meningkat. Mengingat pembuatan tahu yang melewati beberapa proses, seperti pencucian kedelai, penyaringan, kemudian proses pengendapan sampai terbentuklah tahu. Tentu dari masing-masing proses tersebut terdapat limbah yang dapat merusak lingkungan sekitar tempat produksi tahu.



Limbah tahu itu terbagi mejadi dua, yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat tahu berasal dari proses pencucian kedelai yang terdapat tanahnya maupun dari ampas tahu itu sendiri. Sedangkan limbah cair berasal dari proses perendaman, pencucian kedelai, penyaringan maupun pengendapan tahu itu sendiri. Limbah tahu yang cair umumnya berwarna kuning dan memiliki bau yang menyengat.

Limbah tahu yang tidak diolah dengan baik, tentunya dapat mejadi bumerang bagi produsen tahu itu sendiri dan masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik tahu tersebut karena dapat mencemari lingkungan sekitar. Dalam limbah cair tahu hasil degradasi senyawa protein tersebut ada senyawa asam amino, amonia, dan H2S yang dapat menimbulkan bau busuk pada limbah cair tahu.

Bahayakan Lingkungan dan Manusia

Pada beberapa kasus, produsen atau pabrik tahu memilih membuang limbahnya ke sungai. Hal ini tentu sangat merugikan ekosistem sungai. Selain menimbulkan bau tak sedap bagi masyarakat sekitar, juga mencemari sungai. Bagi masyarakat awam, mungkin akan memilih untuk ikhlas dan tidak mempermasalahkan limbah tahu tersebut. Namun, dampak yang ditimbulkan dari limbah tersebut apabila tetap dibiarkan dapat merusak lingkungan. Pasalnya, limbah tahu yang dibiarkan akan berubah warna menjadi kecoklatan dan berbau busuk. Bau busuk ini dapat mengganggu pernafasan. Selain itu, apabila limbah cair ini merambah ke sumur atau perairan warga maka dapat mecemari air bersih yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti diare, kolera maupun gatal-gatal.

Tercemarnya lingkungan akibat limbah pabrik tahu sangatlah berbahaya. Yakni, rusaknya kualitas lingkungan terutama perairan sebagai salah satu kebutuhan umat manusia dan makhluk hidup lainnya.

Selain berdampak buruk bagi lingkungan sekitar, limbah pabrik tahu juga dapat merusak kesehatan manusia. Rusaknya ekosistem perairan mengakibatkan menurunnya kualitas air pada perairan tersebut yang kemudian akan menghilangkan manfaat dari air tersebut.

Alasan mengapa limbah pabrik tahu dapat merusak lingkungan dan manusia adalah karena mempunyai bahan yang jika dibuang sembarangan ke lingkungan maka itu akan sangat berbahaya.

Cara Pengelolaan Limbah Tahu

Pecemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah tahu dapat dihindari apabila produsen tahu dapat memahami cara pengolahan limbah tahu yang baik dan benar. Hal ini juga diterangkan dalam Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Pada pasal 1 disebutkan bahwa pengelolaan limbah mencakup reduksi, peyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengelolaan dan penimbunan.

Disisi lain, terdapat Peraturan Perundang-undangan No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dapat dijadikan bahan evaluasi bagi pabrik tahu maupun produsen tahu domestik dalam mengelola limbah yang dihasilkan dalam proses pembuatan tahu. Dijelaskan pada pasal 20 ayat 3, bahwa setiap orang diperbolehkan membuang limbah ke media lingkungan hidup dengan persyaratan: (a) Memenuhi baku mutu lingkungan hidup; dan (b) Mendapat izin dari menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenanganya.

Limbah industri, hendaknya diproses terlebih dahulu dengan teknik pengolahan limbah. Baru setelah memenuhi syarat baku mutu air buangan, limbah hasil pengolahan tersebut bisa dialirkan ke badan air atau sungai. Dengan demikian akan tercipta sungai yang bersih dan memiliki fungsi ekologis. Memang, setiap ekosistem itu selalu beradaptasi dengan tempatnya. Walaupun begitu, tingkat adaptasinya terbatas, bila batas tersebut melampaui batas, maka ikan tersebut akan mati. Punahnya sepesis tertentu akan berakibat pada kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Mandirinya Desa Kalisari Dengan Biogas dan Pemasaran Tahu

Sebagai warga negara yang baik, tentu wajib bagi setiap idividu untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan cara megendalikan pencemaran lingkungan atau kerusakan lingkungan. Yakni, seperti yang dilakukan oleh produsen tahu domestik yang berada di Desa Kalisari, Cilongkok, Banyumas. Produsen tahu mengolah limbah tahu dengan cara memanfaatkannya menjadi energi biogas. Selain dimanfaatkan sebagai energi biogas, limbah tahu cair juga dapat dimafaatkan sebagai pupuk organic cair (POC) seperti yang dilakukan oleh warga Kelurahan Karanganyar, Kota Makasar.

Lindungi Lingkungan Hidup Dari Limbah Tahu

Industri yang berdampingan langsung dengan masyarakat seperti pabrik tahu, selain menimbulkan dampak positif seperti menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Namun, juga memiliki dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar seperti terjadinya pencemaran lingkungan.

Fakta di lapangan, meskipun masyarakat merasakan dampak negatif langsung, namun rata-rata masyarakat Indonesia acuh terhadap dampak negatif yang telah ditimbulkan oleh industri tersebut. Salah satu penyebabnya adalah karena masyarakat di Indonesia hanya bisa mengadu pada pemerintah setempat atau pelaku industri langsung dengan hanya bermodalkan dari dampak yang mereka rasakan tanpa ada dasar hukum yang kuat, sehingga kasus seperti ini mudah dilupakan dan dibiarkan oleh pelaku industri dan juga pemerintah setempat.

Melihat permasalahan lingkungan di Indonesia seperti tersebut, maka seharusnya masyarakat bisa mengetahui perlunya penerapan peraturan seperti UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup untuk mengatur berbagai macam kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh industri yang merusak kualitas dan baku mutu lingkungan hidup; melakukan perbuatan melawan hukum berupa pencemaran limbah yang dapat merusak lingkungan hidup dan membahayakan kesehatan pada manusia dan pada ekosistem yang berada diperairan.

Jika, industri tersebut melanggar ketentuan yang telah diberlakukan oleh pemerintah, maka para industri tersebut wajib mendapatkan sanksi berdasarkan peraturan yang berlaku. Sebab, saat ini masih banyak industri yang tidak peduli jika hanya mendapatkan teguran atau hanya tindakan dari masyarakat sekitar. Harapannya, dengan perbedoman dan berdasarkan pada peraturan negara yang sudah ada, para pelaku industri lebih memahami pentingnya menjaga lingkungan sekitar.

Kasus pencemaran di wilayah perairan atau sungai juga diatur dalam Undang Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, menyebutkan bahwa setiap orang atau badan usaha dilarang melakukan kegiatan yang mengakibatkan rusaknya sumber daya air dan prasarana, menganggu upaya pengawetan air, dan/atau mengakibatkan pencemaran air. Tentunya kerusakan air akibat limbah ini bukan hanya terjadi saat limbah itu mengalir di air saja, tetapi ketika pelaku kerusakan berusaha mengawetkan air limbah tersebut pun sudah dapat dikatakan perilaku merusak sumber daya air.

Harapannya, dengan penerapan peraturan yang sudah ditetapkan pemerintah terhadap lingkungan dan industri di tanah air, maka para pelaku industri bisa lebih bijaksana lagi dalam hal membuang limbah ataupun kegiatan industri lainnya yang sekiranya dapat merusak alam. Karena dampak dari kerusakan lingkungan itu sendiri, selain bisa dirasakan secara langsung pada saat itu juga dapat berakibat dalam jangka waktu lama. Kemudian untuk mengembalikan kondisi alam dan lingkungan menjadi seperti semula itu bukan perkara yang mudah. Maka dari itu, komunikasi antara dua belah pihak, baik dari pelaku industri dan masyarakat sangatlah diperlukan. Artinya, pelaku industri tidak akan bisa mengontrol industrinya itu secara sendirian, jika tidak mendapat pengawasan dari pemerintah dan masyarakat sekitar.

Kesimpulan

Untuk menjaga kelestarian alam, maka kita sebagai manusia haruslah melindungi dan mengelola lingkungan hidup agar tetap bisa lestari dan terjaga dengan baik. Dalam hal melindungi lingkungan hidup, kita sebagai warga negara Indonesia yang merupakan negara hukum hendaknya melindungi alam dan lingkungan kita dengan berlandaskan hukum dan peraturan pemerintah yang sudah ditetapkan.

Kegiatan pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup seperti itu merupakan salah satu upaya yang bertujuan untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup yang berdasarkan pada peraturan yang sudah ditetapkan pemerintah dan norma-norma hukum lingkungan sehingga lingkungan hidup akan seimbang antara kepentingan ekonomi, pelestarian lingkungan hidup dan kondisi sosial masyarakat.

Akhirnya, dalam menciptakan lingkungan berkualitas, kita harus menjalankan segala peraturan yang ada, karena Indonesia ini negara hukum. Pada dasarnya, masalah pencemaran limbah tahu ini adalah masalah kita bersama. Jadi, sebaiknya dalam mengatasi serta menanggulangi setiap kasus pemcemaran limbah tahu harus dilakukan secara bersama-sama, yaitu kita harus terlibat aktif dalam memperhatikan lingkungan ini. Mulai dari badan lingkungan hidup, aparat penegak hukum dan hingga masyarakat setempat.***


Oleh: Aghi Vaiz Zakaria

Mahasiswa Magister Ilmu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman Angkatan Tahun 2020 

Masyarakat Indonesia tentu familiar dengan makanan bernama tahu. Terbuat dari biji kedelai yang diendapkan sehingga mengalami koagulasi. Tahu biasanya diolah menjadi gorengan tahu atau dijadikan lauk pauk yang dipadu padankan dengan sayuran. Keberadaan tahu ini mudah didapat dan harganya yang dapat dikatakan ramah di katong. Namun, saat ini masyarakat sedang dihebohkan dengan kelangkaan tahu disebabkan harga kedelai yang melonjak naik, sehingga banyak produsen tahu yang memilih mogok memproduksi tahunya.

Di sisi lain, dengan banyaknya konsumen tahu di Indonesia tidak dapat dipungkiri bahwa produksi tahu terus meningkat, sebagai konsekuensinya limbah domestik dari pabrik tahu di Indonesia pun ikut meningkat. Mengingat pembuatan tahu yang melewati beberapa proses, seperti pencucian kedelai, penyaringan, kemudian proses pengendapan sampai terbentuklah tahu. Tentu dari masing-masing proses tersebut terdapat limbah yang dapat merusak lingkungan sekitar tempat produksi tahu.



Limbah tahu itu terbagi mejadi dua, yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat tahu berasal dari proses pencucian kedelai yang terdapat tanahnya maupun dari ampas tahu itu sendiri. Sedangkan limbah cair berasal dari proses perendaman, pencucian kedelai, penyaringan maupun pengendapan tahu itu sendiri. Limbah tahu yang cair umumnya berwarna kuning dan memiliki bau yang menyengat.

Limbah tahu yang tidak diolah dengan baik, tentunya dapat mejadi bumerang bagi produsen tahu itu sendiri dan masyarakat yang tinggal di sekitar pabrik tahu tersebut karena dapat mencemari lingkungan sekitar. Dalam limbah cair tahu hasil degradasi senyawa protein tersebut ada senyawa asam amino, amonia, dan H2S yang dapat menimbulkan bau busuk pada limbah cair tahu.

Bahayakan Lingkungan dan Manusia

Pada beberapa kasus, produsen atau pabrik tahu memilih membuang limbahnya ke sungai. Hal ini tentu sangat merugikan ekosistem sungai. Selain menimbulkan bau tak sedap bagi masyarakat sekitar, juga mencemari sungai. Bagi masyarakat awam, mungkin akan memilih untuk ikhlas dan tidak mempermasalahkan limbah tahu tersebut. Namun, dampak yang ditimbulkan dari limbah tersebut apabila tetap dibiarkan dapat merusak lingkungan. Pasalnya, limbah tahu yang dibiarkan akan berubah warna menjadi kecoklatan dan berbau busuk. Bau busuk ini dapat mengganggu pernafasan. Selain itu, apabila limbah cair ini merambah ke sumur atau perairan warga maka dapat mecemari air bersih yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti diare, kolera maupun gatal-gatal.

Tercemarnya lingkungan akibat limbah pabrik tahu sangatlah berbahaya. Yakni, rusaknya kualitas lingkungan terutama perairan sebagai salah satu kebutuhan umat manusia dan makhluk hidup lainnya.

Selain berdampak buruk bagi lingkungan sekitar, limbah pabrik tahu juga dapat merusak kesehatan manusia. Rusaknya ekosistem perairan mengakibatkan menurunnya kualitas air pada perairan tersebut yang kemudian akan menghilangkan manfaat dari air tersebut.

Alasan mengapa limbah pabrik tahu dapat merusak lingkungan dan manusia adalah karena mempunyai bahan yang jika dibuang sembarangan ke lingkungan maka itu akan sangat berbahaya.

Cara Pengelolaan Limbah Tahu

Pecemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah tahu dapat dihindari apabila produsen tahu dapat memahami cara pengolahan limbah tahu yang baik dan benar. Hal ini juga diterangkan dalam Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Pada pasal 1 disebutkan bahwa pengelolaan limbah mencakup reduksi, peyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengelolaan dan penimbunan.

Disisi lain, terdapat Peraturan Perundang-undangan No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dapat dijadikan bahan evaluasi bagi pabrik tahu maupun produsen tahu domestik dalam mengelola limbah yang dihasilkan dalam proses pembuatan tahu. Dijelaskan pada pasal 20 ayat 3, bahwa setiap orang diperbolehkan membuang limbah ke media lingkungan hidup dengan persyaratan: (a) Memenuhi baku mutu lingkungan hidup; dan (b) Mendapat izin dari menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenanganya.

Limbah industri, hendaknya diproses terlebih dahulu dengan teknik pengolahan limbah. Baru setelah memenuhi syarat baku mutu air buangan, limbah hasil pengolahan tersebut bisa dialirkan ke badan air atau sungai. Dengan demikian akan tercipta sungai yang bersih dan memiliki fungsi ekologis. Memang, setiap ekosistem itu selalu beradaptasi dengan tempatnya. Walaupun begitu, tingkat adaptasinya terbatas, bila batas tersebut melampaui batas, maka ikan tersebut akan mati. Punahnya sepesis tertentu akan berakibat pada kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Mandirinya Desa Kalisari Dengan Biogas dan Pemasaran Tahu

Sebagai warga negara yang baik, tentu wajib bagi setiap idividu untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dengan cara megendalikan pencemaran lingkungan atau kerusakan lingkungan. Yakni, seperti yang dilakukan oleh produsen tahu domestik yang berada di Desa Kalisari, Cilongkok, Banyumas. Produsen tahu mengolah limbah tahu dengan cara memanfaatkannya menjadi energi biogas. Selain dimanfaatkan sebagai energi biogas, limbah tahu cair juga dapat dimafaatkan sebagai pupuk organic cair (POC) seperti yang dilakukan oleh warga Kelurahan Karanganyar, Kota Makasar.

Lindungi Lingkungan Hidup Dari Limbah Tahu

Industri yang berdampingan langsung dengan masyarakat seperti pabrik tahu, selain menimbulkan dampak positif seperti menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Namun, juga memiliki dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar seperti terjadinya pencemaran lingkungan.

Fakta di lapangan, meskipun masyarakat merasakan dampak negatif langsung, namun rata-rata masyarakat Indonesia acuh terhadap dampak negatif yang telah ditimbulkan oleh industri tersebut. Salah satu penyebabnya adalah karena masyarakat di Indonesia hanya bisa mengadu pada pemerintah setempat atau pelaku industri langsung dengan hanya bermodalkan dari dampak yang mereka rasakan tanpa ada dasar hukum yang kuat, sehingga kasus seperti ini mudah dilupakan dan dibiarkan oleh pelaku industri dan juga pemerintah setempat.

Melihat permasalahan lingkungan di Indonesia seperti tersebut, maka seharusnya masyarakat bisa mengetahui perlunya penerapan peraturan seperti UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup untuk mengatur berbagai macam kerusakan lingkungan hidup yang disebabkan oleh industri yang merusak kualitas dan baku mutu lingkungan hidup; melakukan perbuatan melawan hukum berupa pencemaran limbah yang dapat merusak lingkungan hidup dan membahayakan kesehatan pada manusia dan pada ekosistem yang berada diperairan.

Jika, industri tersebut melanggar ketentuan yang telah diberlakukan oleh pemerintah, maka para industri tersebut wajib mendapatkan sanksi berdasarkan peraturan yang berlaku. Sebab, saat ini masih banyak industri yang tidak peduli jika hanya mendapatkan teguran atau hanya tindakan dari masyarakat sekitar. Harapannya, dengan perbedoman dan berdasarkan pada peraturan negara yang sudah ada, para pelaku industri lebih memahami pentingnya menjaga lingkungan sekitar.

Kasus pencemaran di wilayah perairan atau sungai juga diatur dalam Undang Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, menyebutkan bahwa setiap orang atau badan usaha dilarang melakukan kegiatan yang mengakibatkan rusaknya sumber daya air dan prasarana, menganggu upaya pengawetan air, dan/atau mengakibatkan pencemaran air. Tentunya kerusakan air akibat limbah ini bukan hanya terjadi saat limbah itu mengalir di air saja, tetapi ketika pelaku kerusakan berusaha mengawetkan air limbah tersebut pun sudah dapat dikatakan perilaku merusak sumber daya air.

Harapannya, dengan penerapan peraturan yang sudah ditetapkan pemerintah terhadap lingkungan dan industri di tanah air, maka para pelaku industri bisa lebih bijaksana lagi dalam hal membuang limbah ataupun kegiatan industri lainnya yang sekiranya dapat merusak alam. Karena dampak dari kerusakan lingkungan itu sendiri, selain bisa dirasakan secara langsung pada saat itu juga dapat berakibat dalam jangka waktu lama. Kemudian untuk mengembalikan kondisi alam dan lingkungan menjadi seperti semula itu bukan perkara yang mudah. Maka dari itu, komunikasi antara dua belah pihak, baik dari pelaku industri dan masyarakat sangatlah diperlukan. Artinya, pelaku industri tidak akan bisa mengontrol industrinya itu secara sendirian, jika tidak mendapat pengawasan dari pemerintah dan masyarakat sekitar.

Kesimpulan

Untuk menjaga kelestarian alam, maka kita sebagai manusia haruslah melindungi dan mengelola lingkungan hidup agar tetap bisa lestari dan terjaga dengan baik. Dalam hal melindungi lingkungan hidup, kita sebagai warga negara Indonesia yang merupakan negara hukum hendaknya melindungi alam dan lingkungan kita dengan berlandaskan hukum dan peraturan pemerintah yang sudah ditetapkan.

Kegiatan pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup seperti itu merupakan salah satu upaya yang bertujuan untuk melindungi dan mengelola lingkungan hidup yang berdasarkan pada peraturan yang sudah ditetapkan pemerintah dan norma-norma hukum lingkungan sehingga lingkungan hidup akan seimbang antara kepentingan ekonomi, pelestarian lingkungan hidup dan kondisi sosial masyarakat.

Akhirnya, dalam menciptakan lingkungan berkualitas, kita harus menjalankan segala peraturan yang ada, karena Indonesia ini negara hukum. Pada dasarnya, masalah pencemaran limbah tahu ini adalah masalah kita bersama. Jadi, sebaiknya dalam mengatasi serta menanggulangi setiap kasus pemcemaran limbah tahu harus dilakukan secara bersama-sama, yaitu kita harus terlibat aktif dalam memperhatikan lingkungan ini. Mulai dari badan lingkungan hidup, aparat penegak hukum dan hingga masyarakat setempat.***
Nasib Burung Cucak Rawa (Pycnonotus zeylanicus) Rentan Dari Kepunahan
Lihat Detail

Nasib Burung Cucak Rawa (Pycnonotus zeylanicus) Rentan Dari Kepunahan

Oleh: Wawan Ridwan

(Mahasiswa S2 Ilmu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto)


Hampir semua orang mengenal lagu Cucok Rowo yang dipopulerkan oleh mendiang penyanyi campursari Didi Kempot. Lagu ini bertema plesetan komedi campuran bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, dimana menyebutkan “cucak rowo” dengan cara menghibur. Tapi, tahukan Anda saat ini status burung ini terancam kritis karena perburuan dan perdagangan untuk dijadikan burung koleksi atau burung perlombaan. Inilah nasib burung Cucak Rawa (Pycnonotus zeylanicus) yang dewasa ini telah rentan dari kepunahan keberadaannya di alam liar.


Sebelum membahasnya lebih jauh, kita harus mengenal apa itu burung Cucak Rawa. Cucak Rawa adalah jenis burung pengicau dari suku Pycnonotidae. Burung ini juga dikenal umum sebagai Cucak Rawa (dalam bahasa Jawa dilafazkan sebagai Cucok Rowo), Cangkurawah (Sunda), dan Barau-barau (Melayu).


Dalam bahasa Inggris disebut Straw-headed Bulbul, mengacu pada warna kepalanya yang kuning-jerami pucat. Nama ilmiahnya adalah Pycnonotus zeylanicus



Taksonomi Cucak rawa

  • Kerajaan : Animilia 

  • Filum : Chordata

  • Kelas : Aves

  • Ordo : Passeriformes

  • Famili : Pycnonotidae

  • Genus : Pycnonotus

  • Species : P. seylanicus


Ciri-ciri

Burung yang berukuran sedang, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 28 cm. Mahkota (sisi atas kepala) dan penutup telinga berwarna jingga atau kuning-jerami pucat; setrip malar di sisi dagu dan garis kekang yang melintasi mata berwarna hitam.


Punggung coklat zaitun bercoret-coret putih, sayap dan ekor kehijauan atau hijau coklat-zaitun. Dagu dan tenggorokan putih atau keputihan; leher dan dada abu-abu bercoret putih; perut abu-abu, dan pantat kuning. Iris mata berwarna kemerahan, paruh hitam, dan kaki coklat gelap.


Kebiasaan dan Penyebaran

Seperti namanya, cucak rawa biasa ditemukan di paya-paya dan rawa-rawa di sekitar sungai, atau di tepi hutan. Sering bersembunyi di balik dedaunan dan hanya terdengar suaranya yang khas. Suara lebih berat dan lebih keras dari umumnya cucak dan merbah. Siulan jernih, jelas, berirama baku yang merdu. Kerap kali terdengar bersahut-sahutan. 


Di alam, burung ini memangsa aneka serangga, siput air, dan berbagai buah-buahan yang lunak seperti buah jenis-jenis beringin. Menyebar di dataran rendah dan perbukitan di Semenanjung Malaya, Sumatra (termasuk Nias), Kalimantan, dan Jawa bagian barat. Di Jawa Barat terdapat sampai ketinggian 800 m dpl., namun kini dianggap punah karena perburuan.


Permasalahan Perlindungan

Cucak Rawa sebenarnya sempat termasuk ke dalam daftar jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 tahun 2018. Pada tahun yang sama Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan PerMen LHK Nomor 92 Tahun 2018 dengan dikeluarkan dari status burung Cucak Rawa sebagai satwa yang dilindungi menjadi tidak lagi dilindungi.


Perubahan status ini berbarengan dengan burung-burung lain seperti Murai batu (Kittacinla malabarica), Jalak suren (Gracupica jalla), Anis-bentet kecil (Colluricincla megarhyncha), dan Anis-bentet sangihe (Coracornis sanghirensis).  Murai batu, Cucak rawa, dan Jalak suren merupakan jenis burung kicau yang biasa dilombakan, sedangkan untuk Anis bentet sangihe dan Anis bentet kecil merupakan jenis burung endemik.


Dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature) Red list burung ini mempunyai status rentan (vulnerable), sedangkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) memasukkan burung ini dalam daftar Apendiks II.


Keberadaan

Di Indonesia burung ini memiliki 27 jenis dan wilayah yang paling banyak adalah di Indonesia bagian barat. Hingga saat ini ada 2 spesies yang menyebar hingga ke Sulawesi dan Lombok. Ada pula spesies yang menyebar hingga ke Maluku yaitu yakni Lophoixus affinis (Brinji emas).


Burung yang berumur sekitar jutaan tahun ini telah berkembang menjadi sembilan subspesies yang berbeda. Misalnya P. bimaculatus (Cucak Gunung), P. plumosus (Merbah Belukar), Alophoixus bres (Empuloh Janggut), P. melanicterus (Cucak Kuning), P. aurigaster (Cucak Kutilang), dan P. goiavier (Merbah cerukcuk).


Burung yang masih kerabat kutilang ini, dulunya dapat ditemukan di hutan-hutan pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Namun menurut Mckinnon dkk., kini burung tersebut telah punah di alam Jawa. Jadi, sudah tidak dapat lagi menjumpai Cucak Rawa liar di hutan-hutaan pulau Jawa. Kepunahannya disebabkan oleh perburuan tak berbatas yang dilakukan untuk tujuan ekonomi.


Pada daerah sumatera sendiri, jumlahnya telah sangat terbatas di hutan-hutan terpencil. Untungnya di Kalimantan jumlahnya masih lebih banyak daripada Sumatera. Burung ini dapat ditemukan di hutan-hutan yang jauh dari pemukiman. Namun, apabila perburuan terus dilakukan, tidak menutup kemungkinan Cucak Rawa ini benar-benar akan punah dari seluruh alam Indonesia.


Untuk menghindari kepunahan Cucak Rawa dari alam Indonesia, ada baiknya para pemburu berlatih untuk mengembangbiakkan burung ini dalam penangkaran. Walaupun burung ini mudah stres saat diternakkan, namun beberapa peternak telah berhasil mengembangbiakkan Cucak Rawa di penangkaran. Dengan keberhasilan penangkaran diharapkan jumlah Cucak Rawa di alam tidak berkurang lagi dan dapat berkembang menjadi lebih banyak di masa yang akan datang.


Kesimpulan

Kondisi jumlah burung Cucak Rawa yang kritis (bahkan di alam liar pulau Jawa sudah punah) agar menjadi perhatian pemerintah terutama Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar merevisi atau membuat peraturan yang memasukan burung ini kembali dengan status dilindungi.


Langkah-langkah strategis perlu dilakukan dalam menyelamatkan burung Cucak Rawa, yaitu dengan melakukan penangkaran yang sistematis dan penambahan jumlah species burung ini dan kemudian dikembalikan ke alam liar habitat-habitat aslinya yang dulu pernah ada.***

Oleh: Wawan Ridwan

(Mahasiswa S2 Ilmu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto)


Hampir semua orang mengenal lagu Cucok Rowo yang dipopulerkan oleh mendiang penyanyi campursari Didi Kempot. Lagu ini bertema plesetan komedi campuran bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, dimana menyebutkan “cucak rowo” dengan cara menghibur. Tapi, tahukan Anda saat ini status burung ini terancam kritis karena perburuan dan perdagangan untuk dijadikan burung koleksi atau burung perlombaan. Inilah nasib burung Cucak Rawa (Pycnonotus zeylanicus) yang dewasa ini telah rentan dari kepunahan keberadaannya di alam liar.


Sebelum membahasnya lebih jauh, kita harus mengenal apa itu burung Cucak Rawa. Cucak Rawa adalah jenis burung pengicau dari suku Pycnonotidae. Burung ini juga dikenal umum sebagai Cucak Rawa (dalam bahasa Jawa dilafazkan sebagai Cucok Rowo), Cangkurawah (Sunda), dan Barau-barau (Melayu).


Dalam bahasa Inggris disebut Straw-headed Bulbul, mengacu pada warna kepalanya yang kuning-jerami pucat. Nama ilmiahnya adalah Pycnonotus zeylanicus



Taksonomi Cucak rawa

  • Kerajaan : Animilia 

  • Filum : Chordata

  • Kelas : Aves

  • Ordo : Passeriformes

  • Famili : Pycnonotidae

  • Genus : Pycnonotus

  • Species : P. seylanicus


Ciri-ciri

Burung yang berukuran sedang, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 28 cm. Mahkota (sisi atas kepala) dan penutup telinga berwarna jingga atau kuning-jerami pucat; setrip malar di sisi dagu dan garis kekang yang melintasi mata berwarna hitam.


Punggung coklat zaitun bercoret-coret putih, sayap dan ekor kehijauan atau hijau coklat-zaitun. Dagu dan tenggorokan putih atau keputihan; leher dan dada abu-abu bercoret putih; perut abu-abu, dan pantat kuning. Iris mata berwarna kemerahan, paruh hitam, dan kaki coklat gelap.


Kebiasaan dan Penyebaran

Seperti namanya, cucak rawa biasa ditemukan di paya-paya dan rawa-rawa di sekitar sungai, atau di tepi hutan. Sering bersembunyi di balik dedaunan dan hanya terdengar suaranya yang khas. Suara lebih berat dan lebih keras dari umumnya cucak dan merbah. Siulan jernih, jelas, berirama baku yang merdu. Kerap kali terdengar bersahut-sahutan. 


Di alam, burung ini memangsa aneka serangga, siput air, dan berbagai buah-buahan yang lunak seperti buah jenis-jenis beringin. Menyebar di dataran rendah dan perbukitan di Semenanjung Malaya, Sumatra (termasuk Nias), Kalimantan, dan Jawa bagian barat. Di Jawa Barat terdapat sampai ketinggian 800 m dpl., namun kini dianggap punah karena perburuan.


Permasalahan Perlindungan

Cucak Rawa sebenarnya sempat termasuk ke dalam daftar jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 tahun 2018. Pada tahun yang sama Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan PerMen LHK Nomor 92 Tahun 2018 dengan dikeluarkan dari status burung Cucak Rawa sebagai satwa yang dilindungi menjadi tidak lagi dilindungi.


Perubahan status ini berbarengan dengan burung-burung lain seperti Murai batu (Kittacinla malabarica), Jalak suren (Gracupica jalla), Anis-bentet kecil (Colluricincla megarhyncha), dan Anis-bentet sangihe (Coracornis sanghirensis).  Murai batu, Cucak rawa, dan Jalak suren merupakan jenis burung kicau yang biasa dilombakan, sedangkan untuk Anis bentet sangihe dan Anis bentet kecil merupakan jenis burung endemik.


Dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature) Red list burung ini mempunyai status rentan (vulnerable), sedangkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) memasukkan burung ini dalam daftar Apendiks II.


Keberadaan

Di Indonesia burung ini memiliki 27 jenis dan wilayah yang paling banyak adalah di Indonesia bagian barat. Hingga saat ini ada 2 spesies yang menyebar hingga ke Sulawesi dan Lombok. Ada pula spesies yang menyebar hingga ke Maluku yaitu yakni Lophoixus affinis (Brinji emas).


Burung yang berumur sekitar jutaan tahun ini telah berkembang menjadi sembilan subspesies yang berbeda. Misalnya P. bimaculatus (Cucak Gunung), P. plumosus (Merbah Belukar), Alophoixus bres (Empuloh Janggut), P. melanicterus (Cucak Kuning), P. aurigaster (Cucak Kutilang), dan P. goiavier (Merbah cerukcuk).


Burung yang masih kerabat kutilang ini, dulunya dapat ditemukan di hutan-hutan pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Namun menurut Mckinnon dkk., kini burung tersebut telah punah di alam Jawa. Jadi, sudah tidak dapat lagi menjumpai Cucak Rawa liar di hutan-hutaan pulau Jawa. Kepunahannya disebabkan oleh perburuan tak berbatas yang dilakukan untuk tujuan ekonomi.


Pada daerah sumatera sendiri, jumlahnya telah sangat terbatas di hutan-hutan terpencil. Untungnya di Kalimantan jumlahnya masih lebih banyak daripada Sumatera. Burung ini dapat ditemukan di hutan-hutan yang jauh dari pemukiman. Namun, apabila perburuan terus dilakukan, tidak menutup kemungkinan Cucak Rawa ini benar-benar akan punah dari seluruh alam Indonesia.


Untuk menghindari kepunahan Cucak Rawa dari alam Indonesia, ada baiknya para pemburu berlatih untuk mengembangbiakkan burung ini dalam penangkaran. Walaupun burung ini mudah stres saat diternakkan, namun beberapa peternak telah berhasil mengembangbiakkan Cucak Rawa di penangkaran. Dengan keberhasilan penangkaran diharapkan jumlah Cucak Rawa di alam tidak berkurang lagi dan dapat berkembang menjadi lebih banyak di masa yang akan datang.


Kesimpulan

Kondisi jumlah burung Cucak Rawa yang kritis (bahkan di alam liar pulau Jawa sudah punah) agar menjadi perhatian pemerintah terutama Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar merevisi atau membuat peraturan yang memasukan burung ini kembali dengan status dilindungi.


Langkah-langkah strategis perlu dilakukan dalam menyelamatkan burung Cucak Rawa, yaitu dengan melakukan penangkaran yang sistematis dan penambahan jumlah species burung ini dan kemudian dikembalikan ke alam liar habitat-habitat aslinya yang dulu pernah ada.***

Oleh: Wawan Ridwan

(Mahasiswa S2 Ilmu Lingkungan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto)


Hampir semua orang mengenal lagu Cucok Rowo yang dipopulerkan oleh mendiang penyanyi campursari Didi Kempot. Lagu ini bertema plesetan komedi campuran bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, dimana menyebutkan “cucak rowo” dengan cara menghibur. Tapi, tahukan Anda saat ini status burung ini terancam kritis karena perburuan dan perdagangan untuk dijadikan burung koleksi atau burung perlombaan. Inilah nasib burung Cucak Rawa (Pycnonotus zeylanicus) yang dewasa ini telah rentan dari kepunahan keberadaannya di alam liar.


Sebelum membahasnya lebih jauh, kita harus mengenal apa itu burung Cucak Rawa. Cucak Rawa adalah jenis burung pengicau dari suku Pycnonotidae. Burung ini juga dikenal umum sebagai Cucak Rawa (dalam bahasa Jawa dilafazkan sebagai Cucok Rowo), Cangkurawah (Sunda), dan Barau-barau (Melayu).


Dalam bahasa Inggris disebut Straw-headed Bulbul, mengacu pada warna kepalanya yang kuning-jerami pucat. Nama ilmiahnya adalah Pycnonotus zeylanicus



Taksonomi Cucak rawa

  • Kerajaan : Animilia 

  • Filum : Chordata

  • Kelas : Aves

  • Ordo : Passeriformes

  • Famili : Pycnonotidae

  • Genus : Pycnonotus

  • Species : P. seylanicus


Ciri-ciri

Burung yang berukuran sedang, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 28 cm. Mahkota (sisi atas kepala) dan penutup telinga berwarna jingga atau kuning-jerami pucat; setrip malar di sisi dagu dan garis kekang yang melintasi mata berwarna hitam.


Punggung coklat zaitun bercoret-coret putih, sayap dan ekor kehijauan atau hijau coklat-zaitun. Dagu dan tenggorokan putih atau keputihan; leher dan dada abu-abu bercoret putih; perut abu-abu, dan pantat kuning. Iris mata berwarna kemerahan, paruh hitam, dan kaki coklat gelap.


Kebiasaan dan Penyebaran

Seperti namanya, cucak rawa biasa ditemukan di paya-paya dan rawa-rawa di sekitar sungai, atau di tepi hutan. Sering bersembunyi di balik dedaunan dan hanya terdengar suaranya yang khas. Suara lebih berat dan lebih keras dari umumnya cucak dan merbah. Siulan jernih, jelas, berirama baku yang merdu. Kerap kali terdengar bersahut-sahutan. 


Di alam, burung ini memangsa aneka serangga, siput air, dan berbagai buah-buahan yang lunak seperti buah jenis-jenis beringin. Menyebar di dataran rendah dan perbukitan di Semenanjung Malaya, Sumatra (termasuk Nias), Kalimantan, dan Jawa bagian barat. Di Jawa Barat terdapat sampai ketinggian 800 m dpl., namun kini dianggap punah karena perburuan.


Permasalahan Perlindungan

Cucak Rawa sebenarnya sempat termasuk ke dalam daftar jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 tahun 2018. Pada tahun yang sama Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan PerMen LHK Nomor 92 Tahun 2018 dengan dikeluarkan dari status burung Cucak Rawa sebagai satwa yang dilindungi menjadi tidak lagi dilindungi.


Perubahan status ini berbarengan dengan burung-burung lain seperti Murai batu (Kittacinla malabarica), Jalak suren (Gracupica jalla), Anis-bentet kecil (Colluricincla megarhyncha), dan Anis-bentet sangihe (Coracornis sanghirensis).  Murai batu, Cucak rawa, dan Jalak suren merupakan jenis burung kicau yang biasa dilombakan, sedangkan untuk Anis bentet sangihe dan Anis bentet kecil merupakan jenis burung endemik.


Dalam IUCN (International Union for Conservation of Nature) Red list burung ini mempunyai status rentan (vulnerable), sedangkan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) memasukkan burung ini dalam daftar Apendiks II.


Keberadaan

Di Indonesia burung ini memiliki 27 jenis dan wilayah yang paling banyak adalah di Indonesia bagian barat. Hingga saat ini ada 2 spesies yang menyebar hingga ke Sulawesi dan Lombok. Ada pula spesies yang menyebar hingga ke Maluku yaitu yakni Lophoixus affinis (Brinji emas).


Burung yang berumur sekitar jutaan tahun ini telah berkembang menjadi sembilan subspesies yang berbeda. Misalnya P. bimaculatus (Cucak Gunung), P. plumosus (Merbah Belukar), Alophoixus bres (Empuloh Janggut), P. melanicterus (Cucak Kuning), P. aurigaster (Cucak Kutilang), dan P. goiavier (Merbah cerukcuk).


Burung yang masih kerabat kutilang ini, dulunya dapat ditemukan di hutan-hutan pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Namun menurut Mckinnon dkk., kini burung tersebut telah punah di alam Jawa. Jadi, sudah tidak dapat lagi menjumpai Cucak Rawa liar di hutan-hutaan pulau Jawa. Kepunahannya disebabkan oleh perburuan tak berbatas yang dilakukan untuk tujuan ekonomi.


Pada daerah sumatera sendiri, jumlahnya telah sangat terbatas di hutan-hutan terpencil. Untungnya di Kalimantan jumlahnya masih lebih banyak daripada Sumatera. Burung ini dapat ditemukan di hutan-hutan yang jauh dari pemukiman. Namun, apabila perburuan terus dilakukan, tidak menutup kemungkinan Cucak Rawa ini benar-benar akan punah dari seluruh alam Indonesia.


Untuk menghindari kepunahan Cucak Rawa dari alam Indonesia, ada baiknya para pemburu berlatih untuk mengembangbiakkan burung ini dalam penangkaran. Walaupun burung ini mudah stres saat diternakkan, namun beberapa peternak telah berhasil mengembangbiakkan Cucak Rawa di penangkaran. Dengan keberhasilan penangkaran diharapkan jumlah Cucak Rawa di alam tidak berkurang lagi dan dapat berkembang menjadi lebih banyak di masa yang akan datang.


Kesimpulan

Kondisi jumlah burung Cucak Rawa yang kritis (bahkan di alam liar pulau Jawa sudah punah) agar menjadi perhatian pemerintah terutama Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar merevisi atau membuat peraturan yang memasukan burung ini kembali dengan status dilindungi.


Langkah-langkah strategis perlu dilakukan dalam menyelamatkan burung Cucak Rawa, yaitu dengan melakukan penangkaran yang sistematis dan penambahan jumlah species burung ini dan kemudian dikembalikan ke alam liar habitat-habitat aslinya yang dulu pernah ada.***